Sweet Trap

Sweet Trap
Penjebakan



Flashback On


" Hai Don? Apa kabar? Lama banget ga ketemu. Lagi sibuk apa? Gimana kabar Tante?"


" Nara..Nara.. kalau tanya tuh satu satu, jangan borongan. " protes Doni pada Nara. Ya..mereka adalah saudara sepupu. Papa Nara adalah kakak dari mamanya Doni.


" Lama banget ga ketemu katamu? Baru 2 bulan lalu kamu ke kost an, kamu bilang lagi naksir sama cowok. Iya ga?"


" Hehe..iyaya.. Tapi Don, aku patah hati. Cowok yang aku taksir malah naksir sahabat aku." kata Nara lesu


" Lha emang kamu ga perjuangin? yang penting belum merried kan? Selama janur kuning belum melengkung, masih boleh ditikung. Itulah prinsip Doni Alvian.." Doni membusungkan dadanya


" Diih..dasar Playboy cap kadal. Kamu sendiri masih zonk! Silvi masih belum kelihatan hilalnya..haha.." ejek Nara


" Yah..itu dia masalahnya sekarang cowok yang sedari dulu ditaksir sama Silvi lagi di Jogja. Pengen banget kerjain tu anak, biar aku bisa dapet Silvi. Meskipun dengan cara kotor."


" Emang mau diapain? Mau dicelakain? Tabrak lari gitu?" Nara penasaran


" Bukan bego! Itu terlalu kriminal sadis. Main cantik aja. Pengen jebak dia sama cewek, ngamar di hotel. Kalau Silvi lihat pasti ilfeel kan. Disitulah aku masuk sebagai pengobat luka patah hati." kata Doni dengan pandangan sinis. Nara terbengong mendengar niatan Doni.


" Cuma ceweknya belum ada. Mau nawarin ke temen main takut ketahuan. Kalau bisa yang ga kenal sama aku." tambah Doni


Terlintas sebuah ide di kepala Nara


" Don, gimana kalau kita kerjasama aja. Biar aku bisa kesempatan deketin sama gebetan."


" Maksud kamu, kamu mau kerjain sahabat kamu sendiri? Bukannya yang ngehalangin kamu sama gebetan itu sohib kamu ya?" Nara mengangguk menanggapi pertanyaan dari Doni


" Buseet.. parah banget..parah..parah..sohib sendiri mau dikerjain. " Doni menggeleng gelengkan kepalanya


" Habis lama-lama aku juga kesel tau. Dari dulu aku udah nahan diri Don. "


" Maksudnya?"


" Dari dulu tuh tiap aku naksir cowok, pasti cowok itu malah naksir ya ke dia. Emang sih ga ditanggepin sama Nadia. Tapi kan tetep dongkol akunya. Padahal aku juga ga kalah cantik dari dia. " Nara mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini dia tahan


" Karena yang sekarang ada tanda-tanda mau serius ke jenjang lebih tinggi, makanya aku harus segera bertindak. Kalo yang ini aku ga rela ngalah. " Nara meyakinkan Doni kalau dia akan bekerjasama menjebak sahabatnya yang dalam kasus ini menjadi rivalnya.


" Oke..Oke kalau gitu kita bikin rencana. Kamu hubungi temen kamu itu. Ajak dia makan di hotel X. Aku punya kenalan disana. Jadi lebih mudah rencana kita direalisasikan. " Doni mulai memberitahu rencananya


" Nanti kamu tunggu di restoran sebentar. Aku akan kirim minuman yang uda dicampur obat bius. Nanti orangku akan bantuin kamu bawa dia ke atas. Nah, kamu juga perlu kirim pesan ke temen kamu bahwa kamu ga bisa datang soalnya ada halangan. Terserah kamu alasannya apa. Buat alibi."


" Ok. Aku setuju" senyum smirk muncul di wajah Nara


" Tapi ingat! Setelah semua ini persahabatan kalian bisa hancur. Kamu ga menyesal nantinya?" Doni mengingatkan


" Itu uda jadi resiko aku." Nara memantapkan pilihan


...****...


" Hai Nara, uda lama nunggu?" sapa Nadia


" Belum, aku juga baru dateng. Duduk Nad" Nara mempersilahkan Nadia


" Emang mau ketemuan sama siapa? Calon pacar? Atau calon suami?" tangan Nadia mencolek dagu Nara sambil memainkan alisnya


" Semoga aja calon suami ya Nad.." kata Nadia yang mengandung maksud terselubung


" Eh, kamu mau pesen apa?" tanya Nara


" Aku minum aja dulu. Makannya ntar nungguin bebeb kamu aja" goda Nadia


" Aah..kamu Nad. Jangan godain aku mulu. Malu tau. Ya uda Aku pesenin orang juice aja ya Nad."


" Bro, sori. Kamu langsung ke atas aja. Kamar 202 ya. Lumayan ada voucher gratis dari aplikasi." Doni memberitahu perubahan tempat mereka janjian. Masih di hotel X tapi bukan di restoran melainkan di kamar hotel.


" Ok. Aku naik sekarang ya. " Juna memutuskan panggilan.


Juna segera menuju lift yang akan membawanya menuju lantai kamar 202 berada.


Tiing..


Pintu lift terbuka. Juna segera melangkahkan kakinya sambil melihat nomor yang ada di pintu pintu kamar.


Tok..tok..tok..


Ceklek..


" Hai brother..apa kabar nih?" sapa Doni sambil melayangkan tos jaman sekolah dulu


" Baik.. kayaknya uda sukses nih kamu Don. Sampai ngajak ketemuan di hotel segala."


" Yaa.. sekali-kali lah Jun. Mumpung kamu lagi di Jogja. Lagian kalo sewa kamar kita bisa party sambil ngobrolin masa-masa kita dulu. Jaman kamu dikejar fans..haha.." Doni menertawakan masa lalu


" Sialan. Masih inget aja yang kaya gitu."


" Oh iya, aku uda pesen minuman nih. Mau alkohol atau soft drink aja ada di kulkas. Ini tadi ada orange juice juga dikasih. Mau?" dalam hati Doni berharap Juna memilih orange juice yang sudah dicampur dengan obat tidur


" Mm..boleh deh. Orange juice nya buat aku. Tapi kamu minum alkohol Don?" tanya Juna heran dengan alkohol yang ada di atas meja


" Iya.. Kamu jangan munafik Jun. Bukannya di luar uda biasa ya minum minuman kayak gini? Uda jadi budaya kan?"


" Memang aku hidup di Belanda ga menyangkal kalau alkohol sudah menjadi bagian dari kehidupan disana. Tapi orang tuaku melarang kami anak-anak nya untuk menyentuh minuman haram itu. "


" Ooh..ok. Ya sudah aku soft drink aja. Daripada nanti aku mabuk sendirian." Doni memasukkan botol minuman keras ke dalam kulkas kecil yang ada di kamar tersebut.


" Yuk kita bersulang.." ajak Doni


"Cheers.." terlihat Doni meminum soft drink yang ada di tangannya sambil matanya melirik ke arah Juna yang sedang meminum orange juice yang disediakannya. Tampak senyum kecil tercetak di bibir Doni


" Got you" sahut Doni dalam hati


Tulilit..tulilit..


HP Doni berdering. Ada panggilan masuk di HPnya


" Halo.. Ooh..ok. Langsung ke atas aja. Kamar 202."


" Siapa Don?" tanya Juna yang mulai merasakan berat pada matanya


" Oh..itu sepupu aku. Mau ikut nimbrung kesini. Ga papa kan? Jun? Kamu kenapa?" Doni memperlihatkan wajah cemasnyy


" Ga tau Don.. Kok rasanya ngantuk banget ya?" Juna masih berusaha mempertahankan kesadarannya.


" Ya udah kamu tiduran aja di ranjang. Palingan kamu kecapean."


" Ok" Juna segera menuju ranjang dengan langkah kaki yang begitu berat. Begitu sampai di samping ranjang, tubuhnya terjatuh di atas ranjang.


Senyum lebar terpampang di wajah Doni. Tinggal menunggu sang partner tiba di kamar.


Tok..Tok..Tok..


" Akhirnya dateng juga. Masuk aja mas. Taruh di ranjang ya." perintah Doni kepada pelayan yang membantu membawa tubuh Nadia.