
POV Author
Pagi ini tampak mendung menyelimuti. Gerimis kecil masih menjadikan dingin mendominasi, hingga beberapa orang tampak malas untuk bangun. Yang ada malah tarik selimut.
Tampak di sebuah kamar hotel seorang pria keluar dari kamar mandi. Nampaknya udara dingin tidak berpengaruh untuknya. Memang kamar hotel kan ada AC nya. Jadi sudah biasalah dia menghadapi suhu seperti ini.
Pria itu kemudian memakai kaos berwarna abu muda lalu dilapisi blazer hitam dan celana hitam. Tak lupa jam tangan Rolex favoritnya bertengger di tangannya. Nampaknya gerimis tidak menghalanginya untuk beraktivitas.
" Halo assalamualaikum.." pria itu menjawab panggilan di telepon selulernya
" Wa'alaikumussalam.. Jun, kamu mau survey jam berapa?" tanya pria di seberang telepon
Juna melihat ke jam tangannya " Mm.. jam 8 aku usahain sampai ke sana. Kamu lagi free kan? Atau mau ada acara lain?"
" Kayaknya pagi ini aku ga bisa temenin kamu ke pabrik. Tapi nanti aku nyusul kesana? Kamu naik taksi ga papa kan Jun? Biar nanti pulangnya pake mobil aku aja. "
" Oke.. never mind.. Nanti kabar kabar lagi ya. "
Juna bergegas keluar dari kamar hotel lalu turun ke lantai dasar menggunakan lift.
" Good morning sir? " nampak seorang wanita menyapanya sambil tersenyum
" Morning " jawab Juna
" Where are you come from mister... ?" wanita itu memberi sinyal menanyakan namanya. Tapi Juna terlihat risih melihat pakaian mini yang dikenakannya. Meskipun di Belanda Juna sudah terbiasa melihat wanita dengan pakaian yang terbuka, tapi di Indonesia dia merasa risih. Karena dia tahu ini bukan budaya sini. Indonesia mayoritas muslim, jadi seharusnya pakaiannya bisa lebih sopan.
" Netherlands. I'm sorry. Saya duluan" Juna segera bergegas keluar dari lift menuju pintu lobby
" Hei mister! Kita belum kenalan!" tampak wanita itu mengejar Juna dengan tidak tahu malunya.
Dasar wanita ga tahu malu. sudah ditolak secara halus tapi ga ngerti. Duh.. sial banget pagi pagi uda ketemu yang beginian. Aku harus segera dapet taksi. batin Juna
Akhirnya Juna dapat ide. Dia melihat ke security hotel lalu memberikan kode agar dihindarkan dari wanita pengganggunya. Security yang paham dengan kode yang diisyaratkan langsung menghadang si wanita.
" Maaf Bu. Ada yang bisa dibantu?" security tersebut bertanya kepada wanita itu.
" Aih si bapak.. Saya mau kenalan sama mas bule malah dihadang. Minggir sana. Gangguin aja" Wanita itu tetap berusaha menyingkirkan security agar dia bisa mengejar Juna.
" Aaaah.. dasar security sialan. Lihat tuh mas bule uda naik taksi. Aku kan jadi ga bisa kenalan. Padahal aku uda berharap bisa deketin dia biar bisa gaya gayaan, pamer punya temen bule." wanita itu mengumpat setelah melihat Juna masuk ke sebuah taksi berwarna biru muda.
" Alhamdulillah... ke pabrik ini ya pak." kata Juna sambil memperlihatkan tulisan di HP nya.
" Baik mister. Alhamdulillah bisa bahasa Indonesia, jadi saya ndak usah mikir bahasa Londo (Bule/bahasa Inggris)" kata pak sopir
" Iya pak. Ibu saya orang asli Jogja pak. Oia, nanti mampir sarapan dulu ga papa kan pak?"
" Oh..iya ndak papa mister. Mau mampir sarapan dimana?"
" Cari gudeg aja pak. Saya sudah kangen pengen makan gudeg. Sudah 5 tahun saya ga pulang ke Jogja."
" Oh..sip.. Nanti mampir ke Yu Djum atau yang terdekat aja?"
" Yang searah aja. Atau kalo bapak punya rekomendasi yang tempatnya searah sama tujuan boleh pak. Lidah saya ga repot kok. Makanan apa aja enak.. " kelakar Juna
" Oh..pas banget. Kebetulan istri saya jualan gudeg. Kebetulan juga sejalan. Mau? Tapi tempatnya sederhana."
Akhirnya mobil taksi itu berhenti di depan sebuah warung gudeg kecil yang berada di deretan ruko pinggir jalan. Meskipun kecil, tapi warung itu tampak ramai pembeli.
" Wah..ini warung istri bapak? Rame sekali ya? Uda ga sabar mau nyicip gudegnya. "
" Ayo mister silakan duduk. Maaf ya tempatnya cuma begini aja. Maklum warung kecil."
Juna segera duduk di bangku bambu yang ada di samping warung. Memang khas orang desa. Dan baginya, suasana seperti ini tidak membuatnya risih atau jijik seperti horang kaya yang ada di novel novel.
" Bune, itu ada penumpang saya bule ya pengin sarapan. Buruan diambilin dulu." pak sopir yang dilihat dari badge bordiran yang nempel di seragam namanya Surono, berbisik pada istrinya yang sedang sibuk melayani pembeli.
Bu Lastri, istri pak Surono melongok ke samping warung melihat penumpang taksi yang dibicarakan suaminya.
" Oh..nggih pak. Tak ambilkan dulu bentar. Paket komplit kan?" segera Bu Lastri mengambil piring anyaman yang dilapisi daun pisang. Kemudian mengisinya dengan nasi, gudeg kering, telur, suwiran ayam serta sampel krecek dan tempe. Tak lupa kuah Areh yang menjadi khas sajian gudeg.
" Nih pak. Buruan dikasih"
Pak Surono segera mengantarkan nasi gudeg kepada Juna.
" Monggo mister. Semoga ndak mengecewakan. Minumnya apa? Mau teh anget atau jeruk atau air putih?" tawar pak Surono
" Mm.. teh anget aja pak. "
Segera pak Surono membuat teh anget dan meletakkannya di meja.
" Gimana mister? Enak apa ndak?"
" Wah...enak banget pak. Recommended ini. Sesuai banget sama lidah saya. Kapan kapan kalo sempet saya mampir lagi kesini ngajak temen saya."
" Alhamdulillah kalo mister suka. Jadi saya ga menyesal ngajak mister kesini. Tadinya saya ga enak takut dikira saya ngambil keuntungan pribadi, asal aja ngajak penumpang kesini"
" Lho bagus pak. Jadi ada simbiosis bisnis. Bapak jadi sopir taksi sekaligus marketing warung ibu. Kalo uda ngerasain gudeg ini saya kira ga ada penumpang yang komplain. Cuma memang beberapa orang ga bisa makan di tempat sederhana seperti ini. Orang kadang melihat tempatnya dulu sebelum tau rasanya. Mending di restoran mahal dengan tempat yang wah meskipun masakan nya biasa, daripada warung Kecil. Padahal warung Kecil seperti ini justru kadang masakan ya luar biasa enak. Nah seperti warung ibu ini. Kelihatannya biasa, tapi masakan nya luar biasa."
" Iya sih mister. Kenapa ya, kalo wisatawan domestik seringnya minta dicariin resto mewah. Tapi kalo bule Londo malah minta dinater ke pasar nyari jajanan pasar. Lucu ya.." kata pak Surono sambil terkekeh
" Ya..itu karena kalo bule kesini memang nyari yang khas, tradisional gitu pak. Kalo restoran di negara mereka pun banyak. Restoran masakan Indonesia kan banyak di Luar Negeri pak. Cuma rasa yang khas, yang bener asli tuh kita musti cari di pasar. Kalo restoran kan yang masak chef, nah kalo warung kecil atau pun pasar yang masak orang orang yang memang diajarin sama orang tuanya dengan resep turun temurun, dengan alat masak yang masih tradisional. dan itu yang membedakan citarasa restoran dan warung. "
" Wah.. ternyata mister pengetahuannya luas ya."
" Nanti saya ada rencana bikin kantor tour and travel disini pak. Kalo sudah siap, nanti kita bisa bicarakan bisnis beneran pak. Doakan saja semoga lancar. "
" Lho, mister mau nyari duitnya disini toh? Lha bukannya dolar lebih banyak hasilnya ya mister."
Juna terkekeh dengan statement pak Surono
" Saya tuh uda anggap Jogja itu kampung saya. Disini ada rumah peninggalan almarhumah nenek saya."
" Lha kalo disini ada rumah neneknya, kenapa mister nginap di hotel?"
" Saya nyampe Jogja uda malam. Ga enak mau ngerepotin orang malam malam"
" Oh..gitu to.. " pak Surono manggut manggut