
" Hay, sayang ayo cepat sini duduk " seru Selena sambil menggupaikan tangannya
" hallo ma " seru Vera dengan ramah lalu duduk di samping Selena dan Raksa duduk di sebelah Vera
" Vera sayang kamu belum pernah ketemu om, tante kan, nah itu om Sony adek nya papa dan Tante Gea istrinya om Sony terus di sampingnya Jerry buah hati mereka adik sepupunya Raksa " ucap Selena
" hallo om tante " seru Vera dengan senyum canggung
" iya hallo salam kenal " sapa om dan istrinya
memang benar Thony memiliki dua putra di mana yang satu mewarisi kepintarannya sehingga meneruskan perusahaannya, lalu putra lainnya lagi adalah Sony, dia tidak cukup pandai dalam dunia bisnis namun Sony mewarisi kekejaman dan kelicikannya Thony dalam menjalani misi.
" Hay kakak ipar, apa kakak hanya akan menyapa mommy, sama papi kenapa akunya nggak di sapa " ucap Jerry dengan ramah, dengan mulut yang masih berisi makanan
" setidaknya telan dulu makanan yang ada di mulut mu itu, baru berbicara lihat makanannya muncrat keluar " ucap Ghea sambil mencubit pipi Jerry
" ah apaan sih mah, udah Jerry bilangin jangan cubit pipi Jerry, Jerry bukan lagi anak umur tujuh tahun kalo di lihat cewek kan malu " seru Jerry
" udah mikirin cewek, lihat saja makan mu saja masih berantakan, mana ada yang mau " ucap Ghea sambil mencubit pipi Jerry lagi
" ih apaan si my " seru Jerry sambil sedikit meronta
" Haha hm " tanpa di sengaja Vera yang melihat kelakuan keluarga Jerry tertawa tanpa sengaja dan semua mata keluarga itu tertuju padanya
" ah ma…af " seru Vera dengan canggung
" nah begitu dong sayang senyum kan jadi manis, jangan canggung kayak sama siapa aja " seru Ghea dan Selena
" ha iya ma, Tante "
mereka semua berbincang, Veraya yang awalnya merasa canggung pun hilang rasa kecanggungan nya sedikit demi sedikit, Raksa yang tak banyak bicara seolah dialah menantu keluarga itu bukan Vera, di tengah perbincangan manis itu tiba-tiba Vera merasa mual melihat sop baru saja di hidangkan
" hu… Vera pergi ke toilet dulu "
ucap Vera sambil pergi dengan menahan rasa mulanya, Vera mual-mual di kamar mandi saat dia keluar dirinya di kagetkan pandangan dari sekitar, Vera yang merasa tidak enak pun melihat dirinya di cermin wastafel
" kamu boleh memakainya itu hal biasa, saya juga dulu pertama kali merasakan morning siklus seperti itu "
ucap seorang wanita dengan perut besar dan anak kecil di sampingnya sambil memberikan sapu tangan yang berbau segar
" ah sebelumnya terimakasih, tapi maaf saya tidak perlu "
" gunakan saja jangan sungkan ini sudah di lengkapi perpaduan aroma min dan pohon pinus " ucap wanita itu
" iya terimakasih, tapi apa anda sudah tidak menggunakannya ?" tanya Vera
" gunakan saja sekarang saya sudah tidak merasa mual lagi dan sepertinya anda lebih membutuhkannya "
" terimakasih " seru Vera
Vera kembali melihat dirinya di cermin, berbeda dengan seorang istri lainnya yang sangat senang jika mendapatkan pertanda itu, namun terlihat jelas di wajah Vera rasa cemas dan rasa takut lebih terlukis jelas di bandingkan rasa bahagia, hingga membuat Vera membasuh wajahnya beberapa kali dan mencuci tangannya hingga terdapat luka lecet
" sayang kenapa begitu lama ? apa ada yang terasa sakit ? " tanya Selena
" aku sangat berharap mendapatkan cucu segera "
ucap Arya dengan santainya yang membuat Vera yang akan duduk terkejut dengan ucapan Arya dan kembali di hantui dengan rasa khawatirnya itu
" sayang ada apa? kenapa wajah mu terlihat pucat ?" tanya Selena
" ah nggak kenapa-napa kok ma " seru Vera
" kakek juga sangat berharap mendapatkan cucu buyut dengan segera dari siapapun itu " ucap Thony
Vera semakin tertekan dan khawatir dengan percakapan mereka apalagi melihat Raksa yang tidak merespon apapun dari perkataan keluarganya
" jika di hitung sudah setengah tahun kalian menikah? apa kamu memakai penghalang atau apapun itu? " tanya Ghea
" nggak Tante, nggak pakai apa-apa " seru Vera
" jika kamu mengandung saya akan memberikan singa sebagai hadiah " ucap Sony, Vera semakin tertekan dengan suasana makan malam itu
" ayolah sayang jangan becanda itu nggak lucu kalo kamu kasih singa dia bakalan berpikir itu bukan sebuah hadiah tapi peringatan bunuh diri " seru Ghea
" apa kak Raksa tidak memuaskan kakak ipar ku yang cantik ini, jika benar aku akan mendonorkan malam pertamaku dengan kakak ipar ku yang cantik ini " ucap Jerry yang membuat semua mata tertuju padanya
" jika kamu melakukannya lihat saja nama belakang mu akan di ambil " ucap Thony
" hussh kalo ngomong itu jangan sembrono " ucap Selena
" kalo bener kamu lakuin itu, aku tarik pemasukan kamu " ucap Sony
" ah sayangnya mama ini kenapa selalu saja membuat semua orang terkejut dengan ucapan mu itu " ucap Ghea sambil menarik telinga Jerry
" ah aaaahhh aduh ma, aduh aw sakit iya ma, iya cuma becanda doang kok " seru Jerry semua keluarga kembali tersenyum dan melupakan soal cucu buyut yang mereka bicarakan, kecuali Raksa yang tidak tersenyum sedikit pun
" ucapannya sembrono tapi aku berterimakasih karna kamu adik, aku jadi tidak merasa tertekan lagi seperti sebelumnya " gumam Vera dengan senyum tipis di bibirnya
Raksa melihat ke arah Vera namun pandangan Vera terfokus pada semua keluarga yang tersenyum bahagia layaknya sebuah keluarga sederhana bukan keluarga milyader ternama
" ternyata gadis jelek ini sangat pintar berakting " gumam Raksa
acara makan malam pun telah berakhir jam menunjukan jam
setelah semuanya berpisah Vera berdiri di depan Resto menunggu sopirnya datang menjemput
" Hay kak " ucap Jerry sambil menepuk kedua pundak Vera lalu mencondongkan kepalanya melihat ke depan Vera
" Jerry ? aku sangat terkejut barusan" seru Vera
" apa Kak Raksa meninggalkan kakak sendirian di sini ? " tanya Jerry
" tidak, dia hanya pergi ke toilet, sebentar lagi pasti akan kembali "
Raksa tepat berdiri di belakang Meraka, Jerry menyadarinya namun Vera tidak menyadarinya sedikit pun
" Kak apa rumah tangga kalian baik-baik saja ? " tanya Jerry
" ke… keluarga kami sangat baik-baik saja, kenapa memangnya ?" tanya balik Vera
" tidak apa-apa? hanya saja melihat kondisi kakak yang sedang tertekan tadi dan kak Raksa tidak melakukan apapun sepertinya hubungan kalian tidak baik-baik saja "
" ah iya karna kami ada sedikit kesalahpahaman, aku juga mau berterimakasih ternyata kamu menyadari aku sangat tertekan tadi " seru Vera
" tentu " ucap Jerry yang kemudian menundukkan kepalanya sambil melihat Raksa dengan ujung matanya lalu menodongkan kepalanya pada Vera seolah mengatakan sesuatu yang sangat rahasia
" bye, ketemu lagi ya kakak ipar " teriak Jerry sambil masuk mobilnya
" adik yang menghibur " ucap Vera dengan suara pelan
" tuan, nyonya silahkan naik " ucap sopir yang sedang berdiri di depan pintu mobil yang sudah terbuka
" tuan " ucap Vera sambil berbalik melihat ke arah Raksa di belakangnya
" Rak… tuan muda " ucap Vera
mereka berdua naik kedalam mobil di tengah perjalanan Raksa menyuruh sopirnya menghentikan mobilnya
" apa ada sesuatu yang tertinggal ?" tanya Vera
" iya " ucap Raksa
" saya akan memutar kembali mobilnya tuan " seru sopir
" tidak perlu, turun " ucap Raksa, sopir itu dan Vera merasa kebingungan
" Raksa membuka pintu di sebelah Vera dan menyuruhnya keluar
" aku mohon jangan keluarkan aku, di sini gelap " seru Vera
Raksa dengan acuhnya membuka sabuk pengaman Vera yang membuat Vera terjungkal ke luar dengan sendirinya
" tuan! Raksa aku mohon " teriak Vera namun Raksa sangat acuh, hanya menjalankan mobilnya tanpa mempedulikan Vera
dengan melawan rasa takutnya akan gelap Vera berjalan sambil memegang sendalnya namun suasananya semakin menyeramkan
" hai ugh ugh " Vera meronta-ronta dengan beberapa pria yang tiba-tiba menyergapnya dan langsung menyeret Vera ke tempat yang lebih sepi, Vera membuka matanya ruangan itu seperti pabrik tidak di pakai kumuh, bau, dan gelap.
" aku harus melepaskan diri " gumam Vera sambil sedikit membuka matanya dan melihat ke sekeliling
" hey mending kita lakukan sekarang"
" lebih baik tunggu wanita itu bangun dulu, baru melakukannya"
" benar, jika kita melakukan nya dengan orang yang pingsan bukankah seperti melakukannya dengan orang mati "
" tapi bagaimana jika dia berteriak"
" ini sudah tengah malam, lagipula siapa yang akan menolongnya "
ucap para preman
mereka malah asyik berdiskusi sedangkan Vera sudah berhasil membuka ikatan di tangannya
" harus perlahan, perlahan oke " gumam Vera yang berjalan dengan perlahan namun tanpa sengaja ujung jarinya menyentuh kaleng kosong yang membuatnya terjatuh dan menggema di ruangan itu
" hey lihat gadis itu sudah bangun "
" cepat tangkap " ucap para preman sambil menyerbu Vera
Vera terlihat sangat kebingungan ia melihat kursi bekas duduknya tadi lalu mengayunkan kursi itu ke arah preman hingga membuat dua dari mereka luka-luka
" bodo ah, pokoknya aku tidak tahu harus apa, tapi aku sering melihat di drama tendang anunya, ayo lakukan" gumam Vera sambil menendangnya dengan mata yang tertutup
setelah sekian lama Vera berusaha melawan meski dia tidak bisa ilmu bela diri, pada akhirnya Vera terbaring di lantai dengan para preman yang mulai melepaskan ikat pinggang mereka
" lepaskan aku! ihh tolong! tolong! lepaskan " berontak Vera namun tetap saja para perenang itu menekan Vera di tanah pakaian Vera sudah compang-camping, satu preman berdiri di atasnya sambil siap mengeluarkan pisangnya dan berniat memasukannya ke dalam mulut Vera, pandangan Vera mulai memudar tak sebelum mata Vera tertutup Vera melihat langkah kaki seseorang yang datang ke sana
Jerry Rodriguez
bersambung………
jangan lupa vote, kasih bintang / beri penilaian, dan jangan lupa like, komen, and ikuti author...