
" Assalamualaikum kak.."
" Wa'alaikumussalam, dari mana Ren pagi-pagi?"
" Dari rumah Abdul kak. Nganterin tugas kelompok. Semalam kelupaan. Kakak sendiri ngapain berdua sama..."
" Juna. Calon kakak ipar kamu" Juna segera memperkenalkan diri
" Kakak ipar? Bukannya yang melamar kakak mas Fahmi ya? Kok berubah jadi bule?"
" Siapa Fahmi? Tunangan kamu?" wajah Juna agak pias mendengar nama pria lain yang terlebih dahulu dekat dengan Nadia.
" Mm..mas Fahmi adalah..."
" Kak, masuk dulu. Ayah mau bicara. Nak Juna juga silakan masuk. Lho.. Ren, kamu baru pulang?"
" Iya Bun. tadi ngobrol sebentar. "
" Ini ada apa ya Bun?" Rendra berbisik pada bundanya.
" Sst..ini urusan orang tua. Kamu mandi dulu sana. Nanti biar ibu jelasin" kata Bunda Sari sambil mendorong anak keduanya untuk masuk ke dalam rumah.
Suasana di ruang tamu sedikit tegang. Nadia tampak menanti keputusan yang diambil oleh ayahnya. Berbagai prasangka muncul di dalam kepalanya. Juna melirik ke arah gadis yang sudah menarik perhatiannya itu. Tampak olehnya tangan Nadia yang *******-***** ujung sweaternya serta helaan nafas panjang yang dilakukan oleh Nadia menandakan bahwa gadis ini sedang mencoba meredakan kecemasannya.
" Nadia, Nak Juna... tadi kami sudah membicarakan tentang kelanjutan kalian berdua. Kami memutuskan agar kalian berdua harus menikah."
" Tapi bukankah melamar di atas lamaran orang lain ga boleh Yah.." Rendra menyela pembicaraan. Tampaknya ia urung mandi, lebih besar rasa penasarannya terhadap apa yang terjadi dengan kakaknya.
" Rendra..bukannya bunda suruh kamu mandi. Malah nguping disitu ya." bunda Sari mengomel
" Iya bunda sayang..bentar ya. Gimana ayah?"
" Rendra memang tidak salah..betul kalau tidak boleh melamar di atas lamaran orang lain. " Juna langsung teringat dengan satu nama, Fahmi. Juna menghela nafasnya laku tertunduk.
" Yah..ada yang mau Nadia sampaikan." Nadia menjeda sejenak perkataannya.
" Mas Fahmi membatalkan lamarannya tadi. Jadi Nadia tidak dalam lamaran orang lain."
" Wow..ternyata kakak kebelet nikah sama tuh bule ya.." goda Rendra sambil mengulum senyum
"ee..eenggak..bukan gitu maksud kakak.. kakak cuma.." Nadia Salah tingkah
" Ya elah ga usah membela diri deh.. udah terus terang aja kak.."
" Ren, uda jangan godain kakak kamu melulu. Liat aja mukanya uda kaya udang rebus" bunda Sari menimpali
" Bunda iih... kakak tadi cuma ngomong yang sebenarnya. Nanti kalau kakak bohong pasti ayah marah. Iya kan Ayah?" Nadia mencari pembelaan. Sementara Juna yang tadinya menunduk, sekarang sudah melihat ke arah Nadia sambil menahan senyumnya. Dalam hatinya sangat lega ternyata Nadia tidak dalam lamaran orang lain.
" Sudah...sudah..adalagi yang harus ayah sampaikan. Karena Nak Juna 3 hari lagi harus balik ke Belanda, maka ijab Qabul akan dilaksanakan besok sore." Juna dan Nadia membelalakkan matanya. Mereka kaget dengan jadwal pernikahan mereka yang serba cepat.
" Rendra, bantu ayah mempersiapkan segala sesuatunya. Nanti ayah saja yang ke KUA. Teman ayah yang akan bantuin prosesnya. Surat kelengkapannya disiapkan ya kak. Untuk nak Juna data-datanya akan dikirim via email langsung ke Pak Syarif selaku petugas KUA. "
" Aduh...sakit kak.." Rendra protes sambil mengelus-elus kepalanya yang dijitak.
" Sembarangan kalau ngomong.." Nadia memelototi Rendra
Juna tersenyum melihat interaksi kedua kakak beradik itu. Ia melihat kepribadian lain dari seorang Nadia. Nadia yang ia kenal kalem, tidak banyak bicara, cenderung tenang. Sangat berbeda ketika bertemu keluarganya. Sepertinya sangat menyenangkan berada di tengah keluarga ini.
" Hadeeh..kalian ini udah gede juga kelakuan masih kayak anak TK! Rendra, buruan masuk! Mandi sana!" bunda Sari sudah mengeluarkan tanduknya
" Siap ibu Ratu." kata Rendra sambil ambil langkah panjang menuju ke kamarnya.
" Hadeeh..dasar anak itu. Maaf ya nak Juna, kalau kelakuan mereka kekanakan. Meski begitu kalau ga ketemu lama kayak waktu Nadia PKL di Semarang tempat budenya, pas Nadia pulang ke Jogja meni akur pisan. Kemana-mana berdua. Eh.. sekarang balik lagi." bunda Sari tepok jidat
" Never mind..Bun. Sama aja kayak saya sama adik adik saya "
" Kalau gitu nak Juna silakan pulang dulu. Besok sore saya tunggu kedatangan nak Juna untuk ijab qobul."
" Baik pak. Insyaallah saya siap. Tapi ada beberapa hal yang perlu saya bicarakan dengan Nadia. Boleh minta waktu sebentar?"
" Silakan.. ayah ke dalam dulu kak. Mau siap-siap ke pabrik. Nak Juna, bapak permisi dulu" pak Hendra beranjak menuju ke kamar.
" Iya pak. Silakan. "
" eee.. Nad..maaf ya kalau ini serba mendadak, semua begitu cepat sampai saya sendiri merasa ini seperti sebuah mimpi." Juna tergelak
" Semua ini mungkin mengusik ketenangan kamu selama ini. Mungkin kamu belum siap, dan terpaksa menerima pinangan dariku. Tapi insyaallah aku tidak main-main dengan pernikahan. Aku sudah berani mengambil keputusan, maka aku akan berusaha bertanggung jawab atas segala konsekuensinya." Juna mengambil nafasnya dalam-dalam
" Setelah menikah, aku mohon kamu bisa belajar menerima pernikahan kita, dan kita bisa berjuang bersama membangun sebuah keluarga yang harmonis. Bisakah?" Nadia hanya menganggukkan kepalanya
" Satu lagi. Aku ingin membawamu menemui keluarga ku di Belanda. Kebetulan Daddy masih proses pemulihan pasca sakit, jadi tidak bisa datang kesini. Bisa?" Nadia menelan salivanya. Dia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi dia harus menaati perintah suaminya. Hah, suami?? Baru calon. Di satu sisi dia masih punya kewajiban menyelesaikan pekerjaannya di cafe. Pekerjaan yang sangat disukainya.
" Untuk yang itu akan kujawab besok setelah kita menikah. Saya harus memikirkannya matang-matang."
" Baiklah, untuk mahar kamu minta apa? Biar aku siapkan."
" Saya tidak meminta macam macam. Terserah anda mau memberikan mahar apa, akan saya terima dengan lapang." Nadia menjawab dengan kepala yang sedari tadi masih menunduk. Membuat Juna yang melihatnya menjadi semakin gemas.
" Baiklah kalau begitu. Aku mau pamit dulu ya. Mana bunda?"
" Bunda..mas Juna mau pamitan."
what!!? Mas..Nadia memanggilku dengan sebutan 'mas'. Juna berteriak dalam hatinya.
" Nak Juna sudah mau pulang? Ga nunggu ayah dulu? Masih mandi kayaknya. " bunda tergopoh-gopoh menuju ruang tamu sambil mengelap tangannya yang basah dengan aprin yang dipakainya.
" Iya Bun, tidak usah. Takutnya nanti pak Hendra jadi buru-buru mandinya." Juna segera meraih tangan bunda Sari dan mencium punggung tangannya
" Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Bunda mau ke dapur dulu. Kompor nya masih nyala"
" Aku pamit pulang dulu ya..calon istri.." Juna tersenyum lebar menggoda Nadia yang agaknya terkejut mendengar celetukan nya.