Sweet Trap

Sweet Trap
Kenalan, Yuk



Pagi ini matahari masih bersembunyi di balik awan kelabu. Masih enggan menyapa makhluk di bumi.


Bismillah.. semoga hariku tak semendung pagi ini, tapi sejuknya seperti pagi ini.


Kulangkahkan kakiku menuju dapur rumahku. Aku menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang asyik bergulat dengan kompor dan kawan-kawan nya.


Iya.. dia adalah bundaku. Sari Puspitasari. Ketahuan banget kan sundanya. Ibuku orang Sunda asli. Tepatnya orang Kuningan. Beliau menikah dengan seorang pria bernama Hendra Priyatno yang konon katanya dulu orang paling ganteng di kampungnya di Jogja. Hehehe..


"Selamat pagi bunda sayang..." aku menyapa bunda sambil memeluknya dari belakang


"Eh..anak gadis bunda uda meni cantik gini. Uda mau berangkat?"


" Iya Bun." kataku sambil nyomot tempe goreng yang masih anget


" Ih..atuh jangan main comot.. Tah..bawa tempe sama oseng kangkungnya ka meja. Jangan makannya sambil berdiri kitu atuh." bunda protes sambil mukul tanganku yang seenaknya nyomot tempe yang emang sedari tadi menggoda.


" Hehe.. ampun bunda.. maaf ya.. Ayah berangkat ke pabrik jam berapa? " kataku sambil membawa 2 buah piring berisikan tempe dan oseng kangkung yang tercium wangi terasi udangnya hingga cacing di perut mulai berdemo


" Ayah berangkatnya agak siangan kak. Katanya sih mau ada kunjungan dari yang punyanya. Jadi Ayah harus stand by. Datengnya siangan tapi pulangnya juga sorean. Heh..ini mah permainan si Catur tuh, biar Ayah gak dapet lembur." gerutu bunda


"Iih bunda.. Jangan su'udzon lah.. Barangkali Pak Catur memang kasian sama ayah. Khawatir kalo Ayah kecapean. Kan ayah uda ga muda lagi" tiba-tiba Ayah nongol dari balik dinding dapur


" Bunda teh ga su'udzon Ayah... Cuma kebawa kesel kalo sama si Catur. Dia kan suka seenaknya sama Ayah. Jadi kan.. "


" Udah Bun.. Pagi pagi kok uda ngedumel wae. Mending itu bibirnya buat kasih Ayah senyuman manis pemberi semangat, biar Ayah semangat kerjanya." Ayah memotong omongan bunda sambil senyum mengangkat alis menggoda bunda.


Itulah yang aku suka dari mereka berdua. Sama sama saling perhatian. Dan Ayah paling tau kalo bunda paling suka digoda sama Ayah. Kadang aku berfikir, apakah kelak jodohku bisa seperti Ayah?


" Nah..mulai deh gombalannya. Bikin iri kakak kan jadinya.." aku pura pura ngambek


" Kakak mau berangkat dulu ya, Bun, Yah.. Doain biar lancar kerjaan kakak." aku pamit sambil mencium tangan ayah dan bunda.


" Oia, kakak bawa motor sendiri apa dianter Rendra?"


" Aku anter kak! Ntar aku mau ambil ijazah sama ke kampus." adikku nongol sambil buru buru ambil kunci motor


Narendra Satya, adikku satu-satunya. Kami dua bersaudara. Kami hanya selisih 2 tahun. Setelah melahirkan Rendra bunda divonis tidak boleh hamil lagi karena terlalu beresiko. Ayahpun mengamini karena beliau takut kehilangan bunda.


Rendra sekarang baru lulus SMA. Dia pengen kerja sambil kuliah. Makanya dia ambil kelas karyawan.


Kalau aku? Aku hanya lulusan SMK Tata Boga. Dari dulu aku paling seneng masak, apalagi baking. Makanya kata bunda "ga papa ga usah kuliah, kalo emang kakak ga mau. Toh Kakak uda pinter masak, jadinya teh nanti bisa nyenengin perut suami"


Ayah pun ga memaksa. Kata beliau, sesuatu yang dijalani dengan terpaksa maka jadinya ga akan bagus. Makanya jalani segala sesuatu dengan hati dan keikhlasan. In syaa Allah nanti hasilnya luar biasa.


" Kak, aku baiknya milih jurusan apa ya? Desain grafis atau TI?" Rendra bertanya sambil mengendarai motor menuju tempat kerjaku


" Kan yang kuliah kamu Ren. Kenapa jadi nanya kakak? Pilih yang memang jadi passion kamu, yang memang kamu sukai. Biar kuliahnya seneng, ceper kelar, lulus deh.."


" Aku tuh suka dua duanya kak."


" Ya sudah, daftar dua duanya aja. Nanti yang diterima berarti lebih tepat buat kamu. Jadi kayak milih jodoh aja Ren.." jawabku sambil ketawa


" Lha emang iya kak.. Jodoh yang menentukan masa depan. Kayak kakak, uda kliatan jodohnya tinggal lanjut ke tahap selanjutnya."


" Kakak masih sama bang Fahmi kan?" lanjutnya


" Engga. Kan sekarang lagi sama kamu." candaku


" Ah kakak becanda mulu kalo ditanyain. Aku sih ngerasanya uda sreg sama bang Fahmi. kayaknya dia memang cocok sama Kakak. Dewasa, ga neko neko, uda mapan, trus agamanya juga lumayan baik. Tinggal ditanyain kapan mau ke rumah bawa lamaran.. " kata Rendra sambil cengar cengir di balik helmnya.


Tak terasa motor kami sudah sampai di Benz Coffee and Bakery, tempat aku bekerja. Disini aku bisa mengkreasikan ide, sekaligus menjalankan hobi dan plusnya dapet uang gaji. Owner-nya baik banget. Sering kasih bonus ke aku biar tambah betah kerjanya kata beliau.


Bu Ine ini mendirikan Benz Coffee and Bakery baru 3tahun. Dan katanya omsetnya naik saat aku jadi chef disini. Alhamdulillah, karena itu aku dikatain kesayangan sama temen temen kerjaku. Meski suka ngasih julukan, tapi mereka bukannya iri, tapi itu menunjukkan perhatian mereka aja.


Benz. Kata Bu Ine, Benz itu diambil dari nama anak semata wayangnya. Aku sendiri belum pernah ketemu. Katanya sih lagi study di Australia, makanya jarang ke Cafe.


" Assalamualaikum... Semangat pagi..!!" Teriakku sambil memasuki cafe.


" Cie..Neng Nadia uda dateng.. bikin semangat Abang jadi naik nih.. kayaknya mendung di luar kalah sama pancaran semangat Neng Nadia." celetuk bang Hasan


" Jiaah..mulai nih..mulai gombalannya. Ngegombal lagi gue bikin Lo jadi lap meja baru nyaho!" sahut Mpok Rina


Ini yang bikin aku betah kerja disini. Suasana kerja yang friendly, ceria, dan ga ada yang sikut sikutan cari muka ke atasan. Soalnya uda punya muka sendiri sendiri. Hehe..


" Nad, jangan lupa. Hari ini ada pesenan spesial dari Bu Ine." kata pak Handoko kepala chef disini


" Ok, siap komandan!" aku cengar cengir sambil kasih hormat ke pak Han (ssst...itu panggilan kesayangan biar sama kek nama Korea..xixi..)


" Eh iya Pak Han. Diambil sore kan? Biar aku bikin kue yang buat etalase."


" Eiits..hari ini kamu fokus sama kue tart Bu Bos. Kue buat etalase biar dibikin sama yang lain. Silakan berkreasi dan jangan bikin Bu Ine kecewa ya. I trust You." aku mengangguk sambil tersenyum menanggapi pak Han


Tak terasa sudah setengah hari aku berkutat dengan adonan dan krim. Tinggal finishing saja. Untuk pesenan yang satu ini aku pakai hiasan yang aku bikin sendiri dan eatable. Aku ga pakai hiasan dari plastik.


" Selamat siang.. ada yang bisa dibantu?" suara Nisa terdengar melayani pelanggan


" Oh.. saya mau ambil pesenan mama. Uda siap belum?" kata seorang pria


" Oh, sebentar saya tanyain. Dengan mas siapa?"


" Saya Ben. Pak Handoko tau kok"


" Ok. Sebentar saya cek ke belakang dulu."


" Biar saya aja yang ke kitchen, makasih" kata Ben sambil mengedipkan sebelah matanya


" Siang semuanya..." sapanya pada semua orang di kitchen


" Eh, mas Ben. Mau ambil kue tart Bu Ine?" sapa pak Han


" Iya pak. Sudah ready?"


" Sebentar lagi. Itu masih dikerjakan sama Nadia"


" Mbak Nadia ya? Ini kue tart mama?" aku mengangguk menanggapi pertanyaan Ben


" Wow..beautiful.. Oia, kenalkan saya Ben, anak Bu Ine. Nanti kamu ikut saya ke rumah ya. Khawatir nanti kuenya ada masalah dengan hiasannya"


" Baik Pak Ben"


" Jangan pak dong.. Emang saya uda kelihatan tua? Mas aja ya. Mas Ben, bukan Yo wes Ben" pria ini mencoba menggodaku


" Baik Mas Ben"


" Nah..gitu dong.."


Segera aku menyelesaikan pesenan spesial ini.