
Jam empat lebih sembilan belas menit, gue menghabiskan sembilan belas menit gue buat nonton vidionya Raditya Dika dan berakhir buat nutup YouTube buat kembali mengirim pesan pada seseorang.
Kinara:
-Udh pulang?
Nggak dibaca.
Nggak ada jawaban.
Nggak ada tanda-tanda kalo kontak yang gue hubungi sedang online.
Gue menghela napas sambil natap jalan. Cahaya keemasan dari matahari sore nyiram jalanan yang mulai padat ini. Jam-jam pulang kantor selalu nawarin kemacetan di ibu jalan seperti ini.
Gue berpangku tangan ngelihat beberapa orang yang lalu lalang masuk dan keluar dari alfa.
Meja besi sebelah diisi sama dua orang. Cewek dan cowok. Mereka beli beberapa jajan dan ngobrol-ngobrol sambil ketawa-ketawa.
Sesekali si cewek agak mekik dan sesekali pun ngambek karena cowoknya godain.
Kayaknya. Gue sedang menatap diri gue sendiri kali ini. Jadi gitu ya kadang reaksi gue waktu Kenzo lagi nyebelin.
Kinara:
-Udah pulang belom si? Masi lama y?
Lima menit kemudian gue liat dua remaja itu meninggalkan meja besi sebelah, mereka kembali naik ke atas motor sebelumnya sempet si cowoknya bilang apa gitu dan ceweknya ngomel-ngomel.
Gue.... pengen kayak gitu juga.
Gue pengen bacot juga. Pengen bacotin Kenzo.
Jam lima kurang dua menit.
Kinara:
-Kalo ud d rumah bilang ya? Biar gue lgsng plg jg!!!!
-i sombong.
-kok gak dibales si Zo?
Centang dua abu-abu selalu muncul di tiap gelembung chat yang gue kirim.
Gue berdecih, ada apa sih?
Punggung gue mulai kesel karena sedari dua jam terakhir, gue cuman duduk sambil nge-scroll hp sana sini. Liat time line ig, muter status Wa, buka-buka portal berita online tentang bias tersayang, buka spotify buat muter daily playlist yang disediain sama spoti. Dan terakhir, sembari dengerin lagu Kangen dari Dewa 19, gue liat sebuah akun memperbarui instastory-nya.
Yessi.
Yess.im
Gue emang follow dia entah sedari kapan. Dan dia emang udah follback gue juga entah dari kapan.
Dia dengan sebuah boomerang instagram yang berlatar tempat di boncengan seorang cowok. Yang kesorot di angle kamera dia adalah punggung tegap cowok yang terbalut sama sebuah jaket abu-abu yang selalu gue liat di pagi dan sore gue tiap berangkat sekolah.
Helm full face yang biasa gue getok gara-gara yang punya dengan cablaknya ngomentarin pengguna jalan di sebelah motornya.
Hhhhh, Yessi sedang berada di posisi gue.
Atau mungkin enggak.
Atau mungkin karena dulunya, Yessi adalah satu-satunya cewek yang duduk di bangku motor Kenzo sebelum akhirnya gue--yang merupakan istri dia--duduk untuk menjadi teman berbagi dan menjadi orang kedua yang duduk di sana.
Magrib.
Gue mendongak. Mata gue perih.
Punggung gue capek, dan kaki gue pegel.
Gue pengen pulang.
Pulang bareng orang yang sama.
Bukan pulang untuk bertemu orang yang sama.
Di jam 18.06 gue mengetik kembali kalimat yang sama pada kontak yang sama.
Usinya nggak jauh berbeda, cuman tentang tanya.
Udah pulang belom?
Dan berakhir pada centang dua abu-abu yang membuat gue terus berharap kalau tanda last seen dari kontak itu bergulir menjadi kata 'online'. Berharap kalau setelah itu, seluruh centang abu-abu itu berganti warna menjadi biru dan kemudian, segala gelembung chat itu dapet balesan dari kontak yang sama.
18.17
Gue terlonjak sampe mau lemparin good mood yang mau gue tegak saking kagetnya.
Terburu-buru gue buka hp dan ketemu sama sebuah kata kerja bernama kecewa.
Bukan Kenzo.
Tapi bunda.
Bunda:
-Nara sm Kenzo kok blm pulang sayang?
-Kemana?
-Kalian lagi keluar ya? Nggak terjadi hal2 buruk kan sayang?
Gue tersenyum getir. Nggak ada hal buruk ya? Iya. Iya kayaknya.
Kinara:
-Nggak papa bunda.
-Nara sama Kenzo nggak papa.
Bunda:
-skrg di mana?
-Jangan balik malem2ya sayang. Kenzo nggak betah kena angin malem.
Kinara:
-Iya Bun, ini juga lagi di tempat indoor.
Kemudian salam pisah penutup chat terjadi. Bunda sedikit ngeluh soalnya Kenzo nggak bales chat beliau.
18.34.
Gue kembali terpaku menatap jalanan dengan alunan lagu Taylor Swift yang Blank Space.
Sebelum akhirnya gue bangkit dan merapikan barang gue dan untuk yang terakhir kalinya ngirim pertanyaan yang sama ke kontak yang sama.
Udah pulang belum?
Udah pulang belum?
Lo di mana?
Sebelum akhirnya.
Gue mendengar deru motor yang kencang.
Sebelum akhirnya, gue bertemu langkah kaki terburu-buru.
Sebelum akhirnya, gue bertemu pandang mata cowok yang menatap gue tanpa arti itu.
Sebelum akhirnya gue bertemu kata itu. “Ayo pulang.”
Sebelum akhirnya, mata gue kembali bertemu dengan punggung yang terbalut sama jaket abu-abu yang tadi cuman bisa gue liat di instastory Yessi.
Sebelum akhirnya gue sadar, kalau gue butuh 37 pertanyaan “Udah pulang belum?” demi sebuah jawaban “Ayo pulang” itu.
Kenzo Ramadian Alandro, terimakasih telah mengajari gue tentang arti menunggu.
Terimakasih telah mengajari gue tentang sebuah tanya yang ternyata pasti akan mendapat jawaban.
Terimakasih. Terimakasih karena gue nggak butuh jawaban belum atau udah untuk sebuah udah pulang atau belum. Karena 'ayo pulang' sounds better than 'udah' nor 'belum'.
***
BTW ANGGAP HODIE KENJO WARNA ABU2 YA GAIS.
Nggak tau kenapa, sebenernya part ini nggak ada di daftar rencana alur ini.
Cuma.
Ya, cuma.
Lagi mellow aja dan rada gimana sama kata nunggu itu. Aku tau part ini bosenin. Sanggaaaaaaat amat bosenin. Karena menurut prediksi aku, kalian lebih suka sama cerita ringan yang isinya 50% dialog, 50%nya lagi narasi.
Tapi di sini. Part ini, 80% isinya cuman tentang Kinara.
Yaudah sih. Toh sudah aku peringatkan.