The Chronicle Of Earth Destruction

The Chronicle Of Earth Destruction
Ruangan Pelatihan



Instruktur Adira dia merapikan mejanya, memasukan kursinya ke sela-sela yang ada dibawah meja, mematikan layar presentasi tadi digunakan untuk menjadi media penyampaian informasi, lalu dia pun berjalan keluar dari kelas tentu juga Zein mengikutinya dibelakang, karena tadi Adira meminta Zein untuk ikut dengannya.


Zein tidak ada pilihan untuk menolak, tetapi yang terpenting penyampaian materi sudah selesai, karena bagi Zein hal itu lah membuatnya sangat ngantuk, apalagi ini malam hari, yah meskipun dengan tubuh evolusinya Zein tidak perlu tidur layaknya manusia normal.


Tibalah Instruktur Adira di sebuah ruangan pojok kiri dekat pintu masuk, dari luar berkumpul banyak pria yang sepertinya bagian dari pasukan, meskipun pada saat itu malam hari, mereka sangat berkeringat seakan habis olahraga, dan lagi menghabiskan waktunya untuk saling berbincang satu sama lainnya, ketika Instruktur menghampiri mereka begitu sangat ramah sekali.


Instruktur Adira berjalan mendatangi salah satu dari mereka, seorang pria yang menjadi pusat dari perkumpulan ini. "Permisi Kapten!" ucap instruktur Adira menyapa seseorang pria berwajah serius, berbadan kekar tinggi besar, dengan rambut panjang yang diikat layaknya buntut kuda.


"Ouh instruktur Adira...  Ada apa, yah?" pada akhirnya karena kedatangan seorang wanita diantara mereka, pandangan mereka yang tadinya hanya terfokus kepada otot-otot mereka, atau sekedar saling berbincang antara mereka, jadi mengarah kepada satu sudut yakni mereka serentak melihat ke arah instruktur Adira, kenyataan bahwa meski mereka prajurit terlatih pun juga tetap akan goyah jika dihampiri oleh kecantikan wanita.


"Siapa bocah itu?


"Dia berjalan bersama Dewi kita!"


Ujar tentara-tentara itu, bertanya-tanya mengenai keberadaan Zein yang ditarik ke tempat ini oleh Adira.


"Iya kapten... Ini adalah pria dari pengungsi diatas yang mau jadi pasukan kita, tetapi tidak tahu darimana dirinya telah berevolusi tanpa bantuan serum pemicu! dan Kolonel telah resmi menjadikannya prajurit!"


"Ouh aku paham... Kau meminta aku untuk mengujinya, yah?" ujar pria yang dipanggil kapten itu.


"Eh tidak begitu kapten, maksud ku tuh..." tetapi ketika Adira belum menyelesaikan omongannya, pria yang dipanggil kapten oleh instruktur itu pun segera menarik Zein dan membawanya ke dalam ruangan.


Ketika Zein masuk, Zein melihat kalau di dalam ruangan itu ada 3 ruangan lainnya berbentuk persegi, dan 3 tanda lingkaran cukup besar seperti arena pertarungan, namun kali ini pria yang dipanggil kapten menarik Zein ke ruangan persegi paling depan.


"Jangan dendam pada kami... Memang ini prosedurnya... sebelum kau resmi jadi pasukan kau harus melewati beberapa tes!" ujar kapten tersebut seraya mendorong Zein masuk ke dalam ruangan dihadapannya itu, sebuah ruangan yang memiliki dinding berwarna putih polos.


Meskipun Zein tidak tahu apa itu, Zein dengan penuh percaya diri menjawab pertanyaan kapten tersebut.” Kau mengerti kapten… Aku merasa aku ingin merasakan semuanya!” ucap Zein demikian, sontak membuat kapten dan semuanya yang berada disana tertawa terbahak-bahak.


“Yo anak baru… Jika kau tidak sanggup kau akan berakhir meminta tolong loh!”


“Kalau saat itu kau kesulitan… Kami tidak akan membantu mu loh!”


Para tentara diluar yang sejak tadi memang berada disana mulai heboh, beberapa diantara mereka melontarkan kata-kata yang meremehkan Zein, dan dalam posisi itu Zein hanya menanggapi mereka semua dengan santai. “Ya terima kasih senior!”


Mendengar Zein yang sesantai itu, membuat raut wajah kapten pasukan itu benar-benar kesal, dia pun menekan suatu tombol, hingga menutup ruangan persegi yang dimasuki Zein rapat-rapat secara otomatis, seketika itu pula dari arah berlawanan  tempat Zein berdiri, Dinding yang besarnya berkali-kali dari tubuh Zein itu bergerak maju begitu cepat mengarah ke Zein.


Dari situ Zein menyadari kalau tantangan ini itu, semacam sebuah tembok  yang terus bergerak maju sehingga bisa menghimpit tubuh orang di dalam ruangan  ini, dan level tadi itu bermaksud untuk menentukan kecepatan dari pergerakan tembok ini.


Walaupun terlihat mudah juga, Zein tetap menunjukkan keseriusannya, darah ditubuhnya lekas bergejolak seakan mendidih.


Meskipun yah tantangan ini pada level maksimal pun tidak membuat Zein gentar sedikit pun, dinding yang bergerak dengan cepat itu mampu ditahan oleh kedua tangan Zein, bahkan Zein hanya bergerak mundur puluhan meter saja dari titik awalnya berdiri.


Akibat aksinya ini, membuat semua pasukan yang tadi meremehkannya malah balik tercengang, Zein sendiri pun kaget dengan kekuatan dirinya sendiri, karena dia tidak menyangka kalau dia hanya bergeming puluhan centimeter saja, dia mengira dengan dinding sebesar itu dan beratnya ratusan kilo, juga kecepatan seperti motor di tengah jalan kosong, dia akan kewalahan meski nantinya tetap bisa menahan laju dinding tersebut.


Melihat Zein yang berhasil menahan dinding yang bergerak itu, kapten pun membuka ruangan persegi itu, dan mempersilahkan Zein untuk keluar dair sana, semua pasukan yang tadi meremehkannya berbalik menajdi memuji Zein, mereka mengerumuni Zein seakan-akan gula yang dikeliling oleh semut.


Tetapi, pria yang dipanggil kapten oleh pasukan lainnya, merangsak masuk ke dalam kerumunan itu, dengan raut wajah yang tampak tersenyum namun menyembunyikan niat aslinya, dia mendorong orang-orang tersebut menjauh dari Zein seraya berkata. “Hey sudah hentikan… Masih ada satu tes lagi!” sepertinya dirinya tidak menerima kalau Zein mengambil segala perhatian anggotanya.