
"Maaf. Bisakah anda memakai pakaian anda dulu? " Nadia memalingkan wajahnya yang bersemu merah karena melihat dada telanjang seorang pria. Makhluk yang selama ini ia jaga jaraknya. Kenapa bisa seperti ini? Apakah ia terlalu banyak dosa? Apa ini teguran dari Allah karena ia belum mau menutup auratnya dengan sempurna?
" Ah..iya..maaf." Juna segera mengambil kaos yang ada di lantai kemudian memakainya
" Semalam saya ketemuan dengan sahabat saya di restoran bawah. Kejadiannya sama. Setelah sama minum orange juice tiba-tiba kepala saya berat dan tau tau bangun dalam keadaan seperti ini."
" Apakah kita punya masalah dengan kawan kita?" tampaknya Nadia tetap bisa berpikir dengan tenang walaupun terlihat gelisah.
" Saya ga tau pasti. Yang saya tau, sepertinya kita tidak melakukan hal "itu" karena kita berdua sama-sama tertidur pulas. Hanya atasan kita saja yang di..lepas" ujar Nadia sambil menunduk tidak berani menatap lawan bicaranya.
" Saya juga tidak akan menuntut pertanggung jawaban dari anda" lanjutnya dengan nada bergetar
Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa Nara tega melakukan ini? Apa benar sahabat yang selama ini dipercayainya bisa menusuknya dari belakang?
Begitu halnya dengan Juna. Pikirannya melambung kemana mana. Apakah Doni yang melakukannya? tapi kenapa? Apa salahku? Bukannya aku baru datang lagi ke Jogja.
Suasana hening sesaat, kedua insan yang merasa terjebak sibuk dengan pikiran masing-masing.
" Saya Juna." Akhirnya Juna mengakhiri keheningan yang tercipta
" Oh..sa..saya Nadia" Juna menatap gadis di depannya yang sampai sekarang masih menundukkan kepalanya. Dilihatnya kedua tangan gadis itu meremas ujung sweaternya, menandakan bahwa dia cemas.
Dalam pikirannya Juna menebak bahwa gadis ini sedang menerka nerka tentang bagaimana kejadian ini bisa terjadi. Tak beda jauh sebenarnya, hanya saja Juna lebih tenang menghadapinya.
" Nadia..mm..saya panggil nama saja ya." Nadia hanya mengangguk kecil
" Hhh.." Juna menghela nafas sejenak
" Maaf kalau saya lancang. Tapi saya ingin menikahimu." Nadia mendongakkan kepalanya, matanya membesar mendengar keinginan Juna
" Ta..tapi." Nadia jngin protes
" Sst..saya tahu anda gadis baik-baik. Saya paham bahwa kejadian ini bisa mengancam kehormatan anda. Saya tahu adat ketimuran, saya juga paham tentang agama, karena saya juga muslim. Saya hanya ingin bertanggung jawab meskipun sebenarnya tidak ada yang salah diantara kita berdua. "
Nadia mematung. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Pikirannya masih kalut. Selama ini dia merasa sudah menjaga jarak dengan lelaki. Tetapi mengapa ada kejadian seperti ini yang menimpanya.
" Halo.. Assalamualaikum.." terdengar suara dari telepon seluler Juna. Nadia hanya melirik tanpa ingin bertanya.
" Wa'alaikumussalam.. Dad, er is iets gebeurd" kata Juna
" Wa'alaikumussalam.. Ayah, ada sesuatu terjadi"
Daddy Aldert mengerutkan dahinya.
" Waar (dimana) Mommy. Aku harus bicara dengan kalian berdua."
Aldert mengangguk paham. Sepertinya ini masalah pribadi anaknya, sehingga harus melibatkannya juga istrinya. Tak lama, layar Handphone Juna memunculkan wajah orang tuanya.
" Iya sayang.. Kenapa? Ada sesuatu yang mau dibicarakan?" sapa Nilasari
" Mom, kijk naar dat meisje. (lihatlah gadis itu)"
Mommy Nila terkejut, begitupun suaminya. Bukan gadis itu yang bikin dia terkejut, tapi background di belakangnya yang menunjukkan bahwa anak mereka di dalam sebuah kamar dengan seorang gadis
" Juna, jangan bilang kamu mengecewakan Mommy. Jangan bilang kalau kamu tidak bisa menjaga amanah Mommy." ujar Mommy Nila dengan nada rendah tapi penuh tekanan
" Mom, het spijt me (aku minta maaf) . Tapi kejadiannya tidak seperti yang Mommy bayangkan" Juna berusaha menjelaskan duduk perkaranya. Nadia yang semula hanya terdiam mulai terusik. Apa yang sebenarnya pemuda ini lakukan. Kenapa malah video call dengan orang tuanya. Dan, dia baru sadar kalau ibunya bisa berbahasa Indonesia dengan logat Jawa.
" Juna, mommy mau bicara dengan gadis itu." kata Mommy Nila seusai mendengarkan cerita Juna.
" Nadia, mommy mau bicara sama kamu" Juna menyerahkan HPnya kepada Nadia dan diterima
" Assalamualaikum..Tante.." Nadia menyapa Mommy Nila
" Wa'alaikumussalam.. siapa nama kamu Nduk? " tanya Mommy Nila
" Nadia Tante.."
" Maafkan Juna ya, tidak bisa menjaga dirinya dan juga kamu."
" Tidak Tante.. Juna tidak salah. Memang sudah takdir kami mengalami hal semacam ini. Kami dijebak, Tante " Nadia menarik nafasnya berusaha kelihatan baik-baik saja
" Nah, kamu percaya takdir kan? Mungkin ini cara Tuhan mempertemukan kalian. Terimalah lamaran Juna ya Nduk. Untuk menjaga kehormatan kamu dan keluargamu." bujuk Mommy Nila
" Soal cinta, nanti akan datang seiring waktu. Asalkan kalian saling mau membuka hati, maka rasa cinta dan saling memiliki akan tumbuh dengan sendirinya." nasihat Mommy Nila membuat Nadia sesak menahan tangis
" Juna, kamu harus berani menghadapi orang tua Nadia. Yakinkan mereka, Minta maaf lah kepada mereka." Mommy Nisa menegaskan pada Juna apa yang harus dilakukannya
" Ok Mom."
" Daddy tunggu kabarnya hari ini juga. Daddy tidak mau masalahnya berlarut-larut. Assalamualaikum." Daddy menyudahi video call mereka.
" Nad, kamu dengar sendiri kan kata orang tuaku. Menikahlah denganku.. Hari ini juga kita temui kedua orang tuamu." Nampaknya ketegasan Juna menurun dari Daddy Aldert
" Tapi kan kita ga saling kenal? Baru sekarang kita ketemu. Saya ga akan nuntut anda, saya hargai niat baik anda, lagipula sudah ada yang melamar saya sebelum anda. "
" Ok. Tapi tetap saja saya akan mengantar anda sampai rumah. "
" Saya bisa pulang sendiri"
" Please, saya antar anda sebagai wujud tanggung jawab saya sebagai lelaki. "
" Tapi saya kan.."
" Please.." Juna memotong omongan Nadia
" Saya tidak akan macam-macam. Hanya mengantar anda. Saya tidak mau kalau nanti terjadi apa-apa di jalan trus saya yang disuruh tanggung jawab."
" Kamu ngedoain yang buruk?" karena emosi, Nadia tidak sengaja mengubah panggilan anda menjadi kamu yang akhirnya membuat Juna tersenyum simpul
" Lho..who knows? Aku hanya berjaga-jaga. Kemungkinan apapun bisa terjadi kan?" Juna sengaja merubah sebutannya.
" Hhh.." Nadia menghela nafas. " Anda tidak usah repot-repot mengantar saya. Saya bisa pulang sendiri. Jogja adalah tempat kelahiran saya. Jadi saya sudah hafal." Nadia masih keukeuh dengan pendiriannya.
" Ok... Ok..Kalau gitu kita turun sekarang." akhirnya Juna mengakhiri pembicaraan.
Mereka berdua segera keluar kamar lalu turun ke lobby. Nadia segera ke tempat parkir mengambil motornya. Juna yang melihatnya lantas menuju ke depan hotel untuk mencari ojek. Dia berfikir akan lebih mudah mengikuti Nadia menggunakan motor daripada dengan mobil.
Akhirnya mereka meninggalkan hotel X. Nadia tidak sadar jika Juna mengikutinya dari belakang.
Sesampai di halaman rumah, Nadia segera mematikan motornya. Dia menghela nafas sejenak mempersiapkan diri dengan pertanyaan yang pasti diajukan oleh orang tuanya karena anak gadisnya semalaman tidak pulang.
" Assalamualaikum.." Nadia terhenyak mendengar suara Juna ada di depan pintu rumahnya. Sejak kapan dia disini? Nadia segera menyusul Juna