Sweet Trap

Sweet Trap
Fans Garis Keras



Sepanjang jalan pulang kami ditemani lagu Yogyakarta by Kla Project. Lagu ini memang pas banget menemani perjalanan keliling Jogja.


Pulang ke kotamu


Ada setangkup haru dalam rindu


Masih seperti dulu


Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna


Terhanyut aku akan nostalgi


Saat kita sering luangkan waktu


Nikmati bersama (suasana Jogja)


Di persimpangan langkahku terhenti


Ramai kaki lima


Menjajakan sajian khas berselera


Orang duduk bersila


Musisi jalanan mulai beraksi


Seiring laraku kehilanganmu oh


Merintih sendiri


Di telan deru kotamu


Walau kini kau tlah tiada tak kembali


Namun kotamu hadirkan senyummu abadi (senyummu yang nan abadi)


Ijinkanlah aku untuk slalu pulang lagi (untuk slalu pulang lagi)


Bila hati mulai sepi tanpa terobati (tak terobati)


Musisi jalanan mulai beraksi oh


Merintih sendiri


Di telan deru kotamu


Walau kini kau tlah tiada tak kembali (tak kembali)


Namun kotamu hadirkan senyummu abadi (senyummu yang nan abadi)


Ijinkanlah aku untuk slalu pulang lagi (untuk slalu pulang lagi)


Bila hati mulai sepi tanpa terobati (bila hati mulai sepi tanpa terobati)


Walau kini engkau telah tiada tak kembali


Namun kotamu hadirkan senyummu abadi (senyummu yang nan abadi)


Ijinkanlah aku untuk slalu pulang lagi (untuk selalu pulang lagi)


Bila hati mulai sepi tanpa terobati (bila hati mulai sepi tanpa terobati)


Aku tuk selalu pulang lagi


Untuk selalu pulang lagi


Bila hati mulai sepi tanpa terobati


" Bro, besok ada rencana apa? kayaknya aku ga bisa nemenin kamu." ujar Danish


" Ga papa. Santai aja. Paling aku mau jalan-jalan keliling ke Malioboro. Mau nostalgia jaman SMA.. Hehe.." jawabku


" Masih inget Ani ga? Adik kelas kita di SMA, yang dulu suka kirim kirim salam buat mas Jun.." kelakar Danish mengingatkan kenangan masa sekolah.


" Ooh..iya. Ingat lah.. Mau ga mau pasti ingat kalo diungkit lagi. Kenangan buruk itu.." aku menghela nafas mengingat satu nama itu.


Pagi-pagi kupacu kuda besi beroda dua ku menuju sekolah. Sesampai di pertigaan kuhentikan kendaraanku melihat ada seorang gadis berseragam putih abu-abu sedang terduduk di trotoar dikerumuni para warga.


" Ada apa ya? Kok kayak pernah lihat itu anak ya?" kulangkahkan kakiku menuju kerumunan tadi


" Ada apa pak?" kutanya salah satu warga yang ada disitu


" Oh..ini. Tadi mbaknya keserempet motor. Tapi yang nyerempetnya uda bablas ga tanggung jawab. " suara bapak di sebelahku menjelaskan kronologi kejadiannya


" Eh, mas bule sekolah di SMA 3 juga? " terdengar suara gadis itu bertanya padaku. Kulihat kakinya dan tangannya lecet.


" Iya mba. kenapa?" aku balik bertanya


" Nah, kebetulan. Saya juga sekolah disana mas. Saya bisa minta tolong nebeng sampai sekolah" pinta gadis itu


" Saya Ani, kelas sepuluh B. " sambung gadis itu memperkenalkan diri


" Oh, saya Juna. Baik kalo gitu naik ke motor saya. Bisa jalan kan?" tanyaku kepadanya


" Bisa kok mas. Makasih ya pak, Bu, mba atas pertolongannya tadi. " segera Ani naik ke atas motor Yamaha RX king yang terparkir di pinggir jalan


" Mari pak, Bu.." tak lupa aku berpamitan kepada orang orang yang ada di situ. Ini salah satu adab sopan santun yang diajarkan oleh nenekku. Pokoknya kalau di Jogja itu penuh dengan sopan santun. Makanya tinggal disini tuh rasanya seneng. Saling hormat menghormati.


" Mas Juna kelas berapa?" Ani membuka obrolan


" Kelas sebelas" jawabku singkat


" Makasih banyak ya mas Juna uda mau berhenti nolongin aku tadi. Coba kalo ga ketemu mas Juna. Aku jadi ga bisa berangkat sekolah. Bingung mau naik apa."


" Hmm.." aku malas menanggapi. Aku ingin fokus ke jalan saja biar bisa cepat sampai ke sekolah.


Tak sampai sepuluh menit kami sudah sampai di gerbang sekolah. Kuparkirkan motor kesayangan di tempat parkir yang sudah disediakan pihak sekolah.


" Bisa jalan ga?" tanyaku. Kulihat dia berjalan dengan terpincang-pincang.


" Ya sudah aku anterin sampai ke UKS. " akhirnya aku tidak tega membiarkan dia kesusahan jalan sampai UKS.


" Makasih mas Jun. " kata Ani sesampainya di UKS. Kulihat dia senyam senyum ga jelas.


Dalam hati aku terpikir "wah.. alamat berbuntut panjang nih.. kayaknya ketenangan ku akan terusik. Tapi, semoga aja ini hanya perasaanku saja. Semoga tidak menjadi kenyataan "


Ternyata betul firasatku. Semenjak kejadian itu aku jadi bulan bulanan teman temanku. Setiap hari dia pasti kirim salam, bahkan nungguin di gerbang saat pulang sekolah berniat nebeng pulang.


" Wah..ada secret admirer ini.. Mas Jun kita bertambah fans nya haha.." Danish tertawa terbahak-bahak mengejekku


" Bukan secret lagi ini Nish.. Tapi fans garis keras hahaha..." mereka tambah menjadi tertawanya mendengar statement dari Bayu salah satu temen satu geng.


Kami satu geng berempat Aku, Danish, Bayu dan Doni. Tiap nongkrong di kantin pasti kami berempat semeja. Kalo ada salah satu yang tidak ada, pasti jbu kantin nanyain. Saking hafalnya beliau dengan geng kami. Soalnya sudah langganan tetap soto dan gorengan Bu Yati.


" Udah deh..jangan ngeledekin mulu. Rasanya kok jadi nyesel ya uda tolongin dia. Hidupku uda tidak tenang lagi.. Uda terganggu." aku menghela nafas sambil meletakkan kepalaku ke atas meja.


" Wah..wah..wah..panjang umur romannya. Baru diomongin ehh..nongol tu bocah" suara Bayu membuatku terhenyak.


" Tuh..Jun... fans garis keras lagi mau ke kantin. Dari jauh aja uda cengar cengir aja tuh bocah. hehe.." Danish cengengesan


" Hais..aku males banget deh ketemu dia. Kaya diuber tawon aja. Cabut yuk.. " ajakku pada teman-teman


" Mas Jun... Tunggu dulu.. mau kemana kok cepet cepet?" teriakan gadis itu membuat gatal telingaku


" Mas Jun, sebentar aku ada sesuatu buat mas Jun. " gadis itu mendekatiku sambil berlari. Aku hanya diam saja


" Ini buat mas Jun. Spesial aku bikin pakai hati dan seluruh cintaku.." perkataan Anj bikin aku mau muntah. Kulirik Danish dan yang lain berusaha menahan ketawa.


" Wah..ini bikin sendiri An.. " akhirnya Danish membuka mulutnya


" Iya Mas. Aku tadi bela belain bangun jam 3 buat bikin coklat karakter ini. " Ani antusias bercerita


" Uda Jun..terima dulu. Itung itung menghargai usaha adik Ani ini. Betul kan? " kata Danish yang ditanggapi anggukan mantap oleh Ani.


" Ya udah aku terima ya. Makasih. Nih buat kamu Nish!" aku kasih coklat itu ke Danish agar dia berpikir kalau dia udah aku tolak, biar dia mundur teratur.


Ternyata walaupun sudah aku tolak berkali kali, Ani tetap menggangguku dengan kiriman salam maupun barang. Baru setelah lulus aku terbebas dari gangguannya. Aku balik ke Belanda, dan Danish aku larang memberikan no telepon ataupun emailku. Sudah cukup setengah tahun saja aku menghadapi kegilaan nya.