
POV Nadia
Cuaca siang ini tak semendung pagi tadi. Meski begitu, matahari masih hanya mengintip dari balik awan kelabu. Jalanan juga masih agak basah karena hujan sebentar tadi pagi.
Aku sedang mengantarkan kue tart bersama dengan Ben menuju kediaman Bu Ine.
" Hei, kok diem aja sih.. Kamu uda lama kerja di cafe mama? Kok ga pernah ketemu?" Ben mencoba mengawali pembicaraan
" Sekitar setahunan lebih kayaknya. Lha mas Ben sendiri kan kuliah di Aussie. Jadi ya ga pernah ketemu sama saya"
" Oh..iyaya.. aku uda ga pulang 2 tahun ini. Ngebut tugas kuliah biar cepet kelar"
" Kamu tinggal dimana? Kuliah juga? "
" Aku tinggal di Kotagede. Aku ga kuliah. Aku lebih suka berkutat dengan adonan daripada dengan buku"
" Ooh.. kamu ga nanyain tentang aku?"
Aku mengernyitkan dahi
" Memang kenapa? Saya ga terlalu kepo dengan pribadi orang lain, kecuali dia yang cerita sendiri"
" Aku suka gaya kamu. Cool.. ga cerewet kaya perempuan biasanya. Pasti kamu belum punya pacar... ya kan?" Ben mulai menggoda
" Punya atau engga itu urusan saya sendiri. Urusan saya dengan mas Ben hanya tentang kue tart ini. Dan saya mohon mas Ben jangan terlalu mencampuri urusan pribadi saya." ketusku
" Oi..oi..oi..UPS..sori nih. Aku ga tau kalau kamu tersinggung dengan pertanyaan saya. Maklum biasanya cewek- cewek dengan gampangnya menceritakan urusan pribadi mereka. Aku ga nyangka kalau itu ga berlaku buat kamu. Sori deh.."
Tak berapa lama akhirnya kami sampai di kediaman Bu Ine. Tampak seorang penjaga dengan sigap membuka pagar. Mobil kami pun segera masuk ke halaman rumah.
" Assalamualaikum.."
" Wa'alaikumussalam.. Eeh ada Nadia. Masuk sini." Bu Ine tampak senang menyambut kedatangan ku
" Pak Har, tolong ambil kue di mobil bawa ke dalam ya" terdengar suara Ben menyuruh Pak Har yang setauku adalah sopir Bu Ine yang biasa wara wiri ambil pesenan di cafe
" Tadi cafe rame ga Nduk?" Bu Ine mengawali obrolan
" Alhamdulillah Bu. Lumayan rame. Tapi ga serame weekend biasanya sih. Mungkin karena hujan. Plusnya banyak mahasiswa yang mampir ngopi sambil nunggu hujan reda. Minusnya ada beberapa orang yang memang malas keluar untuk sekedar nongkrong saja. Mending tarik selimut. Tapi kurang tau nanti malam Bu. Malming biasanya banyak pasangan yang hangout"
" Kamu sendiri ga hang out sama pacar kamu?" goda Bu Ine
" Saya ga suka pacaran Bu. Takut khilaf" jawabku sambil tersenyum
" Ck.. kamu pilih kasih Nad. Giliran sama mama aja kamu mau ngobrol. Giliran sama aku ketusnya minta ampun" Ben menyela obrolan sambil mencium tangan dan duduk di sebelah Bu Ine
" Heh, Le. Kamu kan belum kenal Deket sama Nadia. jadi ya maklum kalo Nadia masih ketus sama kamu. Emang siapa kamu kepoin kehidupan Nadia. Ya Nduk ya.." bela Bu Ine
" Yah..kalo gini pasti kalah aku. Dua lawan satu. Mana yang dua cantik semua. Bikin aku jadi rela ngalah" jawab Ben sambil cengengesan
" Oia, tadi ditaruh mana kuenya? Mama mau lihat dulu. " Bu Ine bertanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan
" Oh, tadi dibawa pak Har ke dapur. " jawab Ben
Bu Ine segera bangkit lalu melangkah menuju ke dapur. Baru beberapa langkah kemudian berhenti
" Nduk, ayo ikut ibu ke dapur. Kan ibu mau nilai hasil karya kamu. Bayangin aja kaya kompetisi master chef.." canda bu Ine
" Oh, iya Bu. " aku tersenyum lalu bangkit dari tempat dudukku mengikuti langkah Bu Ine.
" Sebenernya itu belum jadi 100% Bu. Hiasannya masih saya taruh di box."
" Oh, gitu. Ya sudah diselesaikan aja. Tapi sambil jbu liatin ga papa kan Nduk? "
" Iya Bu. ga papa. Nanti justru kalo ibu ada ide ga papa diungkapin aja. Saya kan masih termasuk newbie kalo dibanding chef yang lain. "
Aku segera mengambil box biru yang ada di sebelah troli kue. Di situ terdapat beberapa box kecil tempat aku menyimpan hiasan dan juga krim.
" Saya mulai ya Bu. Bismillah.."
Aku mulai menyapukan krim dengan spatula. Setelah rata semua, baru aku bikin dekorasi menggunakan Piping bag dan spuit.
" Ini bagus banget Nduk.. Elegan, dan bunganya sesuai kesukaan ibu. White rose. Jadi tambah sayang sama kamu Nduk.."
Tulilit.. tulilit..
" Maaf Bu. Permisi sebentar, ada telpon masuk. "
"Oh iya.. Monggo Monggo dijawab"
" Halo assalamualaikum.."
"Wa'alaikumussalam.. Nadia.." jawab seorang lelaki di seberang sana
" Eh, mas Fahmi ya. Maaf mas, saya ga lihat nama pemanggilnya. Langsung angkat aja"
" Wah, roman - romannya lagi sibuk nih. Saya ganggu ya?"
"Enggak mas. Alhamdulillah sudah selesai. Ada apa mas?"
"Nanti pulang kerja saya jemput ya. Pulang seperti biasa kan?"
" Iya mas. "
" Ya sudah, sampai ketemu nanti ya. Assalamualaikum"
"wa'alaikumussalam.."
"Ehem.. kayaknya ada tang habis ditelpon pacarnya" goda Bu Ine
" Ah, bukan Bu. saya kan ga pacaran. Cuma temen" belaku
" Lebih dari temen juga ga papa kok " Bu Ine sambil mesam mesem
Mas Fahmi Andrayudha adalah lelaki yang sedang dekat dengan ku. Dia adalah seorang dokter gigi. Aneh ya.. Dokter gigi deketin tukang kue yang selalu bikin kue yang manis manis yang notabene bisa jadi ancaman buat gigi.
Pernah dulu aku celetukin gini.
"Mas deketin saya yang tukang kue biar pelanggan saya yang sakit gigi karena kebanyakan makan manis jadi pasien mas Fahmi ya. Jadi menguntungkan gitu. "
Mas Fahmi menanggapi dengan tertawa terbahak-bahak. Katanya "ada ada saja kamu Nad. Aku deketin kamu ya karena kamu terlalu manis untuk tidak dideketin. Mubazir kalo dicuekin aja." tanggapnya sambil menaik turunkan alisnya
Terus terang pujian dari mas Fahmi membuat pipiku merona. Aku tersipu malu.
Aku bertemu dia saat ada event Bazaar di deket UGM. Waktu itu aku buka stand cookies bareng temanku Nara. Dia beli parcel cookies sembari ngajak kenalan. Dari situlah mas Fahmi mulai mencoba deketin aku.
...****...
" Selamat sore Nadia, BESTie aku.." tiba tiba suara Nara mengagetkan aku.
" Ih Nara.. bikin kaget aja. Tumben kesini?"
" Iya.. aku mampir sekalian mau ngajakin kamu hangout."
" Tapi aku ada janji sama mas Fahmi. Bentar lagi juga dia kesini."
" Oh, mas Fahmi mau kesini? Ya udah sekalian aja kita bertiga. Aku pengen traktir makan. Itung itung syukuran aku baru dapat bonus dari bos"
" Ya udah, nanti gimana mas Fahmi aja. Eh itu baru dateng orangnya."
" Assalamualaikum.. uda siap?" tanya mas Fahmi
" Eh, ini mas. Nara mau traktir makan. Gimana?" tanyaku pada mas Fahmi
" Emang ada acara apaan Nara. Tumben kamu mau traktir kita makan." tanya mas Fahmi
" Alhamdulillah aku baru dapet bonus, makanya aku mampir kesini jemput si Nad. Eh, ternyata uda janjian sama kamu. Ayolah.. ga papa ya. Mumpung aku uda disini. "
" Ya sudah, ga papa kan Mas kalo kita ikut Nara dulu? Mumpung dia ga sibuk. "
" Ya sudah.. ayo naik mobil saya aja." ajak mas Fahmi
Akhirnya kami bertiga jalan ke sebuah tempat makan lesehan.