
Peringatan: Tolong baca catatan penulis di bagian bawah sendiri. Terimakasih!!!!✨✨✨
***
Rasa bersalah.
Perasaan kayak gitu selalu dan akan selamanya muncul setelah kita ngelakuin hal-hal yang bikin orang lain kecewa.
Perasaan kayak gitu bakal selalu muncul setelah kita bikin orang lain kecewa.
Seperti barusan.
Seperti beberapa menit yang lalu di saat gue berdiri terpaku menatap Kenzo yang menggertakan giginya serta mengeraskan rahangnya.
Gue merasa bersalah.
Dan memang gue yang salah.
Nggak seharusnya gue sefrontal itu maki-maki Kenzo. Apalagi dengan bilang gue nggak peduli dia mati atau enggak.
Mulut gue bohong.
Mulut gue bener-bener drama banget.
“MAAAA, ADA ROK ITEM PANJANG NGGAK?” Kenzo masih berteriak memanggil Bunda demi menanyakan hal tersebut.
Gue menunduk dalam, mendengarkan sisa percakapan antara ibu dan anak itu yang meski dari kejauhan tetep kedengeran meskipun samar-samar.
Yang jelas gue deger mereka sedang berdebat karena Bunda nggak punya rok item panjang karena suaminya sendiri melarang Bunda buat punya pakaian gelap.
Kenzo kedengeran menggerutu dan entah ngomel ke dirinya sendiri. Sementara Bunda sendiri balik ngomelin Kenzo gara-gara bilang nyari rok-nya dadakan banget.
“YA KAMU KENAPA NGGAK BILANG TADI-TADI HAH?”
Bunda kedengeran ngamuk banget karena Kenzo tetap ceroboh seperti saat dia masih SD.
Denger itu gue jadi keinget juga waktu SD, malem-malem bangunin Mama cuman buat bilang kalo gue di suruh bawah kulit jagung buat dibikin kerajinan esok harinnya.
Malem-malem Mama langsung ngamuk karena itu sudah jam 11 malem dan kulit jagung yag sudah kering lumayan susah dicari.
“SANA KE KAMAR KAKAKMU! TANYAIN DIA ADA ROK APA NGGAK!” Bunda teriak.
“LAH GAMAU! BUNDA AJA! SANA DEH SANA!”
“KOK NYURUH-NYURUH BUNDA SIH HAH? YANG BUTUH SIAPA?”
“AKU MALES KETEMU VIA!”
“YAUDAH, SERAH KAMU.”
Adu mulut itu berakhir dengan hentakan langkah kaki yang mendekat ke arah kamar Kenzo. Gue yakin Kenzo nggak akan mau ke kamar Mbak Via gara-gara mereka lagi berantem.
Dan bener aja ketika gue hendak melangkah ke arah kamar mandi buat sikat gigi serta cuci muka, pintu kamar Kenzo dibuka dengan kencang disusul dengan sebuah seruan darinya.
“Nar,” panggil dia. Agak kenceng tapi nggak teriak juga.
Gue menoleh, dan dia membuang muka. “Ada apa?” tanya gue sambil memutar tubuh. Dia masih marah sama gue.
“Ke Via sana, tanyain dia ada rok item panjang kagak.”
“Kok gue?”
“Ya lo lah! Udah cepet.”
Gue terdiam sesaat, mencermati Kenzo lebih lanjut. Dia kayaknya emang kepepet banget soal itu rok. Jadi gue rada muter otak juga sih.
“Lo minta tolong gue?” Pertanyaan super bodoh baru aja gue lontarkan. Gue yakin di saat-saat gini, kebanyakan orang malas berbasa-basi.
Tapi karena gue pengen liat Kenzo yang kayak gitu, jadi nggak ada salahnya gue godain kek gitu.
“Iya, buruan. Keburu dia tidur. Lo tau kan kalo propertinya nggak lengkap, nilai satu kelompok yang minus!” Dih, dia nge-gas dengan mata yang bener-bener melotot. Gue aja ngeri liatnya.
“Yaaa, kenapa nggak tadi-tadi aja lo--”
“Lo mau nolongin gue nggak?” Dia nyela, kayaknya emang lagi capek banget dia. Ditambah lagi dia barusan marah ke gue, jadi reaksi dia yang kayak gini udah buktiin banget kalo dia beneran lagi di kondisi ga bisa diganggu.
“Okeyyy, tapi lo jangan marah ke gue lagi ya abis gue tolongin?” Gue memelankan suara selagi gue menyuarakan permintaan gue barusan. Gue mencicit ketakutan.
“Marah? Siapa yang marah?”
“Lo, barusan,” jawab gue sambil menunduk namun pandangan gue tetap ke arah dia.
“Ngapain dih gue ngambek-ngambek segala. Lo kira gue cewek.”
Gue memiringkan wajah, menatap Kenzo dalam dan menelisik lebih jauh apakah dia barusan berkata dengan benar.
Tapi nyatanya dia terus-terusan buang muka dan itu bikin gue dongkol, marah, kecewa dan nyesel secara bersamaan. “Serius lo ngga marah ke gue?”
“Iyeee, buruan cepet--”
“Kalo nggak marah, kenapa lo nggak natap gue? Kenapa buang muka? Kenapa nggak--”
Ucapan gue terhenti karena secara tiba-tiba Kenzo berlari mendekap dan menebas jarak kita berdua, wajah dia mendekat ke wajah gue sehingga wajah kita berdua hanya berjarak beberapa senti saja.
Gue menelan ludah gugup, dan tanpa pikir panjang gue noleh ke kanan dengan nge-gas karena nggak kuat tatap-tatapan sama dia.
Dan parahnya adalah, dua buang tangan dia tiba-tiba menangkup masig-masing pipi gue dan membuat wajah gue menoleh ke arah dia dan kembali natap ke arah dia.
Mata kita bertemu dan gue bisa dengan jelas ngerasain napas dia berhembus nyapu wajah gue. Gue deg-degan.
Dan nahan napas tentunya.
“Gue nggak marah Nar.” Dia membuka percakapan, dan wajah dia semakin mendekat ke arah gue yang berdiri kaku ini.
“Gue nggak marah dengan hal sepele kayak gitu,” lanjut dia sambil natap intens kedua bola mata gue. “Gue nggak peduli apa kata lo. Gue nggak peduli pendapat lo, gue nggak peduli lo pengen gue mati apa enggak.”
Gue rasanya mau mati gara-gara terus nggak bisa napas gini. Sumpah, suasananya mengintimidasi banget.
“Jadi sekarang, tolong bantuin gue ya? Bilang ke Via lo lagi butuh rok item panjang. Paham?”
***
Gue menarik napas ketika gue mendapati sosok tinggi dengan setelan piyamanya itu tengah berdiri di depan lemarinya yang sedang terbuka lebar dengan keadaan yag mulai acak-acakan.
“Bentar, apa di sini ya? Sumpah baju gue banyak banget ini.”
Baru dua menit Mbak Via nyari, dan lemarinya yang tadinya rapih kini berubah menjadi mulai nggak karuan.
Lemari Mbak Via ada 3, dan dia lupa naroh rok item panjangnya di mana. Jadi gue cuman bisa duduk membatu di ujung kasur sambil memperhatikan Mbak Via yang sibuk mengobrak-abrik lemarinya.
Hhhhh, gue menggigit bibir sembari menatap Mbak Via yag terus-terusan ngedumel. “Anjeer, sumpah yah, gue kayaknya harus siapin kardus terus angkut nih baju-baju gue buat disumbangin.”
Gue tersenyum ngedeger itu, “Iya sih, emang paling betul tuh baju yang udah nggak kepake mending disumbangin.”
Mbak Via ketawa, “Lo mau ikutan nyubang nggak? Baju lo yang menuh-menuhin lemari mending diangkut aja.”
“Ahhh, iya. Baju gue di rumah banyak banget yang udah nggak muat. Kalo Mbak Via mau nyumbangin, aku nitip ya?” Gue membalas, dan dia mengangguk-angguk sambil ketawa.
“Suami lo tuh ajakin juga. Bajunya banyak yang nggak kepake, tapi nggak pernah mau disumbangin.”
Gue mengangguk-angguk dan nggak sengaja ngelirik daun pintu.
Ahhh iya ampir lupa. Kenzo dari tadi nungguin depan kamar Mbak Via sambil mantau. Katanya biar kalo Mbak Via ngomong macem-macem dia langsung masuk dan sumpel mulutnya pake bola kasti.
Gue ngeliat gerak bibir Kenzo dan dia barusan bilang ke gue buat nyuruh Mbak Via agak cepetan. Dih, cupu banget beraninya nyuruh-nyuruh.
Padahal dianya aja takut ke Mbak Via. Gue memelotot ke dia dan kita saling bacot tanpa suara.
“Btw Ra,” panggil Mbak Via ditengah pelotot-pelototan gue dengan Kenzo berlangsung. Gue otomatis menoleh dan tersenyum. “Kenapa Mbak?”
“Gue.....” Kalimat Mbak Via mengggantung diiringi kepalanya yang mulai tertunduk.
Gue merasakan hawa sedih tiba-tiba muncul di sekitarnya. “Mbak?” panggil gue sekali lagi.
“Akhir-akhir ini gue suka kebangun malem-malem. Gue kebangun gara-gara denger suara batuk kenceng banget.” Mendengar itu gue langsung menelan ludah susah payah dan melirik ke arah daun pintu. Tempat di mana Kenzo sedang mengintip dan menguping pembicaraan kita.
Gue liat ekspresi dia berubah, yang tadinya fine-fine aja kini berubah kaku. “Emmm hmm? Masa sih Mbak?”
“Gue jelas banget denger itu, Kenzo gapapa kan Ra?” Nada yang digunakan Mbak Via dalam pertanyaan itu terdengar lemah. Seolah bener-bener khawatir dengan keadaan adiknya.
Meskipun gue nggak bisa lihat wajahnya karena dia sekarang lagi sibuk obrak-abrik lemari, gue tau dia lagi sedih.
Sedih banget karena di saat adiknya sedang sakit, mereka malah dalam keadaan bertengkar.
“Ahhh, Kenzo batuk-batuk ya? Aku--” Gue menutup mulut tiba-tiba gara-gara melihat Kenzo sedang menatap gue tajam dan dia dengan cepat menyuruh gue tutup mulut lewat bahasa isyarat.
“--A-aku nggak denger apa-apa Mbak, mungkin salah denger?”
“Gue jelas denger Ra. Sumpah.” Kali ini dia berbalik dan mengucapkannnya dengan sungguh-sungguh.
“Nggg? Iya kali? Aku yang satu kamar sama dia aja nggak denger apa-apa kok.”
Cukup lama kita adu argumen soal Kenzo yang batuk-batuk itu, dan itu semua berakhir dengan Mbak Via yang tiba-tiba membelokkan pembicaraan. Gue menarik napas legah, dan gue liat di daun pintu Kenzo tengah mengintip dan wajah dia juga tampak lebih tenang juga.
“Btw Ra, lo mau tau rahasia yang keren nggak?”
“Rahasinya Kenzo, mau denger?”
Gue yang duduk di kasur otomatis noleh ke Kenzo yang sedang mengintip itu. Dan muka dia tampak lebih tegang.
Dia geleng-geleng dan nyuruh gue buat nolak perkataan Mbak Via barusan. Gue mengangguk dan segera menahan Mbak Via. “Ehhh? Emang nggak apa-apa ini? Kan rahasia Mbak, ntar Kenzo marah gimana?”
“Ya lo jaga rahasia juga lah, gausa kasi tau Kenzoooo.”
Ahhh, iya juga ya? Eh tapi kan masalahnya Kenzo lagi nyaksiin kita berdua ngomong. Hhhh.
“Lagian ini rahasia lama juga. Rahasia dia awal-awal masuk SMA.”
Lahh? Udah hampir tiga tahun yang lalu dong? Gue melirik ke daun pintu dan menemukan Kenzo yang makin panik ngedenger ucapan Mbak Via itu.
“Ahhh ini ketemu, duh lo tuh gue cariin.” Mbak Via otomatis berdiri dan berbalik. Kenzo buru-buru sembunyi lagi dan Mbak Via sendiri langung kasih tuh rok ke gue dan duduk di sebelah gue.
Dia ngehela napas dan mengipasi area lehernya. “Mau nggak?”
“Ahhh enggak--”
“Ini juga soal kenapa bokap-nyokap gue jodohin lo ke Kenzo. Yakin gak mau?”
Gue langsung terhenyak denger itu. “Maksd Mbak Via?”
Dia tertawa kecil, “Kepo kan lo?”
Gue tersenyum kaku, iya, gue penasaran. Emang apa alasannya?
“Okeh, gue langsung cerita ya. Jadi lo tau nggak kalo dulu tuh Kenzo udah pernah--”
“OLIVIA!!!!!!!” Gue langsung terlonjak kaget ketika tiba-tiba denger teriakan Kenzo diiringi masuknya dia ke kamar Mbak Via sambil berlari.
Gue kaget, Mbak Via juga, bahkan dia ampe berdiri.
Kenzo tanpa permisi langsung bekap mulut Mbak Via dan melotot. “Diem lo! Diem!!!”
“Hmmpphhh!!!!” Mbak Via teriak dalam bekapan itu. Gue ikutan berdiri dan kaget ngeliat reaksi Kenzo yang kek barusan.
Rahasia apa yang sampe bikin Kenzo langsung lari nerjang Mbak Via kek barusan.
Gue mundur selangkah menjauh dari arena gelut itu.
Mbak Via gigit tangan Kenzo ampe dia dilepasin tuh tangannya Mbak Via.
Dan pada detik itu pula, sebuah perdebatan dimulai.
Kenzo yang marah-marah gara-gara rahasiannya dibongkar, dan Mbak Via yang marah gara-gara Kenjo seenaknya aja masuk kamar orang.
“Lo apaan sih nyelonong masuk gitu?”
“LO JUGA JUGA APA-APAAN MAU BONGKAR RAHASIA HAH? LO NGGAK INGET UDAH SUMPAH-SUMPAH SEGALA BUAT NYIMPEN TU JANJI!?”
“HAH? LO DARI TADI DENGERIN OBRLAN GUE SAMA NARA! NGGAK ADA ADAB BANGET LO ANJ*ING! LO SEBUT DIRI LO MANUSIA HAH!”
“Cih, lo sendiri gimana hah? Lo emang pantes gue sebut kakak di saat lo mau ngehianatin adek lo sendiri?” Kenzo bersuara lantang dan nggak lupa dia nunjukin jari telunjuknya ke arah kakaknya.
“Ngekhianati gimana sih bang*sat!? Gue ngapain sampe lo sebut penghianat, lo sendiri gimana? Lo tuh penghianat juga,” balas Mbak Via ganas.
Oke fix, ini saling tuduh siapa yang jadi pengkhianat kan? Gue berdiri kaku di depan mereka berdua yang lagi saling adu argumen.
“Lo mau bocorin rahasia gue tuh!” Kenzo memelankan suaranya, tapi tetep aja itu tergolog teriak juga sih.
“Emang ini rahasia negara hah? Ini cuman rahasia cupu lo aja ya Badak! Gausah sok ngerasa ini tuh rahasia yang paling berpengaruh di hidup lo! Ngaca deh lo Kadal!”
Kannn, diabsen tuh satu-satu nama hewan. Gue mah, hah-heh-hoh aja liat Mbak Via sebut hewan-hewan itu.
“Nyesel gue punya sodara kek elo. Nyesel gue. Males ah, nggak salah deh gue mau ninggalin elo!”
“DIH MAKSUD LO APA! LO SENDIRI YAH YANG BIKIN GUE BACOT KEK GINI, SIAPA YANG MULAI!”
“LO LAH!” Kenzo berdecak, nggak lupa dia berkacak pinggang dan menatap Mbak Via tajam.
“Pernah ngaca nggak sih Zo?” Nada bicaranya tiba-tiba menajam dan seolah sedang mengajak untuk lebih serius dalam adu bacot ini. Gue 100% yakin suasana toba-tiba menjadi suram.
“Lo sendiri? Apa pernah bersyukur?” Gue menelan ludah ketika Kenzo berucap demikian. Kok mereka jadi tambah serius sih?
“Mending maruk daripada nggak tau diri kek lo ya!”
Ngeliat itu semua, gue memberanikan diri buat melerai. Nggak enak juga kalo malem-malem tubir begini. Kasian gue entar ga bisa tidur gara-gara terngiang-ngiang ucapan mereka. “Mbaakkk, Joooo, udah malem, jangan berantem gini deh.”
“Diem dulu Ra, gue mau kasih tau betapa to*olnya anak satu ini.” Astaga, gue ampir loncat gegara Mbak Via menyangkal perkataan gue barusan.
Mbak Via sekarang noleh ke Kenzo yang ikutan diem gara-gara bausan dengan tatapan tajam. “Kenapa diem?”
Ngedenger itu, dia narik napas dan membalas, “Yang nggak tau diri itu lo Vi, lo nggak bersyukur.”
“Siapa yang lebih nggak tau diri? Orang yang berharap semua keinginannya terwujud apa orang yang mau ngecewain banyak orang di saat semua orang itu mati-matian berjuang hah!”
Gue menelan ludah ngedenger teriakan Mbak Via barusan. Duh, gue yakin banget Bunda nggak bakal turun tangan karena hal kek gini udah terbiasa banget. Mau mereka saling teriak pake toa pun Bunda bakal angguk-angguuk aja liatin mereeka dari jauh.
“Amarah tuh harus diluapin Ra, kalo dipendem bahaya. Jadi biarin.” Itu kata Bunda seminggu yang lalu ketika ngeliat Mbak Via dan Kenzo berantem kek gini.
“Jawab Ra! Siapa yang lebih nggak tau diri?” Mbak Via tiba-tiba bentak gue dan gue ampir terlonjak dengerin teriakannya.
“Gausah bawa-bawa Nara ya lo! Nara keluar lo!”
“GAK! GAUSAH DENGERIN KENZO, LO SINI AJA!”
Gue otomatis diem saking takutnya sama Mbak Via yang lagi marah-marah.
Dan ketika perdebatan mereka makin muncak, gue ngeliat Kenzo mulai hendak mengeluarkan jurus terakhirnya sebelum dia mengaitkan tangan dia buat menggandeng gue keluar kamar.
“Liat? Gue udah muak sama lo Vi. Lo maruk, lo nggak ngehargain orang, lo egois. Gue nggak bakal nyesel ninggalin lo pergi karena lo orang paling nggak guna di idup gue. Kalo gue udah pergi pun gue nggak akan nyesel karena gue bakal bebas dari cewek egois kayak lo!” Muka Kenzo merah banget kaena dia emang kayaknya udah capek baget.
Dan dia segera meraih tangan gue buat diajak keluar dari kamar itu, tapi yang perlu lo tahu adalah tiba-tiba aja Mbak Via berlari kencang dan menghalangi pintu. Membuat gue dan Kenjo berhenti melangkah.
“Hah? Gimana? Lo nganggep gue orang paling nggak guna?”
Tanpa peringatan, Mbak Pia langsung ngangkat tangannya buat diayunkan ke arah Kenjo.
Dan lo tau apa yang terjadi selanjutnya.
Bunyi tamparan keras itu menggema singkat dan mampu membuat suasana benar-benar menjadi hening. “Gue benci sama lo Jo, gue benci.”
“....”
“Gue....gue nggak bakal ngangkat tangan gue di depan Tuhan cuman buat minta pengampunan ke lo waktu lo pergi nanti. Karena gue orang paling nggak guna di idup lo, kan?”
Dan detik itu juga gue bener-bener ngeliat muka Kenzo memerah diiringi dia yang tiba-tiba merasakan gejolak ingin muntah.
Gue merapatkan bibir dan langsung bergerak nepuk punggung dia kencang.
“Uhuk-uhuk!”
Kenjo batuk.
“Uhuk-uhuk.”
Suara batuknya bener-bener kering. Dan itu bener-bener memilukan bagi gue.
“Uhuk-uhuk!”
Dan darah.
Dan teriakan meengking Mbak Via.
Dan kapanikan gue yang memuncak.
Dan Kenzo yang tampak marah pada dirinya sendiri karena gagal menyembuyikan kelemahannya di depan keluargnya sendiri.
[*]
****
Hallo, ini Alle, penulis novel That Bad Boy is My Husband.
Sebelumnya mohon maaf cerita ini sudah hampir 2 bulan nggak update.
Sejujurnya aku niatnya mau nggak update lama (nge-stock bab 81-tamat) biar nanti balik-balik langsung gradakan dan langsung tamat.
Tapi kesehatan mental sama fisik aku nggak ngasih izin ke niat aku. Dan aku kalo abis sakit langsung ilang mood nulisnya. Hehehe.
Jadi aku minta maaf soal itu.
Dan satu info penting lainnya adalah, cerita ini bakal selesai di bab 84.
Seriusan, dan itu bab-nya menggantung. (Nggak tamat beneran, tapi tamat terpaksa)
Kenapa? Maaf bikin penasaran, tapi nanti setelah bab 84 dirilis aku bakal kasih penjelasan dan itu nggak berhubungan sama sekali dengan terbit-mencetak buku. Alias ini ada alasan pribadi.
Mari membaca sampai bab 84 terlebih dahulu.
Terimakasih.