Sweet Trap

Sweet Trap
Alkid, Alun alun Kidul



POV Author


Gerimis masih setia menemani pagi. Musim hujan sepertinya masih enggan meninggalkan bumi. Mentari pagi ini pun masih belum menampakkan diri, masih berselimut awan mendung yang entah kapan akan berganti.


Kicau burung tetap terdengar menyemangati pagi yang sejuk. Sebagian makhluk masih enggan keluar. Seorang gadis yang masih memakai mukena terdengar menyelesaikan tadarus nya.


" Shodaqallahul 'adzim..." gadis itu menutup kitab sucinya lalu meletakkannya di atas meja. Dilepasnya mukena putih yang mengurung badannya. Tak lupa sajadah yang menjadi alasnya beribadah pun dilipatnya.


"Alhamdulillah semoga pagi ini mengawali hari yang baik.. Semangat! " seru gadis itu menyemangati diri sendiri. Dialah Nadia, gadis periang yang hobi membuat kue.


Tercium wangi masakan dari arah dapur. Rupanya sang ibu sudah menyiapkan sarapan.


" Pagi Bun. Tumben jam segini uda mateng sarapannya." Nadia menyapa ibunya


" Iya kak. Si ayah disuruh masuk lebih pagi, suruh training karyawan baru. Jadinya teh, bunda cuma masak nasi goreng aja yang simpel. Kakak juga mau sarapan sekarang?" terlihat bunda sibuk menyiapkan teh hangat untuk ayah


" Nadia, duduk sini nak. Ayah mau ngobrol bentar." suara ayah menginterupsi obrolan Nadia dengan bundanya.


Nadia segera duduk di kursi berhadapan dengan sang ayah.


"Ada apa yah?" tanya Nadia penasaran


" Ayah mau tanya hubungan kamu dengan nak Fahmi. Gimana kejelasan nya?" ayah menyeruput teh hangat yang sudah disiapkan bunda.


" Kemarin mas Fahmi sudah melamar kakak secara pribadi. Tapi kakak belum kasih jawaban. Kakak mau istikharah dulu ayah." Jawab Nadia malu malu


" Kakak sendiri gimana perasaannya ke nak Fahmi? "


" Kakak sih nyaman dengan mas Fahmi. Tapi untuk cinta atau engga aku ga tau yah. Selama ini kakak berusaha untuk tidak terlalu terlibat perasaan. karena kakak ga tau apakah dia yang akan menjadi suamiku atau orang lain. Kakak ga mau jikalau nanti ternyata kami tidak berjodoh, hati kakak sebagian masih tertinggal. Kakak tidak mau kalau nanti sudah punya suami, tapi hati kakak tidak sepenuhnya buat dia. Kakak minta waktu tiga hari buat istikharah."


" Hhh.." ayah menghela nafas. " Ya sudah kalo kakak sudah mengambil keputusan seperti itu. Semoga Allah segera memberikan petunjuk."


" Emangnya kakak ga suka deg degan gitu kalo deket deket sama Fahmi?" bunda menyela pembicaraan


" Iih..bunda.. " Nadia merajuk.


" Bun, selama ini sih kakak memang kadang merasa senang kalo dikasih perhatian sama mas Fahmi. Tapi.. deg degan kayaknya engga deh Bun." jawab Nadia


" Aih bunda.. kayak ga tau aja modelan anaknya kayak gimana.. Kakak kan dingin kalo nanggepin cowok..hehe.. Dia mah bentengnya tinggi.. " Rendra nyelonong duduk ikutan ngobrol


" Biarin.. emangnya kamu seneng kalo punya kakak ganjen, tebar pesona kemana mana?" sewot Nadia


" Hehe..enggaklah.. kakakku ini emang yang the best deh.. Jangan jadi ganjen. Ntar belajar ganjen kalo uda punya suami. " Rendra menggoda kakaknya. Nadia lalu mencubit pinggang adiknya yang duduk di sebelahnya.


" Aauuww.. sakit kak.. Ampun.. Ampun.. buset.. kakak kayak kepiting, suka nyubit" Rendra mengelus elus pinggangnya


" Rasain..iseng sih. Seneng banget ngeledekin aku." jawab Nadia sambil melotot


" Hadduuh..punya anak uda gede begini kok kelakuannya masih aja kayak anak TK. Berantem mulu.. Udah ayo buruan sarapan dulu. Nanti jadi kesiangan semua. Ayah buruan atuh. Uda jam segini " Bunda sudah mengeluarkan jurus omelannya.


Selesai sarapan Nadia segera beranjak ke kamar bersiap untuk berangkat kerja. Weekend hari yang ramai pengunjung. Makanya karyawan kafe liburnya bergantian Senin- Jum'at. Hanya staf kantor yang libur di hari Minggu.


Triing..


Nadia membuka pesan yang masuk di HPnya.


*Nara


Nad, nanti temenin aku ketemu seseorang di restoran hotel X ya. Jam 8 malam


Nadia


ketemu siapa kok di hotel?


Nara


Ada deh.. please ya. Ini demi masa depan aku.


Nadia


Nara


Ok. Kamu emang best friend aku*.


Tampaknya Nara hendak mendatangi kencan buta, pikir Nadia.


Akhirnya Nadia menyimpan HP nya ke dalam tas. Lalu segera pamit dan berangkat kerja mengendarai sepeda motor matic second yang dibeli dari hasil kerja kerasnya. Kenapa second? Karena memang Nadia hanya mampu membeli motor second. Nadia tidak mau beli dengan cara mencicil karena khawatir kalau sewaktu-waktu dia kena musibah dan tidak bisa membayar cicilan. Mending beli motor bekas dengan cara cash dan tidak terbebani dengan hutang. Toh, yang penting bisa dipakai buat kemana-mana. Alhamdulillah namanya rejeki memang tidak akan kemana. Nadia dapat motor murah dan ga rewel. Maksudnya ga ada yang perlu di ganti atau reparasi.


...****...


Di belahan kota Jogja lainnya tepatnya di Alkid atau Alun alun Kidul (selatan), tampak seorang pria memakai kaos navy yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Celana cargo selutut dipadu padankan dengan sepatu sneaker yang nyaman buat jalan-jalan.


Penampilannya memang mencolok. Tapi untuk ukuran kota Jogja, mereka sudah terbiasa berjumpa dengan turis mancanegara. Jadi, tidak terlalu menyita perhatian. Kecuali para gadis yang memang niatnya nongkrong sambil cuci mata, pastinya mereka curi-curi pandang sambil kasak kusuk. Secara ada bule ganteng lagi makan sendirian sambil duduk beralaskan tikar.


" Eh, kamu berani ga ngajakin kenalan tuh bule disana? " tanya seorang gadis pada temannya.


" Ah..aku ga bisa bahasa Inggris. Coba kamu Siska. Kamu kan ikut ekskul bahasa. " lemparnya pada salah satu temannya.


" Ok. Siapa takut. Ntar kalo aku bisa kenalan, sarapannya bayarin ya.." tantang Siska yang dijawab dengan acungan jempol teman temannya


" Good morning sir. I'm Siska. Can i get to know you?" kata Siska sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat pagi tuan. Saya Siska. Bolehkah saya berkenalan dengan anda?"


" Morning..Miss.." Juna menjeda perkataannya


"Pagi..nona..."


" Siska, my name ia Siska."


"Siska, nama saya Siska"


" Oh, hai Siska. I'm Juna. Nice to meet you" Juna membalas uluran tangan Siska sambil tersenyum memperkenalkan dirinya.


"Oh hai Siska. Saya Juna. Senang berkenalan denganmu"


" Juna? it's sounds like an Indonesian name. " Siska mengernyitkan dahinya


"Juna? Terdengar seperti nama Indonesia"


" Yes, Arjuna. One of famous wayang characters. My Mom give it for me"


" Ya, Arjuna. Salah satu tokoh wayang yang terkenal"


" Oh really? Is your mom a wayang fan?"


" Oh benarkah? Apakah ibumu penggemar wayang?"


" Yes. My mom is Jogja native, but my father from Nederland"


" Ya. Ibuku orang asli Jogja, tapi ayahku dari Belanda"


" Oh..Can you speak bahasa Indonesia?"


"Oh, bisakah anda berbahasa Indonesia?"


"Sure, tentu saja bisa"


" Wah, kalo gitu boleh teman teman saya ikut kenalan dengan anda?" Siska bertanya dengan mata yang berbinar-binar


" Boleh"


Siska memanggil teman-temannya yang berjumlah 5 orang.