
Akhirnya kami bertiga masuk ke mobil Jazz yang terparkir di depan cafe lantas menuju ke sebuah tempat makan lesehan yang berada di kawasan Tamansiswa.
Di dalam mobil tampak Nara mendominasi percakapan. Dia memang anaknya cerewet, banyak banget stok ceritanya. Kadang ceritanya bikin kami tertawa. Kadang juga bikin 'ngelus' dada.
" Nah, kita makan disitu aja mas. Temen aku rekomendasiin tempat ini. Makanannya enak, tempatnya cozy tapi harganya terjangkau dompet..hehe.." Nara menunjukkan sebuah resto
" Oke. Bentar kita nyari parkiran dulu" Fahmi menanggapi sambil mengarahkan mobilnya sesuai petunjuk kan parkir yang ada di sana
" Makasih mas. " itulah yang bikin aku respect sama dia. Dia ga sungkan bilang makasih sama semua orang. Orangnya rendah hati dan menghargai orang lain.
"Yuk kita cari tempat dulu. Takutnya penuh, kita ga kebagian. " Nara menarik tanganku memasuki Warung Lesehan.
" Mbak, ada yang kosong ga? kalo bisa yang pinggir aja,. biar bisa lihat pemandangan di luar." Nara bertanya pada salah seorang pelayan di sana
" Oh, di lantai 2 ada mbak. Silakan ke atas aja. Nanti saya kesana membawa menu." Mbak Rani yang ku ketahui dari name tag yang menempel di seragamnya, menjawab dengan senyuman ramah.
" Ok. Makasih mbak" aku kali ini yang menanggapi karena Nara buru buru naik ke lantai 2
" Sama-sama mba." Rani menjawab dengan anggukan sambil tak lupa menyematkan senyum di bibir nya
Akhirnya aku naik ke lantai atas lalu mas Fahmi menyusul di belakang ku. Nampak Nara melambaikan tangannya untuk memberi tahu keberadaan nya.
" Oh itu Nara disana Nad. " kata mas Fahmi
" Eh iya.. ya udah kita kesana aja."
" Kamu mau pesan apa Nad?" tanya mas Fahmi
" Ah.. Nadia mah paling suka ayam bakar madu. Iya kan Nad?" Nara mendahului
" Iya. Emang disini ada menu itu Ra? jawabku
" Ada. Aku tadi nemu daftar menu di meja sana. Aku ambil aja. Biar ntar mbaknya kalo kesini tinggal nulis. Ga usah nunggu kita mikir dulu. Mas Fahmi mau pesan apa? Bebas.. hari ini juragan Nara yang traktir..hehe.." Nara senyum memamerkan giginya yang putih
" Samain aja sama Nadia. Kebetulan itu juga salah satu menu favorit saya. " jawab Mas Fahmi kepada Nara
" Selamat sore mba. Sudah ada daftar menunya ya. Sudah ada pesanan? Biar saya tulis sekarang agar mbak dan mas tidak terlalu lama menunggu. Soalnya bentar lagi biasanya tambah rame " jelas Rani, pelayan di warung lesehan ini
" Oh iya udah mba. Kita mau pesan nasi Ayam bakar madu dua sama nasi bakar ayam goreng 1. Minumnya jus mangga 1, lemon tea 1 sama mas Fahmi apa? "
" Saya leci tea saja" jawab mas Fahmi
" Baik, sudah saya catat. Mohon ditunggu sebentar ya." Rani segera meninggalkan kami menuju lantai bawah tempat kitchen berada
Aku melihat sekitar ternyata sudah agak banyak pasangan yang sedang malam mingguan. Di pojok terlihat ada dua orang laki-laki yang sedang berbincang. Mungkin mereka juga sedang menunggu pesanan. Tiba-tiba mataku bertemu pandang dengan salah satu pria. Aku segera menundukkan pandanganku.
" Nad, memang tadi lagi dimana pas saya telepon? mas Fahmi menyadarkan ku
" Eh..iya. Tadi saya lagi di rumah Bu Ine. Beliau pesan kue tart buat anniversary pernikahan beliau. Katanya maunya saya yang bikin. Bu Ine suka bikin saya keki. Soalnya suka dicengin sama temen temen.... suka.."
" Dikatain ' Anak Kesayangan'.." mas Fahmi memotong cerita ku
" Rahasia..hehe.."
" Duh...kacang...kacang... emang enak dikacangin.." Nara protes sambil bercanda
" Eeh..maaf Ra.. aku ga bermaksud nyuekin kamu." aku jadi ga enak sama Nara
" Ga papa kok Nad.. woless.. aku cuma bercanda ja.. intermezzo.. " kata Nara sambil memamerkan giginya
" Oia, Nara. Ini dapet bonus dalam rangka apa?" mas Fahmi penasaran
" Gini lho mas Fahmi yang ganteng.. Bulan ini saya bisa melebihi target dan jadi the best employee of the month.. Jadi ya ga salah kalo si bos kasih Nara cantik imut dan baik hati ini bonus yang uuuhhh..rekor..rekor.." Nara bercerita heboh
" Maksudnya rekor apaan Ra?" aku ikut penasaran
" Rekor itu maksudnya aku belum pernah dapet bonus segitu gedenya Nad... gila..gilaa.. makanya pas aku cek ATM aku langsung joged joged gaje sampai kang parkir terpesona"
" Bukan terpesona Ra..tapi takut kalo yang di depannya ternyata orang gila.." aku menanggapinya tertawa sambil geleng geleng kepala. Kulihat mas Fahmi juga menggelengkan kepalanya sambil senyum
" Maaf ya Mas. Nara emang heboh anaknya. Tapi ini nih..yang bikin saya betah temenan sama dia. "
" Ya iyalah..secara kamu itu temenan sama cewek cantik yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung.. so pasti ga rugi temenan sama eik.."
" Nah itu dia pesenan kita datang.. Alhamdulillah.. " mas Fahmi menyela obrolan
" Alhamdulillah.. pas banget saya uda kelaparan dari tadi. Makasih ya Ra.."
" Let's go kita serbu ayamnya.. "
Aku menikmati ayam bakar madu yang ada di depanku. Aku memang paling suka ayam bakar madu. Apalagi yang dagingnya sampai lepas dari tulangnya.. Obrolan kami berhenti sebentar untuk menikmati kelezatan masakan warung lesehan ini. Aku akui, masakan disini memang recommended.
Tak sengaja mataku bersirobok dengan pria di pojok tadi. Dia menganggukkan kepala sambil tersenyum. Sepertinya dia bule, karena walaupun hitam rambutnya tapi kulit putih dan juga rahang yang tegas serta hidung mancungnya menandakan bahwa dia bukan orang Jogja. Aku segera memutuskan pandangan.
" Gimana chef Nadia penilaian nya tentang masakan disini? Ga mengecewakan kan?" Nara bertanya padaku
" Iya, Ra. Masakan disini enak. Tau sendiri kan aku suka ayam bakar tuh yang nglothok alias dagingnya bisa lepas dari tulangnya. Pokoknya Recommended deh.. " aku menjelaskan sambil meletakkan jari telunjuk dan jempol di bibirku
" Kalo mas Fahmi gimana pendapatnya? Apa mau dimasukin jadi resto favorit?" giliran mas Fahmi yang ditanyai oleh Nara
" Kalo saya sih oke ya.. Apalagi kalo chef Nadia sudah memberikan penilaian. Berarti sudah tidak diragukan lagi. Bolehlah masuk list resto favorit. Kapan kapan kita kesini lagi Nad.."
" Lho kok cuma Nad sih.. mas Fahmi ga fair ini.. " kata Nara sambil cemberut
" Eleh..eleh.. BESTie ku ini lagi ngambek nih ceritanya.." godaku sambil memeluk Nara
" Udah yuk. Kita pulang sekarang. Aku pengen mandi. Uda ga enak rasanya nih badan"
Akhirnya kami bertiga pulang. Mas Fahmi mengantarkan Nara dulu karena memang rumah Nara yang lebih dekat. Kemudian dia mengantarku sampai depan rumah.
" Saya ga bisa mampir ya Nad. Sebelum saya pulang saya mau tanya. Kamu mau ga Nad, menikah dengan saya? terus terang saya sudah jatuh cinta sama kamu." kata kata mas Fahmi membuat jantung saya deg degan. Aku menundukkan pandangan.