The Chronicle Of Earth Destruction

The Chronicle Of Earth Destruction
Kelas Malam



Pertemuan keduanya pada malam ini, menjadi awal dari petualangan Zein bersama dalam bagian aliansi, meskipun sudah malam hari, sesuai perintah yang diberikan oleh Kolonel, Instruktur Adira  tetap memberikan penjelasan-penjelasan mengenai beberapa hal harus ditaati oleh Zein, terutama beberapa informasi yang belum pernah diketahui publik, dan harus menjadi kode etik rahasia anggota aliansi.


“Baiklah karena kita juga sudah saling memperkenalkan diri… Mari kita masuk ke inti dari pertemuan kita ini…” Ujar Adira di depan papan tulis, dia terlihat mempersiapkan sesuatu untuk diterangkan kepada Zein.


“OKe… Oke… Oke kak!” Zein hanya bisa menuruti apa yang dikatakan oleh wanita maniak aturan tersebut, meski dia ingin sekali melihat seluruh isi ruangan ini, tetapi harus ada prosedur-prosedur yang mesti ditaati oleh Zein terlebih dahulu, lagipula dia sudah jadi anak emas, karena disaat lainnya harus melewati tahap tertentu dulu, Zein sudah dapat izin masuk ke lantai bawah tanah ini.


Karena Zein juga telah mengatakan oke, maka instruktur Adira pun melanjutkan penjelasannya, dirinya mulai dari mengatakan kalau saat ini Zein berada di markas Aliansi Bumi cabang Asia di Indonesia,  yang mana pasukan ini telah dibentuk beberapa tahun ketika belum adanya penyakit menular yang disebut anomali Red Attack, dia juga mengatakan kalau pasukan ini dibentuk untuk menyelamatkan orang-orang yang selamat, sebab menurut Adira, pemerintah dunia melalui penelitian yang sangat amat panjang, sebenarnya telah memantau dan memastikan keberadaan sebuah objek melayang, jadi dibentuknya aliansi ini adalah bentuk antisipasi jika suatu saat Bumi benar-benar diserang oleh Alien.


Selama bertahun-tahun, berkat usaha yang ditunjukan oleh profesor Diranto Saman, selaku bagian dari peneliti dan pengawas internasional, membuat Indonesia dipilih untuk menjadi salah satu tempat dibangunnya aliansi, hal ini lah yang menjadi alasan kenapa pasukan pertahanan di bawah tanah istana Bogor ini dapat bertahan dengan baik, dan memiliki pasokan makanan yang cukup.


Penjelasan instruktur Adira tidak sampai disitu saja, dia kembali melanjutkan penjelasannya, namun kali ini dia tidak hanya mengungkapkan dengan kata-kata saja, melainkan dia menunjukan beberapa cuplikan video, mengenai serangan yang terjadi di kota-kota besar, seperti yang sebelumnya ditunjukan oleh Kolonel, orang-orang yang selamat di era kehancuran itu tahu, bahwa saat itu bukanlah serangan melainkan sebuah pembantaian, tindakan yang dilakukan oleh para monster tersebut, di video ini terekam jelas betapa sadis nya mereka, secara membabi buta memburu para penduduk di kota, kebetulan video yang dipaparkan oleh instruktur ialah sebuah kejadian yang terjadi di salah satu kota besar di China.


Meskipun sudah berkali-kali menyaksikan pengalaman bak di neraka itu, Zein tetap saja tidak bisa membiasakan dirinya, setiap kali menyaksikan pemandangan bertabur darah itu, Zein tidak pernah tidak gemetar tubuhnya, melihat pembunuhan yang dilakukan oleh para monster itu kepada manusia, selalu membuat dirinya mengingat kenangan saat kedua orang tuannya meninggal, tetapi sebenarnya walaupun dia gemetar, hal itu bukan berarti menjadi pertanda kalau mental Zein terganggu, hanya saja dadanya terasa panas, jiwanya selalu bergejolak, hatinya begitu penuh bara api kebencian, dia hanya gemetar karena dia begitu ingin menjadi lebih kuat supaya bisa membalas mereka.


“Kau tahu? Jika aku tidak bisa membalas yang mereka lakukan kepada ras ku! Maka aku akan malu ketika kembali ke alam kematian nantinya! Meskipun aku gemetar… Aku hanya gemetar karena aku belum bisa membunuh pimpinan mereka!” Ujar Zein dengan tegas, pandangannya lurus tajam seakan-akan Zein menatap monster yang sama persis  seperti momen saat dia merasa tidak berguna, meninggalnya kedua orang tersayangnya, membangkitkan rasa penyesalannya, dan rasa itu menjadi bahan bakar bagi menjalarnya  motivasi yang menggebu-gebu yang mengakar dalam-dalam jiwanya, dan dari situ muncul keinginan sebagai tujuan yang akan dilakukan kedepannya, dengan kata lain sorot matanya hanya tertuju untuk balas dendam.


“Musuh memiliki persenjataan dan teknologi lebih baik daripada Bumi, musuh juga punya pasukan monster yang bahkan lebih mengerikan daripada yang menyerang kota Jakarta waktu itu, apakah kau masih siap?” kata Adira mengatakan hal-hal yang tujuannya untuk menguji sejauh mana tekad milik Zein itu ada, tetapi yah walaupun dihamparkan oleh banyaknya kenyataan yang mengatakan kalau musuh itu kuat, lebih unggul dalam segala hal, tetapi hal itu tidak bisa menggoyahkan hati Zein, keinginannya begitu tulus, meski dia ingin balas dendam, terhadap apa yang diperbuat oleh monster tersebut, dia mengakui kalau musuhnya kuat, dan karena rasa pengecutnya lah orang tersayangnya tiada, maka dari itu dia hanya akan selalu teguh pendirian, untuk balas dendam, kepada dirinya yang lemah, dengan menjadi lebih kuat, dia yakin dia bisa mengakhiri era kehancuran ini.


“Ah bahkan jika aku berperang sambil melindungi mu… Aku akan tetap melawan mereka… Hahahaha.” Kata Zein yang begitu optimis sesuai kondisi apapun dia tidak akan gentar seperti dahulu lagi, sembari tersenyum menggoda Adira.


“Cih… So jago!” Adira memalingkan mukanya dari pandangan nya Zein, dan kembali melanjutkan penjelasannya, kali ini dia membahas mengenai struktur ruangan yang ada di lantai bawah ini, pada bagian depan dekat pintu masuk bisa disebut sebagai area umum, lalu ruangan tengah akan ada area penelitian, terakhir bagian ke tiga tempat untuk menguji hasil dari penelitian.