That Bad Boy Is My Husband

That Bad Boy Is My Husband
Bab 71: Great memories.



***


“Because i own you now.”


Gue menelan ludah sesudah kalimat itu dilontarkan Kenzo, karena pada akhirnya, tangan dingin dia menyentuh lembut pinggang gue.


Dan lo harus tau.


One somedays when i look into your eyes.


Yass.


It’s still Fromm’s With You.


Why do i keep seeing


Through the past


And I’m fallin down, with you.


Gue suka.


Suka banget gimana langkah gue dan langkah dia beradu dan berpacu di musik yang sama.


Gue suka banget gimana orang yang ada di depan gue ini adalah Kenzo.


Karena tiba-tiba aja, tatap-tatapan sama dia itu tuh menjadi hal yang menyenangkan untuk dilakukan.


“Gue mau bohong lagi sama  lo. Would you listen it?” Sama. Dia bahkan melakukan hal yang sama.


“Of course, why not?” Gue tersenyum, memiringkan muka dan menunggu apa yang menjadi bohongnya dia hari ini.


Sometimes when i feel you in my arms


“This is a lie, those stars are prettier and more interesting than you.”


I can feel your sorrow


Through your pains


“I know right, it’s a fact,” jawab gue sambil ngikutin perputaran lagunya. Di ujung kalimat, gue terkekeh lantas kembali merapatkan bibir.


And I’ll always be with you.


Kita berhenti bicara. Karena cuman lewat tatapan aja, gue seolah-olah sudah menyelami seluruh perasaan Kenzzo.


Seolah-olah gue sudah ngeliat apa yang selalu dia sembunyiin di balik kedua matanya yang cantik itu.


“Tangan lo dingin,” gue bicara. Dan emang yash, gue cukup kerasa banget sama bekunya tangan dia.


“Kan ini lagi ngangetin,” balas dia sambil menunduk, menatap tautan tangan gue dan dia.


Always


Come


“Eww, that’s sounds disgusting bro.” Gue membuang muka, megekspresikan wajah terganggu dan ikutan bergidik.


Listen to my voice into the night


And hold


“I’m not your bro,” balas dia. Gue noleh sebentar kearah dia, dan berakhir kembali membuang muka.


“Whatever Alandro.”


We’ll find the way


Dan kita kembali lagi untuk berputar dan ngikutin apapun pergerakan yang Kenzo lakuin. Karena kali ini, gue cuman bisa ngandelin Kenzo buat jadi penentu gue.


I can be the one with you always


And i’ll walk with you always all the time.


Dia nyentuh jidat gue. Dan sekali lagi gue bilang, tangan dia super dingin dan itu bisa jadi kompres buat jidat gue yang anget. “It’s better than before, right?”


And let me, be there to guide you the way.


“Hm.” Gue mengangguk, sedikit mengerjap ngerasain tanganya yang nenpel di jidat gue.


Kita berdua berputar dan kemudian dia nanya. “Enak nggak dipegangin gini jidatanya?”


“Hm.”


It’s okay to cry


Somedays we all all down


“Yaudah gini aja ya?”


“Gak ah, galucu joget kayak gini sambil pegang jidat. Kuker banget.”


“Lo tau apa moment paling nggak bisa dilupain sama tiap manusia?”


“What was that?” Gue menatap lurus matanya, dan menunggu detik di mana dia ngasih tau jawaban dari pertanyaanya itu.


I wish i can be someone for you.


So you’re not allone


“Guess what?” Kesel gue kalo dah gini. Mana dia tetep neken-neken tanganya ke jidat gue lagi.


Gue mendengkus, lantas ogah-ogahan jawab. “Kasian otak gue mas.”


Yeah we’’ll be alright.


Just remeber that when you lie


“Apa-apa? Say it again.” Dia jawab gue agak jeritan dikit anjer, kesian otak gue fak.


“Hah?” Niup keong adalah jalan ninjaku.


“That fuckin ‘mas’, can you—“


That you’re not allone


Cuz I will be with you


“Balik lagi ke topik tadi, jangan kebiasaan Out of Topic gitu dong.” Gue kesel, kalo kebanyakan dialog kan malah nggak asik gitu loh. Ini manusia emang boros kata banget.


“Hm.”


“Apa tadi?” Belokin. Ayo Ra, belokin pembicaraanya.


“Apa?”


Tuh, udah dibilang kan, dia tuh jago bikin emosi sodara-sodara. Udah deh, gue capek banget.


“Oh yang tadi.” Dia nepok-nepok jidat gue sambil ngangguk-ngangguk. Pen gue jitak balik.


“Hm.”


“Momment yang nggak bisa dilupain sama tiap manusia tuh, momment yang irregular,” kata dia sambil narik gue lebih deket.


Btw, irregular kan nct's title song gess.


“Kayak?” Dia makin deketin dirinya ke arah gue. Jawaban barusan pun disampaikan dengan bisikan. Ngadi-ngadi emang nih manusia.


It’s okay to cry


Somedays we all fall down


“Ini. Pegang jidat sambil dansa.”


Hahahaha. “Kalo gue lupa gimana?” Ya kan emang nggak special gais. Mohon maaf ya, Kenzo mah gadak apa-apanya.


“Lo bakal lupain dansa kita yang ini?” Muka dia keliatan kaget dan nggak terima gitu. Kecewa?


“Hm, maybe yeah?” jawab gue tanpa beban. Ngangguk-ngangguk aja sih.


Ngedenger jawaban gue yang itu, dia narik napas panjang dan berakhir berkata, “Oh, so let me show to you, how to make this momment still in your memory.”


Dan tiba-tiba aja.


Tiba-tiba aja.


....


Dia ngedeketin dirinya ke gue dan kemudian menyentuhkan bibirnya ke pipi gue.


Perlu diingat, tangan dia masih ngompres jidat gue.


Gue mengerjap.


Dan kemudian dia ngejauh sambil tersenyum kecil dan miringin kepala.


“Hm, diinget ya Nara. Yang sayang ke pipi lo bukan lagi cuman Papa, Mama, Abang, dan Adek lo. Tapi gue juga. Your future ex husband.”


Your future ex husband.


Gue makin diem. Dan kemudian membuang muka dan bungkam.


“Kok diem? Baper hm?”


“Nggak.” Gue masih menatap ke arah lain.


“Terus?” Dan lo tau kebiasaan Kenzo kan, dia tuh selalu aja narik dagu gue biar kepala gue menatap ke arah dia.


“Lagi setting o-otak biar nih momment nggak dilupain.” Jujur, gue sebenernya agak tergagap pas bales omongan dia.


“Hahahaha, mau nggak bibirnya juga? Biar makin nggak—“


“It’s higlighted.” Gue buru-buru menyela biar dia makin nggak aneh-aneh.


“Kalo peluk, mau?” Tuh kan, mulutnya ngepot mulu. Kesel gue tuh.


“Gak!” Bales gue cepet.


“Mama lo bilang, kalo lo sakit, lo harus dibikin seneng. Lo juga harus dikasih pelukan dan harus skin touch.”


“....”


Dan kemudian, kita sampai di penghujung lagu dan langkah kita memelan cuman buat menemukan dia memanggil penggalan nama gue dengan nada yang menenangkan.


“Nara.”


Gue diam. Sama sekali nggak membalas.


Karena gue tau, dia tau kalo tanpa balas pun gue akan selalu dengerin dia.


“Gue suka lagunya.”


“Gue juga.”


.


.


.


.


.


“Uhuk! Uhuk!” Batuk Kenzo.


.


.


.


.


Dan pada akhirnya, gue hanya bisa menggigit bibir dengan tangan gemeter ketika gue rasakan Kenzo mendorong gue mundur dan membungkuk sambil terbantuk.


Tangan kananya di depan mulut, semetara tangan kirinya menumpu pada lutut.


Dia sesak napas dan gue cukup denger gimana pernapasan dia terdengar menakutkan dengan suara ‘ngik-ngik’ yang bikin gue ngilu.


Congrats Kinara, lo bikin Kenzo ngalamin asma dan batuk berdarah.


***


2 hari lagi up. Makasih ❤️❤️❤️