That Bad Boy Is My Husband

That Bad Boy Is My Husband
Bab 65: Dari Sebuah Kalimat.



***


Gue selalu inget gimana dulu, sebelum gue nerima perjodohan ini, gue juga pernah sakit gara-gara telat makan kayak gini.


Udah lama, lama banget malahan.


Tapi dulu, setiap gue dalam kondisi seperti ini, Mama bakal selalu ngomel dan beliin gue pro-maag sambil bawa banyak makanan ke kamar gue dengan muka ditekuk.


“Kamu yang nggak mau makan, kamu yang sakit, kok Mama yang repot?”


Waktu itu, jawaban gue selalu sama. Gue bakal menaikan kedua bahu sambil masukin sesendok bubur kacang hijau ke mulut gue, “Mungkin tugas ibu-ibu emang begitu?”


“Dih!”


Dan walaupun Mama kayak gitu, dia tetep aja nggak mau gue beranjak dari kasur sedikit pun kecuali kalo gue harus ke kamar mandi. Mama selalu ambilin apapun yang gue butuhkan dan inginkan.


Dan selama berkali-kali mengalami maag, gue baru tersadar satu hal. Gue bakal cepet sembuh asal ada orang yang biasanya gue andalin tuh ada di sebelah gue.


Gue selalu cepet sembuh asalkan orang yang bikin nyaman itu ada di dekat gue.


Entah cuman duduk. Entah cuman berdiri tanpa melakukan apapun.


Yang penting gue liat dia. Dan dia liat gue.


Dan mungkin, itu adalah satu-satunya alasan kenapa gue bersikeras menentang Esta buat nggak duduk berdiam diri di atas sofa sambil menegak susu hangat dan sebuah obat pereda panas yang baru saja Esta dapatkan dari kotak obat rumah Prajapati.


Gue lebih memilih melangkah pelan menjauhi Esta, dan bergerak menuju tepat yang Kenzo maksud.


Dan setelah sampai di ruang tengah, gue nggak mendapati sesosok cowok bernama Kenzo itu di manapun. Enggak di tengah ruangan, enggak di pojokan, enggak di bawah kolong meja.


Gue menggigit bibir, tanpa sadar tangan gue juga ikutan memilin ujung jaket yang masih juga gue kanakan.


Berdetik-detik noleh sana-sini kayak orang mau nyebrang jalan, gue merasakan ada pesan masuk dari hp gue.


Dan yah, gue segera mencek dan mendapati bahwa pengirim pesan itu adalah orang yang sama.


Toto’s twin:


-Dari situ lurus, belok kanan trs naik tangga. Gue di lantai atas.


Dan dengan segera aja, gue menggerakan kaki buat melangkah ke arah yang Kenzo instruksikan.


Dan berdetik-detik selanjutnya, gue mendapati diri gue sedang berdiri di sebuah ruang terbuka di lantai dua dari bangunan yang nggak gue ketahui apa fungsinya ini.


Dan setelah beberapa kali dan sekali mengedarkan pandangan, gue menemukan sesosok cowok dengan balutan sweater tebal tengah berdiri membelakangi gue dengan pandanganya yang mengarah pada halaman belakang di mana musik iringan dansa masih diputar dan beberapa pasangan yang masih menikmati dansa ini.


Gue mengayunkan langkah hingga jarak gue dengan dia terpaut kurang dari satu meter hingga akhirnya bersuara, “Ngapain di sini sih?”


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Kenzo masih saja membelakangi gue dan gue yakin banget dia masih menatap ke keramaian di bawah sana.


Dan setelah gue hitung, dia baru aja membalas ucapan gue di detik kedua belas.


“Di bawah banyak orang, gue gak suka kalo banyak orang itu salah sangka.”


Gue terdiam, nggak membalas. Lebih tepatnya menahan diri untuk tidak membalas. Karena gue pengen Kenzo ketika berbicara sama gue bukan dengan membelakangi gini. Tapi berhadap-hadapan.


Dan iya, setelah mendengar nggak ada jawaban, Kenzo memutar tubuhnya. Kedua mata kita saling natap satu sama lain. Dan saat itu juga gue melontarkan pertanyaan itu ke dia. “Salah sangka gimana?”


“Tar dikira lo sama gue ada apa-apa,” jawab Kenzo sambil menyelipkan kedua tanganya ke dalam saku celana. Dia tampak menggigil sejenak setelah melakukan hal itu.


Gue sendiri juga ikutan ngerasa dingin, tapi sedikit kebantu sama jaketnya Esta ini. Setelahnya, gue kembali fokus pada lontaran perkataan Kenzo tadi. Dan ini jawaban gue ke dia, “But in the fact kita emang ada apa-apa.”


Dan lo semua tahu nggak? Kalau reaksi Kenzo bener-bener nggak bisa gue kira. Dia ketawa. Kenzo ketawa, “Lo emang seneng kalo ketahuan orang banyak kita ini udah nikah? Nggak malu?”


Gue yakin banget.


Meskipun gue nggak ngitung, tapi gue yakin banget jeda antara percakapan kita tuh panjang banget.


Dan di jeda panjang itu gue merasakan sebuah sensasi yang membuat pandangan gue sedikit kabur.


Kepala gue pusing. Sementara gue nggak tau kenapa tiba-tiba gue pengen nangis.


Semendadak ini.


“Lo malu?” tanya gue lirih. Lirih banget. Sampe rasanya, gue tuh kayak nggak mau pertanyaan itu terlontar, karena gue juga nggak mau ada sebuah jawaban dari pertanyaan itu.


Gue lihat Kenzo menggerakan tubuhnya, dia menghadap ke kanan lantas mengayunkan langkahnya untuk maju ke depan. Kemudian setelah dua langkah maju, dia bergerak memutar tubuh dan berjalan ke arah lain. Dua langkah juga.


Kini dia bergerak melangkah bolak-balik dengan tangannya yang masih sedia terselip di saku celananya itu. “Menurut lo?”


Gue membuang muka ke arah lain. Mencoba membekukan muka dan menekan sensasi memusingkan yang kian menjadi-jadi ini.


Dan setelah beberapa detik menarik napas serta memejamkan mata gue mengeluarkan pertanyaan dengan setengah hati. “Tadi mau ngomong apa lo?”


“Badan lo sempoyongan, muka lo pucet, terus lo tadi ampir pingsan,” kata Keno sambil mengamati gue dari atas sampai bawah. Gue menggigit bibir, menahan senyum. Seenggaknya dia kelihatan peduli kan? Dia merhatiin gue kan?


Tapi gue berhenti menahan senyum setelah lanjutan perkataan Kenzo dilanjutkan. “Lo diapain sama tuh cowok?”


Gue sampe hampir merosot saking kagetnya dengan pertanyaan dia barusan. “What?” Maybe gue salah denger kan?


Dan nggak tau gimana, jiwa ngomel Kenzo langsung keluar. Dia berkacak pinggang sambil mendatarkan wajah. Mukanya bener-bener dibentuk jadi nyeremin.


“Gue kan udah bilang, pulang, pulang, pulang. Lo nggak punya kuping? Lo tuh udah kena efek samping obat. Tadi kan gue juga udah bilang, jangan terima makanan sebarangan, mending ambil sendiri. Gini nih kan jadinya?” Itu barusan adalah deretan omelan dia yang kedengeran nggak masuk akal.


Kontan aja gue menyela dan itu semua nggak pernah selesai. “Zo lo—“


“Diem! Mending lo sekarang balik daripada kejadian yang nggak-nggak. Sebelum jam dua belas lo harus ninggalin nih tempat. Paham nggak lo?” Dan kalimat dia barusan membuat gue menghela napas sebanyak dua kali. Gue bener-bener nggak bisa terus diemin ocehan absurd Kenzo.


“Bentar! Lo ngira gue gini gara-gara efek obat yang lo maksud itu hah?!” Otomatis nada bicara gue meninggi. Gue bahkan ikut menaikan dagu dan megeraskan rahang.


“Apa lagi?” balas dia enteng. Sekali lagi dia erhatiin gue dari atas sampe bawah.


Dia kira gue rada sempoyongan dan pucet gini gara-gara efek obat? What? Dia nggak bisa bedain orang sakit sama orang mabok dan kena efek obat apa gimana sih?


Gue menarik napas lagi, sekali lagi pandangan gue mulai memudar. Astaga, gue butuh istirahat, tapi gue nggak mau pulang. Gue yakin banget kalau gue itu harus pulang sama Kenzo. Gue nggak mau pulang tanpa Kenzo. “Lo berpikiran sempit tau nggak? Gue masih pengen di sini ya di sini! Gausah sok ngatur gue ya! Gue dari tadi pusing tau nggak dengerin lo ngomong dan nyuruh-nyuruh gue pulang!”


Dan di situlah gue ketemu Kenzo yang tampak frustasi. Dia megangkat kedua tanganya buat menggenggam rambutnya serta menunduk sejenak sebelum mengeluarkan omelan panjanganya. “Nar, holly shit! Lo tau nggak sih di sini bahaya hah?! Di sini isinya rata-rata cowok bejat, lo nggak tau kalo abis kembang api nanti mereka pada mau mabok-mabokan hah?”


Dan setelaha itu, gue mencoba menekan senyum yang entah akan bergerak keluar dari bibir gue. Apa bener ucapan Gia tadi.


Kenapa nggak gue coba tanyakan aja? “Buat apa lo peduliin gue hm?”


Setelah kalimat itu mengudara, gue nggak bisa untuk nggak tersenyum. Bahkan gue ketawa dikit. Dan itu ampuh buat nekan rasa pusing yang menjalar di kepala gue barusan.


Keno mengangkat wajah. Nggak lama dia menampilkan air muak bertanya-tanya.“Lo masih sempet-sempet ketawa gini ini hah? Lo waras nggak sih Nar?”


Gue menarik senyum simpul, lantas menjawab dia, “Gini deh, lo kayak gini ini kenapa? Kenapa lo kayak nggak suka gitu gue kumpul sama orang lain? Terutama cowok, lo nggak suka?”


“What?” Reaksi dia dengan mimik super kaget. Bahkan tubuhnya mundur satu langkah.


“Perlu gue ulang?” balas gue sambil melipat kedua tangan di depan dada.


Kemudian, kita kembali dipertemukan sama jeda panjang yang membuat gue risih. Karena Kenzo terlihat memejamkan matanya dengan kedua tangan yang terkepal. Napasnya tampak nggak teratur dan dia juga terlihat sedang mengatur napas.


Dua.


Tiga.


Gue kira gue akan bertemu jawaban dengan nada yang friendly seperti yang biasa ia gunakan ketika bercanda dengan gue. Tapi nggak. Yang gue temui adalah nada mengecek dengan pertanyaan sarkastik yang membuat telinga gue langsung berdengung samar pas dengerinnya. “Dangkal banget pikiran lo itu ya?”


Gue terdiam. Di tengah keterdiaman gue itu, dengung samar-samar di telinga gue tadi perlahan-lahan mulai terdengar makin jelas.


“Lo mikir yan enggak-enggak tau nggak?”


Gue nggak tau gimana, tapi kalau gue nggak segera mengendalikan diri, gue seratus persen yakin bakal jatuh dan bisa sampe pingsan.


“Gini ya Nar, gini, lo emang nggak bisa nalar atau gimana, tapi gue bakal bantu. Lo ada di sini tuh salah.”


Nggiiinggggggggg. Bunyinya berisik.


Tapi kalimat-kalimat Kenzo masih mampu gue denger dengan jelas pula.


Dan kalimat-kalimat itu bukanya masuk ke otak. Tapi masuknya ke hati.


“Salah, karena lo bikin gue nggak tenang.”


Masuk ke hati. Dan itu perlahan-lahan bikin sakit.


“Lo tau kenapa gue nggak tenang?” tanya dia yang gue yakin banget nggak butuh gue jawab. “Yessi tuh peduli sekitar, Yessi teliti, Yessi pinter. Lo tau artinya apa? Dia tuh udah curiga dari tadi.”


Gue memejamkan mata. Mengontrol pusing dan dengungan yang berputardi sekitar kepala gue. Tangan gue, gue kepalin rapat-rapat.


Gue juga menarik napas dalam dan mengembuskannnya teratur.


“Lo bisa bikin hubungan gue sama dia rusak.”


Dan itu adalah kalimat pedas terakhir Kenzo sebelum gue menyelanya lebih dahulu. “Hah?”


Kenzo berdiri tegak di depan gue. Dia eunggu perkataan gue selanjutnya. “Maksud lo gue di sini, dateng ke sini dengan dandanan secakep ini cuman buat jadi orang ketiga di hubungan lo sama dia?”


“Yes you do. Gue nggak mau—“


Gue kembali menyela. Gue nggak suka hati gue sakit dengerin dia lontarin kalimat-kalimat pedes kayak tadi. Gue nggak suka. Gue benci.


“Heh, terus kalo lo udah tau gitu, ngapain lo malah ngurusin gue? Ngapain dari tadi nelponin gue? Ngapain juga ngajak ketemu di sini? Ini salah siapa?” Gue melawan segala pening dengan tetap menaikan dahu dan menajamkan mata.


Gue kira Kenzo bakal mengalah dan diam. Tapi enggak, dia malah terus membalas ucapan gue barusan. “Lo juga nggak tau kan, gimana temen lo itu dari tadi merhatiin Yessi sama tatapan nggak enak.”


“Gia? Lo jangan kepedean deh!”


“Yessi dari tadi mergokin temen lo natap dia terus, lo nggak tau kalo Yessi itu bisa jadi overthinking dan bikin dia stress hah?”


Lo peduli banget sih sama dia. Gue bahkan bisa liat alis lo bergerak turun dan dahi lo mengekrut. Lo banyak meggunakan emosi buat kalimat pembelaan Yessi barusan.


Penting banget ya Zo?


“Denger ya Nar, dengerin gue. Gue nggak mau rahasia kalo gue sama lo ada apa-apa ini terungkap. Gue nggak mau Yessi kenapa-napa.”


Sakit. Gue pikir hanya dengan kalimat pedas aja itu udah sakit. Tapi ini ada lagi. Sakit. Sampe rasanya gue pengen nangis dan segera pergi dari tempat ini. Tapi nggak bisa.


Seluruh tubuh gue lemes.


Yang bisa terus bergerak seperti semestinya cuman hati, karena ini masih bisa ngerasain sakit. Dan satunya lagi mulut, karena gue masih bisa sahutin ucapan dia barusan. “Mau ngingetin ya Zo, dia tuh pacar lo, gue siapa? Gue istri lo, nggak seharusnya lo belain dia sampe ngebentak gue kayak gini tau gak?”


Gue nggak tau kenapa ini yang gue pertanyakan. Ini nggak penting.


“Lo sendiri yang bikin gue emosi kayak gini.”


“But i’m your wife Alandro, damn it.” Nyaris. Nyaris banget akhir kalimat tadi gue akhiri dengan tanda seru sebagai bukti bahwa gue berteriak. Tapi gue masih bisa nahan.


Gue nggak bisa teriak karena itu sama aja bikin pusing gue makin parah.


“Terus kenapa?”


Nggak usah gue jabarin dengan rinci. Yang perlu lo tahu cuman satu, yaitu gue cuman pengen nangis di detik setelah pertanyaan dia terlontar.


Gue diem, gue menahan tangis, gue menahan sebuah jawaban yang terus berputar dalam kepala gue. Gue diem karena nggak mungkin juga kan gue bilang ke dia kalo gue lebih butuh dia daripada Yessi butuh dia. Gue cuman butuh ada di deket Kenzo, bukan Yessi.


Gue sakit.


Gue butuh orang.


Gue diam.


Gue sakit.


Gue kepengen nangis.


Di tengah keterdiaman gue itu, Kenzo tampak menghela napas. Dia tampak lebih tenang dan lebih netral. Kemudian dia menyuarakan apa yang telah ia rangkai di kepalanya barusan, “Sekarang ya Nar, dengerin gue. Lo pulang, dan istirahat di rumah aja. Kalo bisa ajak temen lo itu balik dan lo bisa seneng-seneng sama dia di tempat lain.”


“Males, ngapain gue dengerin lo. Lo juga nggak berhak nyuruh-nyuruh gue kan?” Susah payah gue mencoba bekuin muka. Gue susah payah nggak nangis.


“Im your husband Antarilsa, damn it.”


“Terus kenapa?” balas gue sambil mengambil dua langkah ke belakang. Gue menjauh dari hadapan dia.


Skak mat. Gue liat dia terdiam. Pupil matanya membesar. Kaget kali.


“And don't forget about my last name Zo, it’s still Antarilsa, not Alandro,” sambil melanjutkan, gue bergerak memutar tubuh buat menjauh dari tempat itu.


Dan ternyata apa yang gue kira berakhir tetep saja masih bersambung. Karena seorang Kenzo melontarkan sebuah pertanyaan dingin di tengah malam yang udah dingin ini. “Lo tau apa bedanya lo sama Yessi?”


“I won’t to know, so shut your mouth up!” Gue mempercepat langkah gue biar nggak dnegerin dia lebih banyak berkata.


“Dia nutut, lo nggak. Simple, tapi efeknya besar.”


“Serah lo mau pulang apa nggak setelah ini. Kalo ada apa-apa jangan salahin gue. Gue udah nyuruh lo pulang baik-baik.” Gue sudah menapak di anak tangga pertama ketika kalimat Kenzo selesai. Kemudian, dengan pandangan yang mengabur, kepala pening dan kaki yang gemetar, gue menjauhi tempat itu.


Menjauhi apa yang sebelumnya gue kira tempat nyaman yang bikin gue sembuh seperti apa yang telah gue lakukan bersama Mama.


“Dia nutut, lo nggak. Simple, tapi efeknya besar.”


Hahaha, iya. Gue selalu inget perbandingan gue sama Yessi.


Yessi sesekali, sementara gue berkali-kali.


Simple, tapi efeknya besar.


Sama kayak omongan lo, simple, tapi efeknya besar. Gue yakin gue Mama buat bikin gue sembuh secepatnya.


***


Yeayyy, berantem yeayy! Ini 2300 words gimana rasanya? Mata pegal atau baik-baik saja?


Ho iya. Nara keras kepala ya :"( si Kenzonya juga nggak pengertian.


Tubir aja lo berdua. Kaga jelas amat.


Tinggalkan komentar dan like ya uwu-uwuku. Huhuhuhu, aku suka kalau dapat komentar dari kalian. Sampai jumpa besok!