
" mari kita lihat sampai kapan kamu akan berpura- pura " ucap seorang laki- laki yang hanya terlihat bayangannya saja yang sedang berdiri
tiga bulan kemudian ……
" haaaa huihhhh, capek ya Ver " ucap Jennie sambil menghela nafas panjang
" hmmm sama " seru Vera dengan tubuh yang lemes
" kamu nginep aja di sini " ucap Jennie
" iya, udah males gerak " seru Vera
" Ver bukain pintu dong maaf, kayaknya itu food yang aku pesen " ucap Jennie
" iya " seru Vera
tak lama mereka makan berdua entah ada apa dengan Vera dirinya merasa jijik dan mual melihat makanan di meja itu
" Ver kamu kenapa ? nggak enak badan ? " tanya Jennie
" hah iya kurang tidur mungkin, aku duluan ya Jenn " seru Vera
" hm "
Vera pergi meninggalkan Jennie sendirian ke kamar
" kapan terakhir kali aku datang bulan ?" gumam Vera
" nggak mungkin, ini pasti hanya masuk angin " gumam Vera yang kemudian meminum obatnya lalu mulai memejamkan matanya
pagi hari Vera baru saja terbangun dari tidurnya sedangkan Jennie baru saja pulang membeli soto dan bubur untuk sarapan
" Jenn darimana kamu ? " tanya Vera
" beli bubur sama soto, kamu suka makan soto di pagi hari kan, jadi aku beliin " seru Jennie
" makasih baby, mhhhh kamu emang paling thebest " ucap Vera sambil memeluk Jennie
" duduk cepet, aku bawain mangkok sama sendok nya dulu " seru Jennie
tak selang beberapa lama satu porsi bubur dan soto sudah terhidang di atas meja, ketika Vera melihat makanan di meja aneh rasanya bau makanan itu sangat menyengat bahkan membuat Vera mual
" Ver Lo kenapa masih sakit ?" tanya Jennie sambil menghampiri jennie
" hm iya kayaknya Jenn " seru Vera
" kita pergi ke dokter yuk, ini tuh nggak bisa di biarin harus periksa dokter sekarang " ucap Jennie
" nggak usah Jenn, Jenn aku mau pulang sekarang ya, dan tolong ambilin cuti " seru Vera sambil memakai sepatunya dan kemudian keluar
" Ver gua anterin " ucap Jennie
" nggak usah lagian udah pesen greeb " seru Vera
Vera berjalan menuju apotek berniat membeli tespek karna dia merasa curiga bahwa dirinya sedang hamil
tuk tuk tuk
terdengar suara langkah kaki yang mencurigakan, sontak Veraya pun langsung berbalik dan melihat kebelakang namun hanya melihat keramaian saja.
" mungkin hanya halusinasi saja " ucap Vera
BRUKH!
karna Vera terus memperhatikan ke balakang saat Vera berbalik ke arah depan dia tanpa sengaja bertubrukan dengan seorang laki- laki yang membuat barang laki- laki itu berserakan di bawah
" maaf… maaf… saya tadi kurang fokus "
ucap Vera sambil membantu memungut barang yang jatuh, tanpa di sangka Vera melihat Poto ibunya dulu, saat masih muda dan itu terlihat mirip dengannya, sontak Vera pun melihat ke atas
" kam… kak Eren " ucap Vera dengan sangat terkejut hingga membuat dia yang sedang jongkok duduk di tanah
" ayo biar saya bantu " ucap Eren sambil mengulurkan tangannya
" nggak apa-apa nggak usah " seru Vera sambil mulai bangun dan berdiri berhadapan dengan Eren
" nggak perlu basa basi kamu pasti tahukan siapa orang yang ada di photo itu " ucap Eren
" hah mana ada, memangnya siapa orang di photo itu ? " tanya Vera
" kamu tidak sedang berbohong kan ? jika kamu mengetahui sesuatu lebih baik kamu beritahu saya " ucap Eren
" sudah saya katakan saya tidak tahu apapun tentang orang itu " sontak Vera
" jangan berbohong! atau kamu akan menyesalinya " ucap Eren
" saya tidak berbohong ! saya tegaskan saya tidak tahu " sontak Vera sambil meninggalkan Eren
Eren yang di tinggalkan di sana pun tersenyum sambil melihat photo yang ada di genggamannya
" hallo, cari tahu siapa orang yang tinggal di rumah itu, dan cari tahu apa yang terjadi pada Sarah dan juga Ricky suaminya itu " ucap Eren sambil menutup telponnya
" susah payah aku membuka kompetisi besar- besar tapi sampai saat ini bahkan tidak menemukan sesuatu sedikitpun " ucap Eren
di sisi lain
" ah jadinya kelupaan kan gara-gara si Eren itu,. lagian apaan si tuh orang bawa-bawa photo ibu, tapi ibu pas masih muda mirip banget sama aku ya " gerutu Vera sambil masuk ke ruangan tv berniat menonton tv
" siapa Eren ? apa yang terjadi pada ibumu ? " ucap Raksa
" huaaaa, apaan si kaget aku " sontak Vera
Raksa hanya duduk dan melihat ke arah Vera tanpa respon
" kemu sedang nonton ya tuan muda, maaf deh " ucap Vera sambil pergi
" kenapa si hari ini nggak Eren yang bikin pusing ni juga satu padahal di kamarnya sendiri ada tv nonton di bawah lantai atas juga banyak " gerutu Vera sambil masuk kamarnya
" yeah mana lupa beli tespek lagi " gumam Vera
sore hari Vera berdiam di kamarnya sambil melihat-lihat majalah fashion nya selama beberapa bulan terakhir, secara tiba-tiba Raksa masuk tanpa mengetuk pintu
" ke rumah mommy sekarang " ucap Raksa dengan nada dinginnya
" hah " sontak Vera yang terkejut dengan melongo dan dengan cepat menyembunyikan majalah fashion nya
" malah bengong " ucap Raksa
" sekarang ? " tanya Vera
" iya, 10 menit turun ke bawah " ucap Raksa
Vera dengan cepat bersiap dan turun menghampiri Raksa yang sudah di dalam mobil
" telat " ucap Raksa
" hanya dua menit " seru Vera
" belajar konsisten pada semua hal, jangan bisanya leha-leha aja " ucap Raksa dengan pandangannya yang fokus pada laptop seolah tidak sedang berbicara dengan orang di sekitarnya
" ya kan kamu sendiri bilangnya dadakan, kan aku perlu siap-siap " seru Vera
" jadi menurut anda yang salah itu saya ?" ucap Raksa
" iya aku salah " seru Vera
" kenapa si ni orang bawaannya tuh ngajak ribut Mulu, nggak bisa apa, nggak usah komplain, nggak usah marah-marah " gerutu Vera dalam hati
" ini kayaknya bukan jalan ke mansion mama " seru Vera
" memang " ucap Raksa
" kita mau kemana sebenarnya ? " tanya Vera
" diam, ngikut aja, nggak usah banyak omong " ucap Raksa
" hm dasar rese, padahal cuma nanya Napa responnya gitu amat, nyebelin " gumam Vera
tak lama mereka sampai di restoran besar banyak wartawan kameramen di sana seolah mereka tahu ke datangan Raksa dan Vera
" kita turun di sini ? " tanya Vera, karna ini hanya perjamuan keluarga mereka memakai pakaian kasual
" iya, tapi sebelum turun perbaiki dulu ekspresi mu " ucap Raksa
" ha iya, tapikan kamu bilang ini hanya makan malam keluarga" seru Vera
turun sajalah, Vera turun lebih dulu menggunakan topi dan masker semua orang hanya berpikir bahwa itu hanyalah menager Raksa, ketika Raksa turun sudah di hadang para wartawan
" tuan muda, apa benar anda sudah menikah ? "
" iya, kami ingin klarifikasi tentang pernikahan anda "
" siapa pengantin wanita, yang sungguh beruntung itu "
" kapan anda akan membawanya ke depan publik " ucap wartawan
" maaf saya sedang buru-buru " seru Raksa yang pergi melewati keramaian itu
" heh klarifikasi ya, beruntung, mana ada aku bahkan di permalukan di depan semua orang, bahkan aku lebih rendah dari pada body guard di rumah, daripada beruntung lebih tepatnya aku ini sial " gumam Vera yang berjalan di belakang Raksa
bersambung…………