
***
Dari sudut pandang orang ketiga.
Gia baru saja mau mengumpat sekencang-kencangnya waktu dia mendapati orang yang dia cari sedang melangkah lemah di tengah keramaian. Astaga, sumpah.
Gia otomastis langsung mendekati Nara dan menepuk kencang bahu cewek itu. “Nara!”
Bismillah, Gia udah siap ngabsen seluruh hewan yang merupakan satwa yang biasa di kebun binatang buat disemprotkan kepada Nara dengan gaya angkuh ibu-ibu kos di film kungfu hustle.
Tapi semua itu ketahan karena sumpah, di mata Gia sekarang, Nara lebih seperti orang sekarat yang memanggil penggalan nama dia dengan lemah. “Gi.....”
Ahh enggak sih, sekarang Nara malah nutup matanya gitu. Bibirnya super kering dan tangannya agak gemetar buat ngeraih tubuh Gia.
Gia otomatis mengubah posisi tanganya menjadi bersidekap sambil berujar, “Heh! Kok malah merem sih! Gausah aegyo ya! Muka lo lebih mirip kayak badak mau lahiran!”
Nggak ada jawaban, Gia cuman menemukan Nara yang terdiam dengan mata terpejam dan napas yang seolah ditahan untuk tidak beraturan.
Gia kontan saja menyipitkan mata. Mencoba mendalami wajah Kinara dan menerka-nerka sedang ada apa. Sampai akhirnya, sisi spiritual Gia keluar, dia bergidik sebentar sebelum melontarkan tuduhannya kepada Nara. “Heh! Naraaaaa! Kok diem aja sih! Lo kerasukan maung ya!”
Nara cuman diam dan itu langsung membuat Gia yang notabenya anak pemandu sorak langsung beraksi dengan cara mengoncang-goncangkan tubuh Nara dengan hebat. Astaga, Nara beralih profesi jadi pom-pom dadakan.
Bukanya makin sadar, Gia malah membuat Nara makin merapatkan mata sambil menggigit bibirnya dalam-dalam. Nara kelihatan menahan sakit.
“Gi....,” panggil Nara yang langsung membuat Gia memelankan guncanganya.
“Hah?” Beberapa detik kemudian, guncangan itu berhenti.
Gia mendekatkan wajahnya untuk lebih dekat dengan Nara, ia yakin suara yang akan dikeluarkan temanya itu pasti lirih. Ini untuk antisipasi.
“Pusing,” lanjut Nara dengan suara yang sudah Gia duga pasti akan selirih barusan.
Gia menghela napas, dia menatap Nara dengan tatapan pasrah sebelum akhirnya mendekatkan punggung tanganya ke kening temanya. “Lo abis kenapa deh? Minum dulu—Yasamsung! Panas!”
Cewek itu menjerit lumayan kencang. Beberapa mata sempat menatap ke arahnya dengan alis terangkat. Tapi Gia nggak peduli, dia malah panik sendiri.
“Ra! Kok makin demam sih! Ayo pulang aja!” Gia hampir membentak Kinara saking paniknya. Duh, ini tuh udah dibilang dari tadi di suruh pulang, tapi batu banget sih!
“Gue....di rumah lo ya?” jawab gadis dengan bibir pucat itu. Dan Gia cuman bisa mengangguk sambil meraih bahu Nara buat dipapah.
“Ha? Iya-iya, ayo sekarang ke sana dulu. Gue pesen—duh syalan, nggak ada ya malem tahun baru gini. Esta bawa motor ya Ra?” Nara megalungkan tanganya di leher Gia sambil mengikuti langkah temanya itu untuk menepi.
Mungkin Gia lebih dulu membawa Nara ke soffa untuk diberi minuman hangat serta dimintain obat penawar panas. Sama konsul ke Esta dulu. Siapa tahu si Esta ada temen buat ditebengin. Kasian kan Nara, udah sakit, masa harus dibawa pake sepeda motor.
Gia setia membopong Nara, dan di sana dia sudah bertemu pandang dengan Esta. Kontan saja, Gia memberi bahasa isyarat biar Esta mendekat. Dan itu berhasil.
“Ayo deh ke Esta dulu. Siapa tahu temenya dia ada yang bawa mobil tar kita—“ Belum juga sampai ke tempat tujuan, Gia langsung merasakan beban di pundaknya menghilang karena tiba-tiba tubuh Nara merosot tertarik oleh gravitasi.
“Nara! Woi! Lo kok! Ta! Esta!” Gia bergerak menepuk-nepuk pipi Nara dan menoleh ke Esta yang sudah mendekat. Dia minta tolong agar Esta bantuin dia secepat mungkin.
Orang-orang mulai menoleh dan menatap ke arah pusat aksi dengan alis yang terangkat.
“Estaa! Ini tolongin! Ini gimana!”
“Nara! Lo jangan bikin gue panik dong!”
Gia hampir menangis saking paniknya, dia bahkan menepuk-nepuk pipi Nara sambil menguncang bahu temanya itu dramatis. Udah kayak di drama korea, yang mana tokoh utama ditinggal mati pasanganya.
“Sssst! Gia, jangan digituin Naranya. Udah tenang dulu,” sahut Esta dengan lembut sambil menjauhkan tangan Gia biar nggak menepuk-nepuk pipi Nara lebih keras. Jatohnya bukan nepuk-nepuk sih, lebih ke gampar-gamparan.
Orang-orang mulai berkerumun, dan di situ si tuan rumah a.k.a Prajapati mendekat dan membelah kerumunan.
“Ra! Bangun Ra! Minyak kayu putih!” Esta ganti menepuk-nepuk lembut pipi Nara, dia kini menoleh ke Prajapati dan meinta minyak kayu putih.
“Bawa ke dalem dulu!” Prajapati menyahut.
“Gue gendong dulu!” Dan kemudian, Esta dengan segera bergerak buat menyelipkan tanganya di bawah leher dan di bawah paha Kinara untuk segera di bawah masuk ke soffa ruang tengah.
Dan setelahnya, Prajapati menyuruh orang-orang buat tenang. Dia minta acara dilanjutkan tanpa perlu ikut campur urusan barusan.
Dan tentu saja itu lumayan susah. Karena seuluruh perhatian tadi sudah terlanjur tertuju pada keributan barusan.
Seluruh orang di acara ini melihat dengan jelas dan mulai membicarakanya.
Termasuk sesosok cowok yang tengah memeluk erat bahu seorang cewek di sampingnya. Tatapannya tajam menatap tubuh Kinara dibopong oleh Esta seperti barusan sebelum akhirnya dia tertawa sinis sambil membuang muka.
Cewek di sebelahnya, Yessi, menyadari hal itu dan menoleh ke dia dengan raut muka menebak-nebak. “Kenapa?”
“Hm? Nggak,” balasnya sambil menurunkan tanganya untuk sampai ke pinggang Yessi. “Minumannya kapan dikeluarin dah? Udah malem nih.”
Yessi menajamkan mata dan memasang raut wajah galak. “Lo nyetir ya! Jangan minum banyak-banyak Zo!”
Cowok itu tertawa, “Loh, kan gue nggak pulang—hm, kita kan nggak pulang Yess.” Kalimat barusan dilontarkan dengan tatapan nakal yang sudah sering Yessi lihat selama dia bersama cowok ini. Hah.
***
Nggak tau yah. Pendek-pendek banget nulis ini. Sama aku tuh sebal ya sodara-sodara, laptop aku tuh swdjewvcjhlVCFEVQhVDCiyJ AAAAAA MALES!
Sama oh yah, ini first time aku kasih tunjuk ke kalian kemampuan menulis menggunakan 3rd pov. Hehehe, asikan pake pov Nara apa ini?
Yuhu, tunggu chapter selanjutnya yang aku upload minggu depan!