
POV Juna
Sore itu aku dan Danish mampir makan di sebuah warung lesehan. Tempatnya enak buat nongkrong anak muda. Malam ini malam Minggu, weekend jadi banyak yang hang out.
Parkiran sudah lumayan agak penuh dengan kendaraan roda dua. Dari luar tampak lantai bawah sudah penuh dengan anak- anak muda. Ada yang lagi kencan, ataupun dengan sekumpulan temannya.
Terdengar canda tawa dari dalam, khas candaan anak muda Jogja. Dengan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Bahkan ada yang Trilingual, bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan bahasa Inggris.
" Eh..kemarin tuh kan aku lagi di bathroom kampus, masa aku krungu something yang mengejutkan! Berita fenomenal abad ini. Ada skandal jepit...eh skandal ayam kampus karo salah satu mahasiswa berprestasi. Lha aku terkaget-kaget. Padahal iku ki senior favorit when aku ospek. Getun banget jadinya." terdengar salah satu ocehan dari segerombolan mahasiswa salah satu universitas di Jogja yang meng aplikasikan Trilingual dalam ceritanya.
" Yesterday aku ketemu karo si pelaku. Emang sih body goalnya itu loh yang bikin cowok-cowok pada ngeces. Tapi mbok ya attitude nya itu dijaga. Secara status dia itu mahasiswa. Lha kalo kaya gini kan our university jadi ikut jelek to namanya. " salah satu temannya pun ikut menimpali.
Kayaknya memang bahasan perempuan itu ga jauh dari per ghibahan. Tapi itulah serunya dunia mereka. Kayaknya kalau ga ada bahan ghibah mereka jadi pendiam kali ya. hehe..
" Bro, kita ke atas" Rupanya Danish sudah selesai berbicara dengan salah satu pelayan di warung lesehan ini
Aku menanggapinya dengan mengangguk lalu kulangkahkan kakiku mengikuti langkah Danish menuju lantai dua warung makan ini.
Wow..ternyata lantai atas juga ga kalah cozy dari lantai bawah. Masih ada beberapa tempat yang kosong. Kami memilih duduk di pojok biar ga terlalu terganggu dengan orang yang lalu lalang.
" Mau pesan apa bro? Ayam bakar pasti ya."
" Ya dong. Ayam bakar nglothok..haha.." aku tertawa mengingat kata nglothok. Entahlah..bagiku kata itu unik bunyinya. jadinya aku selalu teringat kata yang diajarkan oleh Bu Arum saat bakar ayam di rumahnya waktu tahun baru 6 tahun yang lalu.
" Aku Ayam bakar madu sama lemon tea aja." pesanku pada Danish
" Ok. Aku juga mau deh. Samain aja ya. Biar gampang, biar cepet anternya" Danish menimpali.
" Nah itu ada mas mas yang lagi anter makanan di meja sebelah." kata Danish. " Mas, ini pesanan saya."
" Oh nggih mas. Ditunggu yah. " tampak mas pelayan mengambil kertas yang bertuliskan pesanan kami.
Tak sengaja aku bertemu pandang dengan salah satu gadis yang sedang makan dengan temannya di salah satu meja dekat pagar pembatas. Setelah beberapa saat dia menundukkan kepalanya.
Cantik.. manis..
" Hei bro.. liatin apa? Ciee.. ada yang tersepona nih.."
" Ah..ngga usah ngadi ngadi. Ga kok.. ga sengaja ngeliatin aja. "
" Sengaja juga ga papa kok. Malah aku berharapnya gitu. Kamu berjodoh juga sama gadis Jogja, jadi pasti lebih sering ke indo kan. Kita bisa sering ketemu.. "
" Ntar juga aku sering balik Jogja. Kan aku punya plan buka usaha disini. "
" Ya sekalian, punya usaha plus dapet istri orang sini. Jadinya pas. "
Drrrt..
Terlihat ada sebuah pesan masuk ke ponselku.
Hei bro, ini aku Doni. Masih nge save no aku kan? Besok bisa ketemuan? kangen nih pengen ngobrol. Sekalian ngomongin bisnis. Kita ketemuan besok malam jam 8 di cafe hotel X
" Danish, si Doni ngajak ketemuan di cafe hotel besok malam di cafe hotel X. Kamu ada waktu? Sekalian kita kumpul bertiga."
" Wah.. kayaknya kalo besok malam aku ga bisa deh. Mau nganterin ibu ke RS. Periksa gigi. Biasanya suka sampai jam 9 an baru kelar. Besok deh dikabarin lagi."
Juna
Ok. Besok jam 8 malam ya.
Akhirnya pesanan kami tiba di meja. Kelihatannya memang menggoda nih ayam bakarnya. Tanpa sadar aku melirik ke arah gadis itu. Lagi lagi mata kami bertemu. Aku mengulaskan senyum dan menganggukkan kepala. Dia pun membalasnya.
" Weeits. roman romannya beneran ada yang dari mata turun ke hati nih.. Tapi hati hati.. kayaknya uda ada penjaganya. Cuma heran aja kok nge date bertiga? " Danish menggodaku
" Kali aja cuma temenan" aku nyeletuk
" Bwahaha... kayaknya beneran ngarep.com ini" Danish menertawakan aku yang kelepasan ngomong
" Shiit.. diam lu ah.. buruan dimakan. Ngejekin lagi ga ku bayarin." aku jadi salah tingkah
Tak lama kemudian, gadis itu dan kedua temannya beranjak dari tempat duduknya. Sepertinya mereka telah menyelesaikan makan malamnya. Aah.. kalau jodoh ga akan kemana. Semoga lelaki yang bersamanya bukan pacar apalagi suaminya.
" Bro, emangnya rencana dirimu mau bikin usaha apa? Bukannya kamu tinggal nerusin perusahaan Daddy kamu? Apa mau bikin cabang disini? Trus pabrik tekstil ga kamu ambil alih aja?"
" Aku ga tertarik sama usaha tekstil. Bukan passion aku. Justru aku mau bilang ke Daddy kalo sebaiknya saham di pabrik itu kita lepas aja. Cuma kayaknya Daddy masih berat. Soalnya meskipun hasilnya tidak sebesar perusahaan Daddy yang lainnya, tapi gegara ngurusin itu pabrik, Daddy bisa ketemu sama Mommy. Katanya pabrik itu adalah kenangan.
" Axel sendiri gimana?"
" Axel sih sudah terjun ke perusahaan Daddy sambil kuliah. Dia anaknya rajin, persis kayak Daddy. Gila kerja."
" Trus mau usaha apa di Jogja?"
" Aku mau bikin cafe sama tour and travel. Sesuai sama hobiku. "
" Ya..ya..ya.. hobine nongkrong sama dolan (main).."
" Ya.. pokoknya apapun usaha yang mau kamu rintis disini aku support. Kalo butuh bantuan calling aja. Atau kita bikin cafe berdua aja gimana? Kita kerjasama. Hobi kita sama kan..hehe" kata Danish yang tertarik bergabung merintis usaha
Secara hobi aku dan Danish sama. Kami suka nongkrong dan traveling. Sepertinya merintis usaha bareng Danish cukup menarik. Jadi bisa ada temen sharing pengalaman. Sebenarnya usaha cafe ga terlalu asing buat dia. Karena ibunya punya sebuah warung makan yang terletak di daerah Magelang. Jadi tidak ada salahnya kita menggabungkan dua kepala. Barangkali hasilnya lebih baik daripada dipikirkan sendiri.
Tak terasa ayam bakar dan lemon tea di depan kami sudah ludes, masuk ke perut masing-masing. Puas dengan masakannya. Uenak.. bagi lidahku yang kangen Jogja rasanya istimewa seperti kotanya. Jogja istimewa
Setelah melakukan pembayaran di kasir, aku segera menyusul Danish yang sudah ada di dalam mobilnya. Tak lupa kuserahkan selembar uang berwarna ungu untuk tukang parkir yang membantu membuka jalan agar kami bisa keluar.
" Ambil aja kembaliannya pak." kataku kepada lelaki berseragam jingga dan membawa peluit di lehernya"
" Makasih mister. Alhamdulillah..."