
Kini monster-monster bersayap dengan sangat agresif telah menyebar ke seluruh penjuru kota, mereka mengincar orang-orang yang terjebak kemacetan, atau para warga yang berlari di pinggir-pinggir jalan kota Jakarta, sudah tidak terhitung dan terbayangkan lagi seberapa banyak orang yang menjadi korban keganasan mereka, berkat kehadiran mereka sekarang kondisi kota terlihat begitu amburadul, gedung hancur tidak karuan, mobil yang terbelah dua, asap kebakaran akibat suatu mesin rusak membumbung tinggi ke langit, terlebih lagi mirisnya jasad manusia berserakan seperti benda yang dibuang begitu saja.
Banyak juga sih orang-orang yang masih selamat, mereka bersembunyi di dalam gedung- gedung yang gelap gulita akibat daya listrik di kota Jakarta mati, entah sampai kapan mereka yang memilih bersembunyi di dalam gedung itu mampu bertahan, jalan-jalan juga hanya dipenuhi mobil tanpa pengemudi, karena kan tadi sebelum kemunculan para monster terjadi kemacetan yang sangat panjang, mereka yang terjebak pun, terpaksa meninggalkan mobil mereka, lalu berlari menggunakan kedua kaki mereka, karena hal itu pula lah terjadinya penumpukan orang, yang menyebabkan begitu mudahnya banyaknya korban jiwa berjatuhan, dan para tentara tidak bisa sembarangan menembak.
Sementara itu di sekitar pinggiran kota Jakarta, Zein cucu dari profesor Diranto Saman hanya bisa memojokkan dirinya pada suatu selokan berpenutup, memiliki cukup ruangan yang bisa dimasuki seseorang, Zein di selokan ini bukan tanpa sebab, dia melarikan diri dari serangan monster yang sudah mencapai pinggiran kota, dan dari lokasi yang tidak jauh darinya dia bisa melihat keberadaan mobil milik keluarganya.
Semua itu bermula, ketika keluarga Zein yang tengah berada di dalam mobil, mereka terjebak kemacetan, dan disaat bersamaan, para monster itu muncul dari langit, awalnya monster-monster itu dari langit melemparkan batu-batuan yang cukup besar, terus juga ada yang memegang semacam tiang dari besi kemungkinan monster itu ambil dari tiang listrik, lalu baik itu batuan maupun tiang yang ujungnya sudah dibuat tajam, mereka arahkan untuk menyerang mobil-mobil dibawah mereka, dari pemandangan yang mencekam itu, ayah Zein menyadari kalau mereka sudah tidak bisa lagi melarikan diri dari sana.
Sebenarnya saat itu pula Zein punya ide, Zein mengusung ide, mengajak keluarga mereka perlahan-lahan keluar dari mobil, selama para monster sibuk dengan mobil yang ada di tengah kemacetan, untuk sementara waktu bersembunyi melalui selokan air yang berada di pinggir jalan, kebetulan di persimpangan jalan itu ada sebuah selokan air, yang mana airnya tidak terlalu banyak, ukurannya lumayan besar, dan bisa dimasuki oleh orang, sayangnya mereka agak terlambat bergerak.
Ketika mereka mau bergerak keluar, entah kenapa monster-monster yang sedari tadi hanya terbang dilangit, mereka lantas turun ke daratan, menjumpai orang-orang didalam mobil, salah satu monster itu datang menghampiri mobil Zein dan keluarga, monster itu mengoyang-goyangkan mobil mereka.
Saat itu adik Zein VIvi menjerit ketakutan, dan harus ditenangkan oleh ibu mereka, sementara demi menyelamatkan keluarganya, ayah Zein pun berpikir untuk mengorbankan dirinya, selanjutnya dia meminta istrinya untuk segera membawa Zein keluar dari mobil, sedangkan dirinya akan mengalihkan perhatian monster tersebut.
“Zein anak ayah yang pemberani! Apapun terjadi nantinya! Tolong jaga adik mu dan ibu mu!” Ujar sang ayah sebelum pergi untuk mengalihkan perhatian monster.
Kala itu Zein yang masih berusia sekitar 16 tahun baru menyadari sesuatu kalau momen itu ialah kata-kata terakhir dari ayahnya sebelum mengorbankan diri untuk keselamatan keluarganya, Zein mau menarik ayahnya untuk tidak keluar dari mobil mereka, tapi sang ibu menahan Zein, sambil menangis, ibunya pun juga meminta Zein untuk tetap ingat pesan kakek profesor Diranto Saman.
“Ibu! Ayah kita harus menahan ayah ibu!” ucap Zein yang tidak mau seseorang yang dirinya sayang mengorbankan dirinya, karena bagi Zein selamat itu semua orang harus tetap berhasil bertahan hidup.
Ibunya hanya menggelengkan kepalanya, lalu dia meminta Zein membawa adiknya untuk bersembunyi dan keluar disaat yang tepat. Ayah Zein pun keluar dari mobilnya, begitu pula Zein secara perlahan-lahan membuka pintu mobil.
“Tidak ayah!” Zein mau berteriak, tetapi ibunya menutup mulut Zein, dan dengan cepat mendorong Zein keluar dari mobil ke sebelah sisi kiri, sedangkan sang ibu pun beranjak dari kursinya keluar ke sisi kanan mobil berjalan meraih suaminya yang saat ini merenggang nyawa tertusuk tajamnya kuku sang monster.
Dalam hati Zein penuh kebimbangan, antara ingin berlari membantu ayahnya atau tidak, Zein terus berlari menjauhi posisi keberadaan ayahnya tersebut, meski hatinya terasa sesak saat itu, air matanya pun juga telah mengucur deras, dia tetap tidak berani, sampai Zein berhasil mencapai selokan air yang dituju.
Zein akhirnya telah masuk ke dalam selokan air bersama adiknya. “Ibu… Adik kita berhasil!” tidak menyadari kalau ibunya tidak ikut dengan mereka, ibunya lebih memilih mengorbankan dirinya mengikuti suami tercintanya untuk mengalihkan perhatian monster tersebut. “Abang… Ibu!” kata adik Zein, Zein pun baru menyadarinya, tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya ada air mata yang terus mengalir deras, sembari memeluk adiknya agar tidak terkena kotoran dari selokan air itu, ketika cukup dalam, dia pun berhenti disana, bersembunyi menunggu momen yang pas untuk bisa keluar, meski tidak tahu kapan.
Monster-monster itu karena mereka sibuk dengan orang-orang lainnya yang juga terjebak di dalam mobil, jadi tidak ada yang menyadari keberadaan Zein dan adiknya, karena saking banyak nya orang-orang di tengah jalan yang tetap bersembunyi didalam mobil-mabil mereka masing-masing, sementara itu monster tadi menyerang mobil Zein juga sesudah mengalahkan kedua orang tua Zein pun pergi ke sisi berbeda, menggangu mobil lainnya, meninggalkan jasad kedua orang tua Zein begitu saja.
“Kakak sampai kapan kita akan berada di tempat kotor ini?” tanya adiknya yang sudah tidak sabaran, karena memang mereka lagi bersembunyi di selokan, walaupun airnya kebetulan lagi surut, tetapi tetap saja, selokan itu tempat saluran pembuangan, dan Adapun kenapa mereka bersembunyi di selokan, karena memang hanya itu yang dapat mereka pikirkan, sebab seseorang akan sulit berpikir saat dirinya terdesak.
“Sabar dek… Berdoa aja! Kita pasti bisa selamat!”
“Dimana ibu? Ayah? Kita harus menolong mamah dan ayah, bang!”
“Abang juga mau!” Zein merasa sangat bimbang, hatinya ingin tergerak menolong ibunya, mencoba menenangkan adiknya itu, sembari sesekali mengintip ke luar selokan.
Tetapi tekadnya kembali buyar, ketika dirinya mendengar teriakan menjerit dari banyaknya orang di jalan pada hari itu secara bersamaan, seperti ketika kita berada di sebuah stadion sepak bola, yang mana para penonton akan berteriak, namun ini versi teriakan minta tolong, keadaannya seakan berada dalam tempat penyiksaan.
Adiknya juga membuat Zein berpikir dua kali, sebab adiknya merangkul tangan Zein dengan sangat kuat.