The Ceo'S Marriage Snares

The Ceo'S Marriage Snares
.



Ucap Vera yang kemudian berjalan meninggalkan TKP yang membuang- buang waktu itu


Vera pergi membersihkan perusahaan


" heh yang di sana !"


ucap seorang karyawan yang sedang duduk di kursinya sambil menunjuk Vera


" ah iya "


seru Vera


" bikinin saya kopi "


" MMM baik "


" saya juga, saya juga mau, yang satu jangan terlalu panas "


banyak banget gimana aku ambilnya


gumam Vera sambil berbalik arah, tak selang berapa lama Vera kembali dengan kopi yang mereka pesan


" apa ini ? terlalu manis "


" punya saya terlalu panas "


" punya saya terlalu dingin ditambah terlalu pahit "


" punya saja juga salah, saya juga, saya juga "


ucap para karyawan


" mm baik saya akan ganti "


kenapa semuanya pada salah


gumam Vera sambil membuatkan kopi yang baru, tak lama Vera kembali dengan kopi yang baru


" ih apaan sih ini, terlalu hambar "


kali ini juga, apa mereka sengaja


gumam Vera


"enaknya kopi ini di apain ya "


ucap seorang karyawan sambil menggoyang- goyangkan kap kopinya


BYURR!


semua karyawan saling memandang dan langsung mengguyur Vera dengan kopi yang masih panas itu


" haaaa, "


seru Vera sambil membersihkan kopi di wajahnya



lalu kemudian Vera menatap tajam para karyawan


" apa ? kenapa ? mau marah ? auwww akut "


" iya nih takut !"


" takut banget sih, kenapa ya ? "


ucap karyawan sambil menertawakan Vera, Vera yang sudah tidak kuat dengan hal seperti bullying yang terjadi padanya sejak mendapatkan meninggal papanya.


Vera menarik rambut karyawan secara bersamaan lalu mendorongnya ke karyawan lainnya hingga mereka terjatuh dari kursinya dan ikut berlumuran kopi di tubuhnya.


Vera pergi dengan membawa pelan nya ke kamar mandi lalu mulai membersihkan diri.


BRAAKK BRAK!


Vera menggedor pintu namun tidak ada siapapun yang membukanya dari luar


" hey, buka pintunya "


teriak Vera


" ini hukuman karna Lo seorang OB saja berani bertingkah seolah bos "


" jangan mentang- mentang dapat telpon dari bos, kamu seenaknya "


" pangkat kamu tuh jauh dari kami "


" ngaca makanya kalau hidup tuh "


ucap tiga karyawan


" mbak mending kalian jangan terlalu banyak duduk nanti nggak tau diri "


seru Vera


" udah di ringkus juga, masih ngelawan, tambahin hukumannya "


" hey masih jam kerja, kita kembali aja dulu, nanti di marahin bos "


" iya, kita terusin ngurus kecoa nya ntar aja "


ketiga karyawan itu pun pergi, Vera melihat neraka sudah pergi atau nggak nya dari bawah, setelah memastikan Vera naik dinding kamar mandi dan ke luar lewat atas kamar mandi


" sial*n kenapa coba harus kayak gini ? " ucap Vera


Vera melanjutkan kerjanya, setelah beberapa lama Vera di telpon Raksa untuk naik ke lantainya


" haaaa uh, tadi para karyawannya sekarang bos nya,.tapi rasanya kulit ku mau mengelupas karna air panas tadi sekarang pun masih terlihat merah " gumam Vera sambil berjalan ke arah tangga darurat


" naik lift "


ucap Raksa


" naik lift ? " tanya Vera


" jalan Lo kayak siput lama kalo pake tangga darurat "


Vera berjalan ke lift umum dia yang kekurangan tidur, tertidur sambil berdiri


Ting


dua orang pria naik lagi ke lift secara bersamaan, Vera pun langsung terbangun dan menyapanya


" hallo "


" hmm iya hallo "


Vera yang tak kuasa menahan ngantuk pada akhirnya dia langsung duduk di pojokan sambil bersandar dan tertidur


pria di sampingnya saling memandang dan memberikan tatapan yang sama cab*l nya


" apa anda satu pemikiran dengan saya ?"


" iya"


dua pria itu datang dan siap menerkam mangsa di depannya itu, pria yang satu melepaskan sepatunya satunya lagi membelai rambutnya


BRUK !


lemparan sebuah buku yang sangat tebal tepat mengenai mereka, dua pria cab*l itu langsung berbalik


" heh kalau mau ikutan kemari, jangan ganggu orang yang lagi asik "


seru salah satu dari mereka


seru Raksa


tanpa basa basi Raksa langsung menarik dua kepala orang cab*l itu dan melemparnya keluar dari lift


" sekertaris Bima, keluarkan mereka dari perusahaan, sisanya anda paham kan "


ucap Raksa sambil masuk ke dalam lift dan menghampiri Vera


" baik "


seru Bima


" dia tuan muda "


" maafkan kami tuan!"


" benar, ini bukan salah saya tuan orang itu yang mengajak saya melakukannya tuan "


Raksa mengacuhkannya, pintu lift pun tertutup terlihat Raksa dengan wajah tidak puas nya di saat lift sedikit lagi tertutup rapat


" dasar si jelek ceroboh "


ucap Raksa sambil membenarkan sepatu Vera, Vera terbangun karna mimpinya itu


" ha ah hosh HOS hohs hosh "


dengan nafas yang tidak teratur Vera terbangun dan sangat terkejut melihat Raksa yang jongkok di depannya sambil memegang kaos kakinya


PLAK!


tamparan tangan Vera yang sedang refleks mendarat di pipi Raksa, yang membuat amarah Raksa tiba- tiba bergejolak, di sertai tamparan tadi mulut Vera mengeluarkan kata- kata yang membuat amarah Raksa bertambah berapi- api


" brengs*k bukanya kamu orang berpendidikan ? kenapa di tempat seperti ini juga kamu melakukan hal tidak senon*h "


" brengs*k hah ? berpendidikan! hal tidak senonoh "


ucap Raksa mendekam Vera ke dinding dengan wajah yang penuh amarah dan gertakan gigi yang kuat sampai mengeluarkan suara


Vera menelan ludahnya dengan nafas yang masih tidak teratur karna mimpi yang selalu menghantuinya


obat aku butuh obat, dan kenapa harus di saat seperti ini "


gumam Vera sambil menggigit bibir kecilnya dan mengernyitkan alisnya


" hal tidak senonoh, benarkan ? jika itu yang Lo inginkan "


ucap Raksa sambil mencium paksa Vera dan membuka pakaiannya dengan paksa


" ha uh emmmh hemmm "


Vera terus memberontak memukul Raksa, terus mencoba mendorongnya namun tidak bisa sama sekali, Raksa pun memegang kedua tangan Vera dengan satu tangannya lalu mendorongnya ke atas, sambil terus melumati bibir Vera



Raksa mulai menurunkan tangannya ke bagian bawah Vera, lalu memainkannya dengan kasar di Sergai ciuman brut*l yang di berikan nya


" hmmh hmm ah uh "


di sertai dengan desah*n, Vera masih tetap memberontak hingga Raksa melepaskan ciuman berut*lnya dan Vera bernafas tidak teratur karna cuman crazy dari Raksa


" aku mohon ah berhenti ah "


seru Vera dengan air mata dan wajah yang melas


" kenapa? berhenti ? padahal ini sudah sangat basah, dan gua tau Lo menginginkan sesuatu yang lebih besar daripada tiga jari bukan ? "


ucap Raksa sambil terus menggerakkan jarinya dengan kadar dan semakin cepat


" aku mohon, jika ada orang yang masuk bagaimana ah hah ha ah, aku mohon "


ucap Vera dengan air mata yang bertambah deras lalu kemudian kehilangan kesadarannya di dalam ke gilaan suaminya sendiri


" dasar sudah jelek, lemah lagi, tapi meski sudah menutup mata, bagian bawahnya masih tetap berlendir, licin dan sangat panas "


ucap Raksa yang kemudian melepaskan jarinya


Ting


mereka akhirnya sampai di lantai paling atas, Vera masih tertidur dengan pakaiannya yang masih acak- acakan bahkan Raksa tidak membenarkan kembali pakaian Vera


Bima sudah stay di lantai atas dan saat Raksa keluar sekertaris Bima memberikan saputangan pada Raksa, Raksa mengambilnya lalu me-lap tangannya dan membuang sapu tangannya, berjalan ke arah ruangannya sambil berkata pada sekertaris Bima


" urus gemb*l jelek itu "


" baik "


sahut Bima, namun Bima sangat terkejut ketika melihat ke dalam lift Vera tergeletak dengan kondisi yang sangat tidak baik di lihat orang lain, meski pakaian dalam bagian bawah Vera tergelak dirinya masih tertutupi pakaian dress yang dia ganti di kamar mandi, hanya bagian atasnya sedikit terlihat.


Bima pun langsung menggendong Vera dan menidurkannya di kamar, setelah beberapa saat Bima memesan pakaian baru yang menutupi leher dan sekaligus memanggil pelayan wanita untuk membersihkan tubuh Vera.


stelah beberapa lama Vera terbangun dan hari mulai gelap, perutnya belum di isi apapun lagi sedari pagi


" ugh kamar ? dimana ini ? lalu siapa yang mengganti pakaian ku " ucap Vera yang masih terlihat kebingungan


" nona anda sudah bangun ?"


tanya Bima yang baru saja masuk


" jangan bilang kamu yang ?……… " ucap Vera sambil menunjuk ke arah Bima dan melihat pakaiannya


" tenang, bukan saya yang mengganti pakaian anda nona, saya memanggil beberapa pelayan wanita ke sini "


" oh syukurlah, tapi siapa yang menggendong saya kemari ?"


Bima langsung memalingkan pandangannya dari Vera dan menjawab pertanyaan Vera dengan malu -malu.


" ji… jika yang menggendong nona kemari adalah saya "


" ap… apa ? lalu apa kamu melihatnya ?"


tanya Vera dengan malu- malu


" ehmm tidak, karna nona tertutupi pakaian yang nona kenakan "


" syukurlah jika begitu, tapi tetap saja itu adalah kondisi yang sangat memalukan "


" nona bukankah pendapat saya bagus, jika melaporkannya pada nyonya "


" tidak perlu "


" nona apa anda ingin melihat ke bawah, jika melihat ke bawah atau ke luar dari ruangan ini akan terlihat sangat indah"


ucap Bima yang mengganti topik percakapannya agar terasa lebih nyaman


" tidak usah, sebenarnya saya phobia ketinggian "


seru Vera di iringi suara perutnya yang keroncongan


" hahaha apa nona lapar ? tunggu dulu saya akan mengambilkan beberapa makanan "


ucap Bima sambil pergi meninggalkan ruangan itu, Vera masih duduk terdiam di atas tempat tidur itu sambil melihat cahaya matahari yang sudah mulai menggelap


" bahkan malam pun terasa indah jika di lengkapi cahaya bulan dan bintang- bintang, tapi jika malam gelap itu di lengkapi dengan petir dan gemuruh itu terasa menakutkan "


ucap Vera sambil menghela nafas, tak lama Bima datang membawakan makanan pada Vera lalu pergi dan akhirnya Vera makan, menyantap makanannya di kursi, yang tak lama kemudian Raksa datang ke sana.


" orang lain kerja, ini malah makan, enak banget hidup Lo bangun tidur terus makan "


ucap Bima sambil menepuk piring Vera dan semua makanan nya terjatuh, Raksa menarik Vera keluar dari kamar itu dan menyuruh Vera membersihkan kantornya lagi


...to be continue………...