Sweet Trap

Sweet Trap
Sidang



Sesampai di halaman rumah, Nadia segera mematikan motornya. Dia menghela nafas sejenak mempersiapkan diri dengan pertanyaan yang pasti diajukan oleh orang tuanya karena anak gadisnya semalaman tidak pulang.


" Assalamualaikum.." Nadia terhenyak mendengar suara Juna ada di depan pintu rumahnya. Sejak kapan dia disini? Nadia segera menyusul Juna


" Anda membuntuti saya?" Nadia terbawa emosi. Nada bicaranya sedikit tinggi intonasinya. Dia sedang cemas apabila orang tuanya mengetahui bahwa semalaman dia bersama seorang lelaki. Dia khawatir akan melukai hati bundanya dan memancing amarah ayahnya yang selama ini jarang marah. Kata orang, orang yang sabar kalau marah lebih menyeramkan.


" Aku hanya ingin meminta maaf dan mempertanggung jawabkan kesalahan kepada orang tuamu. Salahkah? Bukankan seorang pria harus berani bertanggung jawab? Apa kamu lebih menyukai seorang pengecut?" Juna menyindir sambil menyematkan senyum di bibirnya


" Wa'alaikumussalam.. sebentar. Siapa ya?" terdengar suara bunda Sari dari dalam rumah.


" Ayah..atuh itu tolong dibukain pintuna? Bunda masih nanggung ini. Mungkin itu si kakak pulang." pinta bunda Sari


" Iya..kalau si kakak mah pasti sudah buka pintu duluan. Itu tamu bunda kali. Soalnya ayah ga ada janji sama siapapun. " Ayah bergegas menuju pintu hendak membukanya. Tangannya sudah memegang handle pintu, tapi urung membukanya karena mendengar perdebatan kecil dari balik pintu


" Iihh..sudah anda pulang saja. Biar saya yang menjelaskan sama orang tua saya. Saya tidak mau..." Nadia menjeda perkataannya, terdengar suara pintu dibuka


Ceklek..


" Kenapa tamunya tidak disuruh masuk kak. " nada bicara Ayah sudah bikin merinding Nadia


" I..iya..yah.." Nadia terbata-bata menjawab pertanyaan ayahnya


" Pak Hendra? Iya kan? Anda pak Hendra?" Juna agak terkejut melihat siapa ayah gadis yang semalam bersamanya.


" Pak Arjuna? Mari masuk dulu pak. Silakan duduk dulu" pak Hendra segera mempersilahkan Juna untuk duduk di kursi rotan yang berada di ruang tamu. Khas kursi jaman dulu dengan meja bulat di tengah, masih sangat terawat.


" Kak, kamu juga duduk." Nadia segera menuruti perintah ayahnya.


" Bun, tolong bikinin minum buat tamunya ya. " pinta ayah kepada bunda


" Ya ayah.. sebentar." jawab bunda


" Ada hal yang perlu disampaikan kepada saya?" Pak Hendra bertanya tanpa basa-basi


" Apakah ini ada hubungannya dengan ketidak pulangan kamu tadi malam?" cecar pak Hendra


" Ayah..seb.." Juna menghentikan Nadia


" Biar saya saja. Maaf pak Hendra kalau saya lancang datang ke rumah bapak. Betul, kedatangan saya kesini ingin menjelaskan sesuatu perihal ketidak pulangan Nadia semalam." Juna menjeda mengambil nafas sebentar.


" Maaf pak. Semalam memang benar Nadia bersama saya, bermalam dengan saya." Pak Hendra terkejut dan terlihat beliau menahan kekecewaannya. Beliau masih menunggu penjelasan agar bisa mengambil keputusan yang tepat.


" Saya kesini ingin meminta maaf dan bersedia bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak kami sengaja. Kebersamaan kami semalam entahlah..apakah ini suatu kebetulan atau kesengajaan orang yang mungkin kurang suka dengan kami. Masih belum jelas. Tapi yang jelas, saya berani bertanggung jawab untuk menikahi Nadia. Saya tahu, ini bisa menjadi aib keluarga apabila terjadi fitnah. Dan saya paham betul adat Indonesia, khususnya di Jogja ini." jelas Juna


" Permisi..maaf silakan diminum teh hangatnya." Bunda datang membawakan 4 cangkir teh dan meletakkannya di meja, lalu ikut duduk di samping pak Hendra. Tak lupa seulas senyum disematkan


" Maksud kalian gimana? Kok bisa kalian bersama tapi tidak disengaja? Jangan membela diri kalau sudah salah!" tegas pak Hendra


" Maaf sekali lagi. Tapi betul, kami betul-betul tidak sadar. Tau-tau tadi pagi kami bangun tidur dalam ranjang yang sama."


" Bunda..ini tidak seperti yang bunda bayangkan. Kakak ga mungkin berbuat yang lebih jauh Bun.. Bunda tahu kan sifat kakak seperti apa? " Mata Nadia mulai berkaca-kaca mengetahui respon dari bundanya. Bibirnya bergetar


" Iya Bun. Semalam kami janjian dengan kawan kami masing-masing. Memang benar kawan saya menyewa satu kamar untuk kami reunian. Kebetulan dia teman sekolah saya dulu. Ketika saya datang, baru saya dan kawan saya yang mengundang saja yang datang. Dia kemudian memberikan welcome drink berupa orange juice. Setelah itu kepala saya berat lalu saya tertidur. Kejadian yang sama pun menimpa putri bapak. Hanya tempatnya saja yang berbeda. Nadia di restoran hotel, sedangkan saya di kamar. Tapi ketika kami bangun, hanya ada kami di kamar tersebut. Saya menjamin tidak terjadi apa-apa. Tapi saya tetap akan bertanggung jawab karena ini menyangkut kehormatan putri bapak, Nadia." Juna menjelaskan kronologi kejadiannya.


Pak Hendra menundukkan kepalanya sambil mengerutkan dahinya. Terdengar helaan nafas berat. Sepertinya beliau berusaha memikirkan jalan yang terbaik untuk semuanya.


Triing.. sebuah pesan masuk di HP Nadia


Fahmi


Assalamualaikum Nadia.


Maaf aku harus menyampaikan sesuatu. Aku membatalkan lamaran kemarin. Aku kecewa sama kamu Nad.


Sekali lagi maaf, hubungan kita sampai disini saja.


"Siapa Nad?" tanya bundanya


" Mas Fahmi Bun. Mas Fahmi membatalkan lamaran kemarin. Karena belum ke ayah sama bunda, jadi cukup Nadia saja yang dikabarin ga papa kan yah." sekilas kekecewaan tergambar di mata Nadia. Sesuai perkataannya kemarin bahwa dia tidak akan menyuburkan rasa cintanya sebelum pria itu menjadi suaminya. Sehingga tidak terlalu sakit ketika tidak berjodoh.


Tulilit..tulilit.. Terdapat panggilan Video call dari orang tua Juna.


" Maaf pak, saya mengangkat panggilan dari orang tua saya." Juna meminta ijin kepada pak Hendra yang dibalas dengan anggukan.


" Assalamualaikum.."


" Wa'alaikumussalam..Juna. Gimana kamu udah ketemu sama orang tua Nadia?" terdengar suara Daddy Aldert di seberang


" Ya Dad. Saya sedang berada di rumahnya. Tadi Juna sudah menjelaskan kronologi kejadiannya dan juga niat Juna ke ayah Nadia. Sepertinya Daddy perlu tahu siapa ayah Nadia. Daddy sudah mengenalnya."


" Really? Coba berikan Hp mu kepada beliau." Juna segera menyerahkan Hp nya kepada pak Hendra


" Assalamualaikum tuan Aldert.."


" Wa'alaikumussalam..pak Hendra? Anda ayahnya gadis yang bersama Juna semalam? Maafkan anak saya pak Hendra. Seharusnya dia lebih berhati-hati." Daddy Aldert merasa tidak enak dengan pak Hendra atas kesalahan yang diperbuat oleh anaknya.


" Tidak apa-apa tuan. Apa kabar tuan Aldert sekeluarga?"


" Alhamdulillah kami sehat. Pak Hendra juga sehat?"


" Alhamdulillah tuan. Seperti yang anda lihat."


" Jadi gimana pak Hendra? Apakah kita bisa besanan? Saya sangat senang sekali apabila putri pak Hendra menerima lamaran anak saya. Saya sudah kenal baik dengan pak Hendra, jadi saya percaya kalau putri bapak pasti bukan gadis sembarangan."


" Saya serahkan ini sama putri saya tuan. Dia yang akan menjalani pernikahan, maka biar dia yang memutuskan akan menerima atau menolak. Saya merasa terhormat kalau memang bisa besanan dengan tuan Aldert. Tapi kami ini cuma dari keluarga sederhana, bukan hartawan seperti tuan Aldert."