Sweet Trap

Sweet Trap
Kamu? Kita?



"Assalamualaikum.. pak mana cah Bagus? kata Bu Marni dia lihat si Juna udah dateng." terdengar suara bude Siti dari ruang tamu.


" Wa'alaikumussalam.. iya.. tuh lagi di kamar bersih bersih. Bentar lagi juga keluar." sahut pakde


" Assalamualaikum bude.." sapa Juna saat keluar dari kamarnya selesai mandi. Tampak ia sudah siap mengenakan sarung dan Koko nya.


" Wa'alaikumussalam.. lho udah siap mau ke masjid to? Emangnya uda adzan?" jawab bude sambil melihat penampilan Juna.


" Bentar lagi lakyo Maghrib to Bu e. Jadi Juna sekalian aja pakai baju buat sholat. Iya to Jun?" sahut pakde


" Iya pakde. Bude sehat? Maaf Juna ga bisa Salim. Tadi uda sekalian wudhu." Juna terlihat tidak enak dengan budenya karena belum sempet Salim dan mencium tangan tanda hormat.


" Iya ga papa cah Bagus. Lha itu uda kedengaran adzan dari masjid. Sana bareng sama pakde mu ke masjidnya. " terdengar sahut sahutan suara adzan dari masjid di sekitarnya.


Akhirnya Juna dan pakde Surahman pun pergi ke masjid menunaikan sholat Maghrib. Juna sudah terbiasa dengan kebiasaan disini. Dari dulu neneknya selalu mengajarkan kepada Juna bahwa sholat itu adalah tiangnya agama.


"Assholaatu 'imaduddin " Sholat itu adalah tiang agama. Jadi kalau tidak sholat bagaikan bangunan tanpa tiang, ia akan ambruk.


Juna pulang ke rumah setelah sholat isya selesai dilaksanakan. Kebetulan tadi ada kajian ba'da Maghrib sehingga sekalian nyambung sholat isya.


" Cah Bagus, ayo makan duku. Bude barusan beli sate ayam kesukaan mu itu, yang warungnya sebelum pertigaan. Kebetulan bude ga masak hari ini. " kata bude sepulangnya Juna dari masjid


" Wah, bude masih ingat aja. Sebenernya Juna janjian sama temen mau makan di luar. Tapi sayang kalau satenya dianggurin." Juna antusias melihat sate langganan dulu saat SMP.


" Emang janjian jam berapa? Kok makannya buru-buru gitu." bude bertanya sambil melihat Juna menyantap makanannya.


" Jam 8 bude. Habis makan saya langsung pamit. Nanti saya bawa kunci rumah kok bude. Jadi ga usah ditunggu. Bude sama pakde istirahat aja. " kata Juna tak ingin merepotkan saudaranya yang lebih tua.


" oo.. ya sudah kalau begitu. Ati ati aja ya le. Kalau ada apa-apa kabari pakde." kata pakde mengingatkan


" Assalamualaikum.. " terdengar suara dari luar. Bima rupanya baru pulang dari kegiatan kampusnya


" Wa'alaikumussalam.. nah itu si Bima uda pulang. Nanti biar dianter Bima aja. Pake motor biar cepet." kata bude


" Wah..Juna apa kabar? " Bima langsung menghampiri Juna untuk berjabat tangan ala anak muda


" Baik.. wah aku pangling. You look different, tampak lebih dewasa, ga childish lagi." Juna membalas sapaannya


" Bim, nanti anterin Juna ketemuan sama temennya. Biar cepet naik motor aja. Daripada harus nunggu taksi dulu"


" Ok. Ayo, mau berangkat sekarang?" ajak Bima


" Emangnya kamu ga capek Bim?"


" Ga begitu capek. Cuma nanti aku langsung pulang ga papa kan? Soalnya tadi ada sedikit tugas yang belum kelar"


" Ok. Ntar pulangnya gampang. Bisa barengan sama temen aku aja."


...****...


" Mbak, aku pulang duluan ya. Mau ada janji sama temen" Nadia berpamitan dengan salah satu rekan kerjanya.


" Ciee..yang janjian..temen apa temen?" ujar nya menggoda Nadia


" Temen mbak.. Yang kemarin kesini itu loh. Si Nara yang barengan sama mas Fahmi datengnya." jelas Nadia


" Oh..yang itu to.. ya uda. Titi DJ aja ya.. ( hati hati di jalan)"


Nadia segera menjalankan motor Mio merahnya menuju ke rumah. Berharap perjalanan lancar sehingga bisa cepat sampai ke rumah agar bisa rebahan sebentar mengurangi penat.


" Assalamualaikum.. bunda.." sambil membuka pintu Nadia mengucap salam sebagai salah satu adab masuk rumah atau bertamu


" Wa'alaikumussalam.. sudah pulang kak? " sahut bunda dari dalam


" Iya Bun.. Alhamdulillah ga ada pesanan jadi bisa pulang cepat. Oia, Bun. Nanti kakak ada janji sama Nara jam 8 malam mau ketemuan di hotel X."


" Lho kok di hotel kak? Emangnya mau ngapain?" bunda mengerutkan dahinya


" Bukan di kamar hotelnya Bun, tapi di restoran hotel. Kayaknya Nara ikut blind date Bun, kencan buta. Tapi ga tau juga sih. Cuma tadi Nara bilang ini demi masa depan dia gitu" Nadia menjelaskan


" Oh, ya sudah sana siap siap dulu. Pakai baju yang rapi. Kapan kak siap untuk berhijab? Bunda pengen lihat anak gadis bunda menutup auratnya dengan sempurna." bunda berharap


" In syaa Allah Bun semoga Nadia segera mantap berhijab." Nadia mencium bundanya lalu berjalan menuju kamarnya untuk mandi


Bunda menatap Nadia sendu sambil menghela nafas perlahan


" Ya Allah, berikanlah hidayah kepada putri hamba. Mantapkan niatnya untuk segera berhijab, menurut syari'at Mu. Dan bimbinglah dia agar selalu menjadi hamba Mu yang taat kepada perintah Mu." bunda berdoa dalam hatinya


Setelah sholat isya, Nadia bersiap untuk pergi menuju tempat ia janjian dengan Nara. Memakai celana jeans warna biru dan sweater rajut pink menjadi pilihan outfit Nadia malam ini yang terasa dingin kalau tidak memakai baju hangat. Tak lupa sandal kesayangan sudah menempel di kaki putihnya.


Mio merah segera melaju setelah Nadia berpamitan kepada bundanya. Kebetulan ayahnya ada lembur sehingga belum pulang ketika Nadia berangkat.


...****...


Dalam sebuah kamar hotel, nampak sepasang pria dan wanita dalam satu selimut di ranjang yang sama. Mereka tampak berpelukan satu sama lain.


" Uuugh..." sang gadis mulai terbangun. Dengan mata yang masih terpejam tangannya mulai meraba-raba. Matanya memicing lalu..


" Aaaghh... Astaghfirullahal'adziim.." matanya terbuka sempurna kaget dengan apa yang ada di hadapannya. Seorang lelaki tampan bertelanjang dada sedang tertidur di ranjang yang sama dengannya.


" Haah.." lelaki itu kaget dengan teriakan seorang gadis yang menyeruak Indra pendengarannya.


" Kamu..kita..kenapa kita bisa disini? Apa yang kamu lakukan terhadap saya?"