The Chronicle Of Earth Destruction

The Chronicle Of Earth Destruction
Prolog 1.2



Lapan jadi badan antariksa pertama yang merespon protes dari warga Indonesia, mereka mengundang bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kebenarannya, hanya untuk kali ini administrator Lapan akan memberikan klarifikasi didepan semua orang. Sementara itu, delapan badan antariksa di negara yang wilayahnya tempat jatuh meteor mulai mengirimkan beberapa petugas lapangan ke titik lokasi meteor berada.


Lebih daripada itu, selain mempersiapkan klarifikasi, Lembaga penerbangan dan Antariksa Nasional Indonesia juga telah mengirim beberapa tenaga kerja mereka untuk mengangkut batu meteor yang terletak di Sebangau National Park, Kalimantan Tengah Indonesia, dan rencananya akan dipindahkan ke Ibukota Jakarta.


“Apa semua persiapan telah selesai?”


“Aku tidak tahu… Tapi sesudah dana dari pihak NASA cair… Kita bisa mengembangkan laboratorium!”


Sesudah seorang profesor dari Lapan mengirimkan jurnal berisi temuannya terhadap kedatangan objek asing, NASA menganggap kalau LAPAN bisa berkembang lebih baik lagi kedepannya, makanya mereka mengirimkan beberapa dollars ke LAPAN.


“Bahas itu nanti saja… Aku merasa tidak enak mengenai misi pengambilan batu meteor kali ini! coba kau lihat itu!”


Sebelumnya beberapa petugas antariksa dari departemen eksplorasi di Jerman yakni Deutsches Zentrumfrür Luft- und Raumfahrt, yang dibantu juga oleh European Space Agency, sempat mengirimkan 20 tenaga kerja terbaik mereka sekaligus berpakaian lengkap menggunakan pakaian Hazmat, untuk menghindarkan diri dari partikel-partikel yang dapat mengkontaminasi tubuh manusia.


Baru saja mereka memasuki radius 5 km jauhnya dari titik jatuh meteor, para petugas merasakan ada atsmofir yang berbeda, udara nya terasa lebih hangat, padahal saat ini di eropa telah memasuki transisi ke musim dingin, kemudian semakin dalam berjarak ratusan meter dari meteor, mereka menemukan ada semacam sesuatu yang berwarna merah, tapi tidak bisa disentuh bagaikan gumpalan energi.


Memang pada akhirnya mereka berhasil mengangkat meteor yang telah terpendam sedalam puluhan meter di dalam tanah, lalu membawa meteor tersebut ke pusat markas badan antariksa Jerman, karena berada dibawah wewenang dan wilayah kekuasaan pemerintah Jerman. Akan tetapi, keesokan harinya kedua puluh orang yang bertugas membawa meteor tersebut mengalami beberapa gejala yang aneh, sehingga mereka pun diisolasi.


Pada akhirnya kondisi yang sama pun dialami oleh tim ekspedisi yang bertugas ke Sebangau National Park, Kalimantan Tengah, Indonesia, terutama 10 putra bangsa yang dikirim oleh LAPAN, 2 orang petugas bantuan dari Singapura, 2 petugas bantuan dari Malaysia, dan 2 petugas bantuan dari Thailand, Walaupun mereka berhasil membawa meteor itu ke Lapan, namun ke enam belas orang yang tergabung dalam ekspedisi meteor ini mengalami kejanggalan dan masalah yang hampir mirip dengan kelompok eksplorasi di Jerman.


Meteornya sendiri telah diletakan di sebuah gedung dengan pengamanan yang ketat, karena badan antariksa Lapan mendapatkan oper bantuan tenaga kerja ahli dari pihak Japan Aerospace Exploration Agency juga beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Khusus dari Jepang juga mengirim beberapa alat keamanan tingkat lanjut kemari.


“Selamat datang Profesor Akiyama Toriyaki!”


“Selamat datang kembali Profesor Diranto Saman!”


Tenaga kerja ahli yakni Profesor Akiyama Toriyaki dari Jepang telah datang ke gedung LAPAN, dan disambut hangat oleh pak Profesor Diranto Saman yang juga telah naik jabatan sehingga sekarang menjabat sebagai administrator dari Lembaga penerbangan dan Antariksa Nasional Indonesia.


Prof Diranto Saman pun mengajak Prof Akiyama untuk melihat keadaan meteor. Meteornya sendiri saat ini telah diletakan di dalam sebuah kotak kaca berukuran 1 meter kali 1 meter, selain itu untuk pengamatan kotak kaca yang berisi meteor juga ditaruh ditengah-tengah ruangan kaca, nah barulah dari balik ruangan ini peneliti mengamati kondisi meteor.


“Luar biasa! ternyata ukurannya lumayan juga!” Ujar profesor Akira berdecak kagum, dia tidak mengira kalau besar meteor ini lebih dari 4 kali kepalan tangan orang dewasa.


“Iya Prof… Namun anda tidak bisa mendekat!” kata Prof Diranto sembari menunjuk ke segala sisi disekitar meteor muncul bercak-bercak merah, sesudah diteliti kembali daripada semacam energi, ternyata itu lebih seperti sebuah partikel dari meteor tersebut, berterbangan di udara dan mempengaruhi udara.


“Luar biasa! Bisakah anda mengirim beberapa ahli untuk mengambil partikel merah itu, untuk dijadikan sempel penelitian!”


“Ouh itu… Sudah kami lakukan Prof!”


“Bagus… Mari kita mulai saja penelitiannya… Kita sudah tidak memiliki banyak waktu!”


Memang benar apa yang dikatakan oleh Profesor Akiyama jika mereka tidak memiliki banyak waktu lagi, mereka disini merujuk kepada seluruh umat manusia di muka bumi, tidak tahu apakah meteor ini adalah hal yang baik atau bukan, tapi sudah bisa dipastikan kemunculan partikel ini akan membawa perubahan bagi peradaban manusia di bumi, cepat atau lambat.


Bersambung…