The Chronicle Of Earth Destruction

The Chronicle Of Earth Destruction
Kilas Balik 2



Pada malam yang meriah ini, karena bagaimanapun pemerintah berusaha menampilkan keadaan dunia yang


sudah baik-baik saja, juga agar banyak masyarakat yang berani melangkahkan kaki mereka ke luar rumah, meski tetap Sebagian ada yang masih trauma.


Meski terdapat perbedaan waktu untuk merayakan tahun baru, pada malam itu perayaan baru itu pun tetap


dilaksanakan dengan pembukaan pidato dari presiden Republik Indonesia kepada seluruh rakyatnya, beliau mengatakan. “Kita semua telah melawati masa-masa yang sulit!”


“Tidak bisa bernafas bebas, karena hati dan pikiran kita dicekik oleh keadaan yang memuakkan selama kurang lebih  3 tahun ini!”


“Namun meski begitu… Waktu mengajarkan kepada kita, untuk tetap terus menjalankan hidup yang diberikan olehnya! Syukurlah setelah bertahan sampai pikiran dan jiwa nyaris terkikis seutuhnya ini, kita mampu tetap berdiri di dunia ini!”


“Bukanlah kita tidak peduli akan saudara kita yang menjadi korban… Tetapi yang hidup harus terus mengemban api harapan di hati mereka, membawa dunia ke arah yang lebih baik lagi… Karena manusia tidak bisa hancur begitu saja!”


“Ini tugas saya… Tugas kita… Tugas generasi selanjutnya, saya memohon dengan sangat… Mari kita melangkah bersama-sama menatap masa depan… Oleh karena itu saya membutuhkan bantuan semuanya dalam membangun bangsa ini kembali… Ayok sama-sama kita saling menjaga dan memperhatikan dengan seksama, masa depan nanti!”


Ucap bapak presiden berpidato bermaksud untuk meningkatkan kepercayaan diri para rakyatnya, yang diiringi dengan tepuk tangan meriah orang-orang yang menghadiri pidato bapak presiden Indonesia ini.


Semua orang yang mendengar pada dasarnya memahami maksud dan tujuan dari pidato ini, namun karena trauma yang mereka rasakan, pada akhirnya kata-kata bijak seluar biasa apapun, tetap saja tidak bisa mengangkat mental kebanyakan orang yang sudah ketakutan.


Sementara itu, di ruang makan keluarga Profesor Diranto Saman, mereka tampak bahagia, tertawa bersama, namun seketika suasana menjadi hening, ketika cucu perempuan profesor berceletuk, “Kenapa terasa dingin sekali?”


“Eh Pipi… Iya yah mamah juga merasa dingin tahu!” Istri anak profesor, ibu dari cucu perempuan profesor dan juga Zein, pun merasa kan hal yang sama dengan apa yang dirasakan anaknya itu.


“Mama… Pipi… Ini kan tengah malam tahun baru!” Sementara itu, Zein merasa mereka terlalu berlebihan, dan  berpikir kalau emang yak suhu dingin ini akibat tengah malam aja menurutnya.


“Abang coba kamu lihat bibir ku dan mama!” Pipi meminta Zein melihat ke arah bibirnya, dan saat itu Zein baru menyadari kalau bibir mereka berdua menjadi biru, bukan hanya itu saja,  ayah mereka pun terus-terusan


menggenggam gelas yang berisi kopi panas.


Sang kakek meninggalkan ruang makan dengan tergesa-gesa, sembari memegangi selulernya yang bergetar, “Halo… Ada apa?” Profesor Diranto mengangkat seluler yang dia pegang terus, karena ada panggilan dari seseorang.


“Pak Profesor!” teriak seseorang dari balik panggilan telepon yang tengah diangkat oleh Profesor Diranto.


“Ada apa?” Jawab Prof Diranto bertanya perihal kenapa si pemanggil menelepon dirinya, dan si


pemanggil itu terdengar begitu panik, hingga dia bahkan tidka bisa mengucapkan perkataan yang jelas tatkala didengar oleh Profesor Diranto.


“Hey… Hey… Tenangkan lah dirimu dahulu baru berbicara!” Ucap Profesor Diranto membentak orang yang menelepon dirinya.


“Ma… Maaf pak Profesor Diranto! Habisnya saat ini ada keadaan gawat!” Ujar nya kepada profesor.


“Hah? Gawat apa?”


Profesor pun membuka informasi itu dari Leptop nya, dan dirinya sangat kaget tatkala ternyata informasi tersebut berisi sebuah video yang tampak direkam melalui satelit, dari rekaman itu terlihat jelas penampakan sebuah objek terbang layaknya pesawat luar angkasa yang ada difilm-film SCI-FI, memang terlihat tidak besar jika dari satelit, namun jika dilogikan dalam persamaan jarak, maka sebenarnya objek terbang tersebut memiliki ukuran yang sangat besar, bahkan kemungkinan bisa sebesar bulan.


“Jadi video ini baru saja diberikan oleh pihak NASA.”


“Bagaimana pak Profesor Diranto?” Tanya bawahannya, meminta saran dari Profesor Diranto apa yang ahrus mereka lakukan saat ini.


Profesor Diranto pun mengatakan pada momen ini waktu yang tepat mengatakan kepada publik mengenai markas persembunyian yang sudah susah payah dibangun dalam kurun waktu 3 tahun belakangan ini.


Namun bawahannya pun mengatakan sekalipun LAPAN adalah lembaga yang ditugaskan untuk ini, masalah mengenai markas ini harus dibicarakan dahulu oleh para pemangku jabatan, mereka tiba-tiba saja berubah pendapat, dari yang tadinya ingin secepatnya membocorkan rahasia ini, malah sekarang disimpan dahulu.


“Maafkan saya pak Profesor! Saya sebagai wakil delegasi lembaga tidak bisa atau tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan parlemen sehingga markas diambil alih!”


“Tidak apa-apa… Itu bukan salah mu, biar aku saja yang bicara pada mereka nanti!”


“Profesor! Sebenarnya apakah video itu asli?”


“Kenapa kau bertanya pada ku? Kau sebagai anak buah ku, harusnya yakin pada diri mu sendiri, pilihan mu, karena cuman diri mu yang bisa menyelamatkan mu!”


“Lalu, bagaimana dengan profesor sendiri?”


“Aku akan pergi bersama keluarga ku ke suatu tempat!” Sesudah kalimat ini, telepon mereka pun berhenti, profesor kembali ke ruang tamu, disana dia melihat mulai dari anaknya, menantunya, sampai cucunya, kecuali Zein semuanya mengenakan jaket.


“Apa yang terjadi?” tanya profesor.


“Kakek kau tidak merasa dingin! Aku, mamah, papa, paman, bibi, Pipi, semuanya merasa kedinginan!” terlihat semua orang disana merasa kedinginan dan menggigil, layaknya mereka berada di puncak gunung.


“Ummm… Tidak! Sudah… Sudah kalian cepatlah merapikan pakaian! Roni dan Romi kalian bantu bapak ya, membawa beberapa barang ke mobil!”


Romi dan Roni ialah nama anak dari profesor Diranto, dan sebelumnya beberapa hari yang lalu, profesor sudah memiliki firasat jika akan terjadi sesuatu kedepannya, makanya dia meminta anak-anaknya, menantunya, juga cucunya, untuk seketika siap-siap mengemasi pakaian ke dalam koper.


Kini mereka sudah selesai mengemasi pakaian mereka, segera berangkat ke suatu tempat, Zein yang tidak tahu mereka mau pergi kemana pun bertanya, “ Kakek kita sebenarnya mau kemana?” tetapi profesor tidka menanggapi pertanyaan dari cucunya itu, sebaliknya dia malah fokus terus menatap ke langit, dan berkata, “Beberapa dari kalian fokuslah kepada sekeliling kalian!” sang kakek terlihat sangat waspada sekali, seperti berada di tengah medan perang saja.


“Mah kenapa seperti ada es yang menempel pada kaca mobil kita?” Berawal dari pertanyaan Pipi mereka pun menyadari kalau suhu disekitar semakin ekstrim, bahkan Zein sendiri yang dasarnya kuat karena telah melewati pelatihan dan juga subjek penelitian pun mulai merasakan sedikit aura-aura dingin.


“Kita harus tetap jalan!” Pinta profesor Diranto, dia merasa kalau kita berhenti ditengah jalan


semuanya akan berakhir.


Sementara itu, di tempat yang berbeda yakni tempat sang presiden negara sedang berpidato di sebuah studio yang khusus disusun untuk kegiatan-kegiatan konferensi pers pemerintahan, pun juga demikian, tampak sang presiden menggigil, semua yang ada disana seperti para menteri, juga mengalami hal sama, lantas, pidato yang baru setengah jalan itu tiba-tiba dihentikan.