The Chronicle Of Earth Destruction

The Chronicle Of Earth Destruction
Perjalanan Zein Dimulai



Dalam benak Zein dia merasa sangat penasaran akan keadaan kota Bogor yang berada di Selatan Jakarta, apakah kota ini juga menjadi sasaran dari serangan makhluk asing tersebut atau tidak, mereka akhirnya sampai juga di dalam kota depok ini.


Di Bagian pinggiran kota depok dekat kota Jakarta, tempat ini masih bernasib sama dengan ibukota, gedung-gedung yang hancur, bolong, juga terdapat bangkai-bangkai mobil yang berjejer begitu panjang di sekitar jalan utama kota, lebih dari itu, mayat-mayat orang yang tergeletak begitu saja dengan keadaan mengenaskan, apalagi setelah berjam-jam sisa-sisa darah telah mengeras di dinding atau di jalan-jalan, menjadi sebuah pelengkap menggambarkan kehancuran peradaban di kota ini. Saking menyeramkannya, bahkan jenazah orang yang menjadi korban juga menjadi makanan hewan-hewan liar di sekitar tempat ini.


Hanya saja, setelah berjalan lebih jauh lagi, keadaan kota nya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kondisi kota di dekat perbatasan kota Jakarta, di daerah pusat kota Depok sampai seterusnya yang menjauhi perbatasan kota Jakarta, tidak ada tanda-tanda kehancuran, seakan-akan tempat ini dihindari oleh para monster waktu itu, tidak ada korban jiwa, tidak ada darah, benar-benar seperti tidak tersentuh sama sekali.


Tetapi tetap sejauh pandangan Zein dan Vivi melihat tidak ada seorang pun kelihatan batang hidungnya, kemana hilangnya mereka semua? Itu yang ada dibenak kedua kakak-beradik ini, apalagi Zein mampu meningkatkan penglihatannya hingga setajam mata elang, namun itu tetap saja kota ini seperti kota mati.


Karena dipikir tidak ada hambatan, juga tidak ada seorang pun, mereka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya.


Butuh waktu sekitar setengah jam untuk mencapai kota berikutnya, tapi pada akhirnya mereka pun sampai juga disana, di kota ini pun ternyata masih baik-baik saja, tetapi keadaannya begitu sepi sekali, hingga akhirnya ketiak Zein dan Vivi sampai di bagian Bogor City atau pusat kota Bogor, dari atap suatu bangunan yang cukup tinggi, mereka melihat kerumunan orang berkumpul.


Ternyata titik perkumpulan mereka berada di Istana Bogor, salah satu dari tempat pemerintahan yang memang terletak di kota Bogor ini, terus Vivi bertanya kepada Zein. “Apakah akan kesana?”


Zein lantas menggelengkan kepalanya, dia juga menjawab pertanyaan Vivi tersebut. “Nanti dulu, takutnya diantara mereka ada orang jahat! ” Ujar Zein sambil menunjuk asal ke kerumunan orang yang dia lihat dari jauh.


“Orang jahat?”


“Iya tahu, kamu kan juga sering nonton film dek, pasti ada manusia yang kelakuannya macam monster!” Ternyata Zein mencurigai orang-orang tersebut, dilatar belakangi karena dia telah sedikit terdoktrin oleh beberapa adegan yang dia tonton pada sebuah film.


“Terus gimana, bang?”


“Oke deh bang!”


Vivi pun menuruti saran yang diberikan oleh abangnya itu untuk tetap bersembunyi di tempat mereka saat ini, sementara itu Zein segera meninggalkan gedung mereka itu, dengan cara melompat dari luar kaca jendela secepat-cepatnya supaya tidak ada yang melihat, Zein keluar dari sana tentu saja untuk menyamar dahulu menjadi orang biasa, kemudian bergabung dengan kerumunan yang tadi dia lihat di sekitar istana Bogor tersebut.


Tadinya ketika dia melihat dari atap gedung, dia pikir kerumunan yang ada di sekitar istana Bogor itu tidaklah banyak, tetapi sesudah dia melihat langsung, ternyata sudah ada ratusan orang yang berbaris hanya untuk memasuki istana Bogor ini.


Zein yang memang datang ke tempat ini bukan hanya untuk mengungsi pun segera ikut nimbrung berbicara dengan beberapa orang disana, pada umumnya orang-orang yang ada disini rata-rata ialah pemuda, juga ada sebagian anak-anak dibawah umur 15 tahun, sepertinya ditinggal pergi oleh orang tua mereka, meski ada juga orang tua bahkan sampai lansia.


Mereka semua yang mengantri ini, terhalang oleh beberapa pria berpakaian tentara yang menjaga pintu masuk kedalam istana Bogor, ternyata tidak sembarangan orang bisa berlindung di dalam istana Bogor ini, maka dari itu mereka semua dikumpulkan di depan pintu masuk, untuk diperiksa terlebih dahulu, yang mana nantinya mereka satu per satu dari mereka akan bergantian di tes dalam sebuah tenda tertutup, dan Zein dari kemmapuannya pemungut informasi, nantinya mereka akan dites terkait mental mereka, sikap mereka, Kesehatan mereka, dan juga kemampuan mereka, entah itu fisik maupun bertahan hidup.


Tibalah giliran Zien untuk diperiksa, pertama-tama seperti biasa prosedur keamanan yangs erring dijumpai, yang mana mereka akan memastikan terlebih dahulu apakah kita membawa benda yang bisa diindikasikan sebagai senjata berbahaya seperti pisau atau bahkan pistol.


Baru setelah dirasa aman, salah satu tentara akan membawa Zein ke tenda untuk pengujian, ditenda ini Zein disodorkan pertanyaan, kota tempat tinggal Zein, kemudian Zein menjawabnya bahwa dirinya berasal dari kota Jakarta, nah tentara itu lanjut bertanya lagi, kali ini cara Zein bisa selamat dari serangan waktu itu, Zein pun mengatakan sejujurnya kalau dia bersembunyi di bawah selokan air, pertanyaan ini tentara itu merasa tidak percaya, bagaimana tidak? Zein bisa melarikan diri dari kota yang sekarang saja sudah hancur, sudah gituh Zein bisa sampai ke kota Bogor dengan selamat.


Zein tentu saja tidak berniat menceritakan kepada tentara di hadapannya itu, kalau dirinya adalah seorang yang telah berevolusi, dia pun menceritakan ketika matahari terbenam, monster-monster itu seakan menghilang dari daratan, maka dari itu dia bisa melarikan diri, kemudian ditengah jalan, sekitar di daerah pusat kota Depok, dia bertemu dengan 1 keluarga yang mengizinkan dirinya menumpang, tetapi ternyata tujuan keluarga itu untuk pergi ke Bandung, sedangkan dia ingin menetap dulu di Bogor, jadi mereka pun berpisah.


Untung saja tentara itu tampak mengira kalau cerita yang dilontarkan oleh Zein bukan bohongan, sehingga dia pun melewatkan pertanyaan ini, lalu melanjutkannya ke ujian kedua, di ujian ini tubuh Zein dites menggunakan beberapa alat kebugaran, seperti Puch Tracking alat untuk mengetes seberapa berat pukulan milik Zein.