That Bad Boy Is My Husband

That Bad Boy Is My Husband
Bab 66: All over



***


Ada yang bilang kalau lo lagi sakit, satu-satunya obat buat sembuh itu adalah keinginan diri sendiri.


Pengen sembuh.


Obatnya Cuma itu.


Percuma aja kalau lo minum obat tanpa punya keinginan buat sembuh.


Jadi intinya Cuma satu.


Waktu sakit, lo kepengen sembuh apa nggak. Udah itu aja.


Tapi rasanya, mungkin malem ini gue nggak bisa meletakan kalimat “itu aja” setelah kalimat “kepengen sembuh apa enggak”.


Karena meskipun gue kepengen sembuh, gue nyatanya ditolak sama kata ‘sembuh’ itu.


Gue disuruh pergi.


Gue dibikin sakit lagi sama si ‘sembuh’ yang gue pengenkan itu.


Gue menghela napas untuk menetralkan napas gue yang terasa tersenggal sekembalinya gue dari tempat Kenzo berada.


Sumpah, gue baru aja ngalamin yang namanya sakit hati yang hebat.


Tangan gue, telapak tanganya lebih tepatnya. Itu dingin banget.


Kepala gue pusing. Mata gue panas. Terus kaki gue gemeter.


Dan terakhir, mulut gue dengan cekatan terus gue bekap karena gue nggak bisa buat nggak terisak.


Sumpah, ini tuh perpaduan paling menakutkan dari sakit yang pernah gue alami sebelum-sebelumnya.


Seolah-olah tuh, karma pada lagi ngumpul buat ngejelek-jelekin dan nyiksa gue sambil ketawa kencaaang banget.


Mana kuping sama otak gue lagi bekerjasama buat nge-repeat ucapan-ucapan Kenzo lagi.


“Lo bisa bikin hubungan gue sama dia rusak.”


“Denger ya Nar, dengerin gue. Gue nggak mau rahasia kalo gue sama lo ada apa-apa ini terungkap. Gue nggak mau Yessi kenapa-napa.”


“Lo tau apa bedanya lo sama Yessi?”


“Dia nutut, lo nggak. Simple, tapi efeknya besar.”


Hhhhhhhhhh!!!!!!!!!!


Berisik! Berisik! Berisik!


Gue mau copot kuping rasanya.


Mana pandangan gue burem lagi.


Dak!


“Ck! Ini siapa naroh tangga di sini sih!” Gue mendumel karena barusan gue kesandung anak tangga.


Gerakan kesandung itu mampu ngebuat badan gue tergoncang. Kepala juga ya! Makin pusing, sumpah!


Sampai akhirnya, gue tiba kembali di keramaian. Gue ngerasain musik yang merambat melewati udara dan sampai ke telinga gue itu malah bikin kepala gue pening.


Bahkan gue yain banget gue mulai mual.


Gue memejamkan mata sesaat, mecoba menyeimbangkan tubuh gue yang mulai oleng ini. Sampai akhirnya sebuah suara cempreng diiringi sebuah tepukan yang mendarat di bahu gue datang. “Nara!”


Gue pelan-pelan membuka kelopak mata. Menemukan wajah masam Gia dengan tanganya yang ditaroh di pinggang. Mode-mode ibu kos yang siap nagih uang bulanan.


“Gi....,” rintih gue sambil menggigit bibir seraya mencoba nggapai tubuh Gia.


“Heh! Kok malah merem sih! Gausah aegyo ya! Muka lo lebih mirip kayak badak mau lahiran!” Gia bergidik sambil tetep masang wajah masam. Cuman, kali ini tanganya udah nggak berkacak pinggang, udah sidekap di depan dada gitu loh.


Gue nggak membalas ucapan Gia, dan lebih fokus buat ngatur napas dan ngendaliin diri biar tubuh gue gak ambruk.


“Heh! Naraaaaa! Kok diem aja sih! Lo kerasukan maung ya!” Gia heboh sendiri dan bergerak buat nepis jarak di anatar gue dan dia. Nggak lupa gaya khas seorang Giasata adalah ngubrak-ngubrak badan gue seolah gue ini ada botol saus kemasan kaca yang isinya susah keluar pas mau dituangin di atas bakso.


Apa iya ya? Gue pulang aja.


“Gi?” pelan, bibir gue bergerak meyebut nama Gia. Dan itu bikin dia berhenti ngguncang gue kayak barusan.


“Ha?”


“Pusing,” adu gue dengan bibir yang gemetar.


“Lo abis kenapa deh? Minum dulu—Yasamsung! Panas!” Gia menekankan punggung tanganya ke jidat gue dan berakhir menjerit seperti barusan. Mata dia membola lebih besar, dan dia bahkan mundur satu langkah ke belekang saking kagetnya.


Gue remang-remang liat itu, karena sumpah. Gue sampe bosan bilang kalau mata gue burem dan kepala gue pusing.


Dan beberapa detik kemudian, gue mendapati Gia merengkuh bahu gue dan mengomel, “Ra! Kok makin demam sih! Ayo pulang aja!”


“Gue....di rumah lo ya?”


“Ha? Iya-iya, ayo sekarang ke sana dulu. Gue pesen—duh syalan, nggak ada ya malem tahun baru gini. Esta bawa motor ya Ra?”


Gue diem aja, dan perlahan energi gue kayak disedot habis. Gue mengalungkan lengan gue di leher Gia dan dibopong sama Gia.


“Ayo deh ke Esta dulu. Siapa tahu temenya dia ada yang bawa mobil tar kita—“


“Nara!!!!!”


Gue merasakan bahwa gue mulai kesedot ke ruang hitam dengan tenaga yang udah 0 persen.


Kayak sebuah hp yang bener-bener kehilangan dayanya, gue langsung ngedrop.


Nggak.


“Nara! Woi! Lo kok! Ta! Esta!”


Gue emang kehilangan kendali tubuh gue, tapi gue masih ada tenaga buat memfungsikan telinga gue.


Kasak-kusuk kedengeran.


Suara panik Gia, dan suara lembut Esta.


Musik dansa masih diputar.


Suara langkah kaki orang yang mendekat.


“Ra! Bangun Ra! Woy! Minyak kayu putih!” Itu suara Esta.


“Bawa ke dalem dulu!”


“Gue gendong dulu!”


Suara-suara tadi kedengeran jelas, tapi perlahan-lahan mengecil.


Mungkin telinga gue juga kehabisan energi.


Tapi.


Lo semua harus tahu, bahwa hal yang paling meyebalkan terjadi di detik ke 19 gue ambruk ke tanah.


Karena di detik itu, entah kenapa otak gue memilh sebuah memori kecil untuk diputar sebelum gue resmi kehilangan kesadaran.


“Nar.”


Nggak. Plis.


“Ayo pulang.”


Suara Kenzo.


Gue benci itu.


***


Hm. Maaf. Ayo selesaikan cerita ini di bulan ini.