The Ceo'S Marriage Snares

The Ceo'S Marriage Snares
Karena saya bukan dia



pagi hari Veraya membuka matanya karna cahaya matahari yang menembus jendela kamar nya dan dia sangat terkejut karna terbangun di ruangan yang sangat aneh baginya, Vera melihat ke sekeliling dan turun ke lantai bawah, lebih terkejutnya lagi saat Vera melihat orang yang sedang berada di bawah


" Eren, kak Eren " seru Vera


" kamu sudah bangun ? jangan lupa pergi ke dokter " ucap Eren


Vera agak kebingungan dengan apa yang di ucapkan Eren


" ah saya tidak perlu " seru Vera yang belum menyelesaikan ucapannya namun sudah di sela Eren


" kebetulan saya punya temen dokter, jadi saya menyuruhnya memeriksa mu saat malam, dia bilang kamu harus periksa lagi ke rumah sakit, karna dia tidak membawa alat untuk memastikan " ucap Eren


" tapi saya benar-benar tidak apa-apa kok "


" temen saya bilang, penyakitmu jika prediksinya benar akan memakan waktu sembilan bulan agar sembuh seperti semula " ucap Eren


" apa ? sembilan bulan ?" sontak Vera


" iya " seru Eren


" nah sarapan dulu " ucap Eren sambil menyodorkan roti dan susu di atas meja


" kak kenapa saya bisa ada di sini ?" tanya Vera


" semalam saya sedang berhenti di toilet umum di sana tanpa sengaja mendengar teriakan karna saya sangat penasaran Hadi saya menghampiri mu, dan maaf jika kurang sopan pakaian mu di gantikan bibi semalam karena sudah compang-camping " ucap Eren


Veraya melihat kebawah dan tanpa sengaja tangannya memeluk tubuhnya sendiri dengan ekspresi terkejut


" maaf jika merepotkan " seru Vera


" tidak, sama sekali tidak merepotkan saya malah senang karna anda sangat mirip dengan seseorang " ucap Eren


Vera seketika berhenti memakan roti itu dan menatap Eren lalu mengucapkan satu kalimat yang membuat suasana menjadi agak rumit untuk di jelaskan


" maaf jika sebenarnya anda bersikap baik seperti ini karena anda menganggap saya sebagai orang lain, sebaiknya anda tidak perlu berbaik hati kepada saya, karna saya tidak membutuhkan simpati atau perhatian dari seseorang yang mengganggap saya sebagai orang lain, he is he I am me and I am not him otherwise he is not me either (dia adalah dia saya adalah saya dan saya bukan dia sebaliknya dia juga bukan saya) " ucap Vera sambil bangkit dari duduknya


" ya saya minta maaf, tapi anda mau pergi kemana sekarang ? " tanya Eren


" saya akan pulang, terimakasih dan maaf atas semuanya, saya akan kembalikan pakaian ini di kampus " ucap Vera


" emang tahu jalan pulangnya ?" tanya Eren


" tidak, tapi saya bisa pesen grab " seru Vera sambil berjalan keluar


" sebelumnya saya minta maaf karena mengira anda adalah orang lain tapi anda Asti memiliki seribu masalah di rumah anda sebaiknya anda menginap lagi malam ini di sini" ucap Eren


" tidak terimakasih, dan mengapa anda berpikir demikian " seru Vera


" karna saya sebenarnya seorang psikiater jadi saya mengerti saat saya memperhatikan anda semalam" ucap Eren


" kenapa seorang psikiater bisa menjadi dosen dan mengajarkan kelas seni ?" seru Vera sambil berbalik ke arah Eren


" karna keluarga saya adalah keluarga seniman yang ternama " seru Eren


" alasan tidak masuk akal " ucap Vera


" aku juga berpikir bahwa itu tidak masuk akal, namun apalah memang itu faktanya karna dengan jabatan yang tinggi orang bodoh pun bisa di hormati " seru Eren


Vera terdiam sejenak dan melanjutkan langkahnya


" jika kamu masih tetap ingin pulang saya akan mengantarkan mu ke apartemen Jennie sambil sekalian saya pulang " ucap Eren


" ah benar, kamu memiliki vila tapi kenapa memilih tinggal di apartemen yang ukurannya sedang itu ?" seru Vera


" karna di sini hanya tempat saya istirahat, dan terlalu banyak kenangan di sini " ucap Eren


" apa kenangan itu bersama orang yang sangat mirip dengan saya?" seru Vera


" iya, ah maaf sebenarnya orang yang mirip dengan kamu itu adalah kakak saya, saya terkejut saat pertama kali melihat anda, saya berpikir bahwa kakak saya melakukan operasi plastik atau sesajen yang bikin awet muda tapi melihat respon anda seperti itu sepertinya bukan " ucap Eren


" oh maaf " seru Vera


" saya minta maaf karena saya sudah salah faham " seru Vera


" entahlah dia ini bodoh atau memang baik " gumam Eren


tak lama mereka sampai di apartemen, Vera berdiri di luar mobil Eren sedangkan Eren berniat memarkirkan dulu mobilnya


" apa kamu benar-benar tidak kenal orang yang ada di foto kemarin " ucap Eren


" sebenarnya saya… " seru Vera yang terhentikan lagi dengan teriakan Jennie dari kejauhan


" Vera kamu main sama kak Eren nggak ajak-ajak aku "


" ah maaf " seru Vera


" sebenarnya saya melihat dia sedang jalan kaki menuju ke sini jadi saya mengajaknya karna kita satu arah " ucap Eren yang menyela Vera


" oh gitu ya, ulangi lagi yuk " ucap Jennie


" ulangi apanya ? " tanya Vera


" jalan kakinya, biar aku bisa naik mobil bareng kak Eren " seru Jennie


" hadeh kamu tuh apa " ucap Vera


di apartemen Jennie yang terus-terusan menyebut-nyebut nama Eren lama kelamaan membuat otak Vera serasa mau pecah termasuk gendang telinganya


" Jenn setertarik itu kamu sama kak Eren ?" ucap Vera


" hmmmm bukan tertarik tapi cinta, dia itu tampan, mapan, pinter berbakat lagi, apalagi coba yang kurang " seru Jennie


" mau bilang jangan terlalu Deket or percaya sama kak Eren, takutnya nanti malah marah-marah, Eren itu orangnya aneh, terus dia punya vila besar tapi masih sewa apartemen itupun di dekat aku dan Jennie, terlebih lagi dia terlalu banyak rahasia yang di sembunyikan nya" gumam Vera


" Vera kok kamu malah diem sih, jangan bilang Lo juga suka sama kak Eren " tanya Jennie


" nggak lah Jen mana mungkin, dan sepertinya iyang kamu rasakan itu bukan cinta tapi obsesi " seru Vera


" ouh iya Ver kamu lagi hamil sekarang ?" tanya Jennie


" apa ? ma… mana mungkin " seru Vera dengan kaget


" eh bukan gitu maksudnya jadi kamu nggak lagi hamil ?" tanya Jennie kedua kalinya


" emangnya kenapa ? kok tiba-tiba nanya kayak gitu ?" tanya balik Vera


" sebenarnya kemarin aku nggak sengaja denger kamu mual-mual, jadi aku pikir kamu lagi hamil " ucap Jennie


" Jenn sebenarnya aku sedikit takut si, aku juga mau beli testpack dari kemarin lupa terus " seru Vera


" Ver kenapa harus taku si " ucap Jennie


" bukan berarti aku nggak mau punya anak, tapi kamu tau kan kondisi rumah tangga aku kayak gimana, dan aku nggak mau anak aku nanti di perlakukan sama kayak aku " seru Vera dengan raut sedih kemudian Jennie mengeluarkan kata-katanya untuk menghibur Vera


" Ver mungkin kalo kamu hamil dia bisa sedikit sayang " ucap Jennie


" bener juga si apalagi keluarganya pengen cepet-cepet denger suara bayi tapi aku nggak bisa berharap apapun dari Raksa " seru Vera


" tapi mendingan kita periksa aja dulu, kalo kamu beneran hamil, seenggaknya kamu bisa merawat kandungan kamu " ucap Jennie


" yaudah Jenn anter aku ke rumah sakit kandungan yuk " seru Vera


" oke siap "


tak lama kemudian Vera sudah berbaring di rumah sakit, dokter sedang memeriksa perutnya, beberapa saat kemudian Vera keluar dari ruangan itu dan terdapat Jennie yang sedang menunggunya dengan khawatir


" gimana hasilnya Ver? " tanya Jennie


" Jenn aku nggak …… " seru Vera


bersambung………