Sweet Trap

Sweet Trap
Arjuna Van Coen



Halo readers MT/NT...


ini adalah tulisan pertama saya. Semoga bisa menghibur ya... Maaf kalo masih banyak kekurangan..


Selamat membaca


...*****...


POV Author


Seorang pria terlihat terburu-buru sambil mendorong kopernya. Dia tampak berusaha menghubungi seseorang melalui telepon selulernya. Beberapa kali terlihat raut muka kecewa tergambar di wajahnya.


" ****..!! Kenapa susah sekali dihubungi?" umpatnya


Dia mencoba menghubungi lagi.


" Halo. Kenapa kau susah sekali dihubungi? Lagi dimana?"


" Sorry brother.. tadi aku lagi nyetir, hpku ada di tas. Jadi ga bisa angkat. Ini aku uda di lobby bandara. Kamu keluar aja." sahut lelaki di seberang telepon


" Ok. wait. I'll be there"


Tak lama kemudian lelaki putih dengan tinggi 180cm memakai mantel berwarna coklat itupun melangkahkan kakinya ke Lobby. Dialah Arjuna Van Coen. Lelaki blasteran Indonesia-Belanda. Ayahnya seorang Belanda bernama Aldert Van Coen yang jatuh cinta pada seorang wanita Jawa yang dijumpainya saat di Jogja bernama Nilasari.


Pertemuan itu menjadikan mereka berjodoh hingga sekarang dikaruniai 3 orang anak yaitu Arjuna Van Coen si sulung dan adik kembarnya yang berselisih 3 tahun Axel dan Amanda Van Coen.


" Hai Bro Juna. I'm here!" teriak Danish. Lelaki yang sedari tadi dihubungi oleh Juna


" Oh, hi how are you. Long time no see" Juna membalas sapaan sambil memeluk sahabatnya, Danish


" I'm very fine.. and what about your sister?"


" ****..! Kamu bukannya nanya kabarku malah nanyain adik perempuan ku. Dasar sahabat kurang ajar!" umpat Juna


" Hei.. calm bro.. Aku lihat kamu sehat, baik baik aja. jadi ngapain aku nanya lagi? Mendingan nanyain My Princess Amanda."


" Ah sudahlah.. buruan kita ke hotel."


Nampak sedan Toyota Camry warna putih meninggalkan lobby bandara menuju ke hotel Royal Ambarukmo. Sepanjang jalan nampak Juna memperhatikan banyak perubahan.


" Bro, aku jadi pangling. Uda 5 tahun aku ga ke Jogja ternyata sudah banyak perubahan ya.."


" Ya iyalah.. masa dalam kurun waktu 5 tahun ga ada pembangunan sama sekali. Yang bener aja. Emang Jogja ga boleh jadi kota Metropolitan? " protes Danish


" Bukannya gitu bro.. Tapi yang dikangenin dari Jogja tuh heritage nya, kebudayaan dan santunnya. Apalagi aku uda ga sabar kangen makan gudeg lesehan"


" Jiah... bule metropolitan ternyata masih kangen lesehan. Kirain uda ga level.. hahaha.." Danish mengejek menertawakan


" Jangan gitu dong.. sesuatu yang original, khas itu ngangenin. Karena ga ada di tempat lain."


"Oia, gimana kabar bro Doni?"


" Aku jarang ketemu. Soalnya pergaulannya bro.. uda jauh banget sama kita.."


" Maksudnya?"


" Dia uda berani main cewek bro.. Denger denger sih gara gara waktu itu tahun baru dikenalin pacarnya tentang surga dunia yang menyesatkan, alhasil dia ketagihan. Waktu putus sama pacarnya, akhirnya dia jadi player. Aku uda coba ngingetin tapi malah aku dikatain katro lah, kuno, kolot.."


" Kolot bukannya celana panjang ya." celetuk Juna


" Emang sekarang dodol buat celana? "


" Ah..set@n Lo becanda mulu.. bikin emosi aja"


Mereka melanjutkan perjalanan sambil menertawakan masa lalu mereka. Juna dan Danish bersahabat dari SMP. Sebenernya Doni juga. Tapi tidak terlalu akrab.


Danish dan Juna bersahabat saat Juna mulai bersekolah di Jogja. Waktu itu Juna ingin menemani sang Nenek yang baru saja ditinggal oleh Kakek agar tidak merasa kesepian dan sedih yang berlarut. Tentu saja sang Nenek pun terharu dan senang sekali merasa disayangi dan diperhatikan oleh cucunya.


Kepindahan Juna dari Belanda ke Jogja pun tidak mudah. Membutuhkan adaptasi terutama dari segi bahasa dan perilaku. Dari situlah persahabatan Juna dengan Danish dimulai. Danish yang selalu siap membantu Juna dalam masa adaptasi. Untung saja Juna fasih berbahasa Inggris, hingga memudahkan Danish men translate. Coba kalo Juna pakai bahasa Belanda, pasti bubar jalan dah.. hehehe..


Juna memang tipe anak yang suka mempelajari hal baru. Dia ga gampang putus asa, dan seorang pejuang yang tangguh.


Sayangnya sang Nenek meninggal dunia 4 tahun kemudian. Tapi Juna tetap melanjutkan sekolah di Jogja sampai lulus SMA. Setelah itu Juna meneruskan kuliahnya di Belanda. Sejak saat itu, baru kali ini Juna menginjakkan kakinya di Jogja.


" Bro, thanks for your ride. Aku disini semingguan atau bisa lebih. Tergantung urusanku disini. Tapi aku usahain cepat selesai and then we're hang out. okey!"


" It's okay bro. Semoga lancar urusannya. Kalo butuh tumpangan, bolehlah hubungi aku.. Jangan lupa uang bensin" kata Danish sambil berbisik-bisik


" Ya elah..sama kawan sendiri kau perhitungan amat."


" Bukannya gitu bro.. sekali kali ngerasain duit Belanda.." jawab Danish sambil cengengesan


" Ok. Aku cabut dulu ya. "


" Ok. Becareful"


Akhirnya Juna pun berjalan menuju resepsionis


" Good Evening.. Can I Help You, Sir?" sapa sang resepsionis yang dari name tagnya bertuliskan nama Ninik Carlina. Macam penyanyi dangdut aja. Barangkali orang tuanya penggemar dangdut..


" Good evening, reservasi atas nama Arjuna Van Coen"


" Oh, baik sebentar. " tampak sang resepsionis melihat layar di depannya.


" Baik pak Arjuna ini card room anda. Silakan bisa diantar oleh bellboy kami. Selamat beristirahat"


Sesampainya di kamar 602, dia segera masuk dan mandi. Tak lupa tips untuk sang bellboy. Tips itu kita kasih sebagai ucapan terimakasih dan sebagai wujud penghargaan buat mereka.


Tak lama kemudian tampak Juna keluar dari bathroom dengan jubah handuknya. Kemudian mengambil telepon seluler yang ada di atas nakas.


" Hallo Mom.."


" Hallo Juna, kamu uda nyampe Jogja? Lancar perjalanannya?"


" Alhamdulillah mom. Ini aku sudah di hotel. Tadi dijemput sama Danish dari bandara."


" Oh Yo wes le.. Alhamdulillah kalo lancar. Ya sudah, gek istirahat. Di sana malam to? Semoga besok lancar ya urusannya."


" Aamiin.. welterusten Mom" Juna mengakhiri panggilannya.


Malam semakin larut, Juna pun merebahkan dirinya ke kasur setelah melepas penat dengan merokok di balkon


...******...


fiuh... ini tulisan pertama saya. Mohon kritik sarannya ya..