The Chronicle Of Earth Destruction

The Chronicle Of Earth Destruction
Di bawah Istana Bogor



Suasana yang menjadi serius ini, Kolonel lantas menunjukkan sebuah rekaman yang dia dapatkan dari badan intelejen khusus yang dimiliki oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.


“Perhatikan lah ini!” Kolonel meminta tentara itu untuk melakukan sesuatu atas tablet yang dibawa, ternyata itu ialah sebuah rekaman video akan keadaan negara-negara besar seperti Amerika, China, Russia, dan Eropa.


“Eh tunggu!!! Bagaimana anda bisa internetan?” Ujar Zein yang malah kaget akan sesuatu fokus berbeda dari pesan yang ingin disampaikan oleh kolonel.


“Apa? apa kau kaget sekali dengan hal itu?”


“Bukankah satelit buatan sudah pasti dihancurkan? Kenapa kau masih bisa mengakses video dari agen asing, pak?” tanya Zein kembali.


“Pftt… Kau ini tidak belajar atau apa? internet bumi itu pakai jaringan kabel! Tetapi yah memang saat ini internet sudah rusak, hal ini aku dapatkan sebelum serangan di Indonesia ada, dan beberapa negara dengan segera demi kepentingan keamanan melalui agen rahasia menyebarkan video ini kepada negara yang bersahabat sama mereka! Dan hal utamanya hampir seluruh ibukota negara yang ada di dunia ini telah hancur!”


“Mereka bisa seakurat itu sampai menyerang ibukota, apakah mereka mempelajari budaya ras kita, pak?” tanya Zein.


“Ya… Sebelumnya kau pernah dengar rumor hilangnya desa, hilangnya laboratorium… Mungkin dari sana mereka mempelajari kita!”


“Apakah video kehancuran kota Jakarta juga?” tanya Zein lagi.


“Itu… Tidak… Sayangnya segalanya hancur sangat cepat! Dan kita belum siap bereaksi sama sekali!”


“Arghhhh Sial!”


“Aku tahu perasaanmu bocah! jangan pernah berpikir dunia hanyalah tanggung jawab mu semata! Tidak peduli ilham apa yang telah kau dapatkan… Tidak peduli sekuat apa dirimu… Nasib bangsa kita… Tidak… Ini terkait nasib kemnausiaan, nasib harga diri ras manusia! Ialah milik seluruh umat manusia!” Ujar Kolonel mengungkapkan unek-uneknya, sehabis dia melihat Zein yang mengepalkan tangannya, bahkan sampai seluruh telapak tangannya berwarna merah saking kencangnya dia menekan telapak tangannya itu.


“Iya pak Kolonel!”


“Sekarang mari kita fokus alasan aku mengundangmu kemari… Kau pasti sudah paham lah, yah? Arti dari manusia yang berevolusi! Dan kau pasti ialah manusia itu, kan?” kata Kolonel Aji, kali ini pembahasan mereka telah mencapai inti dari pertemuan mereka berdua.


“Kolonel anda benar… Juga saya memang tahu hal itu…”


“Siapa kamu sebenarnya anak muda?” Tanya Kolonel lagi.


“Anda sekarang sudah tidak panggil saya bocil… Seperti yang anda lihat… Saya hanyalah seorang pemuda biasa saja!”


“Baiklah… Aku tidak akan memaksa dirimu jika tidak mau mengungkapkannya… Tapi aku harap kamu mau percaya pada kami!”


“Okedeh… Ngomong-ngomong karena kau juga manusia evolusi, maka kamu tidak perlu lagi masuk kedalam kelas pelatihan dan pembiasaan, aku ingin kamu berlatih tanding dengan anak buah ku, bagaimana?”


Awalnya Zein sempat berpikir dua kali, karena dia punya misi tersendiri pemberian dari wasiat keluarganya tersebut, ya tapi ketika Kolonel Aji memprovokasinya, mengatakan kalau Zein termasuk pemuda berbakat yang naif, sebab tidak memiliki kemampuan bertarung hanya mengandalkan kekuatan fisik, dia malah berubah pikiran dan menyetujui keinginan dari kolonel.


‘Huff… Seperti aku masih harus memperbaiki emosiku agar tidak mudah terpancing’ pikir Zein di kepalanya itu, pertemuan mereka ini pada akhirnya selesai dengan kolonel mengajak Zein ke suatu tempat tersembunyi di istana Bogor, Kolonel juga mengatakan kalau sebenarnya istana Bogor telah disiapkan jauh-jauh hari untuk persembunyian presiden, sayangnya hal mengejutkan terjadi begitu saja.


“Pak… Sepertinya ditempat ini bukan hanya ada anda dan pasukan, bukan?” tanya Zein ketika dia berjalan masuk mengikuti langkah kaki Kolonel, dia menaydari kalau sebenarnya istana negara cukup ramai di era kehancuran.


“Kau menyadarinya, yah? Mereka ialah walikota, dan beberapa jajaran stafnya, juga ada beberapa pengusaha kaya…”


“Terus jumlah seluruh pasukan yang ada di istana Bogor ini, berapa pak?”


“Sekitar 500 orang… Jika dihitung dengan anggota baru akan menjadi 800 orang…”


Kolonel sampai di ruangan  bersih, sepi, sunyi penuh berisi buku-buku  yang tertata rapi pada rak sesuai jenis ilmu pengetahuannya, disana dia menunjukan kepada Zein sebuah tugu, sedangkan di atas tugu itu ada tombol tertutup kaca diatasnya, menggunakan kunci dia membuka kaca yang menutupi tombol tersebut, kemudian dia langsung menekan tombolnya.


Seketika itu pula lantai di yang dipijak Zein serta Kolonel bergetak, perlahan-lahan mereka makin menurun. “Ini ialah lift menuju tempat rahasia…”


“Gelap sekali pak!” ucap Zein ya karena memang lift yang tadinya hanya lantai berukuran sekitar 10 orang dengan bentuk perseginya tatkala bergerak ke bawah menjadi gelap, namun kala kolonel mengatakan tunggu saja nanti kau akan melihat hal menakjubkan.


Benar saja, dinding yang gelap itu, berubah menjadi kaca tembus pandang, dan dari lift itu juga Zein dapat melihat ada 1 ruangan yang begitu besar terdapat di bawah gedung istana Bogor. “Ap… Apa ini, pak? Luar biasa!!!”


Mata Zein tiba-tiba berkilauan, hatinya berdecak kagum, seiring lift nya semakin menurun, dan dinding yang tadinya berwarna hitam, berubah menjadi kaca tembus pandang.


Dari posisinya saat ini, dia dapat melihat seluruh lantai bawah tanah tersembunyi ini, Zein tidak menyangka selama ini negara Indonesia telah membangun dan mempersiapkannya.


“Hehehe… Sudah ku katakan! Ini adalah ruangan bawah tanah telah dipersiapkan! Ruangan besar ini terbagi menjadi 3 bagian, bagian depan dekat pintu lift ruangan pelatihan, bagian tengah tempat penelitian, bagian paling pojok sana untuk pengujian senjata!”     


 “Selamat Malam Kolonel!”


“Malam!!”