Sweet Trap

Sweet Trap
Kejadian Malam Itu



Tok..Tok..Tok..


" Akhirnya dateng juga. Masuk aja mas. Taruh di ranjang ya." perintah Doni kepada pelayan yang membantu membawa tubuh Nadia.


Nadia segera ditidurkan di samping Juna yang juga terlelap karena obat tidur. Lampu segera dimatikan, hanya lampu tidur remang remang yang dinyalakan.


" Don, kamu buka baju temen kamu itu, aku buka sweater Nadia. Jangan ngelirik ya." perintah Nara


" Iya..iya.. Lagian lampunya uda remang remang gini, ga bakalan kelihatan jelas kali. " jawab Doni sewot


Akhirnya mereka berdua melepaskan atasan Juna dan Nadia. Kemudian diposisikan saling memeluk dalam tidurnya.


" Ok..rencana selanjutnya.."


Tampak Nara menelpon seseorang.


" Halo assalamualaikum.." jawab seseorang di seberang telepon


" Wa'alaikumussalam..mas. Nadia ada sama kamu ga? Kok aku telp ga diangkat angkat ya." Nara berbicara dengan nada cemas


" Engga tuh. Bukannya kamu janjian sama Nadia di hotel X ya?"


" Iya mas. Tapi aku tadi telat kesininya, soalnya tadi ban motor aku bocor. Jadi mampir nyari bengkel dulu. Pas aku nyampe kesini Nadia uda ga ada. Coba mas Fahmi kesini aja buruan." Nara segera mematikan panggilan nya.


" Halo Silvi, bisa ke hotel X ga? Aku lihat Juna ada disini. Katanya kamu pengen banget mau ketemu dia kan. Buruan aku tungguin." Doni juga menghubungi cewek incarannya


" Let's play the game" senyum smirk tercetak di wajah keduanya. Kemudian mereka bergegas ke lantai bawah untuk memulai sandiwaranya.


...****...


" Mas Fahmi, aku disini! " panggil Nara


Fahmi segera menuju ke tempat Nara berada.


" Gimana? Nadia uda bisa dihubungi? " tanya Fahmi. Nara menggelengkan kepalanya


" Coba kita tanya ke resepsionis." ajak Fahmi


Terlihat di depan resepsionis ada Doni dan juga Silvi yang sedang bertanya kepada petugas yang ada di sana.


" Tadi aku lihat Juna disana sama seorang gadis. Tapi aku ga kenal gadis itu. Begitu aku telpon kamu tiba-tiba uda ga ada tu anak." kata Doni menjelaskan ke Silvi


" Pak, lihat cewek ini ga? Tadi saya janjian sama dia, tapi kok uda ga ada ya? Apa uda pulang?" tiba-tiba Nara bertanya kepada seorang petugas yang ada disana sambil memperlihatkan foto yang ada di layar telepon seluler nya.


" Oh..mbak yang ini tadi ke atas sama bule laki-laki. Saya tadi yang nunjukin kamarnya." jelas petugas yang memang sudah bekerjasama dengan duo sepupu tadi


" Nara ya?" Doni mencoba berpura-pura kaget bertemu dengan sepupunya


" Eh, Doni? Ngapain disini? Oh iya, mas Fahmi ini Doni anak tanteku." Nara mencoba memperkenalkan keduanya


" Fahmi" Fahmi menjabat tangan Doni


" Doni. Bisa lihat foto temen kamu Nara. Barangkali aku tau. Soalnya daritadi aku disini nungguin klien. "


" Boleh" Nara memperlihatkan foto Nadia yang ada di HP nya


" Ini..bukannya gadis yang tadi sama Juna? " lirih Doni


" Apa?Yang bener kalau ngomong! " sewot Fahmi tidak terima ada orang menjatuhkan image Nadia


" Memangnya temen mas nya yang bule tadi?" tanya petugas itu


" Iya pak. Bisa minta kerjasamanya ga pak. Soalnya saya khawatir anak gadis orang dirusak sama teman saya." kata Doni berusaha memerankan pria baik-baik, yang peduli dengan kehormatan gadis


" Coba saya tanyakan dulu."


" Boleh mas. Karena ini urgent maka diperbolehkan dengan syarat saya dan satu keamanan ikut ke atas. Dan jangan bikin keributan diatas. Karena customer yang lain akan terganggu." pak petugas memberikan penjelasan.


" Baik pak. Kami setuju."


Akhirnya mereka berempat beserta petugas yang piket serta satu security menuju ke lantai atas. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Fahmi maupun Silvi. Berbagai spekulasi muncul di benak mereka. Sedangkan Nara dan Doni saling melirik dan tersenyum kecil.


" Tadi saya mengantar ke kamar ini. Ingat, hanya memeriksa ke dalam setelah itu keluar. Selesaikan masalahnya diluar hotel." petugas itu segera membuka pintu dengan kunci cadangan.


Ceklek..


Nara dan Fahmi masuk duluan dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Nara diam mematung sedangkan Fahmi langsung keluar dengan menelan kekecewaannya.


Mengetahui hal itu Silvi pun bergegas masuk dan mendapati pemandangan yang menyesakkan dada. Dia tidak menyangka kalau ternyata pujaan hatinya adalah seorang baj****n.


Akhirnya mereka keluar dari kamar itu karena di benak mereka ketakutan akan hal buruk itu ternyata sudah terjadi. Silvi menangis karena kecewa.


" Sudah..sudah..kamu seharusnya bersyukur karena tau hal ini lebih awal. Ga usah menangisi laki-laki kayak gitu." Doni menenangkan Silvi dalam pelukannya


" Ayo..aku antar kamu pulang. Biar nanti klien aku batalin pertemuannya."


" Makasih ya Don."


" Iya..Aku malah minta maaf soalnya aku yang tadi kasih tau kamu buat kesini. Kalau tahu kejadiannya bakal kayak gini, tadi aku ga usah telepon kamu."


" Ga papa. Aku mau pulang aja sekarang" kata Silvi lalu tangannya segera diraih oleh Doni


" Aku duluan ya Nara" Doni mengedipkan sebelah matanya


" Iya. Don. Hati-hati di jalan." jawab Nara


" Hufft..semoga dengan begini mas Fahmi jadi ilfeel sama Nadia. Tadi aku lihat dia pergi dengan marah." batin Nara


Flashback off


...****...


Dalam sebuah kamar hotel, nampak sepasang pria dan wanita dalam satu selimut di ranjang yang sama. Mereka tampak berpelukan satu sama lain.


" Uuugh..." sang gadis mulai terbangun. Dengan mata yang masih terpejam tangannya mulai meraba-raba. Matanya memicing lalu..


" Aaaghh... Astaghfirullahal'adziim.." matanya terbuka sempurna kaget dengan apa yang ada di hadapannya. Seorang lelaki tampan bertelanjang dada sedang tertidur di ranjang yang sama dengannya.


" Haah.." lelaki itu kaget dengan teriakan seorang gadis yang menyeruak Indra pendengarannya.


" Kamu..kita..kenapa kita bisa disini? Apa yang kamu lakukan terhadap saya?" Nadia bertanya dengan nada bergetar dan matanya berkaca-kaca. Berbagai spekulasi bermunculan di kepalanya.


" Maaf..tapi aku juga ga tau kenapa kita bisa disini dalam keadaan seperti ini." jawab Juna yang masih merasa pening di kepalanya


" Tolong anda menjauh dari saya. Tolong anda berbalik dulu. Saya mau memakai pakaian dulu." Nadia segera turun dari ranjang dan mengambil sweaternya yang tergeletak di lantai. Ternyata hanya sweater yang lepas dari tubuhnya. Sedangkan celana jeans serta tanktop masih melekat di badannya.


" Maaf nona. Saya bersumpah saya tidak sengaja berbuat yang tidak baik terhadap nona. Semalam memang saya berada di kamar ini bersama dengan kawan lama saya. Tak lama setelah saya minum orange juice yang disuguhkan, tiba-tiba mata saya berat, rasanya ngantuk sekali. Akhirnya saya tertidur di ranjang ini. Setelah itu saya tidak tau apa yang terjadi. Apakah saya sudah bisa berbalik?" Juna menjelaskan kronologi kejadiannya


" Iya. Silakan, tapi tolong tetap jaga jarak dengan saya." Juna segera berbalik dan duduk menatap Nadia.


" Gadis itu.." batin Juna yang kaget dengan gadis di hadapannya. Gadis yang sempat menyita perhatiannya, sekarang terlihat gemetar.


" Maaf. Bisakah anda memakai pakaian anda dulu? " Nadia memalingkan wajahnya yang bersemu merah karena melihat dada telanjang seorang pria. Makhluk yang selama ini ia jaga jaraknya. Kenapa bisa seperti ini? Apakah ia terlalu banyak dosa? Apa ini teguran dari Allah karena ia belum mau menutup auratnya dengan sempurna?


" Ah..iya..maaf." Juna segera mengambil kaos yang ada di lantai kemudian memakainya


" Semalam saya ketemuan dengan sahabat saya di restoran bawah. Kejadiannya sama. Setelah sama minum orange juice tiba-tiba kepala saya berat dan tau tau bangun dalam keadaan seperti ini."


" Apakah kita punya masalah dengan kawan kita?" tampaknya Nadia tetap bisa berpikir dengan tenang walaupun terlihat gelisah.