
Ada 2 prajurit berpakaian loreng-loreng lengkap dengan persenjataan, layaknya baju resmi tentara militer Indonesia, Mereka dengan sigap memberikan hormat mereka kepada Kolonel, meskipun setelah itu mereka tetap saja meminta tanda pengenal identitas resmi Kolonel, Kolonel pun tidak jadi orang yang melawan karena dia tahu itulah prosedur resminya, kemudian tanda pengenal Kolonel itu mereka letakan ke sebuah alat yang memiliki sinar merah untuk menscan, bertujuan agar mengetahui apakah itu asli atau palsu, baru nanti kalau tanda pengenalnya benar, akan muncul nada dari seorang wanita “Selamat datang!”, dan pintu secara otomatis akan terbuka.
“Kolonel… Maafkan kami… Siapa orang ini?” ujar salah satu dari penjaga tanpa memperdulikan jika dia orang yang dibawa Kolonel sekalipun, maka sebagai penjaga jika ada orang yang tidak dikenal mendekati pintu masuk, pasti akan tetap diperiksa.
“Ouh dia… Anggap saja rekrutan baru pasukan khusus kita! Maka dari tolong sampaikan kepada pihak registrasi untuk membuatkan kartu identitas baru!” ujar Kolonel dengan tegas, dan terlihat kalau dua penjaga itu langsung menuruti ucapan Kolonel.
“Baik kapten!”
Sesudah selesai melakukan konfirmasi identitas, pintu masuk pun secara otomatis terbuka, karena Zein anggota baru, dia hanya bisa berjalan mengikuti Kolonel Aji. Ketika pintu dibuka, baru saja melangkahkan satu kaki mereka ke dalam ruangan dibalik pintu, mereka langsung disambut dengan sebuah mesin layaknya eskalator otomatis, atau lantai yang disusun dalam mekanisme tertentu, sehingga dapat bergerak sendiri dengan bantuan energi listrik, layaknya eskalator tetapi ini bergerak mendatar.
“Dibawah lantai gerak ini tidak ada orang yang gerakan ,bukan?” ujar Zein sedikit bercanda dengan Kolonel, maksudnya mungkin saja seperti ada orang yang sengaja menggerakkan lantainya.
“Tidak ada… Tetapi monster yang menyerang ibukota ada dibawah untuk menggerakkan lantainya!” Kolonel juga ternyata dia orang yang tidak sekaku jabatannya, dia merespon balik candaan Zein juga dengan candaan.
“Kita akan kemana pak?” tanya Zein yang mengikuti setiap langkah Kolonel.
“Kita akan bertemu dengan anak buah ku! Dia seorang instruktur bagi anggota baru.” Jelas Kolonel seperti dia akan membawa Zein ke tempat pelatihan anggota baru.
“Pak… Berapa lama negara membangun ini? dan sejak kapan?” tanya Zein penasaran mengenai ruang bawah tanah yang menakjubkan ini, ini tampak megah, seharusnya membutuhkan waktu yang tidak cepat.
“Yah… Itu terjadi ketika kita mendapatkan suntikan dana dari NASA, juga PBB… dan jika kau masuk ke bagian 2 dari ruang bawah tanah, kau pasti akan melihat banyak ilmuan dari negara lain, juga!” berdasarkan penjelasan Kolonel ternyata tempat rahasia ini dibangun dari bantuan dari NASA, PBB atas patungan seluruh negara, maka dari itu jika Zein memasuki bagian kedua dari tempat ini, dia akan melihat banyak ilmuan.
“Wow keren pak… Saya mau ke sana!” teriak Zein yang tampak antusias sekali mendengar istilah penelitian, mengingat keluarganya juga dari latar belakang yang tidka beda jauh, dia juga sedikit memiliki pemahaman dan ketertarikan dengan penelitian.
“Hehehe… Tetapi kau harus menyelesaikan beberapa hal terlebih dahulu! Dan kita sudah sampai ke tempat tujuan!” ucap Kolonel berdiri di sebuah ruangan pada bagian 1 lantai tersembunyi ini, dari depan ruangan tertulis dalam bentuk digital kelas anggota baru.
“Itu…” Belum sempat Zein berbicara, Kolonel segera memotong ucapan Zein tadi. “Ya kau benar… Ini adalah ruangan untuk para pemula menerima beberapa bimbingan dan pengetahuan!”
Benar saja, ketika Zein memasuki ruangan ini, memang terlihat mirip seperti kelas di sekolah pada umumnya, ada bangku, ada meja, ada papan tulis juga, meski kelas ini kosong dan sepi, mungkin karena para pemula masih ada beberapa tahap yang harus mereka lewati di gedung atas permukaan.
“Selamat malam Kolonel!” Seseorang wanita muda berpostur ramping, tinggi, berambut panjang lurus, berpakaian rapih, berparas cantik khas perempuan muda modern, mengenakan seragam khusus wanita di dalam ruangan dengan siap, dan sigapnya menyapa kedatangan Kolonel Aji.
“Iya malam… Zein kenalkan ini pembimbing kelas ini… Kalau begitu sisanya aku serahkan kepada mu!” sesudah mengatakan ini Kolonel berniat untuk pergi meninggalkan mereka.
“Pak Kolonel… Bukankah seharusnya pasukan baru, akan selesai dalam sebulan untuk proses kinerja Serum yang bereaksi pada tubuh subjek? Lalu bocah ini bagaimana?” tanya perempuan itu dirinya merasa heran, kenapa kolonel membawa anggota baru, padahal belum waktunya.
“Ouh iya dirinya sama seperti mu! tetapi dia menolak memberitahukan darimana dia berasal!” Kolonel mengatakan kalau Zein itu sama seperti pasukan yang sudah diterima, Organisme yang berasal dari meteorit telah aktif tanpa perlu bantuan dari serum, dan sekarang dia sudah bisa dikatakan sebagai manusia yang berevolusi.
“Hey wanita… Jangan mentang-mentang kamu tante-tante… panggil saya bocah, yah!” Ujar Zein berteriak membentak perempuan yang sedari tadi berbicara dengan kolonel, Zein merasa kesal dia selalu dipanggil bocah oleh perempuan tersebut Zein menjulurkan telunjuknya menunjuk-nunjuk ke arah perempuan yang akan menjadi instruktur.
“Hah? Anak baru seperti dirimu harus ditertibkan!” mendengar ucapan yang terdengar tidak hormat yang dikeluarkan Zein tadi dan merasa risih dengan Zein yang terus menunjuknya, perempuan muda itu lantas mencengkram jari telunjuk milik Zein tadi dengan sangat kencang, bahkan raut wajah manisnya berubah menjadi masam, saking kesalnya dirinya itu, tetapi tentu saja hal kecil itu tidak akan menyakitkan buat Zein.
“Hahaha… Tolol… Kau pikir tindakan macam anak TK ini mampu menggertak diriku ini, yah?” kata Zein sembari sedikit melakukan pergerakan, dia memutar badannya hingga dia bisa berada tepat dibelakang wanita itu, lalu tangan kirinya yang bebas meraih pinggang tentara wanita itu, Sehingga seperti Zein telah menangkap badan wanita tentara itu.
“Ternyata kau wangi juga, yah? Ku pikir cewek cerewet itu mulutnya bau!” karena melihat ekspresi instruktur yang agak malu, Zein pun tidak membuang kesempatan ini begitu saja, dia menggodanya dengan kata-kata manis.
“He… Hentikan mesum!” Benar saja wajah instruktur memerah karena ulah dari keisengan Zein itu, reflek karena merasa malu, dia mengangkat sikutnya ke belakang, mencoba menyikut Zein dengan maksud agar Zein menjauh darinya, akan tetapi malah Zein menangkap sikutnya itu, alhasil pose yang menarik mata dengan lekuk tubuh bak seorang model yang seimbang antara tubuh bagian dada dan pinggulnya, pun ditunjukan oleh wanita tersebut.
“Wow! Kau bukan hanya wangi… Menawan… Dan juga berisi! Hehehe… Kau benar-benar wanita, ya?” Sekilas terlihat raut wajah Zein yang riang gembira, sesudah mengerjai instruktur wanita.
Perselisihan mereka pun hanya sampai disana, sesudah Kolonel Aji ikut campur, dia berucap dengan sedikit meninggikan suaranya. “Hentikan kalian berdua! Haduh tidak ku kira kamu tipe yang iseng kayak begitu!” ujar Kolonel Aji maksudnya ialah mengenai tindakan Zein ini, berbanding terbalik saat dia tampak murung dan gelap beberapa waktu lalu ketika membahas tentang musuh.
Karena teriakan itu Zein mengangkat kedua tangannya, lalu mundur menjauhi instruktur perempuan yang ada didekatnya, seraya berkata. “Maaf Kolonel Aji… Saya hanya kesal ketika dipanggil bocah! saya buktikan kalau saya bukan bocah… Juga saya selama ini selalu dilatih oleh kakek saya, tidak banyak waktu saya habiskan berbincang dengan teman… Jadi yah saya hanya sedikit berimprovisasi karena dunia sudah berubah, yakan?”
Mendengar penjelasan dari Zein kolonel tidak bisa mengatakan tidak, jadinya dia pun mengatakan. “Ouh iya?… Emmm kalau begitu lanjutkan lah! Tetapi aku minta kamu harus sudah seperti tentara beberapa hari kedepan!” Kolonel pun berbalik badan, mengarah ke pintu keluar dari ruang kelas.
“Baik Kolonel!” jawab Zein tegas.
“Kolonel!! Apa maksudnya anda lanjutkan?” teriak instruktur tidak terima kalau dirinya dipermainkan begitu, tetapi melihat kondisinya dia pun menyerah, dia mengaku kalau dirinya lah yang salah.
“Brengsek! baiklah aku tidak akan memanggil mu bocah lagi! jadi lepaskan ini!” meski diawali dengan mengumpat kasar, tampak kalau instruktur meminta maaf sungguh-sungguh.
“Oke… Oke… Baiklah!” melihat keseriusannya, Zein pun berjanji tidak akan pernah mempermasalahkan hal remeh ini lagi.
“Hey siapa nama mu?” tanya wanita itu.
“Ouh… Panggil saja aku Zein!”
“Baiklah Zein marih kita mulai pembelajarannya…” instruktur bergerak dari posisinya menuju kedepan papan tulis putih yang menggantung di depan dinding kelas.
“Oii… Nama mu siapa? Kalau kau bertanya mengenai nama seseorang, kau juga harus memperkenalkan dirimu, bukan?” celetuk Zein.
“Cerewet…”
“Cih… Aku pergi saja, cari instruktur lain saja! biar kau dapat rating jelek!”
“Nama Ku Adira!” ujar wanita tersebut, mengatakan namanya.
“Adira?”
“kenapa?”
“Tidak, coba manggil aja!”