
***
Gue segera aja masukin hp tanpa balesin pesan Gia, selanjutnya, gue menoleh pada kembali pada Esta yang sedang natap gue dengan sebelah alis terangkat.
“Lo nggak sibuk?” tanya gue sambil nyelipin anak rambut ke belakang daun telinga. Sejenak, gue mengatur napas biar nggak kelihatan gugup.
“Nggak, ayo, sini gue mau dansa.” Esta menggeleng, lantas menarik gue buat bergabung ke tengah-tengah anak-anak Garken lain.
Setelah udah resmi berhadap-hadapan dan tinggal posisiin tangan, gue menelan ludah dan ngelempar quis dadakan buat Esta. “Nggak papa nih gue dansa sama lo?”
“Nggak papa lah, siapa yang larang?” Dan selanjutnya, gue dengan sedikit ragu-ragu nempelin tangan ke bahu dia, sementara Esta dengan pelan posisiin tanganya buat berada di pinggang gue.
Dan musik-musik asing itu berputar mengiringi gue sama Esta yang lagi dansa ini. Gila ya, gebetan gue dansa sama gue, i think i’m gratefuly. HOW LUCKY I’M!!
Setelah sekian detik cuman tatap-tapan, Esta tiba-tiba senyum tipis, disusul sama dia yang berkata tenang, “Jangan bengong mulu Ra.”
“Hah? Oh, iya. Hahahaha.” Gue ketawa malu sambil buang muka ke arah lain karena gak kuat liat Esta yang cakepnya kebangetan ini dalam jarak dekat. Astaga.
Dan sialnya, waktu gue buang muka ke arah lain itu, gue buang muka ke arah di mana Kenzo berada. Entah sial atau nggak sih.
Pokoknya, yang gue liat adalah, Kenzo tiba-tiba ngasih lirikan tajem ke gue sambil ngeluarin sebuah bahasa bibir yang kalo gue tangkep bunyinya “Pulang lo!” gitu.
Sontak aja, gue liat sekeliling sebelum bales bahasa bibir dia dengan kata “Males” yang gue peragain sambil mata melotot.
Setelahnya Kenzo berdecih dan memilih buat hadep-hadepan sama Yessi yang entah bagaimana bisa-bisanya dansa sambil pejamin mata.
Dan perlu lo semua ketahui, Kenzo tiba-tiba sedikit menunduk lantas mendekatkan bibirnya ke kelopak ata Yessi.
LOH!
MAU KECUP-KECUP DI DEPAN UMUM YA LO!
Saat bibir Kenzo udah bener-bener deket ke kelopak mata Yessi, gue menahan napas dan mencoba untuk gak hentak-hentakin kaki ke tanah.
Tapi ternyata semua perkiraan gue meleset. Nyatanya, Kenzo masih menyisakan jarak antara bibirnya dengan Yessi dan berakhir dengan adegan meniup-niup kelopak mata Yessi biar matanya terbuka.
Yessi yang digituin kontan membuka mata sambil mengerucutkan bibir, anjaylah, kok uwu sih!
Ngeliat Yessi gitu, Kenzo kontan terkekeh sambil usuk-usuk kepala Yessi gemas. Sementara Yessinya malah kucek-kucek mata sambil nguap.
SERIUS SI YESSI BISA-BISANYA NGANTUK PAS LAGI DANSA KAYAK GITU?
Gue gak paham lagi dah, ini Yessi sama Kenzo kenapa uwu sih. Gue juga pengen tau nggak.
“Ra?”
“Nara?”
Gue baru tersadar Esta memanggil gue waktu dia tiba-tiba narik pelan pipi gue sambil kepalanya super nunduk gara-gara gue cebol banget. “Hah?” Respon gue cepet-cepet, aduh sorry ya Ta, bisa-bisanya gue nganggurin cowok kek lo demi kembarayna kloset Toto itu.
“Kenpa Ta?” respon gue unttuk yang kedua kalinya karena Esta hanya diam mengamati wajah gue.
Dia geleng pelan sambil menghela napas, tubuh gue sama dia masih bergerak teratur ngikutin musik yang diputer. “Lo kok diem? Pusing ya? Kalo nggak kuat ayo duduk aja—“
“Ngg-nggak kok, santai aja, gue diem soalnya liat-liat anak lain gimana. Hehehehe,” balas gue cepat sambil megedarkan pandangan ke arah lain. Hm, lebih tepatnya, gue noleh lagi ke arah di mana Kenzo dan Yessi tengah ribut kecil-kecilan.
Iya, gue bisa memprediksi mereka memperdebatkan hal tidak penting. Yessi kelihatannya ngambek, sementara Kenzo tampak mengulum senyum dan bahagia ngeliat Yessi seperti itu.
“Oh, ngeliatin anak lain,” ucap Esta yang bikin gue lagsung noleh ke dia. Dan di situ gue mendapati Esta ikutan memandang ke arah Kenzo lantas dia noleh lagi ke gue sambil nyengir.
Apa gue ketahuan ya sama Esta? Duh, nggak baik banget sih.
Gimana kalo ternyata Esta tuh temennya Kenzo? Tadi aja tiba-tiba Esta tuh bisa akrab gitu sama Prajapati?
Gimana kalo Esta tiba-tiba ngasih tau ke orang-orang kalo gue—duh, gimana nih, gue tiba-tiba jadi overthinking.
Gue reflek langsung nunduk natap sepatu saking malunya.
Bodo amat, gue bukan manusia.
Bodo amat, Esta tuh sadar apa nggak. Yang penting gue pengen baca mantra Harry Potter biar jadi—
Tapi tiba-tiba, suara tawa gemas Esta kedengeran. Dan di situ, gue patah-patah ngedongak dengan takut dan cemas. Dia apa jadi tokoh antagonis tiba-tiba ya?
“Ta?” panggil gue di tengah tawa Esta yang merdu banget itu.
“Yaampun Ra, santai aja kali. Emang kenapa sih hm?”
Hah?
Apa-apa? Gimana?
“Hng?” balas gue dengan bodohnya, astaga.
Esta menggeleng, lantas meredakan tawanya dengan pelan-pelan sambil bilang, “Nggak, nggak usah dipikirin. Ngomong-ngomong, sebentar....”
Belo juga gue respon, tangan Esta tiba-tiba bergerak buat nempel di jidat gue. Dan itu cukup bikin gue nge-freez dalam waktu singkat.
Esta beberapa kali gerakin telapak tanganya buat pindah posisi sampai akhirnya bersuara, “Masih anget, abis ini apa nggak pengen beli paracetamol aja hm?”
“Ah? Tar aja deh, pas balik.”
Sejenak, gue melirik ke arah Kenzo, dan ternyata dia udah nggak dalam mode berantem kecil sama Yessi lagi. Dia kelihata cuman tersenyum tipis sambil dengerin Yessi ngoeh di depanya.
Balik jam berapa ya?
Pokoknya kalo Kenzo beneran nggak pulang malem ini, otomatis gue bakal ke rumah Gia aja. Jadinya, gue balik pun ngikut jam-nya Gia. “Hm? Pokoknya Gia balik, gue ikutan balik. Gue mau nginep di rumahnya soalnya.”
Esta ngangguk-ngangguk paham, dan di detik itu pula gue memulai renungan panjang gue.
Di detik itu gue mulai menggerakan tubuh tanpa patokan instrumen usik yang keputer.
Di detik itu gue kembali ngeliat Kenzo yang masih terus nari sama pasanganya.
Nggak.
Di detik itu, gue nggak liat Kenzo sebagai cowok yang tengah berdiri beberapa meter di sebrang gue. Tapi gue sebagai cowok yang beberapa hari yang lalu ada di hadapan gue.
Cowok yang beberapa hari yang lalu jadi pasangan gue.
Cowok yang pernah berdiri di depan gue sambil kasih senyum nyengir paling nyebelin di dunia.
Cowok yang pernah narik dagu gue buat bikin mata kita saling tatap-tatapan.
Cowok yang nyematin earphone putih di telinga gue biar gue dansa dengan musik favorit gue sendiri.
Cowok yang di kemudian waktu, membuat gue berbagi musik favorit gue itu.
Cowok yang namanya Kenzo Alandro itu.
Tapi di detik ke sekian setelah gue menatap Kenzo sebagai si ‘cowok beberapa hari yang lalu’ itu kini berubah.
Sekarang, dia nggak lagi jadi pasangan gue.
Sekarang dia nggak lagi di hadapan gue.
Sekarang dia nggak lagi nyengir ke gue.
Sekarang dia nggak lagi bikin gue menari dengan musik favorit gue sendiri.
Mungkin, kalau gue mau bikin quote dadakan, bunyinya bakal begini.
Kita pernah menari bersama namun dengan musik berbeda. Sebelum akhirnya menari dengan musik yang sama namun dengan orang yang berbeda.
Sok puitis njay guenya. Geli eoy!
“Ra?”
“Hm?”
Gue menatap Esta dengan segera, dan di situ, entah bagaimana bisa gue meng-ilustrasikan sosok Esta menjadi si ‘cowok beberapa hari yang lalu’ itu.
“Jangan bengong. Lo pusing ya?” Dan setelah kalimat tanya Esta megudara, gue merasakan tangan dia kembali nyentuh jidat gue sedikit memijit pelan.
Tapi maaf, yang gue liat bukan Esta. Karena di imajinasi gue, yang sedang di hadapan gue bukan Esta, tapi Kenzo.
Yang menari sama gue bukan Esta, tapi Kenzo.
Dan yang lagi megang jidat gue bukan Esta, tapi Kenzo.
Dan seluruh ilustrasi buatan itu tiba-tiba bergerumbul menjadi satu di kepala gue. Tiba-tiba memecahkan lamunan gue. Tiba-tiba hilang dan meninggalkan guratan-guratan tipis yang reflek membuat mata gue kehilangan kendali.
Gue memejamkan mata, lantas ngerasain pusing yang amat sangat dalem ini.
Gue hafal dengan sensasi ini. Ini artinya, gue ada di batas di mana gue butuh istirahat karena tubuh gue udah bener-bener ada di titik terendah kendalinya.
“Ra?” Di tengah pejaman mata gue, gue mendengar Esta tampak khawatir dan berakhir megang kedua bahu gue cemas.
Dan reflek aja, gue merapatkan diri ke Esta dan berakhir berbisik tipis ke Esta, “Ta, ayo duduk. Gue pusing.”
Da respon Esta adalah mendekap erat tubuh gue sambil melangkah pelan nuntun gue buatnuju ke sofa kosong yang letaknya nggak jauh-jauh amat dari tempat kita terakhir berdiri.
Dan respon gue atas tindakan Esta barusan adalah balas memeluk Esta sambil menggigit bibir kuat-kuat buat galihin rasa sakit di kepala gue.
Dan ternyata, tindakan gue barusan membuat gue beberapa menit kemudian berakhir mendapatkan sebuah pesan singkat dari kontak yang sebelum-sebelumnya memilih buat mendial nomor gue daripada kasih pesan kayak gini.
Pulang. Nggak bisa baca? Kalo gak bisa sini gue bacain, gue tunggu di deket ruang tengah.
Dan tiba-tiba ucapan Gia beberapa waktu lalu kembali megudara di pikiran gue.
Coba dansa sama Esta, kalo Kenzo ke-trigger berarti fix cemburu ding. Fighting kaka!
Oh, jadi gini.
***
Hm hm hm. Mari bertemu Kenzo di chapter selanjutnya. Babay semua! Jaga kesehatan ya!