
Sesudah selesai berpidato, sang presiden pun dibawa ke suatu tempat untuk menghangatkan diri, “Kenapa suhu di gedung ini dingin sekali?” tanya presiden kepada beberapa pengawal kepresidenan yang senantiasa berada tidak jauh dari lokasi presiden berada.
“Ma… Maaf kami juga tidak mengetahuinya pak, maka dari itu izinkan saya mencari tahu dahulu!” ujar pengawalnya itu yang tampak juga bibirnya kaku, karena merasakan hal yang sama, yakni kedinginan.
“Tidak perlu… Mungkin sebentar lagi dari divisi intelejen akan melapor! Kalian bisa kah kalian membawa beberapa pakaian penghangat, untuk ku, wakil, dan juga kalian sendiri!”
Tidak lama dari itu, melalui sebuah layar monitoring, seorang yang sudah diyakini oleh presiden akan melapor pun menghubungi presiden sendiri, orang itu adalah kepala badan intelejen, dirinya mengatakan mengenai suatu kejadian, berdasarkan sebuah rekaman video langsung yang dikirim oleh presiden Amerika Serikat saat ini.
Kala itu, presiden Amerika Serikat, berpidato didepan khalayak media, yang mana target dari pendengarnya ialah seluruh negara di dunia ini, jangan panik, dan jangan pernah menyerah.
Sebelumnya, kita berhasil membentuk sebuah aliansi militer terbesar sepanjang sejarah, dan di momen ini saatnya saya meminta izin kepada kalian semua untuk meminjam kekuatan gabungan tersebut.
Saat ini kita, peradaban umat manusia memasuki sebuah fase awal dari era yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya, maka dari itu saya mengharapkan kepada siapa saja diluar sana, mau berdiri bersama kami, melawan musuh yang nyata dihadapan kita kelak.
Itulah beberapa pesan yang disampaikan oleh presiden dari negara adidaya Amerika Serikat,m yang kemudian dilanjutkan dengan sebuah rekaman yang tampak jelas melalui sebuah video yang ditangkap dari salah satu pesawat tempur milik Negeri Paman Sam itu, dari rekaman video mereka menunjukan ada sebuah objek melayang yang lumayan besar, setinggi puluhan kilo meter melayang diatas kota New York.
Sayangnya Pesawat tempur yang dikirim oleh pihak amerika saat itu juga tidak berani mendekati objek tersebut, mereka hanya bisa menginformasikan hal ini dari jauh saja, yang sekaligus juga memberikan informasi kepada dunia, kalau mungkin saja, beratus-ratus kilometer diatas kota-kota lainnya pun ada hal serupa.
“Bagaimana dengan di atas kota ini?” tanya pak presiden Indonesia ini, selepas dirinya melihat laporan dari presiden Amerika Serikat tadi, dirinya langsung respon hal tersebut, dia meminta kepada pihak kemiliteran untuk segera bertindak, mengecek, apakah diatas ibukota negara Indonesia pun juga ada hal demikian.
Beberapa saat kemudian, Jendral dari Angkatan udara tersambung dalam pertemuan ini,dengan wajah yang tegang, dirinya memberikan informasi melalui cuplikan video, dan ternyata hal serupa juga terjadi di atas kota Jakarta, Jendral juga mengatakan kalau hal ini terjadi di seluruh kota-kota besar dunia, dan di Indonesia sendiri selain di atas kota Jakarta, hal ini juga terjadi di Palembang, Makasar, dan Irian Jaya.
Berdasarkan informasi yang diberikan oleh orang-orang kepercayaan nya, pak presiden pun memilih untuk bergerak cepat, dirinya meminta untuk segera mengatakan kepada publik, agar sebisa mungkin segera meninggalkan kota Jakarta ini, kerahkan seluruh pasukan militer yang ada di pulau Jawa ke pusat ibukota, semua pasukan yang ada di Sumatra disekitar Palembang, dan terkahir segala pasukan di Sulawesi, pusatkan juga di dekat kota Makasar, lalu semua pasukan di daerah Papua harus mengawasi kota Irian jaya.
“Sepertinya saya mengerti maksud dari presiden Amerika tadi, pak!”
“Iya, hanya kitalah yang bisa menyelamatkan bangsa kita! Tetapi karena belum jelas juga tujuan objek terbang atau UFO ini, jadi sebaiknya kita bersiap terhadap kemungkinan terburuk!”
“Namun tetap saja yak, ini seperti sebuah dongeng!”
“Betul, didepan mata kita ada suatu sosok yang selama ini dianggap hanya sekedar spekulatif! Tentu saja kita tidak akan siap secara psikologis jika memang harus berperang dengan mereka!”
“Apalagi pak! Persenjataan mereka pasti jauh lebih unggul!”
“Pak! Bukan kah beberapa waktu lalu kita sempat rapat mengenai markas rahasia yang dibangun oleh pihak lembaga antariksa negara kita? Sekarang bagaimana jika para pejabat mengungsi ke sana!”
“Gubrak!!!” presiden begitu kesal mendengar usulan dari bawahannya itu, dirinya pun lantas berkata untuk mendengarkan dahulu pendapat dari Profesor Diranto Saman, dialah orang yang memiliki usul atas hal itu, dan juga sebenarnya markas rahasia itu diperuntukan untuk senjata terakhir umat manusia.
“Ma… Maafkan kami pak!”
“Sudahlah… Bagaiman pun kita harus membicarakan hal ini dahulu kepada dirinya! Karena dia yang paling memahami mengenai kondisi saat ini!”
“Maka dari itu bisakah kalian hubungi profesor?”
“Baik pak presiden, mohon ditunggu!”
Disisi lain, profesor Diranto Saman yang tengah berada di perjalanan bersama keluarganya itu kan tahu-tahu mendapatkan panggilan dari pihak istana, maka dengan penuh kewajibannya sebagai warga negara dia pun meminta anaknya yang lagi menyetir mobil untuk putar balik menuju istana negara, tempat rapat para petinggi diadakan.
Sementara itu, keluarganya akan kembali melanjutkan tujuannya ke suatu tempat yang diminta profesor, namun entah apa yang terjadi kondisi jalanan menjadi sangat ramai, dan penuh kendaraan, mereka pun menjadi panik, pasalnya profesor berpesan kepada keluarganya itu agar harus sampai di tempat tujuan sebelum matahari terbit, dan sekarang masih jam 3 pagi namun jalanan sudah sangat ramai, seakan mereka semua sedang pergi menjauhi kota.
Mereka berhenti sebentar untuk bertanya kepada seorang polisi yang bertugas untuk mengatur lalu lintas, “Permisi pak polisi… Sebenarnya kenapa bisa jadi macet begini, yak?”
“Lah kalian keluar rumah sama sekali tidak tahu pengumuman dari pemerintah melalui media masa beberapa menit yang lalu?”
“Ouh kalau boleh tahu, mengenai apa itu pak? Soalnya kami sejak jam 12 sudah di mobil, dan tadinya udah di laur kota, terus balik lagi kemari!”
“Begini… Gimana yah ngomongnya… Ini serius yah, pokoknya dari pengumuman yang live itu, katanya sih ada Alien diatas kota Jakarta ini…”
“Alien?”
“UFO… UFO!”
“Kok kalian diam aja sih? jangan merasa heran loh yak! ini beneran soalnya, tapi wajar sih di media sosial aja sampai pada bingung dan jadikan itu candaan!”
“Jadi itu yang selama ini ayah khawatirkan, aku sebagai anaknya tidak tahu itu!”
“Tenang saja sayang! Yang penting sekarang kita harus pergi menjauhi kota bagaimana pun caranya!”
“Oke deh pak polisi terima kasih yak!” ujar keluarga profesor Diranto Saman, lantas mereka pun tetap melanjutkan perjalanan mereka kembali, meskipun saat ini kondisi di jalanan sudah macet.
3 jam kemudian, “Wah gila yak! sudah selama ini, kita baru sampai di pinggir kota!”
“Ayah coba lihat diatas langit!” saat itu, tepat pagi hari tatkala sinar matahari baru saja mencapai daratan, mengganti yang tadinya gelap gulita menjadi terang benderang, semua orang yang masih berada di sekitaran
kota Jakarta mendadak heboh, reaksinya beragam ada yang merasa takjub, ada yang merasa panik, saat itu semua nya yang berleha-leha merasa kalau peringatan yang diberikan oleh pemerintah sebelumnya hanyalah candaan, kini mereka sadar, dan menjadi begitu gelisah.
Saat itu, suatu objek terbang yang besar, menampakan dirinya di atas langit kota Jakarta, membelah luasnya langit, dan membuat bayangan yang besar sehingga dari bawah kota Jakarta agak merasa gelap.
“Mamah apa itu?”
“Kiamat! Semuanya sudah berakhir!”
“Larilah! Larilah!”
Pada hari itu, semua orang yang waras, menjadi seperti orang gila, mereka sama sekali tidak siap akan kenyataan yang tidak dapat mereka terima itu, apalagi ketika suasana yang begitu membingungkan itu, karena campur aduk nya reaksi dari jutaan manusia, tiba-tiba saja suara ledakan terdengar, dengan diiringi oleh hancurnya suatu gedung,
Orang-orang yang tadinya berdiri disekitar gedung itu, terpental tubuhnya tercerai berai, berhamburan, menyebabkan suatu beban psikologis bagi yang melihat keadaan itu, rasa takut pun mulai menjalar.
Bahkan tidak hanya satu gedung, gedung-gedung lainnya secara random meledak, dari sinilah, usaha pemerintah untuk mengatur lalu lintas supaya terhindar dari kemacetan, mulai tidak karuan, orang-orang mulai berlari berhamburan, tidak peduli akan mobil mereka mewah atau tidak, tidak peduli siapa saudara mereka, anak mereka, orang tua mereka, keluarga mereka, pada saat ini semuanya berlari menyelamatkan diri
mereka sendiri.
Kegaduhan juga terjadi di gedung istana negara, tempat para petinggi negara ini rapat, hal yang menjadi fokus mereka ialah, kehancuran gedung secara random yang tahu-tahu terjadi tanpa adanya sebab yang dapat dirasakan oleh panca indera manusia.
Akan tetapi Profesor Diranto Saman hanya dengan sekali melihat rekaman dari kehancuran suatu gedung pun menyadari alasan gedung tersebut hancur, dirinya mengatakan kalau gedung-gedung yang secara acak itu hancur karena adanya sebuah gelombang yang begitu padat, juga cepat dan bergerak lurus seperti laser.
“Itu tidak masuk akal!” ucap salah seorang petinggi negara, menanggapi penjelasan dari profesor Diranto
Saman.
“Yah bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?”
“Tenang semuanya! Hal ini mungkin saja terjadi, musuh kita ialah mahkluk yang peradabannya lebih maju dari negara maju sekalipun!”
“Itu benar!”
“Bagaiman pak presiden? Saya sendiri dari pihak militer sudah siap melakukan serangan!” tanya Jendral militer Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagian besar pasukan di pulau Jawa telah diarahkan dan difokuskan sekitar kota Jakarta.
“Kita tidak tahu seperti apa mahkluk dan teknologi yang berada dibalik benda terbang itu! Maka dari itu sebisa mungkin letakan saja para tentara di titik-titik yang tidka mudah
dilihat!”
“jadi, apakah maksud anda kita bertahan saja?”
“Iya, itu pilihan yang paling tepat untuk saat ini! karena kita sama sekali bukan tandingan mereka, jadi buat saja serangan kejutan jika nantinya mereka bergerak, meskipun tetap tidak berhasil!” profesor langsung ikut dalam alur pembicaraan antara kepala negara dengan panglima militer.
“Baiklah… Mari kita pantau saja terlebih dahulu!”
Ketika para petinggi tengah asik rapat untuk membahas rencana kedepannya, ternyata objek terbang yang berada di atas langit kota Jakarta mengalami pergerakan, yang mana bagian bawah dari objek terbang itu tampak terbuka seakan-akan dua buah bibir yang saling bergerak berlawan, seperti mulut yang menguap.
Dari bawah seluruh manusia pun juga menyadarinya, lagi pula objek terbang itu semakin dekat dengan permukaan, dari yang tadinya jauhnya ratusan kilometer, kini bahkan hanya berjarak puluhan meter diatas atap gedung paling tinggi di kota ini.
Sehingga saat bagian bawah dari objek itu terbuka, semua orang bisa melihat apa yang ada di dalamnya, hanya saja memang tidak terlihat jelas, karena jika dilihat dari sudut pandang manusia yang berada dibawah, isi dari objek terbang itu hanyalah tampak seperti kegelapan saja, padahal ukuran objek itu sangat besar.
Tidak lama, keluarlah satu per satu suatu mahkluk bersayap dengan wajah menyeramkan bak monster-monster yang sering diimajinasikan oleh para penulis dalam novel mereka, sontak saja para warga yang memang sejak serangan awal tadi sudah panik dan berhamburan, malah tambah tidka karuan mereka, tatkala melihat ratusan bahkan ribuan mahkluk yang tampak menakutkan keluar dari objek terbang tersebut.
Kala itu segerombolan mahkluk yang keluar dari objek terbang itu bagaikan sebuah pasir yang berhamburan ke suatu lantai putih bersih, kedatangan mereka mengotori peradaban yang penuh perdamaian ini, mereka terbang dengan kedua sayap yang ada di punggung mereka, menghampiri manusia yang tengah panik di bawah sana.
Jika dilihat dari karakteristik mahkluk-mahkluk itu, kelihatan kalau ukurannya paling kecil
sekitar 2 meter, yang mana tangan dan kaki mereka memiliki cakar yang taja, dan khusus dibagian tangan mereka agak lebih besar, lalu tanpa pandang bulu mereka menyerang orang-orang menggunakan jari-jemari mereka yang begitu kuat, bahkan satu ayunan tangan panjang mereka, mereka mampu membelah sebuah tiang listrik.
Pada saat itu, tidak ada satupun manusia yang luput menjadi korban mereka, mereka memotong orang-orang seperti pisau yang memotong pisang menjadi dua bagian, ada juga yang menjadikan kepala manusia sebagai mainan mereka, pokoknya hari itu ialah sebuah neraka lainnya yang bahkan jauh lebih mengerikan daripada anomali Red attack.
Orang yang bersembunyi di dalam rumah pun tetap tidak akan selamat, mereka diincar habis-habisan oleh para mahkluk ini, entah seperti mereka bisa merasakan keberadaan manusia sekalipun manusia itu bersembunyi dibalik tembok.
Kondisi berbeda dialami oleh para petinggi yang sebelumnya lagi rapat di istana negara, ketika para mahkluk itu muncul dan berterbangan kemanapun untuk menyerang manusia, dan sebagian dari mahkluk-mahkluk itu mengarah ke istana negara, namun mereka terhalangi oleh tentara bersenjata lengkap yang langsung membentuk sebuah barisan pertahanan, supaya mereka tidak dapat membahayakan para eksekutif negara di dalamnya.
“Semuanya tetap pertahankan posisi!”
Para tentara berusaha sekeras tenaga, menggunakan senjata api ditangan mereka untuk membunuh setiap mahkluk asing tersebut, namun karena mahkluk itu sangat besar kulit mereka pun tebal, peluru dari senjata api tidak bisa melukai mereka, juga mereka bisa terbang sehingga gerak mereka lebih leluasa untuk menghindar.
Akibatnya tidak butuh waktu lama, barikade yang dibangun oleh para tentara mampu dihempaskan begitu saja oleh para mahkluk asing itu, mereka pun berhasil masuk ke dalam istana negara, tapi untungnya para petinggi sudah mengungsi di ruangan bawah tanah, akan tetapi mahkluk yang seperti monster fantasi itu, terus-terusan saja
mengobrak-abrik segala hal yang ada didalam istana negara, seakan-akan mereka tahu kalau yang masih ada orang-orang di dalamnya meskipun tidak terlihat.
Ternyata mahkluk ini tidak hanya monster belaka, mereka juga memiliki akal, walaupun sedikit, salah satu dari mereka yang juga mengacak-acak istana negara ini, memanfaatkan indera mereka, menemukan sebuah lift yang mengarah ke ruangan bawah tanah, dengan telapak tangannya yang besar itu, mahkluk ini memukul sesuatu seperti pintu lift, dan yah itu hancur lalu tidak berhenti sampai disana, mereka merangsak masuk, menghancurkan lantai dari lift, bergerak terus kebawah mengikuti kemana lorong lift ini mengarah.
Hingga akhirnya mereka pun menjumpai sekelompok orang yang tengah berbaris rapih menghalau pintu masuk menggunakan tameng, juga dibagian belakangnya ada kelompok tentara lainnya yang telah siap menembakan senjata mereka.
Puluhan tentara ini, melindungi sebuah ruangan dibelakang mereka, ruangan tempat para petinggi negara berada, sayangnya tentara yang ditugaskan itu gagal menghalau para monster tersebut, sampai akhirnya para monster itu mencapai ruangan tempat para petinggi dan juga profesor Diranto berada.
Bersambung…