The Ceo'S Marriage Snares

The Ceo'S Marriage Snares
.



" jangan laporkan apapun tentang orang itu pada saya, apalagi di waktu kerja " ucap Raksa yang menyela ucapan Bima


" tapi tuan kali ini……… "


" berani bantah ucapan saya sekarang ! " ucap Raksa


" tidak berani, saya mohon maaf " seru Bima


di sisi lain………


" fiuhh untung banget ya Jenn, dari tadi aku gugup banget takut nggak lulus " ucap Vera yang sedang minum kopi di cafe


" bener banget Ver, tadi pagi gua bahkan nggak nafsu makan, karna gerogi " seru Jennie


" eh Ver bukanya itu kak Eren ya ?" ucap Jennie


" mana ? di mana kak Eren " seru Vera


" itu loh Ver " ucap Jennie


" mana sih, nggak keliatan " seru Vera


" yaudah kamu tungguin dulu di sini ya " ucap Jennie sambil bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan ke arah Eren


" hey Jenn, kamu mau kemana ? " teriak Vera


" Ver tunggu aja di sana " seru Jennie sambil mengedipkan sebelah matanya ( wink )


" haisss anak ini " gumam Vera


di sudut lain cafe itu terlihat seorang laki- laki dengan masker dan topi yang hampir menutupi seluruh wajahnya dan laki- laki itu berkata


" siapa sebenarnya kamu ? bukan hanya penampilan, wajah, bahkan suara pun sangat mirip, tulisan tangannya pun sangat mirip, tapi gadis ini masih kuliah sedangkan dia sudah sekitar 39 tahunan, tahun ini " gumam laki- laki itu sambil mengamati Vera secara diam- diam


PLAK!


tiba- tiba Jennie datang dengan berlari dan menepuk pundak laki- laki itu sambil tersenyum cerah


" hey kak, sedang apa kamu di sini ?" tanya Jennie


" hah " sontak Eren dengan wajah yang kaget


" kak, kakak liat ke arah mana si ? " tanya Jennie


" nggak………, tapi kamu sedang minum sama siapa di sini " ucap Eren yang mengalihkan topik pembicaraan mereka


" ayo gabung kak, aku lagi ngemil bareng Vera, tuh di sana Vera nya sedang menunggu kita " seru Jennie


" baik, ayo kita ngemil bareng " ucap Eren


Jennie dengan senangnya berjalan di depan Eren sedangkan Eren di belakangnya seperti sedang merencanakan sesuatu


" aku akan memanfaatkan ketertarikan gadis ini padaku untuk mendapatkan informasi tentang gadis itu " gumam Eren sambil melihat ke arah Vera


" Jenn siapa yang kamu bawa ? " tanya Vera


" entah kenapa aku jadi nggak nyaman liat orang ini " gumam Vera


" ini kak Eren Ver, masa si Lo nggak kenal " ucap Jennie


" beneran kak Eren ? kirain siapa " seru Vera


" kak buka dong maskernya, bikin takut orang aja " ucap Jennie


" ah " seru Eren sambil melepas masker dan topinya


" by the way kakak nggak nyangka banget sama kalian " ucap Eren


" hah nggak nyangka ? nggak nyangka apaan kak ? " tanya Vera dan Jennie secara bersamaan


" nggak nyangka kalian punya bakat dalam seni " seru Eren


" seni ? " tanya Vera dan Jennie


" iya, kalian punya bakat dalam seni, ya contohnya seperti musik, bermain alat musik, itu juga termasuk seni kan ? " ucap Eren


" bener sih kak, sebenarnya Vera juga nggak nyangka bisa nyanyi di panggung besar, karna pada awalnya kami sering mengisi kegabutan dengan bernyanyi, tanpa di sangka- sangka kegabutan itu bisa jadi prestasi " seru Vera


" iya, malahan pada awalnya aku cuma mau ngantar Vera buat tes aja, tapi nggak di sangka ada juri yang nyuruh saya ikut audisi juga " seru Jennie


" mungkin kalian sudah ada keturunan dari Sononya yang pandai seni atau nggak suka sama seni " ucap Eren


" mungkin iya kak, dulu papa adalah seorang seniman tapi papa udah meninggal sekarang, mama aku juga bisa membuat desain " seru Jennie


" kalo darah itu memang kuat, ngalir dengan murni sama keturunan mereka " ucap Eren


namun Vera hanya diam dan terlihat agak kebingungan dan bengong


" hey kok malah diam, seperti apa si keluarga kamu, kakak juga pengen tahu ?" tanya Eren


" ya seperti itulah, kalo keluarga kak Eren emang gimana ? " tanya Vera


" mmmm kalo keluarga kakak semuanya suka seni di mulai dari papa yang seorang seniman hebat, lalu mama seorang musisi terkenal, dan saudara perempuan kakak yang menjadi desainer sekaligus musisi, dan seperti yang kalian tahu kakak hanya berprofesi sebagai dosen " ucap Eren


" jadi Kaka punya saudara ? " tanya Vera


" iya, dia adalah kakak perempuan kakak, dan bagaimana dengan keluarga mu ? " seru eren


" aduh kenapa kakak malah mengorek luka si " gumam Jennie yang mulai panik, dan ketar ketir


" nggak apa- apa Jenn " seru Vera


" aku anak cikal, papa adalah seorang pemimpin perusahaan, dan ibu berprofesi sebagai desainer dan musisi " seru Vera


" apa? bagaimana mungkin datanya sangat mirip " gumam Eren


" apa lain kali kita bisa bertemu dengan ayah or ibu mu? " tanya Eren


" itu nggak mungkin pap udah meninggal saat Vera duduk di kelas 3 SD, dan skarang mama udah jadi orang yang berbeda " seru Vera


" berbeda gimana maksudnya ? "


tanya Eren dengan mendesak yang membuat Vera tidak nyaman


" kak maaf, ini masalah keluarga jadi aku mohon ya kak jangan menabur garam di atas luka " ucap Jennie


" ah iya maaf, kakak terlalu ambisius" seru Eren


" nggak apa- apa kak " seru Vera


driririring ( panggilan masuk )


Veraya melihat handphonenya di atas meja


" siapa Ver ? " tanya Jennie


" nggak tau tuh, nomor tidak terdaftar " seru Vera


" eh bentar ya aku angkat dulu telponnya " ucap Vera sambil berjalan sedikit menjauh


" iya hallo " seru Vera


" MMM sama siapa ? " seru Vera


" oh maaf, kan nomornya baru jadi takut orang aneh gitu " seru Vera


" iya baik, baik baik saya mengerti, oke aku ke kantor sekarang " seru Vera yang menjadi akhir percakapan


Vera kembali ke kursinya dan berpamitan


" Jenn sorry ya, aku duluan pulang " ucap Vera sambil mengambil tasnya


" iya, tapi siapa yang barusan nelpon kamu ?" tanya Jennie


" hmmm itu, sikop*t " seru Vera


" hah sikop*t ? maksudnya orang nggak berperasaan itu ?" tanya Jennie


" iya, siapa lagi " seru Vera


" hati- hati di jalannya ya Ver " teriak Jennie


Vera berbalik dan mengisaratkan oke dengan tangannya


" by the way siapa sikop*t itu ?" tanya Eren


" ah ha itu…… dia suami…… nya " seru Jennie dengan ragu


" suami ? mana ada orang manggil suaminya sikop*t, emang hubungannya sama Vera itu gimana ? nggak baik ? " tanya Eren


" hmm aku juga kurang tahu, soalnya Vera sendiri nggak pernah cerita " seru Jennie


" lalu bagaiman mereka bisa………… "


driririring ( telpon masuk )


handphone Vera berbunyi dan menghentikan ucapan Eren


" hallo iya pak " seru Jennie


" bisa pak, bisa "


" kapan pak "


" oh besok, baik pak ntar saya kesana bersama teman saya "


" mm baik pak " seru jennie


" kak maaf banget ya, aku duluan pergi, ada sesuatu yang harus di kerjakan " ucap Jennie


" iya nggak apa- apa kok, mau kakak antar ? " seru Eren


" boleh kak, boleh " seru Jennie


di dalam mobil………


" Ver besok siang sehabis kuliah kita ada pemotretan " ucap Jennie


" oke itu aja kok, aku tutup ya telponnya, bye " seru Vera


di sisi lain…………


Vera berdiri di depan perusahaan itu sambil menelan air ludahnya


to be continue…………


...----------------...