
" Jenn aku pergi ke dalam neraka yang tidak tahu di mana ujungnya, dan hanya ada bara panas yang menghancurkan tubuhku secara perlahan "
Jennie terdiam heran melihat attitude temannya yang berjalan dengan pandangan matanya yang kosong
Vera berdiri terdiam di Devan perusahaan cabang rodguez, menghela nafas panjang sebelum bertemu dengan malaikat maut nya.
" oke tenang! tarik nafas, aku harus tenang " ucap Vera yang kemudian masuk ke kantor itu
saat masuk Vera langsung bergegas ingin naik lift namun di hentikan resepsionis
" mbak maaf tunggu "
Vera masih melanjutkan jalannya, karna dia tidak tahu jika resepsionis memanggil dirinya
" maaf mbak tunggu ! "
untuk kedua kalinya resepsionis itu memanggil Vera sambil menepuk pundaknya
" ah iya "
seru Vera sambil berbalik, mata Vera merah karna kurangnya tidur
" maaf mbak mau ketemu sama siapa ya ? "
" tuan Raksa " seru Vera
" apa anda sudah membuat janji "
" MMM belum si, tapi saya dapat telpon langsung dari orangnya "
" maaf mohon nona buat surat perjanjian terlebih dahulu "
" tapi saya dapat telpon langsung dari orang nya mbak "
" tetap saja, peraturan perusahaan harus di taati "
" mmmh baiklah "
mampuslah mana tapi aja pas nelpon nadanya kayak gunung Merapi yang mau meledak
gumam Vera sambil mengikuti langkah resepsionis di depan
saat Vera duduk dan hendak membuat surat janji temu, telponnya berdering lagi
" saya angkat dulu telponnya "
ucap Vera sambil berjalan menjauh
" di mana Lo sekarang ? apa- apa serba lama "
ucap Raksa di telpon dengan nada yang keras
" aku ada di lantai paling bawah sekarang "
" tunggu apalagi, cepat ke ruangan CEO "
" tapi para resepsionis mengharuskan aku untuk buat janji temu dulu "
" mana resepsionis nya "
Vera berjalan ke arah resepsionis dan memberikan telponnya
" mana resepsionisnya "
ucap raksa dengan nada keras, resepsionis yang mendengar itu terkejut dengan suara keras Raksa
" sa… sa… saya di sini tuan"
ucap seorang resepsionis yang gugup dan di teruskan resepsionis lainnya
" ingat wajah wanita jelek di hadapan kalian "
" iya kami akan mengingatnya "
" biarkan dia masuk tanpa harus buat janji "
" baik "
seru resepsionis yang menjadi akhir dari percakapan
" saya sudah bisa pergi kan? "
ucap Vera
" iya silahkan, kami minta maaf atas ketidak nyamanan anda tadi "
" iya tidak apa, saya permisi "
ucap Vera sambil berjalan dengan cepat ke arah lift, handphonenya berbunyi lagi, dan suara dering ngan itu menghentikan langkah kaki Vera yang akan masuk lift
" iya ada apa lagi " seru Vera
" ha apa? tapi kan lantai atas itu jauh banget, masa iyah naik tangga darurat " seru Vera
" hah hey, hey tuan! haisss si*l telponnya sudah di Matin lagi " ucap Vera dengan wajah kesalnya sambil berjalan mencari tangga darurat
" wanita secantik itu saja di bilang jelek, bagaimana dengan kita ?"
" benar! padahal saya pikir dia tunangannya yang itu"
" bukan, katanya tunangan nya meninggal dan CEO mengganti tanggal pertunangannya menjadi tanggal pernikahan dan menikah dengan gadis misterius yang tidak di kenal dunia "
" benarkah, coba saya cek dulu media sekalian lihat siapa wanita yang cukup beruntung mendapatkan pria tajir melintir ini"
" ini aneh ?"
" ada apa ?"
" semua informasi dan juga photo pernikahan bos nggak ada di medsos di google juga nggak ada"
( percakapan para resepsionis)
tak berapa lama kemudian Vera datang dengan nafas yang tak teratur ke ruangan CEO
BRUK!
Vera mendorong kedua pintu yang tepat di depannya dengan keras, hingga pintu itu terbuka lebar.
" lama " ucap Raksa
" hah bagaimana mungkin nggak lama, orang jalan ke lantai paling atas di gedung tinggi pake tangga " seru Vera
BRUG
Raksa yang merasa kesal karena Vera selalu saja menjawab or membantah ucapannya, mendorong Vera dengan sangat kencang ke dinding
Vera terdiam rasa takutnya semakin menjolak namun Vera menutupi rasa takutnya itu sebisa mungkin, dan menatap langsung ke mata Raksa
ucap Raksa sambil mencengkram dagu Vera, Vera terlihat kesakitan bekas memar kemarin saja belum hilang, sudah di tambah lagi sekarang memar itu jadi tambah ungu
" ugh "
Vera membuat suara karna kesakitan
" dasar gadis penggoda ! di saat seperti ini pun masih dengan sempat menggoda "
ucap Raksa sambil menekan leher Vera dan mendorongnya ke dinding lalu mengangkat Vera
" ugh lepasin ! ugh "
" ini belum cukup, buat jal*ng murahan kayak Lo "
" ak… ugh aku enggak murahan, kamu tau sendiri malam pertama kita, di sana berserakan darah perawan ku "
seru Vera dengan suara yang serak karna cekikan di lehernya
" heh! gua peringatkan sekali lagi jangan panggil gue kamu, 'tuan muda' adalah panggil yang tepat bukan 'kamu' "
ucap Raksa sambil melempar Vera ke lantai
" ugh baik TUAN " seru Vera sambil memalingkan wajahnya
" dasar iblis keturunan Dajjal
gumam Vera
" berdiri, lalu ambil seragam OB " ucap Raksa
Vera berdiri namun kali ini tanpa perlawanan Vera berjalan keluar dari ruangan Raksa
BRUGH!
setelah Vera sedikit jauh dari ruangan Raksa dia bersandar ke dinding sambil memegang lehernya dan menjatuhkan dirinya karna gemetaran
" entah sampai kapan aku akan hidup di neraka ini
" pa! papa liat Vera nggak sekarang dari sana ?"
gumam Vera sambil menundukkan kepalanya dan menghapus air matanya
" pa mungkin bunuh diri jalan yang cepet, bener kan pa ? pa jawab Vera dong pa ?
ucap Vera
" nona ? " ucap Bima yang kebetulan lewat dan memergoki Vera
" hah iya apa "
seru Vera dengan nada tinggi karna terkejut
" ah saya kaget " ucap Bima
" maaf "
" nona jika nona merasa berat dengan apa yang dilakukan tuan pada nona, nona bisa izinin saya buat laporin sama nyonya besar, karna mau segarang apapun tuan, tuan sangat penurut di depan ibunya "
" tidak, kamu nggak boleh kasih tau nyonya iya "
" tapi nona menurut saya, lebih baik nona memberitahu nyonya "
" tidak perlu "
" kenapa ? bukanya jika memberi tahu nyonya jalan hidup nona akan lebih mudah "
" mungkin saja sebentar lagi saya akan mati di tangan psikop*t itu "
ucap Vera sambil berjalan meninggalkan Bima, Bima hanya terdiam mendengar ucapan Vera yang terakhir
" sungguh nona sedang berada di posisi yang sangat membingungkan "
ucap Bima
Vera pergi ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya, namun siapa sangka Raksa yang menelpon Vera tersebar dengan cepat membuat Vera berada di posisi yang terburuk
" wah coba lihat siapa yang sedang membersihkan lantai ini "
ucap Tiara yang merupakan kakaknya
Vera mengangkat kepalanya menatap Vera lalu pergi mengacuhkan Tiara
" coba lihat kakak tercinta ku minggat dari rumah ku pikir ada apa ? ternyata jadi ob "
" bukanya dia wanita yang tadi ?" ucap seorang karyawan lainnya
" wanita yang mana ? " tanya Tiara
" wanita yang itu loh yang telponan sama bos"
" ternyata kamu punya pekerjaan lain ya di malam hari, nggak nyangka bunga kampus yang banyak di sukai cowok tuh, ternyata seorang kupu- kupu malam, padahal ibu nggak ngajarin kakak buat jadi penggoda, pasti papa kecewa sama putrinya yang ini" ucap Tiara
PLAK!
sebuah tamparan tangan mendarat di pipi Tiara hingga membuat hidung Tiara berdarah
" jangan bawa- bawa papa, seharusnya anda berkaca terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu, bukanya wanita malam itu kamu ? "
ucap Vera yang kemudian berjalan meninggalkan Tiara
" heh dasar wanita jal*Ng seharusnya kamu sadar diri! gara- gara kamu aku nggak punya hak warisan " ucap Tiara
" why ? harusnya kamu tanya sama ibu kamu kenapa kamu nggak dapet warisan ? karna kamu bukanlah anak kandung papa dan saya memiliki "
" memiliki apa ?"
" hampir saja keceplosan
gumam Vera sambil memalingkan wajahnya
" tanyakan saja pada ibu jika ingin mengetahui bahwa kamu hanyalah anak haram orang luar, yang ibumu bawa ke rumah saya "
" dia juga ibu Lo, tapi kenapa lo bertingkah seakan dia bukan ibu mu "
" yah benar, dia yang melahirkan ku, tapi bukan dia yang memberiku pendidikan dan ajaran yang bagus "
ucap Vera yang kemudian berjalan meninggalkan tkp yang membuang- buang waktu itu
...bersambung…...
...----------------...
coba kalian pikir jika naik tangga darurat ke lantai paling atas di perusahaan yang paling menjulang tingginya, akan menghabiskan berapa jam untuk sampai ke atas, apa lagi kita tidak mengetahui tata letak perusahaan itu ?
#pertanyaanAuthor.