
Di suatu ruangan, seorang pria tua seperti tengah menatar seorang pemuda, dengan
pelatihan-pelatihan kerasnya. “Kakek! Berapa lama lagi aku harus berlatih!” Ucap seorang pemuda dengan penampilan yang sudah terlihat kelelahan, seperti telah dipukuli oleh orang lain sampai nyaris mau mati.
“Lakukan lah ! harapan keluarga ini ada padamu!... Tidak, mungkin saja nasib negara berada pada
seberapa besar usaha mu berjuang!” Kakeknya tampak begitu tegas, meskipun dia
melihat cucunya ini telah ngos-ngosan, tetapi dia masih ingin menyuruh pemuda
itu untuk terus melakukan hal-hal tertentu.
“Ayah… Apakah kau tidak begitu berlebihan sama Zein?” pria dewasa lainnya datang menghampiri mereka.
“Ouh kau nak… Bagaimana apakah kau sudah menyelesaikan semua keperluan?” tanya sang kakek terhadap
sesuatu hal yang dia minta kepada pria dewasa ini yang ternyata ialah anaknya atau ayah dari pemuda yang tengah dididik tadi.
“Sudah yah… Tapi untuk apa kita menyiapkan semua kebutuhan hidup itu?” tanya pria itu kepada pria tua
itu, lantas kakeknya pun memberitahukan bahwa sebentar lagi mereka akan mengetahuinya.
“Karena kau sudah ada disini… Maka ajarkan terus Zein untuk berlatih, aku ada sedikit panggilan dari pihak pemerintah!” sang kakek mendapatkan panggilan telepon dari kolega rekan kerjanya di pemerintahan, maka dari itu dia pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Sementara itu, di ruangan ini, pemuda yang tadi kelelahan namun masih tetap disuruh untuk terus
melakukan perintah kakeknya, sebenarnya kakeknya menyuruh pemuda ini untuk terus berlatih, entah itu seperti berlari, mengindari laser buatan yang dipasang sang kakek, meningkatkan masa otot, atau kegiatan yang meningkatkan kemampuan naluriah pemuda ini sebagai manusia.
“Ayah, apakah kakek tidak terlalu berlebihan kepada ku?” tanya Zein kepada ayahnya itu, dengan
tubuh remaja diusia 15 tahun itu, tampak sekali Zein seperti seorang olahragawan yang selalu melatih ototnya, yang mana tubuh mudanya itu telah terbentuk.
“Sabar nak… Saat ini kakek mu mungkin terlalu keras pada mu, tapi selalu ada alasan dia bertindak
demikian, karena kakek ialah orang yang serius selalu bertindak sesuai tujuan!”
“Ehhh… Aku tidak pernah mempertanyakan maksud dan tujuannya memaksa bekerja keras seperti ini, hanya
saja aku perlu tahu itu!”
“Itu semua dimulai sejak 2 tahun lalu, sejak kita sekeluarga terjangkit Red Attack, pada saat itu
kakek mu yang pertama di ujung maut, dirinya sudah memasuki mode gila… Nah saat
itu, kelompok penelitian yang dipimpin oleh dirinya dan profesor dari Jepang, menemukan sebuah potongan puzzle dari misteri anomali asing ini, yang mana mereka berhasil membelah isi dari meteorit itu, dan ketika berhasil mencapai ini, mereka mendapati ada organisme lain yang sifatnya tidak merusak manusia, yang fungsinya seperti penetral dari organisme Red attack, dan dengan berani kakek lah yang pertama mencoba resep ilmiah dengan bahan dasarnya organisme tersebut! Alhasil kakek dapat sembuh!”
“Tunggu… Bagaimana mungkin, yah? Kok ramuan itu tidak terkenal, bahkan aku baca tidak ada satupun penawar atau vaksin dalam menangani penyakit Red Attack ini.” Tanya sang pemuda penasaran, jika memang ad acara menyembuhkan penyakit itu, kenapa masyarakat umum tidak pernah mengetahuinya.
“Ceritanya panjang, Itu saat yang berat bagi kakek mu dan rekannya, awalnya mereka sudah sangat senang
sekali menemukan cara menghadapi penyakit ini, namun ternyata dari 8 meteorit yang jatuh ke bumi, hanya ada 1 meteorit yang mengandung organisme ini, dan meteorit itu yang jatuh di negara kita! Makanya organisme itu terbatas!”
“Kau salah! Mereka hanya berjumlah 99, dan itu bahkan tidak bisa berkembang biak lagi! meski begitu pada saat itu, kakek mu mampu menemukan cara, supaya organisme yang positif itu bisa diekstrak dan dicampur dengan ramuan lainnya, namun saat itu masih tetap terbatas dan tidak bisa memenuhi jumlah yang dibutuhkan oleh umat manusia!”
“Kau sudah paham?”
“Eh ayah… Aku sama sekali belum paham, kau hanya menceritakan mengenai organisme saja, tapi tidak memberitahukan aku garis besarnya mengenai tujuan kakek!”
“Oke baiklah… Baiklah! Akan ayah kasih tahu ke kamu, intinya setelah kakek berhasil selamat dari tahap sakit parah waktu itu, kakek lekas menguji dirinya dengan obat yang baru saja ditemukan itu, obat yang dari organisme positif, dan ternyata tubuhnya tuh mulai membaik, dan kau tahu, tidak hanya dia mampu bertahan, kakek juga menyadari ternyata organisme itu bukan hanya ampuh menyelesaikan masalah Red attack ini, tapi juga mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, kemampuan fisik, atau logika dalam berpikir!”
“Nah kan pas kakek sakit, kamu juga tertular oleh penyakit kakek, kan? Saat itu kakek pun menyuntikan obat yang sama kepada mu!”
“Wow luar biasa! jadi ini alasan kakek melatih ku?” Pemuda ini mulai memahami tujuan sebenarnya kakeknya selalu melatihnya dengan keras.
Disisi lain, sang kakek yang tengah berbincang kepada salah satu tokoh politik negara, terjadi sedikit perselisihan antara sang kakek dengan orang tersebut.
“Tuan Diranto! Beberapa media berhasil mengendus keberadaan persembunyian yang kita bangun dari uang
pemberian NASA!”
“Bagaimana bisa?” teriak kakek tua ini, ternyata dirinya ialah seorang profesor yang pertama kali menyadari keberadaan mahkluk asing, dan kali ini ada satu masalah yang terjadi didalam rencana Badan Antariksa LAPAN, dalam 2 tahun belakangan ini, LAPAN tengah berusaha membangun tempat persembunyian yang rencananya akan digunakan nanti.
Pada dasarnya Profesor Diranto telah menyadari bahwasanya musibah yang menimpa dunia tidak akan
berakhir hanya di tahap serangan Anomali aneh yang menyebabkan penyakit menular
ke seluruh umat manusia, namun ada sesuatu yang lebih besar dari itu tengah menunggu gilirannya, dia memikirkannya dengan kematangan juga pengalamannya, maka dari itu dia berusaha membangun sebuah benteng yang ideal untuk suatu saat diperlukan disituasi genting.
Akan tetapi, sesuai keputusan pertemuan dari perserikatan bangsa-bangsa, informasi mengenai ancaman dari entitas luar bumi jangan sampai bocor ke masyarakat, oleh karena itulah pihak LAPAN, dalam membangun benteng persembunyian ini secara diam-diam.
“Kami berencana untuk mengungkapkan yang sebenarnya!” ujar si penelepon, dia merasa kalau semakin
lama menyembunyikannya, akan membuat opini yang menyesatkan nantinya.
Namun, Profesor Diranto sebagai ketua dan pemimpin dari rencana ini, punya pandangan lain, dia merasa
untuk saat ini jangan dulu diungkapkan, kelak kalau waktunya tiba, “Jangan dulu… Itu akan menyebabkan kegaduhan, lagipula ini juga belum terbukti…. Masih berupa spekulatif dari pemikiran para ilmuan!”
“Tapi… Kita sudah tidak bisa lagi menundanya! Profesor… Saya harap anda mengerti!” Si penelepon ini
masih tetap kekeh untuk mengungkapkan rencana LAPAN.
“Arghhh Bocah!” Kakek tua ini kesal dan mematikan teleponnya begitu saja, tak lama sesudah itu,
terdengar suara ketukan pintu, dan suara seorang gadis perempuan memanggil kakek ini, “Kek… Ayok kita makan malam dahulu!”
“Eh iya baik nak, tunggu kakek!”
Sang kakek pun beranjak dari kamarnya, turun menuju lantai satu, tempat ruang makan berada, disana dia melihat keluarganya dengan penuh suka cita menyambutnya, “Ayok kakek sini duduk!” cucu lelakinya menuntun nya untuk duduk di kursi, sang kakek tersenyum lebar, dalam benaknya, dirinya masih bisa bersyukur karena keluarganya masih bisa tersenyum seperti biasanya pada situasi yang tidak menentu ini.