
Suatu ketika ada seorang profesor umurnya sekitar 55 tahun, nama dirinya tersebut dan juga sekaligus gelar pendidikannya adalah Prof. Dr. Ir. Diranto Saman, M. Sc. yang tergabung pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Indonesia, yang bertugas dan bertanggung jawab sebagai Pengamatan bumi, tata surya, alam semesta, serta inovasi pertahanan Nasional.
Mengirimkan sebuah jurnal hasil dari pengamatan pribadinya terhadap suatu titik koordinat dari area di Indonesia kepada badan antariksa skala besar yang diakui oleh seluruh dunia, seperti Roscosmos, China National Space Administration, European Space Agency, dan NASA.
Isi Jurnal tersebut ialah hasil dari pengamatannya selama 5 tahun, yang mana profesor tersebut menangkap pancaran cahaya putih bergerak bak kilat pada ruangan hampa udara tersebut, dan alhasil dengan memberanikan diri, dia memperoleh kesimpulan bahwa cahaya yang jadi fokusnya, memiliki indikasi sebesar 80% sebagai objek melayang yang disebut UFO.
Sayangnya jurnalnya dianggap sebagai sebuah halusinasi sahaja, banyak faktor yang membuat pengamatannya ditolak berbagai badan antariksa paling bergengsi di dunia ini, salah satu poin yang memberatkan jurnal itu menembus persetujuan badan antariksa dunia ialah, sesuatu sederhana seperti cahaya yang diamati tersebut muncul setiap saat, sehingga sulit dipahami jikalau memang objek itu ialah UFO, sebab sejatinya mereka tidak mungkin dengan mudahnya menampakan diri.
Hingga penolakannya itu tidak pernah menjadikan profesor Diranto menyerah begitu saja, dia meyakini mereka akan segera menyadari kalau dirinya tidak salah. Seiring berjalannya waktu, apa yang dipaparkan oleh profesor pun mulai menujukan tanda-tandanya, tepatnya seperti pada 1 januari 2015.
Terjadi disalah satu desa yang berada disekitar pegunungann Qinling, Provinsi Sannxi, yang termasuk kedalam wilayah negara China, seorang pendaki mengaku dirinya merekam suatu fenomena aneh, mengenai penampakan cahaya begitu terang ditengah malam menyelimuti sebuah desa yang sebelumnya termasuk dalam jalur pendakiannya yang sudah dia lewati.
Dirinya merekam kejadian tersebut sembari mengatakan kalau semua penduduk di desa menghilang, padahal sebelumnya dia melewati desa in masih banyak warganya, lalu dirinya menyebarkannya media sosial terkenal negara China atau Weibo, tidak lama setelah video itu tersebar bebas di internet negaa China, dengan tingkat misterinya, mampu membuat geger sebagian besar penduduk negara tirai bambu itu, sampai akhirnya juga viral ke seluruh dunia, ke server media masa seperti Instagram, Facebook, Youtube, Tiktok.
Hal itu bahkan menyebabkan banyak ahli forensik yang mencoba menguji keaslian dari video rekaman cahaya misterius ini, akan tetapi mereka sama sekali tidak menemukan celah untuk membuktikan bahwa video itu menyimpan kebohongan, alhasil banyak para peneliti mendatangi lokasi kejadian, semakin lama, justru malah beritanya makin berlebihan, karena saking menciptakan suasana gaduh, dan dikhawatirkan menyebabkan situasi panik, akhirnya pemerintah China turun tangan sendiri, mereka menetapkan peraturan, untuk tidak berspekulasi berlebihan sebelum beberapa orang yang dipilih langsung oleh pemerintah berasal dari China National Space Administration untuk menyelesaikan pengamatan mereka.
Barulah saat pemerintah turun tangan untuk memperoleh sempel kesimpulan, hingga memicu berbagai reaksi perdebatan baik dari dalam negara China sendiri dan juga di berbagai negara, meski demikian pemerintah China tetap saja kekeh menutupi kejadian yang terjadi saat itu, melalui paparan fakta-fakta yang tidak sesuai kenyataan.
Dalih yang coba dikeluarkan oleh China National Space Administration disebut sebagai menutup kasus secara sepihak, didasari oleh ketetapan pemerintahan negara saat itu, berusaha meredakan opini publik yang beredar luas, dengan memanfaatkan pendapat ahli berdasarkan suatu analisis-analisis untuk menenangkan situasi, dan meredam tanggapan dari warga net, berkat tindakan ini, alhasil pelan-pelan euforia mengenai hilangnya suatu desa di media masa mulai mereda.
Dalam kenyatannya, suatu kejadian yang besar terjadi lagi, sekitar pertengahan tahun 2018, sesudah kasus warga desa menghilang dalam semalam yang terjadi pada tahun 2015 lalu, lagi dan lagi publik warga net dikagetkan oleh cuplikan video dari kemilau cahaya yang persis seperti hilangnya satu desa di dataran China waktu itu, namun saat ini cahaya itu tidak menyerang pemukiman melainkan suatu tempat yang cukup sentral bagi perkembangan peradaban umat manusia Bumi semacam riset sains, Kesehatan, dan teknologi.
Seperti yang terjadi pada beberapa Laboratorium biologis dan bioteknologi di negara Amerika Serikat, tercatat hanya dalam semalam pada detik bersamaan, terpantau dari satelit milik negara paman syam itu, setiap titik-titik yang mewakili lokasi laboratorium pada waktu tengah malam, segalanya sangat menyilaukan, dan itu hanya sekilas berdurasi sekitar 3 detik saja.
Memang belum ada warga yang menyadarinya, kecuali warga disekitar tempat laboratorium berada, takut akan terjadinya super masif penyebaran berita hoak dan liar, yang ditakutkan menyebabkan efek bola salju, pemerintah Amerika pun bergerak untuk menghadang pemikiran-pemikiran liar dari warganya.
Berdasarkan informasi langsung dari tenaga antariksa, lantas tepat hari itu juga pemerintah Amerika Serikat segera merespon dengan cepat, sedikit berbeda dengan respon dari pemerintah China yang mencoba lebih pasif dan tidak membuat kekhawatiran dimana-mana, Amerika secara sukarela membuka pertemuan atau konfrensi pers skala internasional, dan mengundang berbagai pakar maupun ahli untuk meneliti masalah tersebut.
Mengejutkannya ternyata kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di satu lokasi saja, melainkan di beberapa negara di dunia, dan hal itu telah dikonfirmasi oleh berbagai kepala negara yang mengalami masalah yang sama, beberapa diantaranya ialah Laboratorium yang berada di Francis, Russia, Inggris, Jepang, bahkan China juga.
Pertemuan yang dijanjikan oleh pihak Amerika Serikat pun pada tanggal 11 November 2018 dilaksanakan, dan pada perjumpaan kali ini, pihak Amerika Serikat menyerahkan sepenuhnya kasus yang tengah diselidiki ini kepada badan antariksa negara mereka, yaitu NASA untuk memimpin pertemuan.
Pertemuan tingkat tinggi kali ini dipimpin oleh Bil Nelson seorang yang menjabat sebagai administrator dari NASA, sementara itu, kebanyakan struktur badan antariksa dipimpin oleh administrator, maka dari itu pertemuan badan antariksa skala internasional ini, banyak dihadiri oleh berbagai administrator dari lembaga antariksa negara lainnya, seperti Francis, Inggris, Russia, China, German, Jepang, India, dan salah satu profesor dari Indonesia yang sebelumnya sempat mengirim jurnal terkait Alien dan Ufo meskipun sempat ditolak, tapi sekarang karena kejadian yang diluar nalar ini, mereka jadi menerima jurnal dari profesor Diranto.
Bukan hanya para administrator dari lembaga antariksa saja, tapi mereka juga mengundang beberapa pakar teknologi dari perusahaan besar yang bergerak dibidang teknologi sekaliber Billl Gates, Stave Job, Jack Ma, Elon Musk, dan lainnya.