
Bab 80.
Warning: Ini 2500 kata lebih, soalnya pembalasan gegara kemaren-kemaren nggak update.
Happy reading ayangku!
Oh iya lupa bgt akhir2 ini ga pake gambar mas ganteng.
***
Gue menghembuskan napas legah selepas melihat deretan angka yang berbaris rapih di kalender.
Bulan Januari baru aja berlalu dan gue serta anak-anak lainnya baru aja selesai Try Out.
Sekarang, gue dan anak-anak harus siap-siap buat ngadepin yang namanya Ujian Praktek.
“Nggak sih, mending Baput Bamer,” ucap salah seorang anak berkacamata di depan gue ini. Namanya Andini. Dan kita lagi rapat soal pertunjukan drama buat Ujian Praktek Bahasa Indonesia.
Semuanya bergidik, nggak terima dengan saran dia.
Gue pun cuman diem aja. Soalnya udah sering gue bilang kan, gue tuh anaknya bacot banget cuman pas sama temen satu sircle doang.
Oh iya. Ngomong-ngomong, kelompok gue ini kelompok yang paling ribet.
Penentuan kelompok udah dari Januari lalu dan kita baru rapat sekarang. Mana tinggal seminggu lagi nih.
Di saat temen-temen gue lainnya udah mulai latihan berdialog sambil nyari-nyari tambahan properti, kelompok gue masih bingung mau tampilin drama apa.
Dan sialnya kita belom bikin dialog, belum nentuin pemeran, dan belum menentukan pembagian tugas dalam membawa properti.
Hhhhh.
Kita banyak adu bacot dan tentu aja gue awalnya cuman diem aja ngeliat mereka.
Tapi lama-lama makin gedek dan akhirnya gue buka suara. “Ya lo semua maunya apa sih? Dikasih saran Bawang Putih Bawang Merah gamau, Malin Kundang katanya ribet, pake mau Cinderella segala lagi.”
Semua diem pas gue buka suara. “Ra--”
“Ya terus maunya apa? Udah deh Bawang Putih Bawang Merah aja, ini anak-anak cowok juga setuju banget kan? Dramanya juga simpel dan nggak banyak pemeran.” Gue berkata sambil menatap ke arah anak-anak cowok yang mengangguk-angguk setuju.
Dih, emang cewek tuh ribet banget.
“Ya tapi loh Ra, ini udah biasa banget. Anak SD sama SMP tuh udah biasa banget nampilin nih drama. Terlalu gampang, lo nggak takut nilai kita kecil apa?” Nindi berkomentar dan menyangkal gue. Sontak aja gue menarik napas panjang dan natap dia dengan tajam.
“Helloww, lo tau nggak sih nilai kita nggak dipengaruhi dengan judul drama apa yang kita bawa. Mau itu gampang kek, mau itu udah sering dipake anak SD kek, kalo kita improve drama itu dan modifikasi sedikit ya bisa bagus lah Nin. Stop berpemikiran kecil dan seolah-olah drama itu kelihatan gampang.”
Yaudah, sampe sore kita rapatnya saling sudut-sudutin satu sama lain. Nindi ngotot nggak mau drama Bawang Putih Bawang Merah dan gue kebalikan dari dia.
Tapi tetep aja, gue yang menang. Kelompok kita resmi ngangkat drama ini dan gue dipilih jadi pemeran Ibu tirinya.
“Ya lo cocok sih, nyolot banget, galak, duh pokoknya sesuai kriteria lah.”
Iye udah, hari itu gue dihabiskan dengan persiapa buat ujian praktek lainnya.
Dan begitu cahaya matahari mulai meremang dan berubah menjadi kejingga-jinggan gue menjejalkan langkah kaki gue buat menelusuri jalan aspal.
Berjalaln pelan ke arah alfamart dekat sekolah dengan langkah super pelan. Diiringi alunan musik yang mengalir melalui air pods yang nangkring di kuping gue ini.
Volumenya nggak kenceng-kenceng, sesuai permintaan Kenzo. Dan tiap kali gue harus menyebrang gue akan bener-bener berhenti sambil noleh ke kanan dan ke kiri dengan benar.
Dan setelah perjalanan singkat gue ini, seperti biasa gue akan langsung masuk ke dalam swalayan buat memenuhi hasrat makan gue. Entah itu hanya membeli sebatang coklat, sebungkus Potato, beberapa biji Kinder Joy, atau mungkin beli Pop Mie.
Ahhh, kayaknya beli Pop Mie aja deh, gue laper banget soalnya. Hari gue super berat banget.
Dan selepas menyeduh mie tersebut, gue berjalan ke deretan bangku besi yang tersedia di depan swalayan. Menghabiskan beberapa menit buat menunggu air panas tersebut agar menjadi hangat.
Menghabiskan beberapa menit buat menyantap mie tersebut.
Hingga pada akhirnya, dan seperti biasanya. Gue selalu mendengar deru motor yang familiar beranjak mendekat.
Di detik itu gue akan menghitung mundur waktu sambil menatap kosong ke arah jalanan di depan swalayan dengan menahan sebuah senyuman.
Setelahnya, dia muncul dengan kuda besinya yang super berisik itu.
Setelahnya dia beranjak menurunkan sebelah kakinya buat menyangga motornya yang berat itu.
Kemudian, helm yang menutupi seluruh wajahnya itu dia lepas dengan gerakan super cepat namun secara bersamaan terlihat super slow motion di mata gue.
Dan selepas semua rangkaian kejadian itu, gue hanya peru menghitung langkah dia berjalan ngedeket gue.
Dia berbalik.
Satu langkah.
Dua langkah.
Mata kita bertemu.
Tiga langkah.
Empat langkah.
Dan ini bagian favorite gue.
“Nar....”
Ya.
Nar.
Kebiasaan gue selama beberapa bulan terakhir. Kebiasaan favorite gue. Aktivitas yang selalu gue tunggu di saat gue udah beres sekolah.
Nar.
Karena setelah sebuah “Nar” terucap, gue yakin banget banyak kalimat ajaib yang menyusul setelahnya.
“Nar...”
Kayak hari itu, hari di mana gue mendengar dia menyerukan nama gue di langkah ke-lima dia berjalan mendekat ke gue. Hari itu gue diem, sementara dia berjalan ke gue sambil menyerukan nama gue. “Aduh capek banget gue sekolah. Rasanya tuh kek....au ah bang*sat.”
Gue masih diam, mengunyah permen karet dengan tenang sambil nungguin dia lanjut bicara. “Sumpah kesel banget gue sama tuh guru, ribet banget, masa jawabanya sama dikit aja ngomel-ngomel nuduh gue nyontoh.”
“Ya lo kan emang tukang nyontoh?” Gue menyahut.
“Dih, pokoknya males gue. Nggak mau sekolah, pengen buru-buru nikah aja.” Dia berkata sambil menopang dagunya dan memfokuskan pandanganya ke arah gue.
“Hmmm, biasanya kan cewek-cewek kalo putus asa pengen nikah ya Nar....lo juga ya?”
“Kan udah nikah?”
“Masa?” Dia mengangkat alisnya hari itu, nggak lupa sambil tersenyum mengejek dan itu super nyebelin.
“Hm-mm.”
“Sama siapa?”
“Ya sama suami gue lah!”
“Iya? Namanya siapa?”
Gue bergidik hari itu, dan lihat bagaimana gue selalu suka percakapan kita di depan alfamart ini.
Karena semua yang bagus-bagus, rata-rata kejadiannya di sini.
Kursi besi di depan gue bergeser sedikit, dan Kenzo baru aja meletakan tas-nya di kursi tersebut sambil menatap gue yang sedang menghabiskan kuah mie di depan gue. “Kok mie terus sih hah?”
“Ya.... emang kenapa?”
“Idiih, Jum’at kemarin lo makan mie, terus Rabo juga! Eh! Lo kok mie terus sih hah? Selasa juga lo udah makan dua kali kan!?”
Kannnn.
Bukan nyebelin, gue hanya akan pura-pura kesel dan nahan sebuah senyum buat nggak keluar liat dia ngomel kek gitu.
Karena gue selalu suka gimana dia merhatiin gue. Karena gue suka gimana dia mengingat aktivitas gue. Karena gue selalu suka gimana dia meduliin gue.
Kemudian dia bakal balik ngomell sambil masuk swalayan buat membelikan gue minum.
Air putih tentunya.
“Biasain kalo beli makan apapun, jangan lupa beli minum!”
“Ya kan, ini mienya udah ada kuah buat minum?”
“Lo tuh ya!”
Dan seluruh kejadian itu bakal berujung sama sebuah kalimat yang menjadi andalan gue.
Kalimat favorit kedua gue.
Karena itu juga diawali dengan sebuah “Nar”.
“Nar.”
Gue diam aja sambil rapihin diri dan tas.
“Ayo pulang.”
Ya ayo.
Ayo pulang sama-sama Zo.
Kalimat favorite gue.
***
"Cepat pergi ke pasar dan belikan Ikan serta jangan lupa mampi ke pasar--hhhhh, ke Rumah Kepala Desa untuk--" Pikiran gue otomatis pecah ketika suara gelak tawa yang menggelegar muncul tak tauh dari tepat gue berpijak.
"Silent please!" Gue mendesis sambil melirik tajam ke arah cowok yang tengah duduk di depan meja belajarnya sambil menggenggam erat ponsel pintarnya.
Dan dia nggak nge-gubris gue dan tetap fokus ke arah ponselnya. Hhhh, nyebelin.
"Jangan lupa mampir ke Rumah Kepala Desa untuk mengambil--"
"Wuahahahaha!!!"
Lagi. Dia ketawa sampai-sampai gebuk-gebuk meja di depannya, nggak lupa matanya menyipit dan mulutnya terbuka lebar diiringi tawa khas dari seorang Kenzo Alandro. Plis, sekarang udah jam 8 malam, tinggal sejam lagi gue disuruh tidur sama nih bocah dan sekarang dia menganggu aktivitas belajar gue?
"Zo!" Gue memekik, dan dia tetep nggak nge-gubris gue. Okeyyy, stay calm Kinara. You can do it!
Gue menarik napas dan bergerak buat membaca kembali dialog yang akan gue ucapkan kepada lawan main gue, yaitu si Bawang Putih. Gue baca ampe pegel-pegel sebelum akhirnya menarik napas dalam-dalam sebelum membuang muka ke arah lain dan memperagakan dialog tersebut.
"Cepat pergi ke pasar dan beli ikan, Putih! Jangan lupa mampir ke Rumah Kepala Desa untuk mengambil baju cucian! Kalo kamu pulang ter--"
"Anjjjiiieeng! Apaanih!" Dia memekik, terus ketawa, terus gebuk-gebuk meja.
Terus gue narik napas. Terus gue kesel. Terus gue langsung lari ke arah dia dan tanpa bah-bih-buh langsung getok pala dia ampe dia jerit-jeritkek orang kesurupan. "Adawww."
Dia usapin tuh kepalanya yang abis gue geplak dan natap gue dengan nanar dan mukanya dibuat keliatan innocent. "Narrr....what happened? Do i--"
"Lo sinting apa gimana hah!?" Gue sembur tuh si Kenzo sambil muka gue tuh gue galakin se-galak-galaknya.
Eh bukanya ciut dia malah muter kursinya biar ngadep gue dan iringin kepala. "Am i bothering you?"
"Of course you are! Lo ketawa-ketawa kayak barusan bikin nggak fokus ya syalan!" Gue hentak-hentakin kaki ke lantai dan nggak lupa kertas dialog yang ada di tangan gue udah gue gulung dan berikutnya gue pukulin ke bagian tubuh dia.
Dia ngehindar sambil ketawa-ketawa kecil gitu dong, makin kesel kan guenya. "Lah, kok nyalahin gue? Bawahan orang ganteng emang gitu kali, bikin orang-orang di sekitarnya nggak fokus."
"Bacot sia!"
Terus dia ketawa lagi dan senderin punggungnya ke punggung kursi. Kemudian dia natap gue dari atas sampai bawah kayak nilai penampilan gue. Oh! Liat tuh matanya menyipit terus lengannya dilipet di depan dada.
"Hafalan lo?"
"Nggak, gue menanak nasi."
Dia ketawa terus bangkit. Dia rebut tuh kertas dialog di tangan gue dan dibaca dengan teliti. "Gue bantuin, sini cepet."
Dia duduk bersila di karpet dan mengusap-usap dagunya sembari membaca. Pas gue ngedeket buat duduk, dia otomatis dongak dan teriak, "Eh! Eh! Eh!"
"Hah? Apaan?"
"Hush-hush!"
Lah, naon sih?"
"Apaan woy!? Gue duduk di mana?"
"Duduk sini tapi minum dulu, tuh jatah air putih lo belum abis. Cepattt!"
Ya kayak malem-malem sebelumnya, gue hanya terbiasa dengan adanya Kenzo yang selalu memerintah gue buat minum air putih dari tupperware kemasan 1,5 liter di meja samping kasur itu. Dan itu udah jadi rutinitas.
"Jan kek robot dong, nunggu diperintah baru ngejalanin. Inisiatif ngehabisin sendiri napa?" Dia ngomel. Dan selalu kayak gitu kalo tau gue belum habisin jatah minum air putih gue.
"Hmm." Dan jawaban gue emang gitu-gitu aja sih. Malas berdebat.
Dan kita mulai latihannya dengan Kenzo yang mendikte gue di tiap kata yang gue ucapin.
"Jangan bohong kamu Putih! Kamu pulang terlambat karena bermain dengan anak-anak itu kan? Kamu jangan....eung...jangan???" Di tengah latihan, gue menatap Kenzo sambil mengangkat kedua alis dan meminta keringanan kata.
"Apa lo angkat-agkat alis gitu?"
"Lupaa....apaan plis lanjutannya?"
"Idih males banget, inget-inget sendiri kek." bales dia sewot dan jauhin dialognya dari jangkauan tangan gue. Gue bergidik lantas mengkerutkan dahi dan memanyunkan bibir.
"Emmmm? Apa Zooo? Plis, clue dikit ajaaaa."
Dan dia akhirnya ngomel panjang gegara gue nggak bisa hafalan.
"Makanya jan diinget dialognya, tapi diinget intinya. Kayak gini nih misalnya. Lo nyuruh Putih buat ke pasar, terus ke Rumah Kepala Desa buat ambil cucian dan terakhir ngomel buat balik cepet. Nggak usah dihafalin kata-katanya lah!" Dia mukulin gulungan kertas itu ke jidat gue dan lanjut ngomel ke gue.
Akhirnya setelah debat haha-hihi-huhu, gue nerima masukan dia dan lumayan worth it, gue cuman improve di beberapa bagian aja dan nggak usah ngehafalin sepenuhnya kata-kata yang tertera di sana. Hmmm, ke mana aja gue selama ini?
Dan setelah nyelesein latihan gue yang ternyata cuman 40 menitan, Kenzo narik napas legah dan natap ke arah kertas itu dengan pandangan serius. “Hmmm, banyak banget ya dialog lo.”
“Ya kan main character, gimana sih lo?”
“Iya yah? Gue dialognya ngak sebanyak ini.”
“Besok Ujian praktek apa lo?” Gue memulai pembicaraan, dan jujur ini agak awkward karena kita baru pertama kali ini ngobrol hadap hadapan. Sebelum-sebelumnya kalo malem gini kita ngobrolnya jauh-jauhan. Dia di kursi, gue di kasur.
“Bahasa Indo juga, sama Sejarah.”
“Drama apa kelompok lo?”
“Malin Kundang.”
“Lo jadi Malin?”
“So tau.”
“Ya kan muka lo tuh mencerminkan anak durhaka banget.”
“Yee, kalo gue durhaka, gue nolak nikah sama lo kali.” Lah, iya juga yah. Dia kan waktu itu bilang nikah sama gue gara-gara disuruh Bunda. Hmmm.
“Terus jadi apa lo?” Gue nanya sambil bersidekap. Dan dia membenarkan posisi duduknya sambil tersenyum simpul.
“Gue jadi ibu-ibu sih. Hehehe.” Dia ketawa kecil dan nggak tau kenapa gue tiba-tiba ikutan ketawa juga.
“Nggak jelas, ngapain milih jadi cewek dah lo?”
“Yang penting dialognya dikit terus dapet nilai. Komplit. Daripada elo? Udah dialognya banyak, ribet, jadi jahat, janda lagi.” Dia nyinyir sambil mukanya bener-bener ngeledek gitu, gue sih yang emang udah capek cuman bisa dengus-dengus aja ngeladenin dia.
“Bodo. Yang penting gue ada kenangan banyak sebelum lulus SMA.”
“Tapi janda.”
“Diem.”
“Eh tapi kan lo juga calon janda ya Nar?”
“Bo.Do.A.Mat.”
“Ya simulasi ya kan?” Kok dia enteng banget sih ngomong begituan. Tau nggak sih kalo gue janda berarti dia meninggal kan? Napa sih?
“Lo enteng banget ngomong begituan sih? Emang lucu?” Gue akhirnya buka suara dan sedikit membuang muka ke arah lain, tapi tetep aja kembali noleh ke dia sambil muka gue sinisin.
“Loh, kenapa? Lo nggak terima status lo janda?” Dia bergerak gelisah dan merubah posisi duduknya. Tapi mukanya sama sekali nggak nunjukin kalo dia gelisah. Apa ini? Dia ini sebenernya lagi nggak enakan apa ngeledek gue?
“Ya kan secara nggak sengaja lo ngebercandain kematian lo, sadar nggak? Emang lucu?”
“Gue yang bakal nggak ada, gue yang bercandain, kenapa lo yang sewot?”
“Gue bilang kematian itu bukan sesuatu yang harusnya dibercandain, damn it!” Gue mau bangkit berdiri tapi tiba-tiba tangan gue ditarik agar duduk lagi. Dan posisinya sekarang tubuh gue lebih deketan dengan tubuh Kenzo.
“Lo nggak mau gue mati?” Dia nanya. Dan mukaya serius. Gue bisa liat dia natap gue dengan sungguh-sungguh dan bener-bener nunggu jawaban dari gue.
Gue yang masih kebawa emosi ini langsung aja nyablak dan nggak mikir dulu. “Lah? Ngapain? Mau lo mati kek, mau lo idup kek, gue nggak peduli. Itu urusan lo sama Tuhan. Yang gue gamau itu, lo jangan pernah mati di depan gue. Gue males punya trauma, dan lagi, gausah bercandain kematian. Puas?”
Dan lo semua harus tau, pegangan yang kuat barusan tiba-tiba melemah dan diiringi dengan helaan napas yang merambat keluar dari hidungnya.
Helaan napas yang lelah.
Gue salah ngomong? Nggak kan? Plis gue males over thinking.
Dan kemudian dia ngebiarin gue berdiri dan selanjutnya dia ikutan berdiri kayak nggak pernah ada kejadian apapun di antara kita berdua. Selanjutnya adalah dia yang perlahan berjalan ke arah meja belajar buat ambil hp-nya yang bergetar. Dan gue masih berdiri terpaku di tepat dengan pikiran kosong.
“Hallo?” Dia ngangkat panggilannya dengan cepat sebari deketin layar hpnya ke daun telinga. Nggak lama dia sibuk ngobrol dengan lawan bicaranya. “Oh iye. Ini gue siapin. Hmmm, iye, gausah cot.”
Dan di saat nitu juga gue sedikit demi sedikit mulai ngerasain perasaan ngejanggal di saat Kenzo dengan santai tertawa lepas sementara beberapa saat yang lalu gue sembur dia abis-abisan.
Gue....
Tiba-tiba dia noleh, itu terjadi setelah panggilannya selesai. Dia natap gue yang masih terpaku ini dengan tatapan bertanya-tanya. “Lo ngapain diem di situ? Jadi patung lo?”
Mukanya beda. Barusan dia ketawa dengan lawan bicaranya, tapi pas noleh ke gue, dia sedikit lebih dingin. Hm, ciri khas Kenzo kalo marah. Lebih dingin dari biasanya.
“Zo gue--” Tentu aja, gue bakal minta maap. Tapi dia seenak jidatnya motong ucapan gue.
“Lo ada rok item panjang?”
“Hngg?”
“Rok.Item.Panjang. Nggak budek kan?” TUH KAN BENERAN NGAMBEK SI BAMBANG! Marah-marah lagi kan!
“O-oh, nggak ada. Nggak punya. Buat apa emang?”
“Bukan urusan lo. Dah sana lo abisin air putih lo terus buruan cepet-cepet tidur!” Dan setelah kalimat pedes itu terlontar, gue hanya bisa narik napas waktu tau dia bergerak keluar kamar diiringi sebuah teriakan yang menggema di seluruh ruma besar ini.
“MAAAA, ADA ROK ITEM PANJANG GAAK!?”
Dihhhh, dasar banget nih cowok. Ngambekan parah. Gue heran banget sama sifatnya yang satu itu.
[*]
Beres dulu ya chapter ini. Panjang banget soalnya kemaren-kemaren nggak update. Maafin. Ayo chapter selanjutnya kita hareudangkan!!!!
DISCLAIMER! BUAT PART-PART BESOK NAIK ROLLER COASTER DULU YA, NAIK TURUN NAIK TURUN EMOSINYA.
-Alle.