That Bad Boy Is My Husband

That Bad Boy Is My Husband
Bab 56: 31 Desember.



***


Emang mungkin iya ya? Yang bikin sakit itu kadang orang yang beberapa jengkal di sebelah lo semua.


Bukan. Bukan mau main peribahasa, tapi karena memang itu fakta. Karena siapapun yang sedang berada di lingkaran hidup lo, mereka bakalan cenderung membuka suara.


Dan trust me, when they'll start to open they mouth, lo sedang ada pada garis start dari sakit hati.


Lo ada di garis di mana lo sedang menunggu dia, si pengajak bicara membuat lo berlari.


Lari di atas sakit hati.


Dan, gue nggak tau kenapa, akhir-akhir ini, hubungan gue sama Kenzo random banget.


Kita berdua cuman lagi tarik ulur. Kayak diibaratkan lagi main layangan, mau melambung tapi nggak bisa tinggi-tinggi. Mau mendarat tapi masih pengen nyentuh angin.


Kayak, hei, tiba-tiba aja beberapa waktu yang lalu, kita terjebak dalam drama di mana gue nunggu seorang Kenzo Ramadian di depan minimarket dekat sekolah, sendiri. Dan yang lagi ditunggu lagi nikmatin waktu berdua. Bareng pacarnya.


Di kemudian waktu, gue ngerasa kayak “Wah Ra, lo sekarang bergantung ya sama Kenzo?” dan pada ujungnya gue kecewa. Karena Si Kenzo-Kenzo yang membuat gue ketergantungan itu lagi nggak di sebelah gue. Nggak lagi ngobrol sama gue. Nggak lagi ketawa bareng gue.


Dan ternyata, layangan yang sempat mau mendarat itu kembali melambung. Kenzo dateng.


Dia jemput gue.


Dia nawarin gue sebuah kalimat yang ternyata diam-diam gue jadiin favorit.


“Ayo pulang.”


Simple words yet means a lot, tapi bikin gue seolah bilang ke gue sendiri, “Oh ini, ini yang lo tunggu kan? Ini yang bikin lo nggak lagi capek kan?”


Dan drama-drama itu berlanjut gitu aja. Kita berdua jadi manusia yang nggak jelas statusnya.


Karena di hari berikutnya, gue menemukan kalau tubuh gue dipeluk sama Kenzo.


Berhari-hari selanjutnya, gue menemui diri gue sendiri sedang didekap Kenzo dengan musik With You yang berputar lewat earphone yang tersemat di kuping gue.


Dan gue juga ketemu hari di mana gue harus nggak bertemu dan nggak kenal Kenzo lagi.


Layangan yang melambung itu harus ditarik lebih deket ke bumi.


Dan pada akhirnya, drama terakhir kita berdua adalah, Kenzo Ramadian Alandro.


Menunggu gue pulang. Dalam kurun waktu 10 jam.


Siapa sih orang bodoh yang nggak kepikiran dengan semua tingkah dia? Siapa yang nggak kepikiran gimana dia selalu jemput gue nggak tau kapanpun itu.


Siapa yang nggak kepikiran gimana dia meluk gue malem-malem buat gantiin posisi gulingnya?


Siapa manusia bodoh yang nggak mainin perasaan waktu denger dia ngajakin gue dansa?


Nggak bodoh. Gue emang udah mulai berpikir ulang.


Layangan tadi udah mulai melambung.


Sampai pada akhirnya, gue bertemu detik di mana gue menghela napas sambil natap ke cermin.


Kinara Putri Antarilsa, apa lo lagi masuk sebuah zona nyaman?


Atau lo udah masuk skrip cerita novel perjodohan yang pernah lo ketawain keras-keras?


Di tanggal 31 Desember, gue kembali terduduk di depan tv ruang tengah.


Pandangan gue kosong. Tapi nggak dengan isi kepala gue.


Gue sedang memikirkan bahwa nanti malam, orang yang biasa tertidur di sebelah gue itu akan membuat kenangan bersama orang lain.


“Kenzo.”


Hahaha, apa iya yah? Ini pertama kalinya mungkin gue memanggil dia lebih dulu.


Biasanya kan, dia duluan yang manggil gue.


Dan dia berdehem sambil natap ke layar hpnya. Gue tau, dia sedang berbicara dengan siapa lewat hp itu.


“Lo beneran harus pergi ya malem ini?” Gue membuka suara. Pelan. Pandangan gue masih kosong, tapi tetep aja, gue masih bisa mendeskripsikan gimana Kenzo terlihat.



Dan lo tau apa? Kenzo mendongak. Natap gue.


Dia ngalihin pandangannya dari dunianya. Hanya untuk bersitatap dengan gue.


Dan iya, rasa manusiawi itu muncul. Gue suka.


Bener Zo, noleh ke gue aja.


“Lo jadi keluar malem ini?” gue bertanya, pelan, dan kini gue mengalihkan pandangan ke arah tv. Tempat di mana iklan acara malam puncak tahun baru nanti ditayangkan.


“Iya.”


“Kenapa emang? Lo sendiri juga keluar sama temen lo itu kan?” Sebenernya, gue udah janjian keluar sama Esta. Tapi gue bilang sama Esta mending berangkatnya jam 9 malem aja.


Dan ya, gue nggak bilang ke Kenzo. Mungkin ini bisa jadi sedikit surprise ke dia.


I mean, surprise dalam artian bikin dia kaget-kaget dan emmm? Pokoknya bukan kaget yang seneng. Tapi kaget yang negatif.


“Hm.” Gue berdehem. Pelan. Kemudian terdiam.


Rasanya, kayak, tiba-tiba aja malem tahun baru ini, gue pengen duduk di rumah aja.


Tapi nggak sendiri.


Bareng Kenzo. Maybe?


Dan tiba-tiba aja, gue menoleh. Menatap sosok cowok yang masih setia duduk di sebelah gue dengan kepala tertunduk.


Gue sekilas lihat gimana di layar hpnya nunjukin papan chat dengan orang yang masih juga sama.


Banyak emot yang ditebarkan keduanya. Dan gue bisa liat gimana Kenzo seolah menahan senyum ketika jempolnya menari diatas Keyboard.



Gue berdecak. Gimana ya? Kalau gue bilang ke Kenzo kalau gue pengen dia di rumah aja. Nemenin gue?


Gue menghela napas, tapi kayaknya gue nggak pernah punya keberanian sebesar itu. Dilihat dari sikap dia ke Yessi, gue yakin banget Kenzo nggak mungkin ngelepas Yessi cuman demi gue.


Ya tapi kan.


Gue istrinya.


Gue sah loh. Kenzo aja yang berdosa. Selingkuh tuh! Kapan-kapan gue mau aduin ke Bunda aja kali ya? Biar dia putus?


Biar....nggak gini ke gue?


Hehehe. Kok gue jadi pemeran antagonis sih tiba-tiba?


Setelah menarik napas panjang, gue memutuskan bersuara dengan kalimat basa-basi. “Lo percaya nggak dengan kata kalau?”


“Nggak. Itu cuman ilusi. Kalau itu bikin lo ngarep terlalu tinggi.”


Sebenernya yah semuanya, ini adalah pertanyaan random yang gue buat-buat biar kita ada interaksi.


Dan well, ini tuh kebiasaan orang Indonesia. Nggak to the point. Basa-basi.


Okey, setelah pertanyaan ini, gue bakal langsung bilang ke dia kalau gue mau dia tetep di rumah. “Kalau gue ngelarang lo pergi, lo mau tetep di sini nggak?”


Gue udah menarik seutas senyum hingga di kemudian detik gue mendengar ini:


“Nggak.”


Gue terdiam. Berkedip dan menahan napas.


Ada perasaan nggak enak yang tiba-tiba mengudara di sekitar gue.


Pada akhirnya, gue kembali menatap napas dan mencoba terlihat biasa. Dan yah, lo semua tau. Gue tuh suka banget nyakitin diri gue sendiri dengan terus melontarkan banyak pertanyaan. “Why?”


“Because it's just be 'kalau', no more.”


“Seandainya beneran?”


Seandainya. Kalau.


Itu harapan. Plis. Itu harapan Zo. Lo bisa liat mata gue nggak sih?


Ini namanya pertanyaan harapan.


“Nggak ada Nar, jangan suka berandai-andai. Jangan suka menebak-nebak. Jangan bilang kalau, itu sama aja berharap.”


Di detik itu, atau mungkin setelahnya, gue bisa menyaksikan gimana Kenzo tiba-tiba mengerjap kala hpnya bergetar dan kemudian dia tersenyum senang sambil menerima sebuah panggilan masuk.


Iya yah, sebahagia itu loh lo bareng Yessi. Apa gunanya sih gue nahan-nahan lo buat tetep di rumah aja?


Gue menarik napas sebelum akhirnya menjalani jam-jam di tanggal 31 Desember itu dengan perasaan turun.


Gue melewatkan makan siang, padahal ini bisa bikin maag gue yang udah lama ilang jadi kambuh lagi.


Dan ternyata, di menit ke 17 pada pukul 7 malam, gue menyadari bahwa apa yang dikatakan Kenzo benar.


Karena pada akhirnya, gue hanya bisa berharap kalau tadi gue beneran bilang ke dia buat nggak pergi.


Kalau aja gue berani bilang, mungkin di menit ke 18 pada pukul tujuh malam, gue nggak akan melihat punggung tegap Kenzo yang terbalut sweater tebal itu menjauh dari pandangan gue.


Kalau aja gue berani bilang, mungkin di menit ke 19 pada pukul tujuh malam gue nggak akan mendengar deru mobil yang menjauh meninggalkan pekarangan rumah.


Dan kalau aja gue beneran berani bilang, mungkin di menit-menit selanjutnya pada pukul tujuh malam, gue nggak akan mendapati diri gue sendiri sedang duduk dengan tatapan kosong menghadap layar tv dengan mata yang mulai berair.


Kalau.


Itu bikin gue makin berandai-andai.


Dikemudian waktu, kalau itu bikin gue sakit sendirian.


“Jangan pergi ya Zo? Gue gak suka malam tahun baru gue sepi.”


Kalau aja.


***


Part ini pembalasan buat Nara gegara bikin Kenzo nunggu di part2 kemaren.


Hm. Kalau aja sekolah Online nggak bikin tugas aku jadi banyak. :"(


Like yaaa. Sampai jumpa besok!!!