Sweet Trap

Sweet Trap
POV Juna



" Aku pamit pulang dulu ya..calon istri.." Juna tersenyum lebar menggoda Nadia yang agaknya terkejut mendengar celetukan nya.


...****...


POV Juna


Keputusan gila yang kuambil hari ini benar-benar di luar rencana ku. Memnag benar kalau ini disebut keputusan paling gila yang pernah aku ambil. Menikah dengan seorang gadis yang bahkan namanya pun baru aku tahu tadi pagi. Amazing kan? Aku sendiri entah kenapa berani mengambil keputusan ini. Yang aku rasakan tadi, entah kenapa aku merasa bahwa aku tidak ingin kehilangan kesempatan bersama gadis itu.


Nadia... dia bagaikan magnet yang terus menempel di kepalaku. Dari sekian banyak gadis cantik yang kukenal, baru dia yang langsung menarik perhatianku. Dan memang benar, mataku tak salah menilai. Bahkan mommy pun terjerat pesonanya sehingga ngebet mau menikahkan kami berdua.


Nadia.. gadis lembut pada kesan pertama, tapi lucu dan menggemaskan jika sudah akrab. Terbukti ketika bersama keluarganya, ia lepas mengekspresikan kepribadiannya. And i like it. Dan yang paling aku kagum, ia bisa menahan untuk tidak menunjukkan kelemahannya di depan orang lain, bisa berpikir tenang walaupun terjadi sesuatu yang buruk. Gadis seperti dia tidak mengedepankan emosi dalam menghadapi sesuatu. Dia memang gadis yang bisa menjadi pendamping ku memulai usaha dari bawah dan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku kelak.


Cinta? Aku belum tau apa yang kurasakan sekarang ini. Yang pasti aku ingin bersamanya, melindungi kehormatan nya dan senyum itu... senyum yang ingin aku jaga seumur hidupku serta mata teduh yang memberikan kenyamanan saat menatapnya.


Nadia.. gadis sok tegar yang mampu membangun tembok untuk menutupi kegelisahannya, kekecewaannya. Sepertinya ini yang akan menjadi PR besar buatku. Bagaimana merobohkan tembok itu agar dia mau berbagi denganku kelak. Aku ingin dia menjadikanku sebagai tamengnya, pelindungnya. Semoga saja aku mampu membangun kepercayaan nya sehingga tercipta pintu di tengah tembok itu, dimana hanya aku yang bisa memasukinya. Bukan orang lain.


" Halo"


" Halo Danish. Bisa aku bicara sama ibu kamu? Penting."


" Weit..ada apaan nih.. tiba-tiba ada sesuatu yang penting yang mau dibicarain sama ibuku."


" Nanti aku jelasin. Tolong ya panggilin Bu Arum"


" Ok..wait.."


Aku merasa perlu bicara dengan Bu Arum. Beliau sudah seperti ibu kedua bagiku. Hal besar seperti ini harus diberitahukan juga kepada beliau. Semoga saja beliau juga bersedia hadir pada acara besok.


" Assalamualaikum nak Juna. Tumben telepon ibu. Ada hal penting opo to cah Bagus?" terdengar suara Bu Arum menggantikan Danish


" Wa'alaikumussalam.. iya Bu. Juna mau minta tolong, apa besok ibu ada waktu sore?"


" Ndak ada sih. Besok ibu ndak ada acara apapun. Memang ada apa to?" Bu Arum mulai kepo


" Ini Bu..besok Juna mau menikah. Ijab qobul nya besok sore."


" Weh.. kok mak bedunduk (tiba-tiba) to le? Kamu hamilin anak gadis orang?" tampaknya Bu Arum kaget mendengar berita yang kusampaikan


" Ee..ya..engga..ga Bu.. masa Juna disini baru beberapa hari uda bisa hamilin anak gadis. insyaallah gadisnya baik kok Bu. Bukan gadis sembarangan nemu di jalan."


" Ya sudah ceritakan yang sebenarnya. Kalau tidak, ibu ndak mau datang" ancam Bu Arum


" Iya Bu.. jadi ceritanya begini..." aku ceritakan semua kronologi kejadiannya termasuk pembicaraan antara orang tuaku dengan keluarga pak Hendra. Tidak ada yang aku tutupi, tidak ditambah maupun dikurangi.


" Oalah..jadi gitu to ceritanya. Ya mungkin memang kaya gini jalannya kamu ketemu jodoh. Apes awalnya, tapi untung akhirnya..iya to? Kalau didengar dari cara kamu cerita, kayake emang kamu yang naksir duluan ya sama Nadia.. iya kan? Ndak usah malu sama ibu.. ngaku aja" Bu Arum ternyata masih bisa membaca pikiranku. Bukan paranormal, tapi karena dulu saking deketnya sama Danish, akhirnya Bu Arum pun juga Deket. dan karena beliau ini orangnya penuh perhatian, makanya dia tahu anaknya lagi jatuh cinta.


" Bu Arum memang the best. Tapi Juna belum tahu apakah jni cinta atau bukan. Tapi meskipun belum saling mencintai, tapi ke depannya insyaallah kami bisa saling membuka hati. Doakan saja yang terbaik untuk saya Bu. Mohon doa restunya'."


" Iya le. Besok ibu pasti dateng sama Danish. Berarti dari pihak kamu yang hadir ibu, sama keluarga pakde Surahman ya."


" Oia..nanti kue hantaran biar ibu yang urus. Legomoro, lapis legit, sama Banjar ukel biar ibu yang siapin. Ibu uda ada langganan yang enak. Kamu siapin aja kebutuhan perempuan. Kalau perlu tanya sama calonmu itu merk make up, no sepatu, pokoknya yang dipakai dari atas sampai bawah sampai ********** juga ya. "


" Hah..dalaman Bu? Maksudnya? "


" Ya..****** ***** sama bra. Masa gitu aja Ndak tahu."


" Lha..masak saya harus tanya kayak gitu. Bukannya gadis Jogja itu pemalu ya?"


" Ya tanya saja sama ibunya. Itu tuh uda tradisi di sini. Isi hantarannya ya kayak gitu. Tapi kalau memang Ndak keburu ya sudah semampu kamu aja deh Jun." Bu Arum menjelaskan


Memang kata pepatah Jawa ' Desa mawa cara negara mawa tata' yang maknanya bahwa setiap daerah itu punya kebiasaan dan aturan yang berbeda. Termasuk dalam hal pernikahan. Di Indonesia setiap daerah mempunyai standar hantaran yang berbeda. Ada yang seperti disebutkan oleh Bu Arum tadi, ada juga daerah yang hantarannya itu adalah perabot rumah tangga lengkap mulai dari ranjang, almari dan segala macam isi rumah.


Sepertinya memang harus membeli semua keperluan hari ini. Agar besok sudah tinggal dibawa.


...****...


"Bude, kira-kira besok apa saja yang harus dibawa? Saya kurang tau hal ini."


Tulilit... tulilit..


" Halo Mom.. What's wrong?"


" Assalamualaikum Jun.."


" Wa'alaikumussalam.."


" Kamu harus sudah siapkan segala sesuatunya lho.. Meskipun ini dadakan, tapi tetap besok lamaran dulu. Bawa hantaran sama cincin, mahar. Kamu uda siapin?"


" Belum mom.. Juna baru saja pulang trus kabari Bu Arum sama Danish. Nanti kue hantaran dari Bu Arum katanya."


" Ok. Nanti belanja sama bude saja. Maharnya Nadia minta apa?"


" Tidak minta apa-apa, katanya terserah Juna, semampu Juna. "


" Ok. Kalau gitu kasih perhiasan emas sama alat sholat. Biar itu menjadi pengingat bagi kamu agar bisa menjadi imam buat Nadia. Berani kasih alat sholat berarti berani menjadi imam buat Nadia. Saling mengingatkan dalam ibadah."


" Ok Mom.. Istirahat lah Mom.. tadi mommy sudah terganggu istirahatnya gara-gara masalah Juna."


" No problem sayang.. Mom pengen banget pulang ke Jogja bantu kamu siapin segalanya. Tapi maaf ya, Daddy belum diperbolehkan perjalanan jauh."


"Iya mom.. ik begrijp" (aku mengerti)


" Jangan lupa bawa menantu mommy pulang ya. Semoga semua lancar ya"


" Amin.. thanks mom"