The Ceo'S Marriage Snares

The Ceo'S Marriage Snares
.



Seketika Vera tersentak hatinya sangat sakit ketika suaminya sendiri lebih mementingkan orang yang sudah mati ketimbang dirinya.


Vera turun kebawah dan membereskan pakaiannya di kamar pelayan, Secara kebetulan Bima lewat karna kamar Vera bersampingan dengan kamar Bima


" nona ? " ucap Bima


" ha apa ? " seru Vera menjawab dengan suara lantang karena terkejut


" nona kok ada di sini ?" tanya Bima


" iya, katanya kamar aku di sini " seru Vera


" nona mau di laporin sama nyonya besar nggak " ucap Bima


" di laporin sama siapa ? "tanya Vera yang menganggap Bima sedang bercanfa


" sama nyonya besar " seru Bima


" haha nggak usah, nggak apa- apa, ini cuma hal biasa kok, mohon ya kalo ada sesuatu jangan kasih tau nyonya besar ya " ucap Vera


" saya tidak bisa berjanji " seru Bima


" aku mohon! " ucap Vera


" baiklah " seru Bima


" kita bisa janji kelingking " ucap Vera sambil mengangkat tangannya


Bima seketika terlihat bingung, namun Bima masih tetap janji kelingking dengan Vera, Bima pun melihat memar di pergelangan tangan Vera


" nona memar apa ini ?" tanya Bima


" ah itu, hanya hal biasa " seru Vera sambil memegang belakang telinganya ( kebiasaan saat Vera berbohong )


Bima tahu jika Vera sedang berbohong namun dia tidak bisa menentang tuannya juga tidak bisa melapor pada Selena, Bima pun pergi


" mau kemana ?" tanya Vera


" saya masih ada yang harus di kerjakan " seru Bima


" tapi by the way di mana para pembantu rumah ini " gumam Vera


karna waktu sudah sore namun Vera masih belum melihat satu pun pembantu yang lewat, semua kamar art kosong, Vera pun merasa bingung dan harus berbuat apa


" bagaimana aku akan membersihkan rumah sebesar ini sendirian " gumam Vera


dari jam 17 : 32 Vera sudah mulai membereskan rumah ke seluruh ruangan


" baru saja menyapu sudah membuat saya lelah, bagaimana saya akan membereskan rumah ini " gumam Vera


pada akhirnya Vera melakukan semua pekerjaan dan selesai sekitar jam 18 : 00


" aku akan memasak makanan dulu, lalu aku akan melanjutkan beres- beres rumahnya " ucap Vera


Vera memasak makanan dan menghidangkannya di ruang makan mansion yang sangat besar itu.



" jika hanya tiga orang yang berada di mansion ini, ini terasa menakutkan " gumam Vera


setelah menyiapkan makanan untuk makan malam sekitar jam 19 : 12 Vera langsung memberi tahu Bima dan menyuruh menyampaikannya pada Raksa, lalu melanjutkan pekerjaan rumahnya.


di sisi lain Raksa turun untuk makan malam, dan melihat menu makanan yang tidak biasanya di sajikan di atas meja, Raksa mulai mencicipi masakan Vera, namun dia tidak tahu jika itu adalah masakan yang di buat Vera


" tumben masakan bi Elly kayak gini " ucap Raksa yang sudah menyantap habis makanannya


" maaf tuan itu bukan bi Elly yang masak, kan tuan menyuruh semua art di mansion ini libur" seru Bima


" lalu siapa yang masak ini ? jangan bilang " ucap Raksa


" iya tuan, yang masak makanan ini nona muda dan sekarang mungkin nona masih beres- beres rumah " seru Bima


" huek huek " Raksa memuntahkan makanan yang di makannya lalu membuang sisanya


" padahal tadi tuan memakannya dengan lahap, dan mengatakan itu enak, tapi tuan tahu yang masaknya adalah nona tuan langsung memuntahkannya " gumam Bima


walau dengan keadaan tubuh yang masih sakit dan perut yang mulai keroncongan Vera masih tetap melanjutkan membereskan rumahnya hingga selesai tepat jam 22 : 00 malam.


" haaaa uh akhirnya selesai "


ucap Vera sambil menghela nafas panjang


setelah beberapa menit Vera membersihkan dirinya dan memakai piyama tidur dan bersiap mimpi indah


" mungkin ini karna lelah, tanpa obat pun aku bisa tidur " gumam Vera


Raksa dari kamarnya menyalakan radio yang terhubung ke kamar- kamar pelayan lalu memanggil Vera yang baru saja memejamkan matanya


" gemb*l penggoda, datang ke kamar saya dalam waktu satu menit " ucap Raksa


radio hitam kecil di atas meja Vera berbunyi dan menyampaikan apa yang Raksa katakan, Vera yang baru saja memejamkan mata pun langsung membuka matanya dan berjalan dengan sempoyongan menuju lift


dan datang dengan ngos-ngoshan ke kamar Raksa


" hanya 30 detik dari bawah ke atas tuh jauh " seru vera


" gua pasti sudah gila kenapa dengan piyama biasa saja tubuh ku breaksi " gumam Raksa



" pergi kamar sebelah " ucap Raksa


Vera pergi ke kamar sebelah dengan rasa bingung dan rasa takut


Raksa menyusul Vera ke kamar sebelah


" ada perlu apa tuan memanggil saya? " tanya Vera


" layani gua " ucap Raksa


seketika Vera tercengang tubuhnya masih sangat lelah dan sakit, bola matanya terbuka lebar


" aku harus memberontak " gumam Vera


" ayo cepat, tunjukan goyangan pingg*l Lo di atas tubuh gua " ucap Raksa sambil menarik Vera ke atas tubuhnya


" ha apa? ak… aku… aku… " seru Vera


" aku tidak bisa berkata apapun " gumam Vera


" lakukan! " bentak Raksa


" aku mohon lain kali ya! besok ada kelas pagi" seru Vera


" gua nggak peduli " ucap Raksa sambil menekankan tubuh Vera di atas buah pisangnya


" ha ah " desah Vera


" buka baju mu " ucap Raksa


" aku mohon tuan, besok ada jadwal pagi dari kampus " seru Vera


namun Raksa tidak mempedulikan permohonan Vera sama sekali, Raksa melepaskan paksa pakaian Vera.


" lihatlah pingg*l mu mulai bergerak sendiri " ucap Raksa


" ha ah uh ah ha uh ah " desah Vera


" benarkah pinggul ku mulai bergerak " gumam Vera


Raksa menambah kecepatannya hingga mencapai ******* s*x, Vera merasa senang karna itu hanya berlangsung 20 menit, namun Raksa membalikkan posisi mereka lalu mulai mendorong lagi pinggulnya sendiri dengan sangat cepat dan kasar


" haaa ah ha uh ha aku mohon ah besok ada jadwal kuliah pagi " seru Vera yang di iringi ******* panasnya dan segrukan air matanya


tak lama setelah memohon ampun dari Raksa Vera tertidur pulas karna rasa lelah yang di alami nya, Vera sudah tertidur lelap pun Raksa masih tetap saja melanjutkannya hingga rasa nafs* nya puas


" awaaasss !


seorang wanita yang berteriak dengan tubuh yang berlumuran darah mengangkat kan tangannya ke arah Vera


" aahhhhh hosh hosh hosh hosh ha ah " Vera yang baru saja terbangun dari mimpi buruknya, dengan nafas yang tidak teratur


" ha ah mimpi ini lagi, obat! mana obat! " ucap Vera sambil berjalan dari kamar seperti orang gila


secara kebetulan Bima yang baru saja akan tidur melihat Vera yang berjalan sempoyongan menggunakan baju piyama tanpa celananya, sambil memegang kepalanya


" nona ada apa ?" tanya Bima yang dengan cepat menghampiri Vera


" obat! aku ingin obat! obat !" seru Vera


Bima melihat bekas luka baru di tubuh Vera dan seketika pipinya memerah karna melihat Vera yang menggunakan pakaian begitu mini, dengan cepat Bima menutupi kaki Vera dengan jaket yang Bima gunakan.


di kamar Vera…………


" nona ? sejak kapan nona memakan obat- obatan seperti ini ?" tanya Raksa


" semenjak kecelakaan hari itu, tapi tenang aja aku konsultasi dokter kok " seru Vera


Bima terdiam dan merasa kasihan melihat Vera


" nona lebih baik anda tidur lagi, sekarang sudah jam 03 : 00 pagi " ucap Bima


" hmm saya mau beres -beres rumah dulu lalu pergi ke kampus " seru Vera


Bima merasa kasihan dan membantu Vera, menelpon pihak tenaga kerja dan meminta bantuan, pada akhirnya pekerjaan beres dengan cepat, karna banyak orang yang membantu.


setelah selesai orang yang di telpon Bima pulang dan menerima uang bayaran dari Bima, Bima menghapus semua rekaman cctv waktu itu, sedangkan Vera menyiapkan pakaian untuk di kenakan Raksa.


walaupun masih pagi Vera berangkat ke kampus karna takut kesiangan, sebelum berangkat Vera menyiapkan kemeja yang akan di kenakan Raksa dan menyimpan note di sana pesan yang sangat panjang, di meja makan juga sama Vera meninggalkan note cara memanggang roti, lalu di pintu kulkas juga Vera menerapkan note atas permohonan maaf nya.


...the next bab…...


...----------------...