
Ucap Raksa sambil menepuk piring Vera dan semua makanan nya terjatuh, Raksa menarik Vera keluar dari kamar itu dan menyuruh Vera membersihkan kantornya lagi
Vera kembali mengganti pakaiannya yang tadi sudah di keringkan, saat Vera sedang berpakaian seseorang dari belakang menarik Vera membungkam mulut Vera dengan obat bius yang membuat Vera tidak bertenaga.
Vera dengan keadaan yang setengah sadar itu di gusur ke sebuah ruangan yang bertumpukan barang, yang gelap bahkan pelita pun tidak ada, dengan setengah kesadarannya itu Vera mendengar sedikit pembicaraan orang -orang di luar ketika selesai mengurung Vera di gudang
" yakin nih, nggak bakalan terjadi apa- apa sama kita "
" yakinlah, lagian siapa sih dia cuma gadis OB"
" tapi dua karyawan yang di pecat katanya gara- gara cari masalah sama orang ini gimana ? "
" ah udah sekarang mah tenang aja, itu cuma hoax "
ucap dua orng yang mengurung Vera
" suara wanita, yang mengurung ku wanita "
gumam Vera yang kemudian menutup mata matanya
jam 20 : 00
semua karyawan sudah pulang tinggal beberapa karyawan yang sedang lembur yang belum pulang, dan security yang dapat jadwal jaga malam
Vera terbangun dan ruangan itu sangat gelap, terlihat bayangan seorang gadis kecil yang sedang di kurung di ruangan yang sangat gelap dan kotor, obat yang di biuskan kepada Vera meninggalkan efek halusinasi
" hah papa! papa! papa! "
teriak gadis itu dengan tangisan yang sangat kencang
" jangan berteriak, aku mengatakan kamu di culik, jadi jangan berteriak, atau papa nanti bisa denger "
srreeetttt!
ucap seorang ibu tua sambil memukulnya dengan cambuk
"
" jika bukan karna kamu memergoki ku sedang selingkuh, aku nggak bakalan nyiksa kamu seperti ini "
ucap wanita itu sambil meninggalkan ruangan itu
" papa di sini gelap pa "
ucap Vera sambil bercucuran air mata, Vera duduk di pojokan sambil memeluk kedua lututnya
" seseorang tolong aku, di sini gelap, sangat gelap "
setelah beberapa lama Vera masih seperti itu tidak ada orang yang datang menolongnya, di sisi lain tempat terlihat Raksa yang baru saja sampai di mansion nya
di sambut 20 dayang di depan mansionnya, dan di antar 90 body guard dari luar, turun dengan karisma yang besar wibawa yang membuat semua orang takut dengan pesona wajah yang sangat rupawan, keeleganan dari dirinya tidak luput sedikit pun.
" dimana gembel itu"
" maaf tuan sepertinya nona belum sampai mansion "
seru sekertaris Bima yang berlari dari dalam mansion menghampiri Raksa
Raksa pergi membersihkan dirinya lalu sarapan kemudian tidur, Raksa tidak peduli pada istrinya yang tidak ia ketahui keberadaannya sekarang, di sisi lain tempat dua securiti sedang berkeliling di gedung
" papa papa hiks hisk hiks "
ucap Vera yang di iringi segrukan dan tangisan dirinya
" eh Jo suara apaan tuh Jo "
ucap salah seorang security
" emak kau mungkin itu "
jawab Joko
" eh ibu aku sudah meninggal lah, dua tahun yang lalu "
seru bento
" haaaah itukan suara kau yang sudah meninggal itu "
" mana adalah "
" terus suara apa itu ? "
" kita kabur dalam hitungan tiga yok "
" 1 2 tig…… "
" tolong! pa, papa "
" mungkin saja itu orang "
" bener kita buka bareng- bareng "
" kenapa bareng- bareng, kau sajalah yang buka "
" mana bisa, kita barengan aja bukanya "
ucap dua security itu sambil membuka pintu gudang dengan perlahan dan mengendap- ngendap
" huaaaaaa "
teriak satpam yang masuk lebih dulu
" ada apa ? "
ada yang item item "
" kan ruangannya gelap jadi item semua "
" oh iya, ya "
ucap satpam,
Vera yang melihat secercah cahaya dan mendengar suara bisik dia mengangkat kepalanya dan membuat satpam itu berteriak
" aahhhhh HH HH. "
" papa "
ucap Vera yang masih sedikit berhalusinasi sambil memeluk kedua satpam itu dan menangis sejadi- jadinya
" gadis, tapi kenapa dia "
" sutttt biarin dulu dia tenang "
isyarat satpam
" pa, papa aku takut pa hiks papa kenapa hiks nggak jemput- jemput Vera pa "
salah satu satpam itu menenangkan Vera hingga Vera menjadi tenang dan tersadar, setelah beberapa saat kemudian pak satpam yang bernama Joko itu membelikan makanan dan minuman untuk Vera lalu mereka makan di pos
" maaf ya pak, saya pikir tadi papa "
ucap Vera sambil memakan makanannya
" iya nggak apa- apa, paman juga punya seorang putri mungkin sekarang masih SMA, paman jadi teringat sama putri paman "
seru Joko
" neng emang papanya kemana neng, kok nangisnya manggil- manggil papa ? "
tanya bento, Joko pun menepak bento
" nggak apa- apa kok pak, papa saya udah meninggal saat saya masih 3 SD "
" udah meninggal Jo, maaf ya neng "
" nggak apa- apa kok "
" Eneng kerja di sini ?"
tanya Joko
" hmm iya pak "
" ntar setiap pagi bapak bawain nasi masakan istri bapak ya "
" nggak usah pak, saya masuk kerjanya siang".
" nggak apa-apa ntar istri bapak kalau udah jualan di rumah siang ke sini "
" yaudah iya pak, makasih ya pak "
" kalo mau cerita- cerita juga jangan sungkan ya ada bapak "
" hmm iya pak "
Vera tersenyum cerah dengan kehangatan kedua satpam itu, lalu kemudian Vera pamit, karna satpam yang bernama Joko khawatir jadi mengantarkannya menggunakan motor legendanya, setelah Vera sampai di rumah gerbang rumah terbuka secara otomatis, Vera kembali dengan wajah yang penuh gelisah nya
" baru pulang jam segini " ucap Raksa yang sedang duduk di ruang utama
" tadi saya di kurung di gudang "
seru Vera dengan nada yang datar dan ekspresi yang datar
" Bima bawa semua body guard ke lantai dua" ucap Raksa sambil menarik tangan Vera ke lantai dua
" kamu mau apa ? lepasin ! lepasin aku bisa jalan sendiri "
" kenapa ruangan ini kosong ?
gumam Vera sambil melihat sekeliling
Raksa melempar Vera di atas kursi, lalu membuat kursi itu menjadi seperti tempat tidur, tak lama 90 body guard datang dan berbaris dengan rapi di ruangan itu
" tunggu ini, ada apa ini ? "
ucap Vera, Raksa mendorong tangan Vera di atas tempat tidur lalu menciumnya dengan paksa
" jangan bilang dia mau berhubungan di depan semua orang- orang ini
gumam Vera sambil menutup matanya, mata Vera sudah mulai berkaca- kaca
" aku mohon lepasin! lepasin aku! aku mohon"
" aku sudah tidak bisa menahannya "
ucap Raksa sambil menggertak-an giginya dan memegang tangan Vera lalu di sentuhan pada burung miliknya
" suruh orang- orang di sana pergi "
" Lo nyuruh gua buat nyuruh mereka pergi! jangan mimpi, lebih baik jika melihat langsung seperti ini daripada di serial tv "
Vera sudah tidak kuat dia selalu memberontak setiap kali Raksa menyentuh tubuhnya, Raksa menidurkan Vera yang sudah tidak memakai pakaian dan hanya memakai tenktop dan celana pendek, entah kenapa Raksa melihat Vera membuat Raksa terguncang akan keputusannya sambil memukul pantat Vera Raksa menyuruh body guard mya keluar dan menunggu di luar
" keluar kalian semua " ucap Raksa hanya dengan satu ucapan semua body guard itu pergi
PLAK PLAK PLAK
" ah ha ah sakit !"
seru Vera dengan air mata yang mengalir dan rasa malu yang di rasakan dirinya, Vera melihat ke depan dan semua body guard sudah mulai pergi dari ruangan itu, keluar berjalan dengan kaki yang gemetar ………
" aku mohon sekali ini saja aku mohon! aku mohon padamu aku mohon tuan muda aku mohon jangan seperti ini "
Raksa mengacuhkan Vera entah itu permohonannya, tangisannya
" Raksa aku mohon! "
teriak Vera
semua body guard tersentak dengan teriakan Vera yang di sertai desah*nya da, Raksa melanjutkan ritual penyiksaan istrinya itu hingga membuat Vera berhenti bersuara meski dalam kondisi sadar, meski semua body guard sudah keluar namun berdiri di dekat pintu dengan teriakan di dalam ruangan masih saja terdengar samar-samar para body guard
" aku… benar… benar malu……
gumam Vera
" hallo anak ku tercinta "
ucap Selena yang baru saja naik lantai dua dan suaranya memantul di seluruh ruangan
" Bima bereskan "
ucap Raksa yang langsung mengenali suara ibunya, semua body guard termasuk Bima pun berpencar dari depan kamar yang sedang di isi oleh Raksa
" ada apa ini? kenapa yang jaga nya di dalam bukan di luar "
ucap Selena
" mu… mungkin tuan ta… takut ada yang mengganggu "
" apa anak itu sedang membuatkan cucu untuk ku "
ucap Selena
" ah iya… iya nyonya besar benar "
" kali ini Lo termasuk beruntung "
ucap raksa, Vera hanya memalingkan pandangan wajahnya yang sudah tidak berekspresi
...to be continue……...
...----------------...