
POV Nadia
Hari ini sungguh melelahkan. Lelah hati lelah pikiran. Pagi ini sungguh mengagetkan. Gimana tidak lelah, bangun tidur tiba-tiba melihat sesosok lelaki dalam satu ranjang. Sosok yang selama ini aku berusaha untuk tidak terlalu dekat. Tapi... ketika melihat jelas wajahnya aku terkejut lagi. Dia lelaki yang pernah mencuri pandang di warung lesehan waktu itu. Ya..aku masih ingat sekali, karena tampilannya yang beda. Tentu saja beda soalnya dia bule. Bule yang ramah penilaianku waktu itu.
Ketika mengetahui aku seranjang dengan seorang pria bule, hal pertama yang aku lakukan adalah memeriksa pakaian yang aku kenakan. Saat tahu hanya sweater saja yang terlepas, ada satu kelegaan hadir. Tapi tetap saja muncul berbagai spekulasi. Secara kebiasaan bule di negaranya tau sendirilah. **** bebas, alkohol sudah menjadi hal biasa. Satu kewaspadaan muncul melihat dia yang topless.
Aku mencoba mengingat kejadian semalam, rupanya dia juga kaget dengan keadaan kami berdua. Aku mencoba tetap tenang meskipun sebenarnya aku ketakutan. Takut menghadapi segala yang akan terjadi ke depannya. Takut menghadapi orang tuaku. Bukan karena mereka galak..tidak..mereka bahkan tidak pernah marah-marah. Justru yang aku takutkan aku memberi mereka kekecewaan. Kecewa karena anak gadisnya tidak seperti yang mereka harapkan. Anak gadis yang mereka jaga telah mengkhianati kepercayaan mereka.
Aku segera memakai sweater ku. Aku malu karena bagian atasku telah terekspos. Meskipun tidak topless karena aku masih pakai tanktop, tapi bagiku itu termasuk bagian yang tidak pernah aku perlihatkan kepada orang lain. Meskipun aku belum berhijab, tapi aku tidak pernah memakai baju tanpa lengan. Aku selalu memakai kaos berlengan dan juga celana ataupun rok panjang. Itu karena bunda mengajarkanku untuk berpenampilan sopan, tidak mengumbar aurat. Mungkin ini teguran dari Allah agar aku mau memakai hijab sesuai yang bunda ajarkan.
Menikah..
Keputusan final dari ayah, aku harus menikah dengan Juna. Sebenarnya aku tidak terlalu keberatan. Entah kenapa ada perasaan berbeda saat bersamanya. Dalam waktu kurang dari satu hari, perbedaan itu aku rasakan. Berbeda saat aku bersama mas Fahmi. Saat bersama mas Fahmi, aku tidak pernah merasakan jantung yang berdebar kencang. Hanya kadang rasa grogi itu ada saat mas Fahmi mencoba melamar ku. Tapi memang jodoh itu tak akan kemana. Yang melamar duluan siapa, yang mau menikah siapa. Rahasia Tuhan.. eh author hehe..
Saat mas Fahmi membatalkan lamarannya entah kenapa malah terasa lega. Mungkin karena aku merasa tidak pantas juga untuknya. Dia yang notabene seorang dokter yang pintar, dan juga dari kalangan berada tentunya berhak mendapatkan jodoh yang sederajat baik pendidikan maupun latar belakang keluarga. Ah..itu hanya bela diri saja. Palingan memang aku lebih condong kepada Juna, begitu pendapat Rendra yang langsung mendapat jitakan dariku. Memang aku tidak menampik Juna adalah seorang pria yang tampan, good looking, dan yang paling bikin aku terkejut ternyata dia seorang muslim bahkan mommy nya orang asli Jogja yang dikenal baik oleh Ayah. Saat itulah aku semakin mantap menerima putusan dari ayah dan juga keluarga Juna.
Aku tahu diantara kami belum ada cinta. Tapi seiring waktu cinta akan datang dengan sendirinya. Bahkan dia sudah berani menggodaku dengan menyebutku 'calon istri'. Saat itu aku terkejut dan mungkin dia mengetahui rona malu di pipiku. Aku sangat malu, tapi aku hanya menahan senyum. Sungguh, sebenarnya hatiku berdebar, berbunga-bunga mendengar dia menggodaku. Tapi apakah ini yang dinamakan cinta? Aku tak tahu. Karena aku belum pernah mengalaminya.
" Kak, hari ini libur kerja?" bunda tiba-tiba masuk ke kamarku
" Eh, bunda. Kakak kaget, ga dengar bunda masuk."
" Ih..bunda godain kakak mulu kayak si Rendra."
" Lha..tapi bener kan.." bunda tersenyum menggodaku
" Bunda seneng kalau kakak sudah mau mikirin calon suami. Dengan begitu bunda yakin kalau kalian berdua sudah mau membuka hati masing-masing agar bisa saling menerima kekurangan maupun kelebihan. Karena itulah yang namanya cinta. Cinta itu mau berkorban menutupi kekurangan pasangan, mau belajar menerima kebiasaan pasangan. Bagi bunda, cinta itu pengabdian. Seorang perempuan kalau sudah menikah, orang tua bukan prioritas, tapi suami yang nomor satu. Surganya terletak pada ridho suami, bukan di bawah telapak kaki bunda lagi. Hormati dia, sayangi dia, perlakukan dia dengan baik, layani dengan baik, senangkan hatinya maka insyaallah dia tidak akan berpaling. Kecuali kalau sudah menjadi kebiasaan serong sana serong sini. Kayak si Iwan RT sebelah. Uda punya istri yang nurut sama suami aja pakai acara selingkuh. Padahal si Ina itu uda sabar dikasih duit pas-pasan, mau nyambi jadi tukang londry biar anaknya bisa jajan. Kalo kata si Iwan soalnya istrinya bau, ga pinter dandan. Lha gimana mau dandan, orang duit dikasihnya pas-pasan cuma cukup buat makan sehari-hari, gimana mau beli skincare.." bunda malah ngomel-ngomel gak jelas
" Udah Bun..kok jadi ngomongin orang sih. Kan tadi uda bener Kakak dengerin nasehatnya,. lha kok malah belok ke RT sebelah" aku mengulum senyum melihat bunda yang ngomel-ngomel karena sebel sama tetangga.
" Ih..bunda meni kesel pisan.. Pengen tak uleg itu mulutnya. Lemes banget ngatain istrinya.." bunda masih melanjutkan kekesalannya.
" Udah Bun.. Kakak ga mau ah dengerin cerita bunda. Nanti kakak jadi parno lagi, trus ga mau nikah cepet. "
" Eeit..jangan gitu atuh.. Itukan si Iwan. bedalah sama si kasep. Si kasep mah kayaknya baik, pengertian, perhatian.. jadinya bunda juga setuju sama ayah buat nikahin kamu sama dia."
" Kok Bunda bisa bilang begitu? Tahu dari mana? kan baru ketemu ini tadi?"
" Eh..bunda uda ketemu banyak orang, udah bisa menilai seseorang dari perilakunya. Dari tadi si kasep kan curi-curi pandang sama kakak. Trus dari i'tikad baiknya mau nganterin kakak, mau berterus terang dan berani mempertanggung jawabkan semuanya itu sudah menjadi nilai plus. Lelaki macam Juna ini tidak membiarkan permempuan menanggung sendiri bebannya. Insyaallah ini jodoh terbaik buat kakak. Terima dengan lapang, jalani dengan ikhlas. Insyaallah sakinah mawadah warohmah. Itu saja pesan bunda. Ya sudah, bunda mau ke rumah Bu Warsih. Mau pesan catering buat besok. Kamu rapihin kamar gih, ditata biar nyaman buat kamar pengantin" goda bunda yang membuatku semakin salah tingkah.
Segera aku bergegas merapikan kamar yang katanya mau buat malam pengantin. Eh.. malam.. pengantin..?? seketika aku menggelengkan kepalaku mengusir pikiran aneh yang ada di kepalaku.