
" Jadi gimana pak Hendra? Apakah kita bisa besanan? Saya sangat senang sekali apabila putri pak Hendra menerima lamaran anak saya. Saya sudah kenal baik dengan pak Hendra, jadi saya percaya kalau putri bapak pasti bukan gadis sembarangan."
" Saya serahkan ini sama putri saya tuan. Dia yang akan menjalani pernikahan, maka biar dia yang memutuskan akan menerima atau menolak. Saya merasa terhormat kalau memang bisa besanan dengan tuan Aldert. Tapi kami ini cuma dari keluarga sederhana, bukan hartawan seperti tuan Aldert."
" Sebenarnya kalau di lihat dari kronologi kejadiannya, sepertinya.." Pak Hendra menjeda perkataannya
" Pak Hendra, bisa kita bicara antar orang tua dulu? Istri saya juga mau ikut memberikan pendapat. " Daddy Aldert sambil memberikan isyarat agar menjauh dari Juna dan Nadia..
" Ooh..baik. Nadia, Juna.. silakan tunggu di luar dulu. Ayah sama bunda mau rembugan antara orang tua, agar kami bisa memberikan keputusan yang terbaik. " pak Hendra segera beranjak masuk dengan bunda, sedangkan Juna dan Nadia keluar lalu duduk di kursi teras.
...****...
" Maaf sebelumnya pak Hendra kalau kami kurang sopan meminta pak Hendra bicara secara pribadi dengan kami." Mommy Nila memulai pembicaraan setelah pak Hendra dan istri berada di dalam ruang makan.
" Sebenarnya kami memang berniat menikahkan Juna, terlebih lagi setelah kami tahu bahwa gadis itu adalah anak bapak. Kami sangat senang bahkan berharap bapak dan ibu juga merestuinya." Bu Nila menjelaskan.
" Terus terang saya sudah menyukai Nadia sejak pertama saya melihatnya. Gadis yang sopan, dan masih bisa berpikir dengan tenang meskipun keadaannya seperti itu. Saya salut sama Nadia. Sepertinya dia gadis yang sabar dan pengertian. " Mommy Nila melanjutkan pembicaraan.
" Saya sebagai ibunya Nadia, sebenarnya saya tadi kaget, kecewa sama diri saya sendiri yang tidak bisa mendidik anak saya dengan baik sehingga bisa terjadi hal itu. Apalagi ini Nadia. Saya syok. Nadia itu anak kebanggaan saya. Dia punya prinsip tidak mau berhubungan dekat dengan sembarangan laki-laki. Tapi kenapa bisa terjadi seperti ini?" mata bunda Sari berkaca-kaca, bibirnya bergetar menandakan ia sedang menahan sesak yang membuncah di dada
" Kami meminta maaf ya Bu, pak.." Daddy Aldert menambahkan
" Tidak.. tidak ada yang perlu dimaafkan. Karena ini bukan murni kesengajaan mereka. Mereka dijebak kan? Ya..mungkin ini jalan yang harus mereka lalui. Mungkin mereka berjodoh, hanya cara bertemunya saja yang nyleneh, kurang baik." Pak Hendra mengambil kesimpulan.
" Saya yang sangat mengenal siapa tuan Aldert, pasti senang jika seandainya kita bisa besanan. Hanya saya masih malu, merasa bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan keluarga tuan."
" Iya tuan.. saya merasa tidak pantas mendapatkan besan seperti tuan Aldert. Kami ini hanya wong cilik, tidak bisa dibandingkan dengan keluarga tuan yang berada." sahut bunda Sari
" Jangan begitu pak Hendra dan ibu. Justru saya merasa senang seandainya bisa berbesan dengan pak Hendra. Pak Hendra ini orangnya dapat dipercaya, leadership di perusahaan juga terbukti bagus, otomatis leadership di rumah juga bagus dong. Apalagi pak Hendra ini termasuk orang yang religius. Saya senang apabila anak saya bisa bersanding dengan putri bapak. "
" Iya pak, Bu. Kami tidak memandang seseorang dari derajat atau kekayaannya. Buktinya saya bisa menikah dengan Aldert, padahal saya cuma gadis kampung, bukan keturunan ningrat. Iya to pak Hendra? Sampeyan pasti sudah dengar cerita tentang kami. Soalnya dulu sempat jadi trending topik di perusahaan. Bule ganteng direktur perusahaan jatuh cinta dengan gadis desa" mommy Nila mengulum senyum mengingat masa lalu
" Ooh..saya ingat. Dulu si Warti masih kerja di pabrik. Dia yang cerita sama saya. Katanya pimpinan pabrik yang juga bule, jatuh cinta sama gadis Jogja. Bahkan dia minta saya untuk doain biar ketularan dapet jodoh bule untuk memperbaiki keturunan" Bunda Sari terkekeh mengingat cerita salah satu teman semasa muda dulu. Semuanya pun akhirnya tersenyum mengingat kejadian masa lampau.
"Saya mohon pak Hendra supaya membujuk Nadia untuk menerima pinangan anak saya. Kalau bisa secepatnya. Agar salah satu dari mereka tidak ada yang berubah pikiran. Please pak Hendra. I beg you" Pak Hendra melirik kepada istrinya meminta pendapat tanpa mengeluarkan kata-kata. Itulah hebatnya suami istri, saling memahami kode satu sama lain. Bunda Sari menganggukkan kepalanya tanda setuju.
...****...
Di teras rumah pak Hendra, dua sejoli yang tengah dibicarakan oleh kedua orang tua mereka sedang duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap ke sebuah taman kecil. Rumah pak Hendra memang tidak besar. Tapi asri dengan taman bunga yang ditata sedemikian rupa sehingga tampak memanjakan mata. Sebuah pohon mangga turut memberi kesejukan di sisi yang lain.
" Ehem.." Juna berdehem memecah kecanggungan yang tercipta diantara keduanya.
" Di cafe"
" Bagian apa?"
" Dapur"
" Apa nama kafenya? Deket dari sini?"
" Benz Coffee and Bakery. Ga terlalu jauh sih..yah..15 menit dari sini"
" Kamu suka masak ya?" Nadia mulai sedikit menegokkan kepalanya
" Hmm.." Nadia mengangguk
" Aku suka masak. Memasak itu hobiku. Memasak itu menyenangkan, meskipun prosesnya kadang lama dan melelahkan tapi melihat orang puas menikmati hasil masakan kita bikin semua lelah itu terbayar lebih." Juna menyimak penjelasan Nadia sambil memandang ekspresi wajah gadis itu yang menggambarkan bahwa betapa senangnya dia akan kegiatan dapur tersebut. Tanpa sadar terbit senyum di wajahnya.
" Nadia... Kamu hebat ya. Kamu melakukan pekerjaan dengan penuh totalitas. Nanti kita bikin cafe sendiri ya? Aku ada wacana membuka bisnis kuliner disini. " terang Juna. Tak lupa senyuman lebar dia tunjukkan
" Kita? Anda dan saya? Buka cafe? Maksudnya? " Nadia mengernyitkan alisnya
" Iya..kita kan mau nikah... Jadi nanti itu akan jadi bisnis keluarga"
" Nikah? Emangnya siapa yang mau nikah" sanggah Nadia yang tampak merona. Sepertinya jantung Nadia mulai tidak bisa diajak kerjasama.
" Ya kamulah.. siapa lagi?' goda Juna yang menyadari ada semburat merah di pipi gadis itu
" Assalamualaikum kak.."
" Wa'alaikumussalam, dari mana Ren pagi-pagi?"
" Dari rumah Abdul kak. Nganterin tugas kelompok. Semalam kelupaan. Kakak sendiri ngapain berdua sama..."
" Juna. Calon kakak ipar kamu" Juna segera memperkenalkan diri
" Kakak ipar? Bukannya yang melamar kakak mas Fahmi ya? Kok berubah jadi bule?"
" Siapa Fahmi?