
" Lha kalo disini ada rumah neneknya, kenapa mister nginap di hotel?"
" Saya nyampe Jogja uda malam. Ga enak mau ngerepotin orang malam malam"
" Oh..gitu to.. " pak Surono manggut manggut
" Bapak gak ikut sarapan?"
" Oh.. Alhamdulillah saya sudah sarapan tadi sebelum narik. Saya tinggal ke belakang dulu mister. "
" Oh..iya.. pak. Silahkan"
Juna segera menghabiskan sarapannya. Rupanya dia benar-benar rindu dengan Jogja. Buktinya, gudeg komplit di hadapannya habis tak bersisa. Terlihat rasa puas dari wajahnya.
Juna beranjak dari tempat ia duduk.
" Bu, berapa ya? " katanya sambil mengeluarkan dompet yang ada di kantong belakang celananya.
" Nasi gudeg komplit sama teh anget ya?" Juna mengangguk
" Jadi 20.000 mister. " Segera Juna membuka dompetnya.
" Astaga.. maaf Bu. Saya lupa belum ke money changer. Atau ada ATM di dekat sini?" Juna merasa tidak enak
" Oo.. ndak papa mister. Nanti bayar sama suami saya saja. Digabung sama ongkos taksi"
" Aduh maafkan saya Bu. Saya bener bener lupa. "
" Kenapa mister?" Pak Surono tiba-tiba muncul
" Ini pak. Saya lupa belum ke money changer. Atau kalo ada ATM saya bisa ambil uang. Saya masih punya ATM bank ABC. Jadi bisa ambil uang rupiah."
" Oh gitu.. Nanti saya antar ke ATM . Money changer jam segini kayaknya belum buka. Mari mister kita lanjut" ajak pak Surono
" Mari pak. Saya pamit Bu. semoga dagangannya laris."
" Bu, bapak narik dulu ya. Doakan biar banyak penumpang.. "
" Iya pak. Hati hati di jalan. " kata Bu Lastri sambil mencium tangan suaminya.
Akhirnya taksi biru itupun melaju meninggalkan warung gudeg Bu Lastri. Setelah mampir ke ATM, taksi pun langsung menuju ke tempat tujuan yaitu pabrik Tekstil dimana papa Juna menjadi salah satu pemegang saham terbesar.
" Nah mister. Kita sudah sampai. "
" Terima kasih banyak pak Surono. Ini ongkos taksi sekaligus gudeg saya tadi. " Juna menyerahkan 3 lembar uang kertas berwarna merah.
" Lho..ini kebanyakan mister. "
" Ga papa pak. Anggap ini tip dari saya atas pelayanan bapak. Kalo bapak keberatan, anggap saja ini buat jajan anak bapak. Oiya .. jangan lupa save no hp saya pak. Nanti di misscall ya. Makasih pak."
" Terima kasih banyak mister. Semoga urusannya lancar. "
Taksi itupun meninggalkan pelataran pabrik tekstil. Juna segera menuju ke pos satpam untuk bertanya.
" Selamat pagi pak. " sapa Juna
" Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?"
" Saya Arjuna, sudah ada janji bertemu dengan pak Catur. "
" Baik. Tolong ditunggu sebentar." tampak security mengkonfirmasi kedatangan Juna via telepon
" Pak Arjuna silakan masuk. Sudah ditunggu di meeting room. Mari saya antar ke dalam. " Juna pun masuk diantar oleh salah seorang security.
Nampak beberapa karyawan muda kasak kusuk melihat penampilan Juna yang mencolok. Bagaimana ga mencolok? Secara tinggi badan di atas rata-rata orang Jogja, warna kulit apalagi. Ganteng pula. Bikin karyawan wanita terganggu fokusnya.
" Silahkan masuk Pak." security tersebut membuka pintu ruangan
" Terima kasih" Juna menundukkan kepala sembari tersenyum. Itu unggah ungguh atau sopan santun yang diajarkan neneknya dulu. Kata beliau kita harus menghormati dan menghargai semua orang tanpa kecuali. Jangan menganggap remeh profesi seseorang. Walaupun posisi kita sebagai atasan tapi tidak boleh melupakan kesopanan. Karyawan, kalo kita bisa menghargai mereka pasti akan lebih loyal. dan itu menjadi salah satu kunci meraih keberkahan usaha.
" Selamat pagi " Juna menjabat tangan pria itu
" Perkenalkan saya Catur. Supervisor disini"
" Oh..ya.. Saya Juna. Saya mewakili papa karena beliau berhalangan hadir. Saya mau cek laporan perkembangan pabrik. Boleh pak?"
" Ih tentu..tentu boleh pak Juna. Sebentar... ini pak "
Arjuna membolak balik berkas, membaca serta mempelajarinya dengan teliti. Sebenarnya pabrik ini didirikan oleh Aldert dan ketiga orang lainnya. Hanya saja karena kesibukan masing-masing, laporan hanya via email. Meeting juga via online. Kebetulan Arjuna berkunjung ke Jogja maka papanya menyuruhnya untuk mengadakan pengecekan di lapangan.
" Pak Catur, saya bisa ke lapangan?"
" Oh..bisa pak Arjuna. Nanti biar diantar sama Hendra. Dia yang bertanggung jawab di produksi. Rahman, panggilkan Hendra. Suruh kesini" pak Catur menyuruh seorang OB yang mengantarkan minuman
" Baik pak"
Selang beberapa saat seorang pria paruh baya berbaju batik lengan pendek masuk ke ruang meeting.
" Selamat pagi pak. Perkenalkan saya Hendra. Saya yang akan menemani pak... " Pak Hendra menghentikan omongan nya.
" Juna, Arjuna Van Coen" sahut Juna memberitahu namanya
" oh..pak Juna. Mari pak ikut saya."
Arjuna pun mengikuti langkah pak Hendra. Mereke berjalan beriringan sambil Pak Hendra menjelaskan segala sesuatunya. Nampak mata para gadis mulai mencuri curi pandang. Mengagumi sosok gagah yang berjalan bersama atasan mereka.
" Ssst.. lihat..lihat..ganteng banget.."
" Masya Allah...iku menungso po malaikat.."
(Masya Allah..itu manusia apa malaikat?)
" Duh Gusti paringono sabar... bojoku kok malah melu ndomblong weruh Londo. Padahal aku Yo Ra kalah ngganteng. " kata salah satu karyawan pria yang melihat istrinya terpesona
(Ya Tuhan..kasih kesabaran. istriku ikut terpesona lihat bule. padahal aku tidak kalah ganteng)
Juna tampak acuh, dia tetap fokus pada penjelasan dari Pak Hendra. Penjelasan dari pak Hendra lebih dia pahami daripada penjelasan pak Catur tadi. Sepertinya yang benar-benar memahami seluk beluk pabrik ini memang pak Hendra.
" Terima kasih banyak pak Hendra sudah menemani saya berkeliling. Saya juga sangat paham dengan penjelasan dari bapak. Saya rasa cukup kunjungan saya kali ini." Juna mengulurkan tangan untuk berjabat tangan
" Sama-sama pak Arjuna. Saya sangat senang dengan kunjungan anda. Sudah lama pak Aldert tidak kesini. "
" Iya pak. Papa sangat sibuk dengan perusahaan yang di Belanda. Kemarin sempat drop. Makanya tidak bisa ikut kesini. "
" Oh gitu.. semoga segera sehat kembali. Saya mohon pamit kembali bekerja. " pamit pak Hendra setelah mengantarkan Juna hingga ke lobby
" Silahkan pak. Saya masih menunggu teman saya"
Drrt..drrrt...
" Halo Assalamualaikum.. Nish. Kamu uda dimana sekarang?
" Wa'alaikumussalam.. aku uda di parkiran. Baru aja nyampe" jawab Danish
" Ok. Aku langsung ke parkiran aja" Juna bergegas menuju tempat parkir mobil
" Weeitss... pak bos sudah selesai nih sidaknya.." ejek Danish
" Dasar semprul.. bilang aja iri sama orang ganteng" balas Juna
" Hehehe...iya..aku ngaku..aku iri sama mas ganteng.. aku jadi naksir deh.." goda Danish sambil menirukan gaya perempuan genit
" Hiii.. jijik aku dengerin kamu ngomong kayak gitu. Yuk ah cabut.. Kita mampir ke Kotagede dulu ya. Mau nyari kerajinan perak pesenan Mom. Makan siang kita di sana sekalian. "
" Siap Bosque" Danish melajukan kendaraannya menuju Kotagede sentra kerajinan Perak