The Chronicle Of Earth Destruction

The Chronicle Of Earth Destruction
Kilas Balik 1



Sang kakek pun beranjak dari kamarnya, turun menuju lantai satu, tempat ruang makan berada, disana dia melihat keluarganya dengan penuh suka cita menyambutnya, “Ayok kakek sini duduk!” cucu lelakinya menuntun nya untuk duduk di kursi, sang kakek tersenyum lebar, dalam benaknya, dirinya masih bisa bersyukur karena keluarganya masih bisa seperti biasanya disituasi yang tidak menentu ini.


“Kakek lihat itu… Bapak presiden mau berpidato!” mereka Makan malam itu pun diisi sambil mendengarkan pidato dari sang presiden, mengenai pidato kebahagiaan, pidato pembebasan, pidato untuk mendeklarasikan kemenangan umat manusia bertahan dari rasa takut, terutama sejak terjadinya bencana yang melanda umat manusia 3 tahun lalu.


Kilas balik :


Sudah tiga tahun lamanya bumi diselimuti oleh awan kabung yang tidak pernah berhenti menyebarkan serangkaian rasa takut kepada umat manusia di seluruh dunia, hal itu terjadi sejak umat manusia mulai meneliti 8 buah batu meteorit yang jatuh di delapan lokasi berbeda.


Pada awalnya misi memindahkan meteorit tersebut ke tempat laboratorium di delapan negara berhasil dilaksanakan, dan meteor-meteor itu pun telah diletakan didalam ruangan kaca yang tertutup dengan aman, tanpa sedikitpun ada kontak pihak luar.


Namun, hal yang tidak disadari oleh para ilmuan tersebut ialah, kalau sebenarnya meteor yang jatuh itu mengandung sebuah mikroorganisme yang sangat amat berbahaya jika umat manusia menyentuhnya, dan sayangnya beberapa petugas ilmuan yang memindahkan meteor ini telah menyentuh benda tersebut.


Berawal dari sebulan sesudah meteor tersebut dipindahkan dari tempatnya jatuh ke lokasi penelitian, beberapa ilmuan yang ditugaskan untuk membawa meteor tersebut yang jatuh sakit, kemudian ilmuan dari negara yang dikirim untuk membantu pun kembali ke negaranya, setelah itu, gejala penyakit yang sama pun mulai terdengar terutama bagi orang-orang yang pernah kontak dengan mereka.


Pemerintah negara Malaysia, Singapura, dan Thailand secara serentak melaporkan bahwa ilmuan oper bantuan yang sebelumnya dikirim untuk membantu dalam mengamati keadaan meteorit atau sekedar untuk memperoleh data ilmu pengetahuan di negara mereka, telah meninggal dunia akibat suatu penyakit yang sangat aneh, bahkan penyakit itu menular kepada rekan dan keluarga mereka.


Saat itu, memang langsung diadakan rapat yang dipimpin oleh professor Diranto Saman, Namun karena informasi yang masih simpang siur dan terbatas juga, pada akhirnya penyakit yang di derita oleh para ilmuan hanyalah dianggap sebagai sebuah anomali asing saja, yang masih dikaji lebih lanjut, sebelum harus membuat peraturan yang mempengaruhi aktivitas sosial.


Sayangnya, keteledoran tersebut, membuat anomali asing ini semakin merambat, hanya dalam waktu sebulan kemudian, sejumlah negara yang memiliki jumlah penduduk banyak, mencatatkan angka presentasi penyakit dengan gejala yang sama dalam jumlah besar, seperti misalnya di China, pengidap anomaly asing ini membeludak terutama di provinsi tepat dilakukannya penelitian meteor ini, yakni di Provinsi Sannxi, kota Xi’an tempat badan China National Space Administration melakukan penelitian terhadap meteor tersebut.


Hingga menyebabkan pemerintah China sendiri menutup akses keluar masuk ke kota Xi’an ini, kejadian serupa pun terjadi di seluruh wilayah yang menjadi tempat untuk penelitian meteor, tidak terkecuali Indonesia, hingga akhirnya anomali asing yang bersusah payah disembunyikan ini pun bocor di media, dan media tanpa pandang bulu langsung menyebarkannya, memberitakannya secara massif kepada masyarakat umum.


Tindakan berlebihan para veteran media masa dalam meliput anomali asing ini, menyebabkan kegaduhan di seluruh dunia, hanya dalam waktu dua bulan sejak kemunculan meteor ini, sudah ada lebih dari 100 ribu orang di dunia yang mengidap penyakit dengan gejala yang sama, dan lebih dari 20 ribu nya telah meninggal dunia.


Meski begitu, ada perbedaan pendapat antara pihak pemerintahan dan beberapa pengamat negara, di berbagai dunia, jika pemerintahan akan bergerak senada dan selaras menunggu keputusan dari ilmuan, namun tidak dengan para pengamat, mereka segera mendesak negara untuk bertindak tegas dalam antisipasi dair kondisi terburuk.


Tetapi pada akhirnya, satu bulan berikutnya, Amerika Serikat sebagai negara yang juga tercatat memiliki korban terbanyak kedua memutuskan untuk menutup beberapa kota mereka, kemudian diikuti oleh perserikatan eropa, dan seluruh dunia, namun sayangnya hal ini telah terlambat, ternyata anomali asing ini menyebar begitu cepat, bahkan diluar bayangan umat manusia, maka dari itu dalam waktu 3 bulan sejak kedatangan meteor ini, sudah ada lebih dari satu juta manusia yang mengidap penyakit ini, dan lebih dari 80 ribu orang meninggal dunia.


Tanggapan beragam mulai muncul di jagat dunia maya, para warga net menganggap isu ini hanyalah akal-akalan negara-negara besar, yang meminta untuk seluruh negara bekerja sama dan membangun koalisi demi keamanan Bumi.


Alhasil beberapa negara yang memang pada 3 bulan awal ini, masih belum menerima catatan kasus anomali asing ini, tetap membuka dan membiarkan negara mereka dimasuki oleh turis manca negara, dan karena inilah, sejumlah korban yang sudah terkena penyakit ini, dan memilih untuk melarikan diri dari negara asalnya, malah datang ke negara yang masih membuka diri, alhasil, malah penyebaran anomali asing ini semakin cepat dan banyak.


Dalam jangka waktu satu tahun saja, sudah ada lebih dari Lima ratus juta orang terkena virus ini, dan 80 juta orang telah meninggal dunia, berdasarkan data ini, dimasa ini, kondisi sosial semakin terdampak, karena sudah ada buktinya dan datanya barulah banyak manusia yang mulai mempercayai anomali ini, dan mereka secara serentak melakukan kegiatan yang dijuluki sebagai “Panic Buying” yang mana diberbagai belahan dunia, banyak masyarakat yang secara berdesak-desakan membeli bahan-bahan rumah tangga, atau kebutuhan pokok, sehingga hal ini menyebabkan efek meledak nya pengosongan pasokan dari kebutuhan pokok yang ada di Gudang, karena masyarakat membeli barang melebihi apa yang mereka butuhkan, hal ini dapat merusak ekosistem ekonomi, dan menyengsarakan masyarakat yang lebih kecil lagi secara status ekonomi.


Setelah berjalannya waktu, kasus aktif manusia yang terkena anomali terus menunjukan kenaikangrafik, disisi lain, sampai  1,5 tahun kemunculan meteor, dalam periode sebulan sekali selama 5 bulan terakhir,


masyarakat sudah lima kali melakukan “Panic Buying” dan hal ini lah yang menyulitkan negara di dunia dalam menstabilkan ekonomi, alhasil kemiskinan semakin meningkat, bahkan yang lebih parah dari itu, ialah bencana kelaparan yang juga melanda hampir di negara-negara yang punya kemampuan ekonomi rendah,


Karena masalah ekonomi lah, negara-negara tidak bisa secara ketat menahan rakyat mereka agarbmenghindari anomali asing ini, melainkan harus berjalan beriringan bersamanya, kemudian World Health Organization atau WHO, mengumumkan nama resmi dari anomali asing ini, adalah Red Attack.


Dan WHO juga merilis cara-cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum untuk menghindari penyebaran Red attack ini, sayangnya, semua cara itu tidak berhasil,   puncaknya 2 tahun tepat sesudah meteor jatuh


itu, atau saat itu Bumi berada pada jumlah kasus korban bertambah hingga


mencapai 900 juta orang di dunia, dan 200 juta diantaranya meninggal dunia.


Ditahun-tahun inilah peradaban modern yang selama ini dibanggakan oleh penduduk bumi benar-benar mengalami krisis yang begitu menyeramkan, masyarakat baik itu,  orang biasa, orang terkenal, orang kaya,


orang berkuasa sekalipun, bernasib sama, seakan-akan mereka berada di neraka, jumlah korbannya melebih 1 milyar orang, yang meninggal ratusan juta, belum lagi kondisi berseker, atau kondisi gila dimana pasien Red Attack akan menggila selama 30 menit sesaat sesudah mereka dinyatakan meninggal dunia, karena hal ini lah, banyak tenaga medis meninggal terbunuh, fasilitas rumah sakit hancur.


Pemerintah pun memutuskan, siapa saja yang terkena Red Attack ini, sama sekali tidak boleh keluar rumah, dan wajib dipasung, mereka pun tidak akan ditangani, dan dibiarkan meninggal begitu saja.


Bukan hanya memikirkan Kesehatan, tetapi masyarakat juga harus memutar otak untuk memikirkan kebutuhan perut, akibat “Panic Buying” banyak masyarakat umum yang meninggal bukan karena Red attack, tetapi juga ada yang karena sudah tidak makan berbulan-bulan, dan meninggal dalam kondisi tersiksa akibat kelaparan.


Tidak sedikit pula, yang memilih untuk bunuh diri, karena juga psikologis mereka terganggu, dengan hampir setiap saat mendengar kata “Kematian” pokoknya kondisi umat manusia dalam keadaan yang paling terdesak saat itu.


Namun, pada akhirnya, dalam rentang 6 bulan sesudah melewati waktu 2,5 tahun terperangkap di dalam keadaan mematikan, penyakit Red attack secara tidak diketahui penyebabnya mulai bisa diatasi, banyak korban Red Attack yang perlahan keadaannya menjadi lebih baik, meski masih tetap ada yang mengalami krisis dan meninggal.


Namun beberapa pengamat ilmuan, dalam diskusi rahasia, mereka berspekulasi hal ini karena obat yang sebelumnya ditemukan berasal dari organisme positif yana terdapat di dalam inti satu meteorit, hanya saja pada saat itu jumlah obat ini terbatas dan hanya orang-orang tertentu saja seperti pengusaha, kalangan politik, insinyur, dan beberapa tokoh di profesi cukup penting, yang mendapatkan obat ini, akan tetapi ada suatu reaksi tanpa disadari, yang mana saat orang memakan obat ini, maka organisme negatif perusak yang disebut sebagai Red Attack ini menjadi berkurang, dan organisme positif menjadi dominan.


Lalu, saat orang yang sudah meminum obat ini bersinggungan dengan orang yang terkena penyakit Red Attack tetapi tidak meminum obat penetral ini, akan seperti tertular organisme dominannya, sehingga dengan sendirinya, organisme ini menyebar, namun karena takarannya berbeda, butuh waktu lama untuk menetralkan tubuh bagi orang-orang yang hanya tertular saja organisme positif, bukan memakan obatnya.


Intinya, Ketika para ilmuan sedang berusaha sekeras mungkin mencari solusi atau anti Red Attacknya, justru malah tanpa campur tangan dari para ilmuan, Red attack mulai melemah,  hingga dalam jangka waktu 6  bulan korban yang sudah mencapai 4 milyar penduduk bumi, atau setengah dari populasi keseluruhan, dan tidak ada lagi,  juga yang meninggal dunia dan tidak terselamatkan berada dikisaran 1 Milyaran, dengan sisa 3  milyar orang yang juga terkena Red Attack berhasil diselamatkan.


Namun, korban jiwa bukan hanya dari yang terkena Red attack saja, tercatat dalam 3 tahun terakhir ini, ada kurang lebih 500 juta orang meninggal karena kelaparan, 100 juta orang meninggal akibat kerusuhan yang melanda di Sebagian negara di dunia, Sekitar 10 juta orang lebih memilih bunuh diri.


Berarti selama 3 tahun belakangan, dimulai sejak akhir tahun 2019 sampai akhir 2022, yang mana pada saat sebelum Red Attack populasi manusia berada diangka sekitar 7,8 milyar orang, dan sesudah di akhir tahun 2022,  sudah ada 1 milyar lebih manusia yang meninggal dunia.


Dan ini adalah angka yang sangat besar, apalagi dampaknya juga terasa mengena mental orang-orang yang masih selamat, kebanyakan mereka tidak ada yang mau ke luar rumah, padahal tepat tanggal 1 Januari 2023, Pihak WHO mengumumkan bahwa Anomali Red Attack telah berakhir.


Selain itu juga, banyak kota-kota besar yang mengalami kekosongan penduduk, akibat Sebagian warganya menjadi korban, maka dari itu, pemerintah pun harus Menyusun ulang sistem sosial negara mereka, ada juga negara yang sudah runtuh karena kerusuhan dan pemerintahan mereka diganti oleh pemerintahan yang baru.


Dan butuh waktu bagi persatuan pemimpin dunia, untuk menghilangkan sedikit trauma masyarakat pada umumnya, dan pada akhir tahun 2023, barulah diputuskan sebuah perayaan besar untuk menyambut lembaran baru planet Bumi ini, dengan memeriahkan tahun baru, rasa syukur, sekaligus mengenang para korban.