The Chronicle Of Earth Destruction

The Chronicle Of Earth Destruction
Serum Percepat Evolusi



Ternyata pria paruh baya yang tengah berbicara dihadapan Zein dan warga lainnya, ialah seorang petinggi tentara, pada saat itu dia juga mengatakan beberapa yang sebelumnya sudah sempat dibahas oleh para penduduk, yakni mengenai hilangnya suatu kota, dan hancurnya kota lainnya, UFO yang sebelumnya muncul di Jakarta, bergerak hampir ke seluruh penjuru pulau, bahkan mungkin di dunia ini, mereka menghancurkan kota sesuka keinginan mereka, tetapi ada juga kota yang dibiarkan baik-baik saja, namun penduduknya menghilang dari sana, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk memporak-porandakan suatu kota, mungkin hanya sekitar 1 jam saja, dan saat ini mereka bergerak ke timur Indonesia, mereka bergerak secara perlahan di langit, dan mungkin 3 hari lagi mereka akan sampai di kota Bandung.


Kemudian, karena para tentara kehilangan kontak atas sebagian besar pasukan yang ditempatkan di ibukota waktu itu, mereka jadi kekurangan personil, selain itu saat ini di Indonesia sedang terjadi kekosongan atas kekuasaan, sebab tidak ada informasi apakan para petinggi negara yang sempat berdiskusi di istana negara baik-baik saja atau tidak.


“Ada apa? kenapa dari sini aku melihat diantara kalian ada yang menundukkan kepala lalu menangis?” ujar Kolonel tersebut, dari tempat pidatonya, dia melihat seseorang yang tidak lain, ialah Zein itu.


Tidak bisa dipungkiri, Zein langsung menyadari saat Kolonel itu mengatakan kalau mereka kehilangan kontak dengan para petinggi negara di istana negara, yang artinya itu juga termasuk kakeknya sendiri,  Profesor Diranto Saman, juga ada disana, hal ini membuat emosi Zein jadi tidak stabil, tetapi Zein mencoba mengontrol dirinya itu.


 “Kenapa kau menangis?” tanya orang disebelah Zein, orang yang tampak seperti pemuda dengan etika sopannya, mungkin dia berasal dari Kalangan keluarga harmonis, dia merasa iba makanya dia bertanya demikian.


“Tidak ada… Hanya tiba-tiba saja teringat seseorang karena penjelasan Kolonel!” ujar Zein yang kembali memasang  wajah tersenyum untuk menggambarkan kalau dia baik-baik saja.


“Ouh benar kah? Aku cukup terkejut, aku pikir diantara kita semua… Dari yang aku lihat, selama seharian ini kau lah paling tenang… Mungkin orang tersebut pasti salah satu orang yang tercinta… Aku mengerti perasaan mu!”


“Betul… Tapi ngomong-ngomong siapa yah dirimu ini?” tanya Zein kepada pemuda sebaya disampingnya itu.


“Ouh… Ehhh… Maafkan aku… Emmm perkenalkan nama ku Ryuji…”


“Nama yang keren!”


“Terima kasih!”


Balik lagi kepada pidato yang disampaikan oleh Kolonel, ada satu kalimat penting dari semua yang disampaikan oleh Kolonel, dia ingin mendidik kami orang-orang yang, melewati tes ini dalam didikan kemiliteran.


“Apa?”


“Kau gila pak!”


“Yah tidak masalah aku senang!”


“Ini bagus! Artinya aku bisa bertahan di dunia hancur ini!”


Reaksi orang-orang mulai beragam, ada yang merasa senang, pantas karena di era berbahaya ini, kemampuan membela diri itu ialah sesuatu yang sangat diperlukan oleh setiap orang. Kemudian, ada satu hal penting lagi yang disampaikan oleh kolonel, yakni mereka akan menjadikan semua orang disini untuk mencapai evolusi, tentu saja yang lainnya tidak memahami hal itu, tetapi beda dengan Zein, dia sudah sering mendengar istilah evolusi itu dari kakeknya, apalagi kakeknya pernah berkata kalau dirinya salah satu beberapa orang yang telah berevolusi pasca anomali Red Attack beberapa waktu lalu.


“Pak Kolonel… Se… Sebenarnya apa maksud anda tentang manusia evolusi?” ujar seseorang mencoba bertanya, yah wajar lagipula dia warga biasa tidak ada yang tahu menahu tentang evolusi.


“Emmm… Begini… Ilmuan di seluruh dunia sepakat berpendapat… Pasca anomali Red attack selesai… Kita semua yang mampu selamat, maupun bertahan dari penyakit tersebut, telah mengalami peningkatan gen yang disebabkan oleh organisme utama menjadi faktor dari penyakit Red attack!” ujar Kolonel menjelaskan segalanya dengan baik.


“Apa? kami tidak tahu itu pak!”


“Yah itu memang dirahasiakan… Tetapi karena situasi sulit ini… maka badan penelitian pusat negara memutuskan untuk menyampaikan hal ini kepada warga biasa!” kata Kolonel lagi.


“Tetapi tidak ada perubahan signifikan pada diri kami!”


“Yah itu karena kalian seperti sedang berhibernasi! Tepatnya organisme yang tercampur ke dalam darah kalian itu! Dan para ilmuan punya cara untuk mempercepat pertumbuhan kalian! tentu tidak semua dari kalian akan berevolusi…”


“Ouh iya dan bagi kalian yang nantinya bisa berevolusi akan menjadi menjalankan pelatihan seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, kemudian kalian juga akan menjadi tentara akan menikmati fasilitas di era kehancuran ini, bagi kalian yang tidak… Bisa bekerja untuk distribusi atau lainnya!”


Setelah pidatonya itu, Kolonel Aji pun undur diri dari sana, dia kemudian menyerahkan semuanya kepada para bawahannya, lalu mereka termasuk Zein diarahkan ke gedung yang sepertinya telah khusus dipersiapkan untuk melakukan beberapa tindakan medis, karena telah berisi beberapa tenaga medis sudah siap untuk melakukan kegiatan penyuntikan.


Bersamaan ketika orang lain diminta untuk berbaris agar menunggu giliran mereka, 2 orang tentara datang menghampiri Zein, dua tentara itu meminta Zein untuk mengikuti mereka, mereka juga mengatakan kalau Kolonel sendiri ingin bertemu dengan Zein.


Saat itu Zein sudah menyadari kenapa dia dipanggil oleh kolonel, mungkin saja kolonel telah mendapatkan informasi dari penguji yang berada di gerbang depan mengenai hasil tes dari Zein yang memiliki kekuatan jauh diatas manusia normal seusia dirinya.


“Selamat sore Kolonel!” ujar Zein memberi salam kepada Kolonel Aji, sementara itu Kolonel Aji pun menggerakkan tangannya untuk mempersilahkan Zein duduk.


“Ouh silahkan anak muda! Hahahaha…” balas Kolonel Aji.


“Permisi Kolonel… Untuk apa anda memanggil saya?” Zein langsung pada intinya bertanya kepada Kolonel.


Kolonel yang tadinya menyambut Zein dengan  keramah-tamahan, raut wajahnya berubah menjadi serius, sorot matanya melotot tajam kearah Zein. “Kenapa anak muda zaman sekarang tidak bisa berbasa-basi, yah?”


“Yah anda tahu pak… Saya hanya tidak suka menghabiskan waktu saya pada hal remeh- temeh di era kehancuran ini!”


“Hahahaha… Menarik sekali!” Kata Kolonel dia mengagumi pemikiran Zein yang tampak dewasa itu, kemudian satu orang tentara masuk sembari menggenggam sebuah tablet.