
***
Dulu tuh, gue sering banget mukanya diuyel-uyel sama para petinggi rumah, sama sodara-sodara yang nggak punya akhlak, dan terakhir sama manusia bernama Keano Antarilsa itu.
Tiap jalan-jalan pas lebaran, ke rumah sodara-sodara, pasti ada aja gitu yang jalan ke gue, terus pipi gue ditarik-tarik dengan santainya.
Jadi, berasa banget kalo muka gue ini gampangan. Sebal kan?
Tapi, ada momen di mana, gue suka banget muka gue dielus sama orang lain. Kayak, yaudahlah gapapa, yaudahlah itu nggak rugi. Dan Orang itu adalah Mama.
Karena, biasanya, ketika gue sambat dengan lantang dan ngerengek karena badan agak panas dan idung mampet gegara ingusan, Mama bakal maki-maki dan ngomel-ngomel ke gue.
Bakal nyalahin semua sikap gue.
Bakal bodo amat, kayak seolah “Loh, kan sakit juga gara-gara kamu sendiri, ngapain Mama yang urus?”
Tapi.
Tapi, pada akhirnya, di malam di mana badan gue menggigil, malam di mana gue berkeringat dingin, malam di mana gue merasa bener-bener sakit di seluruh tubuh gue menyiksa gue perlahan-lahan. Ada sebuah tangan.
Lembut.
Wangi.
Dan itu tangan Mama.
Yang ngelus wajah gue pelan, ngelus dahi, hidung, dagu, dan berakhir pada sebuah benda semacam bye-bye fever yang nempel di jidat gue itu. Dan di kemudian detik, Mama bakal meluk gue sambil terus elus-elus muka gue sampai gue bener-bener terjauh dari segala mimpi buruk.
Gue selalu suka dengan cara Mama mengelus muka gue dengan caranya yang lembut.
Dan.
Mungkin?
Mungkin manusia di depan gue adalah orang selanjutnya. Yang dengan tenang ngelus muka gue. Yang....shit.
Gue segera membuang muka, kali ini nggak menunduk, melainkan menatap tata letak sebuah lukisan yang terlihat abstrak di dinding kiri ruangan.
Sampai, kembali lagi, tangan Kenzo membuat gue menolehkan pandangan. Kemudian, dia nanya, dengan pelan, tapi meskipun gue make earphone di kuping gue, gue masih bisa denger dia. “Tadi tatap-tatapan sama Bang Keano, sama gue kok enggak?”
“Nggak denger, pake headset.” Bohong. Gue bisa denger dia ngomong apa, cuman....itu adalah pertanyaan yang coba gue hindari, pertanyaan itu tuh nggak bisa gue jawab.
Sampai pada akhirnya, lagu With You dari Fromm selesai, gue masih nggak menatap cowok di depan gue ini. Gue, ragu. Gue lemah sumpah kalo harus natap dia kayak gitu.
Now, Kenzo looks like different boy. He is not Kenzo who i ever meet.
Dan sebentar, gue memilih mode repeat ada lagu yang gue putar, sehingga ya, lagu With You, dari fromm kembali mengalun di telinga gue.
“Gue pengen ngobrol sama lo,” kata dia tiba-tiba. Ya, setelah sejuta hening yang kita ciptakan akhirnya dia kembali bersuara.
Gue nggak jawab.
“Kinara.” Dia maggil gue, lengkap.
“Iya?” Setelah beberapa detik, gue menjawab.
“Liat gue,” kata dia sambil kembali naroh kedua tangannya di pinggang gue. Dan gue ngeratkan pegangan pada hp gue, tangan gue masih setia di atas bahu atau mungkin di dada dia ya?
“Enggan.”
“Kinara Putri Antarilsa....”
The way he called my name like that, itu bikin gue menggigit bibir bingung. Kenapa sih? Ini cuman sebuah latihan, kenapa harus sampai kontak mata?
Itu nggak penting.
Yang penting adalah, dia dan gue, bergerak dan berdansa. Meskipun dengan musik yang berbeda.
Dia, dengan lagu All Of Me-nya John Legend.
Dan gue, dengan lagu With You-nya Fromm.
Gue tetap membuang muka, dan tanpa sadar, itu bikin gue menerima sebuah cengkraman di pinggang gue. Dih.
“Apa?” Pada akhirnya, gue menoleh. Menemukan kalo mata Kenzo sedang menatap gue dengan instens.
On somedays
when I look into your eyes
Saat itu, lirik pertama berputar, dan gue masih setia menatap mata dia.
“Gue mau bohong sama lo malem ini. Boleh?” Random.
Kenzo selalu random kali ya? Kenapa untuk sebuah berbohong saja dia harus minta izin ke gue dulu?
Why do I keep seeing
through the past
And I’m falling down with you
“Please,” gue mengizinkan, nggak ada gunanya juga berdebat. Apalagi dengan jarak sedeket ini, ngapain juga harus debat. Gue gakuat natap mata dia lama-lama.
“Ini bohong, lo cantik malem ini.”
Sometimes
when I feel you in my arms
Kemudian, dia narik salah satu earphone yang tersemat di kuping gue. Tanpa banyak bicara, dia ikutan dengerin lagu yang lagi gue dengerin. “Katanya nggak suka?” Gue nanya, mencoba mencairkan suasana. Gue rasa, ini nggak secanggung tadi.
Gue udah bisa leluasa menatap mata dia. But, ya tetep aja nggak bisa lama-lama. Sesekali gue harus buang muka.
I can feel your sorrow
through your pains
And I’ll always be with you
“All of Me-nya abis. Gue nggak suka lagu Whole New World,” jawab dia membuat gue sedikit memfokuskan telinga buat dengerin lagu yang keputar di lantai dansa.
Hah, iya. Bukan All of Me lagi. Tapi lagu Whole New World yang versinya Peabo Bryson dan Regina Belle. Bukan versi Zayn Malik dan Zhavia Ward yang sempet booming 2019 kemaren.
Hening diisi oleh kita berdua.
Cuman suara dari Fromm yang kedengeran di antara kita.
Always
Come
Listen to my voice into the night
And hold
We’ll find the way
Gue nggak yakin, kalo ini bakal bikin gue nyaman. Lama-lama, kenapa canggung kembali sih?
Dan mungkin, Kenzo entah paham atau memang peka, dia membuat sebuah obrolan yang bikin gue relax dan merasa nggak canggung. Apa wajah canggung gue sekelihatan itu ya?
can be the one with you always
And I’lI walk with you
“Tadi ngomomgin apa sama Papa lo?”
always all the time
“Mau kuliah di mana.”
“Di mana?” Dia nanya, sambil mengajak gue berputat putar beberapa kali.
And let me be there to
guide you the way
“UGM,” balas gue singkat, sambil merasakan kalo hp di tangan gue bergetar. Dan karena emang layarnya ngadep ke gue, lewat bar notifikasi, ada nama Estayang di sana.
It's okay to cry.
Someday we all fall down.
“Nggak di Jakarta aja?” Dia bikin gue kembali noleh ke dia. Membuat gue mengabaikan pesan dari Esta.
“Nggak.”
So you’re not alone
yeah we’ll be alright
Suer ya, kok kesannya gue cuek banget sih. Ini mungkin efek canggung apa grogi deketan sama dia sih? Ini first time gue sedeket ini sama cowok selain sama Bang Keano dan Papa.
Ya walau, gue punya 2 biji mantan, eh, 3 maksudnya. Gue nggak pernah sedeket ini sama mereka.
Kenzo seolah menerjang batasan-batasan yang dulu nggak berani dilewatin siapapun.
Just remember that when you lie
that you’re not alone
Cuz I will be with you
“Ninggalin gue dong?” Hah? Emang, emang siapa yang mau ninggalin?
“Lo emang mau kuliah di mana?” Gue bertanya, sembari memutar badan dan bergerak mengikuti langkah dia.
“Nggak kuliah.”
Sejenak, gue terpaku.
It’s okay to cry.
Someday we all fall down.
Kemudian melirik bagaimana Kenzo tersenyum tipis setelah jawaban yang bari aja dia lontarkan.
Ah, iya, kuliah. Dan.... kondisi?
Apa masa nggak nyampe sih kuliah dulu? Masa.... harus percaya banget sama prediksi dokter?
Bukan berarti kapan kita mati membuat kita membatasi diri buat nuntut ilmu kan?
“Emmmm. Iya.” Pada akhirnya, gue nggak bisa mengeluarkan apa-apa aja yang baru aja gue rangkai di kepala. Gue membiarkan semua itu menjadi kata 'yaudah' yang kemudian berlalu gitu aja.
“Mau bohong lagi,” kata dia dengan senyum yang jauh lebih ikhlas dari sebelumnya.
“Apa?”
“Jangan ninggalin gue,” gitu kata dia. Bikin gue, hih napa sih nih orang?
“Najisin, kek orang kasmaran aja kata-kata lo!” seru gue dengan bergidik di tengah dekapan dia.
Ah enggak. Sebentar.
Dia bilang, dia mau bohong kan tadi? Kalau ucapan dia barusan merupakan sebuah kebohongan. Maka yang benar adalah kebalikannya.
Jangan ninggalin gue, itu bohong.
Dan mungkin, kalimat benarnya adalah, Gapapa tinggalin gue.
Mungkin juga alasannya adalah, dia punya Yessi, dia nggak butuh gue.
“Kinda of true,” sahut dia. Entah untuk jawaban pertanyaan yang mana. Gue terlanjur sedikit bete?
“Dih, najisin sumpa. Tapi, gue maunya UGM, atau malah mau ke Universitas Brawijaya sana.” Bodo amat, bodo amat, bodo amat, mampus nggak lo gue tinggal sekalian sampe sana.
“Malang?” Iya, jauh tuu dari Jakarta, lo bisa bebas sama Yessinta. Gue mah sampah kali ya?
“He eh.” Gue menjawab sekenanya, nggak mau panjang-panjang amat. Sumpah unmood gue tuh.
“Kok jauh, nggak kasian gue?”
“Anda siapa ya tolong? Saya lupa?”
“Suami lo.”
“Gue?”
“Iya, suaminya Kinara Putri Antarilsa.”
“Dih.” Kemudian gue membuang muka, membiarkan lagu With You terus mengalun mengisi jeda bicara diantata kita.
Sampai kemudian, “Kok diem? Baper ya?”
“INI GUE NGINJEK PANTOFEL LO MEMPAN KAGA SIH?”
Emosi jiwa manusia cakep ini Ya Allah, kenapa gitu loh, nggak bisa baca suasana hati apa gimana sih? Kenzo is the best mood booster yet the best mood wrecker.
“Hahahaha,” dia ketawa. Btw punten, ketawa dia tuh gue masukin dialog tag, soalnya itu lucu, bagus, gemes.
Dan iya, segitu aja mood gue kembali naik dan yah, ini gue ikut senyum. Tapi dikit.
“Ini lagunya siapa?” Dia bertanya, bikin gue makin naik mood aja.
Nggak tau kenapa, gue selalu bangga jika lagu yang gue suka itu menjadi topik pembicaraan dengan lawan bicara gue. Rasanya kayak, pilihan gue tuh tepat, sehingga orang lain pun suka. “Fromm,” jawab gue cepat, antusias mungkin?
“Oh, katanya tadi mau denger Korea?” Dia nanya. “Ini orang Korea.”
“Kok Bahasa Inggris?” Iya, dari awal sampe akhir, full English.
“Memang orang Korea nggak boleh nyanyi Inggris?”
“Iya juga ya?” Kenzo terkekeh, lantas menyugar sedikit rambut dia.
“Tentang apa?” Gue suka. Gue selalu suka jika harus bercerita tentang apa yang gue suka. Dan, maka, gue akan menjelaskan kalo lagu ini tuh beneran bagus banget.
“Kalo di drama, lo tau kan? Ost lagu tuh muncul di waktu-waktu tertentu?” Gue bertanya, buat dia memahami kondisi sebelum gue menjelaskan lebih lanjut. Dan Kenzo mengangguk.
“Nah, lagu ini selalu muncul, pas si Jae In lagi down, dan di situ Lee Ahn selalu muncul buat semangatin dia.” Ya walaw ya, gue yakin dia nggak paham siapa itu Jae In dan siapa itu Lee Ahn.
“Oh, jadi kayak penolong di waktu jatuh gitu ya?” Hmmmm. Gitu, tapi, liriknya nggak gitu.
“Iya, tapi kalo arti liriknya sih lebih cenderung ke.....apa ya? Kayak lagu ini tuh, si penyanyinya lagi ngajak orang yang dia tuju buat bahagia bareng-bareng. Kayak bilang, kalo nggak apa-apa sedih aja, nangis aja, gue di sini kok, gue bakal nemenin lo.” Senggaknya itu pendapat gue, itu pendapat gue tentang lagu ini. Karena, gue melihatnya dari sisi seorang yang jika suatu saat nanti down, gue bakal punya seseorang yang bilang: Gapapa nangis aja, gapapa, semua orang pasti punya sedih. Gapapa, gue di sini, nememin lo terus.
“Oh,” sebegitu aja tanggapan dia. Tapi dari mata dengan pupil hitam itu, gue yakin di dalam hatinya ada lebih banyak kata ketimbang oh doang. Dan Kenzo mungkin menyimpan keter-wow-annya seorang diri.
“Kinara.”
“Hm?”
“Gue suka lagunya.”
“Gue juga.”
Lalu hening. Dan, yah, lagunya ngisi keheningan kita lagi.
Di kemudian waktu, gue mengeluh dan merasakan pegal karena sudah cukup lama beranda. “Btw, ini kapan rehatnya sih? Cape...” Di detik hampir berakhirnya lagu, gue harusnya udah melakukan gerakan penutupan dansa. Tapi Kenzo seolah masih mau terus dansa sama gue.
“Heelsnya dilepas. Gue masih pengen nari sama lo.” Iya, sebegitu aja gue langsung nurut dan iya-iya aja.
“Nar,” panggil dia pelan. Setelah gue, tanpa melepas dekapan di antara kita melepas heels setinggi lima senti di kaki gue ini.
“Hm?” sahut gue. Kemudian lagi, untuk ketiga kalinya bagi gue, dan untuk yang kedua kalinya bagi Kenzo, kita mendengar lagu yang sama.
“Gue suka lagunya.”
“Gue juga.”
Di kemudian waktu, gue nggak pernah tau, jika percakapan tentang lagu itu bikin gue punya emosi baru.
***
Hhhhh :)
Tiga hari update 3 kali. Seneng nggak tuh? Apa bosen?
Alasan aku langsung beruntut publish 3 chapter ini selama 3 hari adalah yahhh, biar nggak hilang feelsnya.
Oh iyah, kalau kalian mau dengar lagunya With You, Fromm. Di Youtube atau mungkin Spotify sama Joox ada.
Kalau Youtube langsung ada terjemahnya. Vidionya yang ini;
Like atau vote karya ini ya kalau kelen suka, kalau ada waktu juga boleh meninggalkan komentar, asal jangan komentar promosi :). Biar aku semangat :3.
Humwa!!!
Jangan lupa dengerin With You-Fromm ya. :") itu fav sangat.