
" mama cuma khawatir karna dulu waktu mama honeymoon sama papa kamu mama pingsan, mama cuma takut anak orang pingsan lagi " ucap Selena
" dari tadi gadis jelek itu tidak merespon sedikit pun, apa dia benar-benar pingsan, tapi masa bodo entah itu pingsan atau mati pun tak peduli " gumam raksa
Raksa membuka majalah yang sering ia lihat, dia menjalani liburnya seperti seorang yang bahkan tidak memiliki istri dengan santainya minum kopi sambil melihat majalah
" beneran nggak kenapa-napa, mama cek ya ke atas " ucap Selena
" nggak usah ma, tadi pagi udah bangun kok, cuma tidur lagi " seru raksa
" yaudah nih bawain makanan ke atas " ucap Selena
" nggak usah ma, dia bisa ambil sendiri " seru raksa
PLATAK
Selena memukul lembut kepala Raksa,
" ah iya ma, iya " seru Raksa
raksa pergi ke atas dengan membawa makanan dan duduk di meja, raksa membangunkan Vera menggunakan kaki namun Vera masih tetap saja tidur, lalu Raksa mengguyur wajah Vera namun masih tetap saja tidak bangun.
" apa dia bener- bener pingsan " gumam Raksa
pada akhirnya Raksa duduk di kursi dan mengecek saham dari rumah
" gua yang slalu stay kerja, tiba-tiba ambil libur, rasanya aneh " gumam Raksa
secara Rodguez adalah perusahaan yang tidak memiliki hati libur entah itu Sabtu, Minggu, atau tanggal merah, sistim kerja di sana seperti sistim universitas
" poster tidurnya jelek " gumam Raksa
jam 16 : 57 sore
" ugh " Vera terbangun dan menggeliatkan tubuhnya
" akh sakit, aku tidak bisa bangun " ucap Vera
" lihat di mana jal*Ng yang mendes*h kemaren malam, bangun! udah waktunya Lo beresin rumah gua "
ucap Raksa sambil menarik tangan Vera yang membuat Vera tersungkur ke lantai
" akhh sakit !" seru Vera
"sakit hah! ke adaan Lo yang sekarang nggak seberapa di bandingkan Celine yang mati nolongin Lo " ucap Raksa
Vera mulai berdiri namun seluruh tubuhnya lemas, setiap kali Vera mencoba berdiri tubuhnya gemetar, setiap berjalan dua tiga langkah dia slalu terjatuh
" cuma jalan doang lama banget! "
ucap Raksa yang kemudian menarik Vera yang sempoyongan ke kamar mandi dan melemparkan Vera ke bathub
" akh sakit, aku bisa kok jalan sendiri nggak usah di tarik- tarik " seru Vera dengan mata yang berlinang
" jalan Lo udah kayak siput, lama banget" ucap Raksa
" tapi kan semua ini gara- gara kamu " seru Vera
Raksa mendekati Vera dan mencengkram dagu Vera dengan tatapan mata yang tajam
" ugh sakit!" seru Vera
" gua bakalan bikin hidup Lo seperti di neraka sampai Lo mati " ucap Raksa
" kenapa nggak langsung bunuh aja " seru Vera
" hmmm bunuh itu saran yang bagus tapi mati terlalu mudah bagimu, gua bakalan biarin Lo mati kalo hidup Lo udah seperti di neraka " ucap Raksa
" hiks hiks " Vera yang merasa tidak adil atas semua yang telah terjadi padanya, tak kuasa menahan air matanya
" cuih, nangis segala lagi "
ucap Raksa sambil membuang ludah di wajah Vera lalu pergi ke luar meninggalkan Vera
" jika dalam waktu lima menit kamu masih belum selesai mandi, gua bakalan bikin Lo kayak kemaren malam " ucap Raksa
Vera dengan cepat membersihkan tubuhnya, meski dirinya bergetar kesakitan, Vera bahkan mandi dengan pintu kamar mandi yang terbuka
a view moments later…………
" ma Raksa pamit ma " seru Raksa
" MMM " Vera bingung harus berkata apa
" apa sayang, nanti main lagi ya ke rumah mama, ntar kapan- kapan kalo main harus bawa kabar bahagia ya buat mama " ucap Selena
" iya ma " seru Vera dengan senyuman manis di wajahnya
di dalam mobil
" Lo harus inget jika di rumah Lo bukan nyonya ataupun istri Lo hanya pembantu, or pelayan s*x, Lo hanya akan bersikap seperti istri gua jika kita sedang di luar rumah, Lo paham kan " ucap Raksa
" hmm iya paham " seru Vera
Bima yang menyetir mobil sangat terkejut dengan apa yang di katakan tuannya, lalu melihat kondisi Vera seperti itu Bima langsung paham kondisi Vera seperti apa
mansion kediaman Raksa Axel Rodriguez
Vera turun dari mobil dan sangat terkejut melihat rumah Raksa yang begitu besar
Bima mengambil barang bawaan mereka di bagasi namun Raksa melarangnya dan malah menyuruh Vera yang membawanya
" tapi tuan kam…… " seru Bima
" berani bantah ya anda sekarang " ucap Bima
" tidak apa- apa biar saya aja yang bawa " seru Vera dengan senyuman manisnya yang lebar
" cih senyuman itu lagi " gumam Raksa
Vera membawa dua koper sekaligus dan mengikuti Raksa untuk menyimpan barang nya namun Raksa naik lift
" kenapa Lo ngikutin gua " ucap Raksa
" kan mau nyimpan barang- barang ini " seru Vera
" naik tangga, terus bawa ke lantai paling atas kamar 02 " ucap Raksa
Vera pun sangat tercengang mendengar ucapan raksa, apalagi rumah nya sangat tinggi, namun pada akhirnya Vera membawa kedua koper itu ke atas karna ruangannya yang sangat besar dan tata letak yang membingungkan membuat Vera hampir tersesat dan memakan waktu setengah jam untuk sampai ke kamar itu
" setengah jam! Lo bawa barang dari bawah aja makan waktu setengah jam! " ucap Raksa
" tapikan rumahnya gede, kopernya berat terus tataletak rumahnya sulit untuk di ingat " seru Vera
" berani ya Lo jawab ucapan gua, selama ini nggak ada orang yang berani bantah ucapan gua " ucap Raksa
" ini koper kamu nya mau di taruh di mana ?" tanya Vera
BRUGHH!
Raksa mendorong Vera ke dinding dan mencengkram dagunya lalu menggertak-an giginya dan berkata dengan mata yang penuh amarah
" Lo hanya sekedar pembantu dan panggilan Lo yang pantas bukan " kamu " tapi tuan, tua muda Raksa " ucap Raksa
" ah ba… baik tuan" seru Vera
Vera membawa masuk koper itu ke kamar Raksa saat Vera masuk dia sangat terkejut photo yang di pajang di dinding kamar Raksa adalah photo pertunangannya dengan Celine
Vera masuk ke kamar Raksa dan masuk lagi ke ruangan lainnya di kamar Raksa dan itu semua pakaian Raksa ada beberapa pakaian wanita jadi Vera berpikir itu untuk dirinya, Vera membereskan pakaian milik Raksa terlebih dahulu lalu saat dia akan membereskan pakaian miliknya Raksa menghentikan Vera.
" Lo mau taruh baju Lo dimana hah " ucap Raksa
Vera terdiam dan melihat ke arah pakaian wanita yang bergantungan di sebelah kiri
" jangan pikir Lo bakalan taruh pakaian Lo di ruangan ini ! ruangan ini, kamar ini, kamar mandi ini, dan semua yang ada di ruangan ini cuma boleh di tempati sama gua dan Celine Lo cari aja kamar pembantu di lantai bawah " ucap Raksa
seketika Vera tersentak hatinya sangat sakit ketika suaminya sendiri lebih mementingkan orang yang sudah mati ketimbang dirinya.
Vera turun kebawah dan membereskan pakaiannya di kamar pelayan
kamar Raksa
kamar Vera
...the next bab…………...